
“ Maaf , Wid. Maafkan aku…” Papa Adrian berkata dengan susah payah di antara rasa sakit yang kini memenuhi dadanya. “ Jangan tinggalkan aku. KIta jangan bercerai.”
“ Kamu masih punya Fabian yang akan selalu ada di sisimu dan bersedia memenuhi setiap ambisimu. Meskipun kita berpisah, kamu tidak akan merasa sendirian. Hidupmu akan baik-baik saja,” ucap Mama Widya.
Wanita itu berkali-kali mendengar ucapan maaf dan permohonan dari mulut suaminya. Tapi dia masih belum memberi kesempatan pada pria yang telah melukai perasaannya dengan begitu dalam.
Ucapan mereka terhenti saat keluarga dan sanak saudara yang lain datang memenuhi ruangan untuk melihat kondisi Papa Adrian. Pria itu ingin sekali meminta kepada istrinya agar tidak menjauh, tapi Mama Widya justru melakukan apa yang tidak diinginkannya. Wanita itu beranjak dari sisinya dan duduk menjauh.
Papa Adrian bernapas dengan rasa sakit. Setiap udara yang dihelanya terasa begitu perih hingga nyaris membunuhnya. Dia menatap lagi istrinya yang kini memilih duduk di sofa bersama Tania, adiknya. Wajah Mama Widya masih sedikit sembab karena terlalu banyak menangis.
Orang-orang beranggapan bahwa Mama Widya sedang bersedih karena Papa Adrian sakit, tapi pria itu tahu kebenaran di balik wajah sedih istrinya. Mama Widya menangisi banyak hal, termasuk rencana perceraian mereka.
Ruangan VVIP tempat Adrian dirawat terus didatangi oleh keluarga dekat dan juga teman-temannya sampai malam menjelang. Suara riuh rendah mengalun di udara bersama ucapan rasa simpati dan kesedihan terhadap keadaan yang dialami oleh Papa Adrian . Tapi Adrian merasa sunyi dan dingin di tengah-tengah para keluarga dan temannya. Dia ingin istrinya ada di dekatnya menggenggam tangannya dan memberi penghiburan.
Sayangnya Mama Widya memilih menjauh dan tidak mau mendekatinya. Papa Adrian nyaris menangis melihat sikap dingin istrinya yang begitu menyakitkan.
“ Rasanya sulit dipercaya kalau Mas Adrian bisa divonis mengalami penyempitan pembuluh darah ke jantung begini. Soalnya di antara kita Mas Adrian lah yang punya pola hidup paling sehat,” ujar Tania.
“ Iya, mendadak banget, Mas,” timpal Siska yang berdiri tidak jauh darinya.” Kami gak pernah menyangka kalau Mas Adrian akan kena sakit jantung begini. Kita sampai syok.”
“ Sakit itu bukan terjadi karena disebabkan oleh pola hidup saja. Siapa tahu memang karena hukuman dari Tuhan,” sahut Mama Widya.
“ Mbak …” Siska memanggil kakak iparnya itu dengan kening berkerut kurang senang.
Papa Adrian meringis perih mendengar ucapan istrinya. Selama ini dia memang baik-baik saja dengan selalu menjaga pola hidup sehat dan juga mengkonsumsi asupan bergizi. Setiap bulan Papa Adrian akan melakukan medical check up dengan dokter pribadi untuk memeriksa kondisi tubuhnya. Tapi sekarang, dalam waktu yang tidak diduga , dia malah tumbang.
Mungkinkah ini memang hukuman Tuhan untuknya yang telah sengaja mencelakai anaknya sendiri?
Papa Adrian merinding ngeri membayangkan jika sakit ini memang benar sebuah hukuman untuknya. Selama ini dia telah memberi tekanan begitu banyak kepada Zavian dan tidak pernah memikirkan keadaan anaknya itu. Lalu ada sesal di dalam hatinya telah berbuat zalim dan tidak adil pada anak kandungnya sendiri.
Mama Widya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar,” Kalian temani Mas Adrian di sini, ya. Aku mau ke sebelah melihat kondisi anakku yang baru pulih dari koma.”
Mama Widya sempat melirik ke arah suaminya sekilas, tapi setelah itu dia melengos dan benar-benar keluar dari ruangan itu. Nada ucapan yang penuh penekanan terhadap kondisi Zavian terasa seperti menyindir Papa Zavian dengan telak. Tidak ada yang bisa mencegah kepergian Mama Widya dari sana, termasuk Papa Adrian sendiri.
__ADS_1
“ Ada yang beda dari Mbak Widya,” celetuk Tania setelah kakak iparnya itu keluar. Dia menatap ke arah kakaknya yang kini terbaring di ranjang. “ Mbak Widya kenapa ya, Mas?”
Papa Adrian tidak memberikan jawaban. Pria itu merasakan matanya basah lalu air hangat berlomba-lomba menetes dari sudut matanya. Dia menangis tanpa bisa menjelaskan betapa rumit dan sakit situasi yang kini dihadapinya.
Pria itu menyadari bahwa Mama Widya kini telah berubah. Tidak ada lagi sosok yang selalu ada mendukung setiap keputusannya. Wanita itu tega mengatakan ingin bercerai di saat usia keduanya sudah tidak muda lagi. Papa Adrian tidak pernah menyangka bahwa keputusan istrinya akan terasa begitu menyakitkan untuknya.
“ Tania, Siska, sini….” panggil Papa Adrian pada kedua adiknya.
“ Kenapa,Mas?” tanya mereka sambil bergerak mendekat ranjang dimana Adrian terbaring.
“ Tolong bujuk WIdya supaya jangan meninggalkanku ,” pinta Papa Adrian dengan sendu.
Wajah kedua adiknya tampak terkejut mendengar permintaan kakaknya itu.
“ Mbak Widya mau meninggalkan Mas Adrian di saat seperti ini? Kenapa? Apa dia tidak mau mengurus Mas Adrian lagi?” tanya Tania penasaran.
“ Jadi ini yang menyebabkan sikap Mbak Widya terlihat berbeda ? Karena dia gak mau repot mengurus Mas di saat sakit. Dia maunya senangnya aja.” sahut Siska kemudian.
Sekarang , akibat ucapannya barusan. Papa Adrian telah mengakibatkan kesalahpahaman antara istri dan adik-adiknya. Segalanya semakin rumit saja.
Fabian masuk ke dalam lift dan terkejut ketika melihat seorang perempuan ikut masuk sambil menenteng beberapa paper bag di tangannya. Perempuan itu memiliki postur tubuh kecil mungil dan juga tidak terlalu tinggi. Dia tampak polos dan lugu, tapi siapa sangka, perempuan inilah yang menggagalkan setiap rencana kotor Fabian terhadap Nayara.
“ Geser, Mas,” ujar Evy sambil melirik ke arah Fabian. Ada dua orang keluarga pasien lain yang hendak masuk ke dalam lift.
“ Oh,” sahut Fabian sambil menggeser posisi berdirinya sampai mepet ke dinding sebelah kiri. Matanya masih mencuri pandang ke arah Evy yang tampak santai.
‘ Hebat sekali dia menipu semua orang dengan penampilan polos dan lugunya itu,’ gumam Fabian dalam hati.
Saat lift berdenting dan pintu terbuka, Fabian melangkah keluar bersusulan dengan Evy. Karena ruang perawatan Zavian dan Papa Adrian bersebelahan, mereka terlihat memiliki arah yang sama.
“ Kamu dibayar berapa supaya bisa menjadi kacungnya Zavian?” tanya Fabian secara tiba-tiba tanpa basa-basi.
Evy menghentikan langkah dan menatap pria itu dengan alis sedikit terangkat. “ Maksud anda bagaimana?”
__ADS_1
“ Kamu kacungnya Zavian, kan?” tunjuk Fabian sambil mengedikkan dagu ke arah Evy.
“ Jangan berpikir aku tidak tahu siapa dirimu.”
“ Lalu apa urusannya dengan anda ?” tanya Evy masih dengan nada sopan.
“ Aku hanya penasaran,” jawab Fabian sambil menyunggingkan senyum miring.
“ Jika kamu butuh uang, aku bisa membayarmu lima kali lipat dari apa yang sudah diberikan oleh Zavian. Syaratnya , kamu harus beralih bekerja denganku.”
“ Sorry, tidak minat,” jawab Evy cuek.
“ Wah, sombong sekali,” celetuk Fabian yang merasa kesal diabaikan begitu.” Padahal cuma kacung rendahan yang disuruh-suruh, tapi lagakmu angkuh sekali.”
Fabian merasa menang karena telah berhasil menggores ego perempuan yang kini ada di hadapannya. Apalagi saat melihat wajah Evy mendadak berubah. Tujuannya memberikan penghinaan seolah-olah telah tercapai.
“ Asal anda tahu, Pak Zavian pernah menahanku untuk menghabisi nyawa anda saat anak buah anda mengganggu istrinya. Tapi sepertinya setelah ini Pak Zavian akan mengizinkanku membuat anda celaka untuk membayar semua rasa sakitnya,” ujar Evy dengan senyum penuh arti.
Detik itu, Fabian bisa melihat kilat mata yang dingin dan kejam dari perempuan yang penampilannya polos itu. Fabian terpaku di tempatnya berdiri dan mendadak merasa ngeri.
“ Menjauhlah dari kehidupan mereka jika anda masih ingin bernapas dengan tenang. Jangan mencari murka orang yang selama ini anda anggap sabar,” ucap Evy memberi peringatan .
Fabian mendecak sebal sambil menatap pintu ruangan rawat Zavian yang kini tertutup sempurna. Dia ingin sekali menghajar Evy atau setidaknya memberi satu pukulan pada perempuan yang telah berani mengancamnya itu. Tapi Fabian mengurungkan niatnya karena ingat ucapan orang suruhannya dulu.
Secara fisik mungkin Evy memang terlihat lemah dan butuh perlindungan seperti kebanyakan perempuan lain. Tapi siapa sangka, di balik tampilan yang meminta dikasihani itu tersimpan sikap kejam luar biasa. Bahkan saking kejamnya, perempuan itu pernah menyeret Bram dalam keadaan terikat ke hadapannya.
“ Sepertinya aku harus mencari waktu yang tepat agar bisa mendekati Nayara,” ujar Fabian dengan gumaman pelan.
.
...****************...
maaf ya baru Up, tapi langsung 3 bab kok ini . jangan lpa dukunganya ya . saranghae 🫰🫶
__ADS_1