
Untuk pertama kalinya Fabian muncul di kantor setelah melarikan diri untuk menghindari kejaran media. Dia tidak peduli dengan tatapan karyawannya, bahkan sesekali Fabian membentak siapa saja yang menatapnya secara berlebihan.
Sekarang, mau tidak mau dia harus kembali bekerja karena perusahaan sedang berada di ambang kejatuhan. Abaikan dulu masalah video panas dan hutang perusahaan yang hampir membuatnya gila jika dipikirkan terus-menerus.
Saat ini ada beberapa proyek yang gagal dilaksanakan dan beberapa vendor memutuskan kerja sama secara sepihak. Fabian memaki-maki semua orang dengan kesal karena tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginannya.
Lalu kemarahan itu semakin membesar ketika om Farhan yang menjabat sebagai CMO mengatakan bahwa Zavian akan membantu perusahaan Rayyansyah. Adiknya itu telah mengirimkan surat kesepakatan kerja sama bisnis. Jadi, konsepnya bukan memberikan bantuan sebagai anggota keluarga tetapi menggunakan prinsip business to business . Dimana Zavian tampil sebagai pemilik perusahaannya sendiri, bukan sebagai anak kedua dari Adrian Rayyansyah.
Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan keinginan Fabian yang menginginkan Zavian membantu tanpa membawa-bawa label perusahaannya. Fabian tidak ingin perusahaan Zavian terlibat di sini. Karena dengan mendengar nama perusahaan itu saja bisa membuat Fabian mual.
“ Kita akan meeting dengan Zavian siang ini,” ucap Om Farhan memberitahu Fabian. “ Tantemu sangat berharap agar kerja sama ini memberi hasil positif sehingga perusahaan kita bisa bertahan di tengah-tengah guncangan. Semoga ada kabar baik yang kita sampaikan pada mereka dan bisa membuat Papamu kembali pulih.”
“ Ah, Papa ya.” Fabian berucap samar. Dia mengira bahwa Papanya telah berhasil membujuk Zavian untuk melakukan hal ini.
“ Papamu akan senang melihat kalian kembali bekerja sama membangun perusahaan ini.”
Fabian diam saja, dia terus membaca dan memahami surat perjanjian yang dikirimkan Zavian. Tidak lama kemudian, dia mengumpat sejenak, lalu menggeram kesal. Dia tidak menyangka jika adiknya akan bersikap begitu arogan dan menyebalkan.
“ Apa-apaan ini? Apa dia bermaksud memancing di air keruh?” tanya Fabian kesal. Ada banyak point-point dari perjanjian itu yang tidak berkenan di hatinya.
Siangnya, saat memasuki meeting room, Fabian telah menemukan Zavian dan Om Farhan duduk di sana. Sekretarisnya sibuk menyiapkan berbagai hal dan sesekali akan meminta pendapat Zavian.
“ Lo licik juga, ya.” ujar Fabian tidak bisa menahan diri.
Dia melemparkan surat perjanjian bisnis yang ditawarkan Zavian ke tengah meja.
” Gue kira milih join ke sini karena tulus mau bantuin perusahaan ini. Tapi ternyata lo cuma mengincar keuntungan semata. Licik!”
“ Seandainya lo bersikap jeli seperti ini waktu membaca klausul kesepakatan pendanaan yang diajukan Hendri, mungkin lo gak akan kena tipu kayak orang bodoh,” sahut Zavian dengan raut wajah tenang.
“ Berhenti menghina gue ! Gak usah sok bener lo !” maki Fabian dengan murka.
“ Gue gak sudi ngasih keuntungan perusahaan ini buat lo !”
“ Hm? gitu?” tanya Zavian dengan tenang.
“ Bian ! Apa-apaan kamu ini !” seru Om Farhan yang berusaha menengahi mereka berdua.“ Zavian mau membantu karena dia tidak ingin perusahaan ini kolaps dalam sekejap. Lagipula, proyek yang ditawarkannya akan memberi keuntungan bagus untuk kita. Selain bisa memberikan profit juga akan membuat para investor bertahan.”
__ADS_1
“ Gue gak mau pakai surat perjanjian ini dan lo bawa-bawa nama perusahaan kecil itu. Sudah seharusnya lo bantuin kita supaya keadaan semakin membaik tapi dasar otak lo licik. Berani-beraninya lo mengeruk keuntungan dari masalah kami?” teriak Fabian lagi.
“ Gue harus bersikap realistis karena kita menjalankan bisnis bukan sekedar pemanfaatan jasa tanpa hasil seperti yang selalu lo lakuin dulu,” jawab Zavian. Dia tidak ingin dimanfaatkan begitu saja oleh kakaknya.
“ Zavian benar, Bian. Lagipula gak ada salahnya kita menjalin kerja sama dengan perusahaan milik Zavian,” ujar Om Farhan.
“ Om diam, ya!” bentak Fabian marah.
“ Sadar dong, Om itu cuma orang asing yang kebetulan dikasih jabatan oleh Papa. Jadi, Om gak berhak ngatur-ngatur aku ! Karena cuma aku di sini yang berhak membuat keputusan atas perusahaan ini !”
Om Farhan jelas tersinggung dengan ucapan Fabian. Tapi sebagai laki-laki yang lebih dewasa, dia berusaha mengendalikan diri agar tidak adu taring dengan keponakannya ini.
“ Lo gak bisa egois gini ! Semuanya berharap kerjasama ini berhasil,” kesal Zavian. Ternyata ego Fabian terlalu tinggi dan susah untuk diiringi.
“ Gue gak butuh bantuan lo untuk mempertahankan warisan yang gue punya ! Pergi lo dari sini !” usir Fabian dengan begitu arogan.
Setelah itu surat penawaran perjanjian kerjasama bisnis yang ditawarkan Zavian dirobek oleh Fabian. Kertas-kertas itu dibuang hingga berhamburan di lantai.
“ Fine ! Gue gak bakal bantu lo lagi ,” ucap Zavian tanpa mau memperpanjang masalah. Dia berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
Om Farhan juga ikut berdiri dan sebelum keluar pria itu berkata,” Silahkan kamu pertahankan warisanmu ini sendirian, Bian. Kami gak akan ikut campur lagi ! Semoga sukses!”
Mama Widya menangis pasrah. Begitu juga dengan Papa Adrian. Harapan mereka hancur sekali lagi.
“ Kamu kenapa sih, Bian ? Apa gak mau kamu mempertimbangkan tawaran Zavian supaya dia bisa bergabung dengan perusahaan kita?” Mama Widya bertanya dengan nada kecewa kepada anaknya.
Mendengar pertanyaan itu, Fabian hanya bisa memasang wajah masam. Sejak melakukan penolakan terhadap uluran tangan Zavian, dia sudah banyak mendapat hujatan dari keluarganya sendiri. Dan sekarang , Mama Widya secara khusus mendatanginya ke kantor hanya untuk membahas hal ini.
“ Gak usah ikut-ikutan lebay kayak yang lain deh, Ma,” ujar Fabian sambil melengos kesal. “ Aku muak deh, kalau lama-lama kayak gini terus.”
“ Masalahnya ini tentang perusahaan kita yang sedang kacau, Bian. Kamu seharusnya mengabaikan perasaan pribadimu terhadap Zavian dan ngasih dia kesempatan untuk membantu kita ,” tukas Mama Widya lagi.
“ Zavian itu cuma mau mengeruk keuntungan dari kita, Ma. Dia licik dan gak sebaik yang kalian bayangkan. Jadi, berhenti memuja Zavian kayak berhala !” sentak Fabian penuh amarah.
“ Bian !”
“ Kalau Mama datang ke sini cuma untuk menceramahiku, mending pulang aja deh ! Aku udah kenyang makan hujatan sejak kemarin,” tukas Fabian memotong ucapan Mamanya. Dia menatap Mama Widya dengan sorot yang menyiratkan perasaan kurang senang. “ Keluarga itu seharusnya ngasih dukungan tapi kenapa aku malah punya keluarga julid begini.”
__ADS_1
“ Kami cuma ngasih saran untuk kamu, Bian,” ujar Mama Widya dengan lirih.
“ Saran untuk menerima Zavian?” tanya Fabian dengan sinis. Dia menggeleng sejenak sebelum kembali berkata,
” Awalnya kami berpikir kalau Zavian memang bisa diandalkan dalam membantuku, tapi setelah melihat sikap sombongnya aku jadi berpikir ulang. Dia memang hebat tapi licik sekali, aku tidak suka. Lagipula, aku sudah gak butuh Zavian untuk menyelesaikan semua ini.”
“ Kamu jangan sombong begitu, Bian. Ingat, yang sedang kamu pegang ini bukan masalah kecil, lho.”
“ Sudahlah, Ma. Aku bisa mengatasi ini sendiri. Percaya,deh !”
“ Terakhir kali kamu bilang begitu pada Papamu, kamu malah bikin aset perusahaan kita terlepas sia-sia. Surat hutang terbit dalam jumlah yang gak sedikit dan imbasnya keuangan perusahaan kita hampir bangkrut karena harus menutupi hutang,” ujar Mama Widya.
“ Oke, aku kemarin salah dalam memilih rekanan dan juga tidak berhati-hati dalam mengeluarkan pendanaan proyek. Tapi bukan berarti aku orang bodoh yang akan mengulang kesalahan yang sama sebanyak dua kali. Sekarang aku akan lebih waspada agar tidak ada kekacauan lagi,” ucap Fabian dengan penuh keyakinan.
Mama Widya menghela napas lelah. Dia ingin sekali mempercayai ucapan Fabian tapi keraguan di dalam dirinya terus berteriak tanpa henti.
“ Katakan pada yang lain supaya berhenti meminta bantuan pada Zavian, Ma. Aku muak melihatnya yang semakin besar kepala karena merasa dipuja-puja seolah hanya dirinya yang bisa menyelesaikan masalah ini,” ujar Fabian kemudian.
“ Ya,” jawab Mama Widya pelan.
“ Sekarang Mama sebaiknya balik ke rumah sakit , deh. Fokus saja pada kesehatan Papa, biar aku yang handle perusahaan ini,” ujar Fabian lagi.
Mama Widya berjalan keluar dari ruangan Fabian dengan perasaan remuk yang sulit untuk dideskripsikan . Dia ternyata gagal membuat anaknya menurunkan ego dan merasa kecewa pada dirinya sendiri, Mama Widya merasa bahwa bicara dengan Zavian jauh lebih menenangkan dibandingkan bicara dengan Fabian yang selalu dipenuhi oleh gengsi dan ego tinggi.
Ada juga rasa sesal terhadap keadaan suaminya saat ini yang sedang menderita stroke tanpa bisa melakukan apa-apa.
Terakhir kali Papa Adrian bicara hanya beberapa saat setelah sadar dari masa kritisnya. Ketika itu dia masih bisa mengubah surat wasiatnya dan meminta maaf pada Zavian. Setelahnya, keadaan laki-laki itu semakin parah dan tidak ada lagi kata membaik.
“ Seandainya kamu masih bisa bergerak dan bicara pasti situasinya tidak akan seperti ini,” ujar Mama Widya dengan pilu. Dipandangnya Papa Adrian yang sedang tertidur setelah meminum obat dari dokter.
Selama ini hanya Papa Adrian yang memegang kunci utama di perusahaan Rayyansyah. Hanya dia yang ditakuti oleh Fabian. Tapi kini, setelah pria paruh baya itu terkapar tanpa daya, Fabian mengambil alih perusahaan dan bebas berbuat seenaknya.
Mama Widya menangis dalam diam. Dia menyesali segala hal buruk yang kini terjadi pada keluarganya. Seandainya bisa memutar waktu, maka dia akan mengulang kembali pola asuh terhadap kedua anaknya. Dia akan menentang Papa Adrian yang hanya memanjakan Fabian karena Zavian juga berhak mendapatkan kasih sayang yang sama. Tidak ada istilah pewaris utama di keluarganya karena kedua anaknya berhak mendapatkan bagian yang sama dalam mengurus perusahaan.
Sayangnya, semua itu hanyalah angan-angan belaka. Karena pada kenyataannya, Mama Widya dipaksa untuk menyaksikan kehancuran keluarganya akibat dirinya yang salah asuhan.
.
__ADS_1
...****************...