
Mama Widya menggeser pagar yang tidak terkunci dan berjalan masuk melewati pekarangan rumah. Dia membunyikan bel sambil berteriak memanggil nama Nayara . Tapi pintu yang terkunci rapat dan tidak ada sahutan dari dalam semakin membuat perasaannya tidak enak.
“ Gak mungkin, Zavian…..” desis Mama Widya.
Dia merogoh ponsel dan menelepon nomor anaknya, tapi ternyata tidak bisa terhubung. Nomor Zavian masih saja tidak aktif. Lalu Mama Widya menelepon ke nomor yang tertera di spanduk dan berharap bahwa itu merupakan nomor baru Zavian. Tapi ternyata itu adalah nomor agen properti tempat Zavian mempercayakan penjualan rumahnya.
Bertepatan dengan rasa panik itu, seorang laki-laki masuk dan menyapa Mama Widya . Laki-laki itu adalah orang yang ditugaskan oleh agen properti untuk membersihkan rumah. Rumah mewah itu harus berada dalam keadaan terawat untuk menarik minat calon pembeli.
“ Rumah ini sudah diserahkan kepada agen properti kami untuk dijual sejak dua minggu yang lalu,” jelas laki-laki itu saat Mama Widya bertanya.
“ Gak mungkin !” bentak Mama Widya kesal.
“ Kenyataannya memang begitu, Bu,” ujar laki-laki itu dengan sabar.
“ Walaupun anakku katanya sedang butuh uang, tapi dia tidak mungkin sampai menjual rumah segala !” seru Mama Widya.
Laki-laki itu hanya mengangkat bahu sekilas. Apapun alasan rumah itu dijual jelas bukan urusannya.
Kemudian pintu rumah dibuka dan Mama Widya ikut masuk. Dia menemukan perabotan masih seperti sedia kala, tapi foto-foto pernikahan Zavian dan Nayara yang biasanya menghiasi dinding telah menghilang. Dan hal itu membuat suasana mendadak dipenuhi oleh aroma sepi dan dingin.
Saat naik ke lantai dua, Mama Widya menemukan kamar yang ditempati Zavian dan Nayara juga terasa sunyi. Ada bagian-bagian kosong yang meninggalkan kesan kehilangan.
Zavian benar-benar meninggalkan rumah itu tanpa berpamitan.
“ Memangnya mereka pindah ke mana ?” tanya Mama Widya kepada laki-laki yang sedang membersihkan sofa menggunakan vacuum cleaner.
“ Entahlah , Bu. Pemilik rumah ini tidak memberitahu akan pindah kemana,” jawab laki-laki itu.
Mama Widya mendadak kelimpungan. Dia menghubungi semua anggota keluarga yang lain untuk menanyakan kemana Zavian pindah. Sayangnya, tidak ada satupun di antara mereka yang tahu. Bahkan mereka juga kaget ketika diberitahu bahwa rumah Zavian sudah dalam kuasa agen properti untuk dijual kepada pihak lain.
__ADS_1
Akhirnya Mama Widya menyuruh sopirnya untuk pergi ke kantor tempat Zavian bekerja . Dia harus segera menemui anaknya dan bertanya apa maksud dari semua ini. Tapi saat sampai di kantor , Mama Widya malah mendapatkan kabar mengejutkan .
“ Pak Zavian sudah mengundurkan diri semenjak dua minggu yang lalu. Sekarang posisinya digantikan oleh pak Yudha yang menjabat sebagai CEO baru di sini,” jelas resepsionis dengan ramah.
“Perusahaan ini punya anakku ! Mana mungkin dia membiarkan orang lain menggantikan posisinya !” bentak Mama Widya .
Resepsionis itu hanya membalas dengan senyum sopan. Sedangkan Mama WIdya meminta untuk dipertemukan dengan Yudha. Dia yakin sekali bahwa dua orang itu pasti tahu apa alasan Zavian melakukan semua ini.
Lalu tidak lama kemudian Yudha muncul dan menjelaskan semuanya. Mama Widya mendadak pusing saat mendengar penjelasan itu. Dunianya terasa runtuh dan dia seperti kehilangan tempat berpegang.
“ Zavian pergi ke luar negeri membawa anak dan istrinya,” ujar Yudha.
“ Kemana dia pergi ? Biar kususul.” tukas Mama Widya.
“ Tidak ada yang tahu dia pergi kemana. Yang kami tahu Zavian ingin memulai hidup baru di sana. Dia juga bilang kalau tidak akan kembali dalam waktu dekat,” jelas Yudha.
“ Aku tidak menyembunyikan apa-apa , karena memang hanya itu yang kutahu," ujar Yudha sambil menggeleng.
Zavian memang sengaja tidak mengatakan kemana dia akan pergi. Satu-satunya orang yang tahu negara tujuan Zavian hanya asistennya yang bernama Gio, karena dialah yang membantu mengurus visa Zavian. Sayangnya, Gio juga ikut menghilang dan tidak ada yang tahu laki-laki itu bekerja untuk siapa setelah Zavian pergi.
Mama Widya tidak dapat lagi menahan tangisannya. Dia tidak percaya semua ini terjadi. Dia tidak menyangka bahwa Zavian sampai hati melakukan hal ini padanya.
“ Mbak…..” Om Farhan yang datang kemudian menyerahkan sebuah kertas ke hadapannya.
” Zavian menitipkan ini sebelum dia pergi.
Mama Widya merebut kertas itu dan langsung membuka untuk membaca isinya. Lalu tangisannya semakin menjadi-jadi. Air matanya mengalir deras dan dia terisak pilu . Saat ini dia baru menyadari bahwa kepergiaan Zavian begitu menyakitkan untuknya.
Dia kehilangan dan rasanya pahit sekali. Mama Widya ingin memperbaiki segalanya, tapi dia tidak memiliki kesempatan apapun. Karena Zavian benar -benar menyerah .
__ADS_1
Mama Widya tidak tahu bagaimana cara menghentikan tangisannya setelah tahu kenyataan bahwa Zavian pergi meninggalkan dirinya. Kepergian Zavian seperti sebuah tamparan telak yang membuatnya sadar bahwa ini adalah balasan setimpal atas ketidakadilan dirinya selama ini.
Berhari-hari Mama Widya meratapi kesedihannya tanpa ada yang bisa mengobati rasa sakit di dalam dadanya. Bahkan dalam tidurnya sekalipun , Mama Widya masih mengigau dan memanggil nama Zavian. Dalam sekali rasa pedih yang menusuk jauh ke dalam jiwanya.
Sedangkan Fabian yang sedang dalam kondisi drop semakin membuat keadaan memburuk. Laki-laki itu juga terkejut atas kabar kepergian Zavian yang tidak terprediksi sama sekali. Sama seperti Mama Widya, Fabian adalah orang yang selalu berpikir bahwa Zavian akan selalu menjadi laki-laki patuh dan penurut pada Mamanya. Tapi siapa sangka, di puncak rasa lelahnya, Zavian malah pergi jauh demi menarik diri.
Suasana di kediaman Rayyansyah mendadak suram penuh duka ketika Mama Widya mendadak jatuh sakit karena selama ini Mama Widya menolak untuk makan dan minum. Hal itu membuat keluarga yang lain ikut cemas melihat keadaannya yang memprihatinkan . Bahkan keluarga yang lain harus bergantian menjaga Mama Widya.
“ Sudah, Mbak. Jangan menyiksa diri dengan menolak makan dan minum seperti ini. Nanti keadaan kesehatan Mbak Wid semakin parah,” ujat Tante Siska.
Di antara keluarganya dan iparnya, hanya Tante Siska yang meluangkan waktu menjaga Mama Widya. Sedangkan Tante Tania hanya berkunjung sesekali dalam waktu yang tidak pernah lama. Sementara itu, keluarga yang lain hanya bisa datang berkunjung sesekali karena mereka juga sibuk.
“ Bagaimana aku bisa makan dan minum dengan baik sementara anakku pergi meninggalkanku,” balas Mama Widya dengan suara serak .
“ Kita semua terkejut atas kabar ini dan tidak menyangka Zavian akan memilih pergi,” ujar Tante Siska lagi.” Tapi setelah kupikir-pikir , Zavian memang pantas untuk pergi.
“ Jahat banget kamu ngomong begitu, Siska . Padahal kamu juga seorang ibu.” ujar Mama Widya sambil kembali menangis.” Kamu belum ngerasain ya, ditinggal pergi oleh anakmu secara tiba-tiba dan mengejutkan begini.”
“ Anak-anak memang memiliki rasa sayang dan patuh kepada orang tuanya . Tapi bukan berarti mereka tidak bisa menentukan pilihan hidup sendiri. Itulah kenapa kadang mereka memilih untuk membalas perlakuan orang tuanya untuk melampiaskan bagaimana perasaannya yang sesungguhnya,” tukas Tante Siska.
“ Aku juga menyayangi Zavian dan tidak terima dia bersikap seperti ini,” sahut Mama Widya.
“ Koreksi diri saja, Mbak. Mungkin Mbak merasa begitu menyayangi Zavian , tapi semua orang juga bisa melihat bagaimana perlakuan pilih kasih Mbak terhadap Zavian,” ucap Tante Siska.
Mama Widya malah menangis lagi seolah-olah air matanya tidak akan pernah habis. Dia tersedu-sedu sambil memeluk diri sendiri bersama seluruh penyesalannya yang datang terlambat.
.
...**************...
__ADS_1