Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Tetap membela apapun yang terjadi


__ADS_3

Zavian keluar dari kamar mandi dengan wajah segar sehabis mandi, kancing kemejanya belum terpasang sepenuhnya. Selama menikah dengan Nayara, wanita itu selalu membantu Zavian mengancingkan kemejanya. Seolah-olah kegiatan itu sudah menjadi bagian dari tugasnya. Dan hal seperti itu mampu menciptakan kemesraan yang akan membuat hari-hari Zavian terasa manis dan menyenangkan. 


“ Hari ini kamu bisa pulang cepat gak, By?” tanya Nayara.


“ Akan aku usahakan kalau kamu yang minta. Memangnya ada apa?” tanya Zavian. Dia memandang wajah istrinya dari jarak dekat karena Nayara sedang memasang kancing kemejanya satu persatu. 


“ Kangen aja pengen makan malam berdua. Akhir-akhir ini kamu selalu pulang larut malam,” keluh Nayara. 


Zavian menyadari hal itu. Ada banyak sekali urusan yang menyita perhatian dan harus ditanganinya sesegera mungkin. Bahkan saat weekend sekalipun Zavian masih saja sibuk. Entah disibukkan karena urusan pekerjaannya atau masalah di tengah-tengah keluarganya seperti saat ini. 


Tidak jarang Zavian dan Nayara berkomunikasi melalui ponsel dan mengucapkan kalimat rindu satu sama lain. Zavian akan pulang larut malam dan menemukan Nayara sudah tertidur lebih dulu sehingga waktu kebersamaan mereka sangat tipis sekali. Keduanya sudah seperti pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh saja, padahal masih tinggal di bawah atap yang sama. 


“ Memangnya nanti kita mau makan malam dimana ?” tanya Zavian. 


“ Mas mau pulang cepat ?” tanya Nayara memastikan. Zavian mengangguk dan dia bisa melihat kebahagiaan memancar dari mata istrinya.” Nanti aku akan masak makan malam untuk kita. Oh, iya ada film baru yang ingin aku tonton berdua denganmu.”


“ Wah, kelihatannya nanti malam bakalan menyenangkan,” ujar Zavian. 


“ Akan kita ciptakan malam yang menyenangkan,” ucap Nayara dengan senyum penuh arti dan Zavian menyetujuinya. 


Zavian hendak mencium bibir Nayara tapi gerakannya terhenti saat mendengar suara deheman keras dari arah ranjang. Keduanya tampak sedikit kaget dan salah tingkah, lalu menyadari situasi bahwa saat ini mereka sedang berada di kamar rumah sakit tempat Fabian dirawat. 


Fabian yang sejak tadi pura-pura tidur tentu saja bisa melihat interaksi mesra pasangan itu. Dada Fabian panas bukan main. Dia tidak akan membiarkan Zavian dan Nara berciuman sekali lagi karena pemandangan itu jelas menyakitinya. 


“ Ambilin minum,” perintah Fabian dengan suara seraknya. 


Zavian berjalan mendekat dan memberinya sebotol air mineral yang telah dilengkapi dengan sedotan. Sedangkan di belakang sana, Nayara membuka kotak bekal sarapan dan menyusun di atas meja. 


Tidak lama kemudian, Mama Widya masuk dan menyapa Nayara dengan ramah. Wanita itu juga membawa sarapan dan berkata bahwa hari ini Zavian bisa pergi bekerja karena dialah yang akan menjaga Fabian. 


“ Tante Tania dan Tante Siska gak kesini, Ma ?tanya Nayara ingin tahu.

__ADS_1


“ Enggak,” jawab Mama Widya. “ Sebaiknya mereka memang gak kesini, sih.”


Ada nada kemarahan yang tidak dapat ditutupi saat Mama Widya berkata begitu. Dia masih tidak terima saat kedua iparnya itu membully dan menjatuhkan mental Fabian hingga anaknya berakhir di rumah sakit. 


Padahal kedua adik kandung dari Papa Adrian itu juga tidak mungkin akan datang melihat kondisi Fabian. Mereka yang sudah terlanjur kecewa dengan sikap Mama Widya tidak akan mau lagi ikut campur dalam urusan Fabian. 


“ Kalian berdua seharusnya ikut tes juga,” ujar Fabian sambil menatap Zavian dan Nayara secara bergantian. Sebuah senyum miring timbul di bibir Fabian saat mendapati raut kebingungan di wajah adiknya.” Siapa tahu kalian juga menderita HIV karena Nayara pernah menjadi istriku.”


“ Bian ! Jangan mikir yang aneh-aneh !” tegur Mama Widya . 


Namun , Fabian tidak akan berhenti di sana. Dia yang baru saja menyaksikan bagaimana Zavian dan Nayara berciuman mesra tentu tidak akan berdiam diri. Jika dia jatuh, maka orang lain juga harus merasakan sakit yang sama .Dia ingin menyalakan api agar ada yang terbakar . 


“ Aku gak tahu kapan menderita penyakit ini, bisa jadi sewaktu masih menikah dengan Nayara,” ujar Fabian. Dia sengaja berkata begitu karena ingin memberi rasa takut kepada Zavian.” Jadi untuk berjaga-jaga—”


“ Kami sudah melakukannya,” sahut Zavian cepat. Dia menoleh ke arah istrinya dan tersenyum lebar.” Aku dan Nayara sudah melakukan tes dan hasilnya negatif. Kami berdua bersih.”


Nayara mengangguk membenarkan. Lalu Zavian kembali berkata dengan telak,” Jangan berpikir bahwa kamu tertular oleh Nay atau kamu yang menularkannya. Penyakit terkutuk ini hanya akan menulari orang-orang yang suka jajan sembarangan.” 


Setelah Zavian selesai menghabiskan sarapan yang disediakan, Nayara pamit pulang pada Mama Widya. Zavian menyempatkan diri mengantarkan istrinya sampai ke parkiran dimana mobil dan sopir siap mengantar Nay kembali ke rumah. Begitu juga dengan sopir Zavian yang juga telah bersiap membawanya ke kantor.


Sementara itu di rumah sakit, Fabian kembali menangis hingga membuat Mama Widya kelabakan. Seperti penderita HIV kebanyakan, mental Fabian jelas terganggu oleh keadaannya saat ini. Apalagi ketika dia disuguhkan pemandangan kemesraan Nayara dan Zavian yang membuatnya nyeri. 


“ Siialan ! aku membenci mereka berdua,” ujar Fabian. 


...----------------...


Mama Widya berjuang sendirian menjaga dan merawat Fabian karena tidak ada anggota keluarga lain yang mau membantunya. Hanya para pelayan yang ditugaskan untuk memperhatikan segala kebutuhan Fabian. Mama Widya sadar bahwa saat ini semua orang membencinya atas keputusan terhadap Fabian. Tapi sebagai seorang ibu, dia tidak akan tega membiarkan anaknya terpuruk sendirian. Perasaan sayang itu masih tersisa di dalam nuraninya meski sadar bahwa anaknya telah melakukan begitu banyak kesalahan.


Pengacara yang ditunjuk oleh Mama Widya telah membereskan kasus hukum yang menimpa Fabian. Keluarga korban kecelakaan itu diberi uang duka dalam jumlah yang banyak, hampir dua ratus juta , dua kali lipat dari tuntutan mereka semula. Syaratnya tentu saja keluarga korban itu harus menghentikan segala bentuk gugatan hukum terhadap Fabian. 


Kasus narkoba yang menjerat Fabian juga dibungkam secara halus. Mama Widya benar-benar menyelamatkan anaknya yang kini sedang terpuruk hebat. 

__ADS_1


“ Kalau nanti Fabian sudah sembuh pasti dia bikin ulah lagi,” celetuk Tante Tania sinis. 


“ Memang begitu siklusnya, Mbak. Dia bisa seenaknya bikin ulah karena sadar bahwa orang-orang di sekitarnya akan bekerja keras membereskan kekacauannya,” sahut tante Siska. 


Mama Widya menghela napas panjang. Ada rasa sakit yang menyayat batinnya melihat bagaimana kebencian itu ditujukan pada Fabian secara terang-terangan. Tapi dia telah berjanji akan tetap berada di sisi anaknya sampai kapanpun. 


“ Jangan membully Fabian lagi ! Sudah cukup sikap kalian membuatnya down dan hendak menghabisi nyawanya sendiri !” ujar Mama Widya pada kedua adik iparnya itu. 


“ Belain aja terus, Mbak,” sahut tante Tania. 


“ Iya ! Aku akan tetap membela anakku apapun yang terjadi !” tegas Mama Widya. 


Kedua perempuan di hadapannya hanya bisa mengedikkan bahu. Mereka sudah kebal melihat sikap bebal Mama Widya yang tidak mau menerima saran apapun jika menyangkut tentang Fabian. 


“ Suka-suka mbak Wid sajalah,” tukas Tante Siska.


Mama Widya sadar bahwa apa yang dilakukannya mungkin terlihat salah. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Fabian anaknya dan dia tidak akan bersikap tega di tengah penyakit yang sedang diderita anaknya. 


sebagai penderita HIV reaktif, Fabian harus memahami banyak hal tentang penyakitnya ini. Terutama edukasi tentang kesehatan mental dan juga panduan hidup bermasyarakat. Sayangnya, Fabian tidak mendengarkan jawaban itu sepenuhnya. Pikiran Fabian dipenuhi oleh bayangan Nayara yang selalu saja mengusik hati dan pikirannya. 


Fabian kemudian didaftarkan pada sebuah komunitas yang berisi orang-orang dengan HIV atau disingkat menjadi ODHA. Sayangnya, hal itu tidak lantas membuat Fabian semangat untuk bertahan. Jiwanya teramat lelah dan terpuruk hebat. Ditambah lagi dengan penyesalan yang datang bertubi-tubi


“ Papa pasti kecewa melihat keadaanku saat ini,” gumam Fabian dengan lemah. 


“ Iya , Papa pasti kecewa. Tapi kamu akan jauh lebih mengecewakan jika setelah ini tidak berubah,” ujar Mama Widya.


“ Aku akan berubah ,Ma.” ujar Fabian dengan penuh keyakinan. 


Sayangnya perubahan itu tidak kunjung terlihat karena Fabian selalu larut dalam perasaannya sendiri. Kadang Fabian mengabaikan pengobatannya dengan sengaja , seolah ingin mempercepat takdir kematiannya. 


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2