
Setelah melewati berbagai pemeriksaan dan juga observasi pasca operasi, dokter mengatakan bahwa saat ini Zavian berada dalam keadaan koma. Benturan hebat yang dialami oleh Zavian mengakibatkan ada pembekuan darah di kepalanya.
Sudah seminggu Zavian berada dalam keadaan koma dan Nayara terus menunggu Zavian sadar hingga dia mengabaikan banyak hal. Termasuk penampilan dan juga kesehatannya sendiri.
Seperti yang pernah terucap dari bibirnya, Nayara akan kehilangan dirinya sendiri jika Zavian tidak ada di sisinya. Nayara akan kehilangan penopang dan juga semangat hidupnya.
“ Makan dulu, Nay. Aku suapin ya,” ujar Fabian yang memegang lunch box di tangannya.
“ Tidak,” jawab Nayara tanpa menatapnya.
“ Jangan mengabaikan dirimu sendiri, Nay. Kamu harus makan dengan baik agar kondisimu tidak ikut tumbang,” ucap Fabian lagi.
Pria itu terus menemani Nayara semenjak Zavian dirawat. Dia enggan beranjak dari sisi Nayara meski wanita itu terus mengabaikannya.
“ Nanti saja,” sahut Nayara pelan. Tatapan mata Nayara terlihat lemah dan sayu.
Jujur saja, Fabian tidak pernah mendoakan kesembuhan adiknya seperti yang selama ini dilakukan orang-orang di sekitarnya . Keberadaannya di sini hanya demi Nayara semata.
Fabian selalu menghibur Nayara agar tidak larut dalam kesedihan . Dia memperhatikan segala kebutuhan Nayara dan apa saja yang diinginkan oleh wanita itu. Perhatian Fabian hanya tertuju pada Nayara yang kini sedang menunggu kabar baik tentang suaminya.
“ Jangan sedih , Nay. ” ujar Fabian sambil meraih tangan Nayara. Digenggamnya jemari wanita yang pernah menjadi miliknya itu dengan erat. “ Jika nanti terjadi apa-apa pada Zavian, aku siap menjadi ayah untuk anakmu.”
Ada sebuah kemarahan yang menguasai Nayara dalam sekejap mata. Dia menarik tangannya dari genggaman laki-laki itu dengan kasar, lalu sebuah tamparan singgah di wajah Fabian.
“ Jika terjadi apa-apa pada suamiku, maka aku akan membesarkan anak ini sendirian. Aku tidak akan menggantikan posisi Zavian dengan orang lain, apalagi denganmu !” Nayara berucap dengan tegas sambil menatap Fabian dengan nyalang .
Fabian terperangah kaget, diusapnya pipi yang baru saja mendapat tamparan dari Nayara. Dia tidak percaya Nayara akan melakukan ini padanya karena Fabian pikir wanita itu masih bisa untuk diraihnya.
“ Berhenti bersikap pura -pura baik di hadapanku,” lanjut Nayara lagi.” Karena sikapmu tidak akan mengubah apapun dari dalam diriku.”
Nayara menghapus air matanya dengan cepat, lalu berjalan meninggalkan Fabian. Dia berdiri di depan pintu ruang rawat suaminya sambil menatap ke dalam melalui jendela kaca. Dokter dan perawat masih ada di dalam untuk melakukan pemeriksaan rutin yang kali ini terasa cukup lama.
“ Aku tahu kamu hanya menjadikan Zavian sebagai pelarianmu di saat sedang kecewa,” celetuk Fabian yang kini berdiri dengan angkuh di belakang Nayara. Pria itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam kantong celana.
“ Awalnya mungkin iya,” jawab Nayara dengan jujur dan memang benar adanya. Dia teringat kembali momen saat dimana perasaannya sedang hancur ketika Fabian menikah dengan Sarah. Dan di malam itu, Zavian datang menghibur Nayara dan takdir mereka terjalin di sana. “ Tapi kini aku mencintainya dengan tulus.”
“ Aku gak akan percaya,” sergah Fabian yang tidak terima dengan jawaban mantan istrinya itu.” Kamu hanya sedang putus asa dan butuh tempat sandaran. Kembalilah padaku dan aku akan mencintaimu dengan cara yang jauh lebih baik dari sebelumnya.”
__ADS_1
Nayara menggeleng cepat,” Aku tidak akan melepaskan Zavian, apalagi sampai meninggalkannya. Aku hanya mencintainya dan akan tetap mencintainya sampai kapanpun.”
“ Nay, please.” suara Fabian melemah dan mulai terdengar frustasi. “ Ini bukan dirimu yang kukenal dulu. Aku tahu kamu begitu mencintaiku dan rasa cinta itu gak mungkin hilang hanya dalam waktu yang singkat kan ?”
“ Nayara yang kamu kenal dulu sudah mati dan hanyut bersama seluruh luka yang kamu berikan . Rasa cintaku padamu telah hilang sepenuhnya saat malam pernikahanmu dengan Sarah.” ucap Nayara dengan tegas.
“ Jadi, jangan berharap bisa menemukan sosok Nayara yang dulu dari dalam diriku lagi ! Karena sekarang hanya ada Nayara yang sangat mencintai Zavian Rayyansyah dengan begitu besar dan aku sudah menjadi istri sah nya !”
Nayara berbalik dan menatap Fabian dengan sorot mata yang tajam. Ditatapnya pria yang pernah singgah di dalam hidupnya itu dengan pandangan yang menyiratkan keteguhan.
“ Berhenti melakukan berbagai hal untuk membuatku kembali padamu. Dihatiku kini hanya ada nama Zavian sebagai satu-satunya orang yang kucintai. Seluruh usaha dan trik licikmu tidak akan menghasilkan apa-apa,” cibir Nayara begitu menohok.
Fabian hendak menjawab tapi suaranya terhenti saat pintu ruangan terbuka dan dokter keluar diikuti oleh dua orang perawat. Nayara langsung mendekati dokter itu dengan wajah yang teramat antusias sekaligus penasaran.
“ Bagaimana hasil pemeriksaan suami saya, Dok?” tanya Nayara.
Dokter itu mengangguk sebentar seraya mengulas senyum tipis.” Sudah jauh lebih baik, Bu. Hematoma akibat pembekuan darah di kepalanya sudah hampir menghilang dan kami akan terus memberikan usaha maksimal.”
“ Kira- kira kapan suami saya akan sadar ?” tanya Nayara lagi.
“ Saya belum bisa memastikan, jadi kita tunggu saja dan terus berdoa semoga Pak Zavian segera sadar,” jelas Dokter itu .
“ Aku senang karena dokter bilang kalau keadaan kamu terus membaik, By,” ucap Nayara dengan penuh haru.” Ayo, By.. Semangat untuk bangun.”
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Fabian melihat bagaimana Nayara menyemangati Zavian yang kini masih belum sadarkan diri. Dengan mata kepalanya sendiri, Fabian menyaksikan bagaimana Nayara mencium pipi Zavian dan menggenggam tangan laki-laki itu.
“ Ck ! Menyebalkan,” gumam Fabian dengan kesal. Dia kembali duduk di kursi panjang sambil menatap kotak bekal berisi makanan yang belum tersentuh sama sekali. “ Kenapa rasanya sakit sekali ?”
Fabian menekan dadanya yang mendadak nyeri. Rasanya lebih menyakitkan daripada sekedar patah hati ketika melihat betapa hangat perlakuan Nayara terhadap Zavian. Padahal dulu Nayara begitu berharap dan bergantung padanya.
Kenapa rasa cinta dan hasrat ingin memiliki itu justru semakin besar dan bergelora disaat Nayara telah terlepas dari genggamannya?
Fabian menghela napas dalam-dalam, lalu beranjak pergi meninggalkan tempatnya berdiri. Ada rasa sakit setiap kali usahanya untuk mendapatkan Nayara selalu gagal. Tapi meskipun begitu, Fabian seolah tidak jera dan selalu saja mencoba usaha yang baru.
Keesokan harinya, Nayara berjaga sendirian karena Fabian memilih untuk pulang ke rumah. Ada rasa lega yang didapatkan Nayara saat pria itu menghilang dari sisinya. Nayara merebahkan kepalanya di sisi ranjang sambil memeluk tangan Zavian. Dipandanginya laki-laki itu sambil terus berdoa agar suaminya segera sadar dan membuka mata.
“ By, aku kangen.” rengek Nayara dengan pelan.
__ADS_1
Tidak ada jawaban apa-apa, hanya ada suara detak jarum jam dan nada monitor yang berbunyi pelan. Nayara memejamkan matanya karena merasa mengantuk. Lalu dia terlelap di samping Zavian.
Akhir-akhir ini Nayara memang kurang tidur karena terlalu memikirkan banyak hal tentang Zavian. Baru saja hendak menyelam ke alam bawah sadar, dia merasakan sebuah gerakan pelan mengusap puncak kepalanya. Awalnya hanya usapan pelan, lalu lama kelamaan segalanya semakin terasa jelas.
Rasanya seperti mimpi, tapi Nayara menolak untuk menganggap hal itu sebagai mimpinya. Dia membuka mata dan menegakkan kepala. Kemudian tatapannya bertemu dengan mata Zavian yang juga sedang menatapnya.
“ By…..” ucap Nayara lirih.
Suaminya tidak menyahut, tapi sudut bibirnya bergerak membentuk sebuah senyuman samar, Nayara berdiri dan langsung menyentuh wajah suaminya dengan cepat.
“ By, kamu sudah sadar ?”
Kebahagiaan Nayara langsung meluap-luap tak terkira. Dia sempat mencium wajah Zavian sebelum menekan bel memanggil perawat. Air mata Nayara kembali berjatuhan, tapi bukan karena kesedihan melainkan kebahagiaan yang tak terkira. Tuhan telah menjawab doa-doanya agar Zavian segera bangun setelah terbaring selama lebih dari seminggu.
“ Pasien sudah sadar dan jika keadaannya terus membaik bisa dipindahkan ke ruang perawatan,” jelas perawat kepada Nayara.
Nayara mengangguk dengan cepat dan langsung memilih ruang VVIP untuk suaminya. Dia juga telah mengabarkan Mama Widya bahwa Zavian sudah siuman dari koma. Dokter dan perawat terus memantau Zavian selama beberapa waktu untuk melihat tanda-tanda vitalnya pasca sadar dari koma.
Dua jam kemudian, barulah Nayara diperbolehkan menemui Zavian kembali. Dia masuk ke dalam ruangan berdua dengan Mama Widya yang telah datang sejak tadi.
“ Kenapa menangis?” tanya Zavian dengan suara serak dan terbata-bata.
“ Ini bukan nangis karena sedih tapi karena senang. Akhirnya kamu kembali sadar, By. " jawab Nayara. Genggamannya di tangan Zavian semakin mengerat.
“ Kami khawatir banget.” sahut Mama Widya.
“ Kamu koma selama delapan hari, Za.”
Zavian hanya bergumam dengan kalimat yang tidak jelas. Dia mengingat bagaimana rasa panik saat mobilnya kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan. Lalu dia juga ingat bagaimana guncangan yang diterimanya saat sebuah truk menghantam dengan cepat . Lalu rasa sedih menguasai dirinya saat menyadari bagaimana keadaannya saat ini.
Setelah itu tangannya terulur ingin menyentuh perut Nayara.” Anak kita baik-baik saja kan?”
Nayara mengangguk dan mengarahkan telapak tangan suaminya ke permukaan perutnya.
“ Dia baik-baik saja dan semakin membaik karena sekarang Daddynya sudah bangun.”
Zavian tersenyum tipis dengan kilat mata yang penuh rasa sayang pada perempuan yang kini sedang mengandung anaknya. Lalu pandangan Zavian beralih pada Mama Widya yang masih menangis sesenggukan.
__ADS_1
.
...****************...