
Untuk kesekian kalinya Nayara menghapus air mata sambil meredakan sesak di dalam dadanya. Hari ini adalah hari pernikahan suaminya, Fabian dengan sekretarisnya Sarah. Batin Nayara terluka dalam saat menyadari bahwa suaminya bukanlah pria yang memegang teguh prinsip kesetiaan.
" Brengssek ! " umpat Nayara sambil merebahkan kepala di atas meja dapur. Segelas air dingin hanya membantu meredakan amarah di dalam dirinya. Dia terlalu lama menangis dan mulai merasa kelelahan.
Suasana rumah sedang sepi karena semua orang sibuk merayakan pernikahan Fabian Rayyansyah di sebuah hotel. Hanya Nayara yang tidak mau ikut bergabung di antara kemeriahan acara itu. Lagi pula untuk apa dia ada di sana? pikir Nayara. Toh itu bukan sebuah acara yang membuatnya bahagia justru itu adalah acara yang membuat hati nya terluka begitu dalam.
Dia tidak akan berpura-pura bahagia atas pernikahan suaminya dengan wanita ja*lang bernama Sarah itu. Kemarahan Nayara mungkin akan menciptakan pertumpahan darah jika dia terus memaksakan diri menghadiri pernikahan suaminya.
Tuk..
Sebuah botol diletakkan tepat di depan wajah Nayara dan hal itu sukses mencuri atensi wanita itu. Ia mendongak dan melihat seutas senyum dari seorang pria yang berdiri di hadapannya.
" Mau coba Wine? " tanya Zavian.
Mata Nayara menoleh lagi ke arah botol dengan segel erat yang bertuliskan **C**hateau Gruaud LaRose. Botol serupa yang pernah Nayara lihat di kabinet penyimpanan tapi tidak pernah disentuhnya, apalagi sampai mencicipi isinya.
" Kalau lagi patah hati itu enaknya minum wine daripada minum air es. " nada suara Zavian sebenarnya biasa saja , tapi di telinga Nayara malah terdengar seperti sebuah ejekan.
" Kamu ngapain di sini? " tanya Nayara dengan suara yang masih sedikit sengau. Jujur saja sebenarnya dia sedang tidak ingin diganggu dan kehadiran adik iparnya, Zavian cukup mengusik dirinya.
" Harusnya kamu ada di hotel dan berpesta seperti keluargamu yang lain. " lanjut Nayara lagi. Berbeda dengan pernikahannya yang diadakan secara sederhana karena kondisi sang ayah dulu yang terbaring lemah, kali ini pernikahan suaminya dengan selingkuhannya diadakan dengan meriah di sebuah hotel mewah tentu itu semua kemauan dari Sarah istri baru suaminya, tapi bukan ini yang Nayara permasalahkan karena memang dirinya sendirilah yang menolak mengadakan resepsi mewah karena kondisi sang ayah yang tidak stabil waktu itu. Tapi yang mejadi masalah adalah suaminya yang menikahi wanita lain.
Zavian meraih salah satu kursi yang berkaki tinggi dan duduk di samping iparnya itu.
__ADS_1
" Acaranya membosankan dan gitu-gitu aja. " Sebenarnya ia enggan datang tapi orang tuanya memaksa ia datang walaupun ia sangat muak melihat wajah sang kakak yang malah nampak bahagia tanpa memikirkan perasaan Nayara.
Ingin sekali Zavian memukul wajah kakaknya itu saat di pelaminan tapi ia urungkan mengingat ada nama besar Ayahnya kalau sampai ia memicu keributan di sana. Setidaknya ia lega karena saat Fabian mengungkapan niatnya ingin menikahi Sarah ia sempat memberi beberapa pukulan untuk kakaknya yang brengssek itu.
Pria itu masih mengenakan pakaian rapi selepas menghadiri pernikahan kakaknya. Dia kemudian melepaskan kancing kemeja yang ada di pergelangan tangannya dan menggulungnya hingga ke siku . Setelah itu Zavian juga membuka dua kancing yang membuat lehernya merasa lega.
" Keputusan mu sangat bagus untuk tidak datang ke pernikahan suami mu dengan wanita lain. " celetuk Zavian lagi.
Nayara hanya mencebikkan bibirnya sekilas , merasa bahwa tindakannya tidak perlu mendapatkan pujian dari siapapun. Saat Nayara hendak turun dari kursinya , Zavian tiba-tiba mencekal tangannya. " Duduk dulu Nay, kamu belum pernah mencoba minuman ini bukan? "
Belum juga Nayara menjawab, Pria itu langsung membuka segel wine tersebut dan menarik tutup kayu di ujung nya dengan menggunakan pembuka botol. Ada desis yang keluar bersamaan dengan busa-busa halus dari leher botol. Setelah itu Zavian meraih dua gelas berkaki tinggi dari rak gantung kabinet dan menuang cairan wine ke dalam gelas. Nayara yang urung pergi hanya memperhatikan semua itu dengan diam.Bahkan saat satu gelas berisi cairan merah pekat itu disodorkan Zavian kearahnya, Nayara masih belum bereaksi apa-apa.
" Ini wine paling enak yang pernah ku minum. " ujar Zavian setelah mencicipi wine dari gelasnya. Digoyang-goyangkannya cairan itu sejenak sebelum meminumnya lagi. Ada rasa manis, asam, pahit, dan juga wangi yang khas.
Zavian menoleh ke arah Nayara yang masih mematung dalama keheningan , lalu dia kembali bersuara. " Cobalah, Nay. Setidaknya malam ini kamu mendapatkan sesuatu yang enak, Wine ini contohnya.. disaat suamimu punya teman tidur yang baru. "
Nayara memejamkan mata disertai kernyitan kecil di dahinya saat menelan wine tersebut di mulutnya. Ekspresinya seperti orang yang sedang tersiksa, tapi didetik berikutnya Nayara kembali menyesap wine itu.
" Hm, jadi gini rasanya. " gumam Nayara sambil mengamati gelasnya.
" Enjoy it. " balas Zavian sambil mengangkat gelasnya .
Nayara merenung sejenak , pengkhianatan suaminya menyisakan rasa sakit luar biasa dihatinya. Selama ini ia selalu memendam perasaannya sendiri karena memang tidak punya tempat untuk bercerita. Tapi malam ini Nayara ingin mencurahkan semuanya agar rasa sesak di dadanya sedikit berkurang.
__ADS_1
" Mas Bian bilang kalau dia khilaf saat kita memergokinya di kantor . " ujar Nayara dengan lirih. Kemudian ditenggaknya lagi wine di gelasnya hingga tandas ." Brengssek! mana ada perselingkuhan yang benar-benar khilaf . Apalagi sampai membuat wanita ja*lang itu hamil."
Zavian menatap Nayara yang tampak rapuh tapi tetap berusaha tegar dalam segala hal yang tidak berpihak padanya. Mata wanita itu sembab karena kebanyakkan menangis, bibirnya pucat tanpa polesan makeup apapun. Wanita itu benar-benar tampak tidak berdaya sama sekali di tengah-tengah rasa sakitnya.
" Padahal selama ini Fabian selalu memujiku sebagai wanita yang baik. Katanya dia bersyukur memiliki istri sebaik diriku. Tapi nyatanya dia malah selingkuh dan meniduri wanita lain hingga hamil. " ungkap Nayara dengan suara serak penuh kepiluan.
Air mata wanita itu kembali menyeruak dan menetes melewati pipinya, tapi Nayara bergegas menghapus air matanya secara kasar. Dituangkannya kembali wine dari botol ke gelasnya untuk dia tenggak.
" Atau mungkin Fabian berbohong waktu bilang aku ini wanita yang baik? " ujar Nayara lagi setelah menenggak wine untuk kesekian kalinya.
" Enggak kok, suamimu gak bohong. Kamu memang wanita yang baik, Nay. " ucap Zavian. Ia tau mungkin kata-katanya tidak akan memberikan efek apapun pada Nayara yang sedang sakit hati.
Nayara mendengus kecil , dia merasa muak dengan segala hal yang terjadi di dalam hidupnya saat ini. Pengkhianatan Fabian sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa menjadi wanita yang baik ternyata tidak bisa membuat rumah tangganya utuh.
" Aku selalu berpikir, apa salahku sampai Fabian tega berkhianat . Tapi setelah ku pikir-pikir lebih lama ternyata aku tidak salah apa-apa . Fabian saja yang terlalu brengssek." gumam Nayara kemudian.
" Ya, Bian memang brengssek. " timpal Zavian sambil mengangguk.
" Iya, kan? " tegas Nayara kemudian . " Dia memang sebrengssek itu. "
" Dan bodoh. " tambah Zavian . Pria itu menatap wajah Nayara yang mulai merona merah akibat pengaruh alkohol. " Sudah dapat wanita baik sepertimu malah mecari wanita ja*lang. Tidak ada yang lebih tol*ol dari pada itu. "
Nayara tertawa , tawanya terdengar sumbang dengan rasa sakit yang teramat jelas, bahkan jejak air mata masih terukir di pipinya.
__ADS_1
.
...****************...