
“ Kamu gak boleh melewatkan satupun obatmu, Bian. Kamu harus pulih biar bisa beraktifitas seperti semula,” ujar Mama Widya pada anaknya.
“ Iya, Ma.” sahut Fabian singkat.
“ Mama gak mau tahu ! Pokoknya setelah ini kamu harus kembali duduk di perusahaan keluarga kita !” Mama Widya berkata dengan lantang sembari menatap Fabian.
Sementara itu Fabian hanya bisa menggumam lemah untuk menanggapi ucapan Mamanya. Semenjak Om Farhan dikukuhkan menjadi CEO baru di Raya Corp, Mama Widya mendadak resah. Padahal awalnya Mama Widya berharap Zavian yang akan duduk di sana, tapi Zavian malah menolak menjabat di perusahaan ayahnya sendiri.
Mama Widya jelas kecewa dengan keputusan itu tapi dia tidak menunjukkan ekspresinya secara terang-terangan. Dia masih tersenyum dan bersikap baik pada keluarga iparnya meski hatinya dongkol bukan main.
“ Kalau Zavian ngasih izin , maka aku akan kembali. Tapi kalau dia gak mengizinkan aku join ke perusahaan itu, ya sudah. Aku gak akan maksa,” ujar Fabian.
Fabian sendiri sebenarnya merasa bersalah terhadap Zavian karena telah membuat kekacauan sebelumnya. Makanya dia selalu berdalih bawah dirinya butuh izin dari adiknya itu. Padahal sebenarnya Fabian tidak benar-benar ingin kembali menjabat di Raya Corp.
Dengan kondisinya yang mengidap HIV reaktif, Fabian butuh ketenangan untuk memulihkan mentalnya. Dia sering kalut jika berada dalam keadaan terdesak dan masih memikirkan untuk mengakhiri hidup. Fabian takut jika orang lain di luar lingkungan keluarganya mengetahui bahwa dia mengidap penyakit ini.
Keluarganya sendiri saja tidak bisa bersikap suportif dan sering melontarkan ejekan disertai tatapan jijik padanya. Mungkin orang lain akan melakukan hal yang jauh lebih mengerikan daripada itu. Membayangkannya saja, Fabian sudah gelisah.
Oleh karena itu, Fabian tidak memikirkan bagaimana cara untuk kembali ke perusahaan Rayyansyah. Lagipula, dia sudah kehilangan minat untuk bekerja di sana semenjak Papa Adrian meninggal. Dia telah memutuskan untuk mundur dari segala ambisinya selama ini karena tahu masa depannya sudah buram dan berantakan.
“ Mama gak akan biarin Farhan menguasai perusahaan milik Papamu !” ujar Mama Widya kemudian .” Gak pantas orang lain seperti dia berkuasa di perusahaan kita!”
“ Om Farhan udah bagus kok, Ma,” sahut Fabian . Dia masih ingat bahwa dulu para karyawan lebih segan pada Om Farhan dibandingkan padanya.
“ Enggak ! Sebagus apapun pekerjaannya, Farhan harus sadar bahwa dia tidak akan lebih tinggi dibandingkan dirimu! Mama akan terus membujuk Zavian supaya kamu bisa kembali ke sana.” Mama Widya mendengus kesal.
“ Ma, sudahlah….” Fabian mendadak jengah melihat sikap Mamanya yang penuh penekanan. “ Lagi Pula keadaanku seperti ini.”
“ Kamu memang mengidap HIV tapi bukan berarti kamu gak boleh bekerja di luar sana !” sergah Mama Widya sambil melotot tajam.
” Sekarang kamu diam saja, Bian ! Tetap minum obatmu dan jangan melakukan apa-apa. Biar Mama yang menghadapi Zavian dan siapapun yang menghalangimu !”
Fabian diam saja. Dia malas berdebat dengan Mamanya yang akhir-akhir ini sering marah tanpa alasan. Fabian tidak sama seperti Zavian yang akan memikirkan segala hal tentang perasaan Mamanya. Dia sibuk dengan urusannya sendiri, bahkan Fabian juga membuat janji dengan seorang dokter psikiater tentang masalah mentalnya.
Fabian juga tahu bahwa Mama Widya berusaha mengintervensi Om Farhan selaku CEO perusahaan Raya Corp agar memudahkan niatnya. Sepertinya sang Mama tidak main-main saat mengatakan bahwa tidak ada orang lain yang lebih pantas menjabat di sana selain anak-anaknya .
__ADS_1
Setelah tarik ulur jawaban selama hampir dua minggu dan berhasil membuat Mama Widya uring-uringan , akhirnya Zavian bersedia memberi keputusan. Dia sudah memikirkan dengan baik apa yang harus dilakukannya hingga sampai pada sebuah jawaban yang dirasa tepat.
Tepat untuk dirinya dan juga tepat untuk hubungan keluarganya.
Dan demi jawaban itu pula, Mama Widya rela datang jauh-jauh ke lokasi dimana Zavian sedang memantau pengerjaan proyek barunya. Wanita itu tersenyum lebar karena yakin sekali hari ini akan mendapatkan kepastian atas keinginannya.
“ Kita bicara di dalam aja, Ma. Panas di sini,” ujar Zavian sambil mempersilahkan mamanya masuk ke dalam sebuah ruangan yang dijadikan kantor.
“ Padahal bisa bicara lewat telepon aja, loh. Masalah simpel padahal,” ucap Mama Widya.
Zavian hanya membalas dengan gumaman samar. Dia bisa saja memberi jawaban antara iya dan tidak, tapi ada efek samping yang harus dipertimbangkan. Zavian tidak ingin ada yang hilang jika dia membuat keputusan secara serampangan.
“ Jadi, bagaimana? Kamu ngasih izin Fabian untuk join ke perusahaan kita,’kan?” pertanyaan itu terlontar untuk kesekian kalinya dari mulut Mama Widya.
“ Boleh-boleh saja,” jawab Zavian dengan santai. Dia meraih kaleng minuman bersoda dan menenggak sedikit isinya. Ada senyum lebar merekah terbit dari bibir Mama Widya yang tak lepas dari pengawasan mata Zavian.” Tapi ada syaratnya.”
Mama Widya mengerutkan keningnya dengan senyum yang perlahan memudar.” Kenapa pakai syarat segala ?”
“ Karena ini bukanlah hal yang remeh, Ma,” jawab Zavian.
“ Siapapun yang menginginkan Fabian kembali join ke perusahaan Rayyansyah maka harus memberikan jaminan yang nilainya sama dengan apa yang telah kulakukan untuk memperbaiki perusahaan itu,” jawab Zavian.
Nada ucapannya terdengar santai dan kalem tapi berhasil membuat Mama Widya membelalakkan matanya hingga nyaris melompat keluar.
“ Kamu gak lagi bercanda,’kan?” tanya Mama Widya dengan wajah sedikit gusar .” Padahal Fabian itu kakakmu, tapi kenapa kamu malah memikirkan hal seperti ini ?”
Zavian meletakkan kaleng minumannya ke atas meja, lalu dia memandang lurus ke arah Mamanya.” Business is still a business , gak peduli itu saudara atau siapapun. Jika kita membicarakan masalah bisnis yang menyangkut keuangan, maka harus ada batasan yang jelas. “
Mama Widya tercengang separuh tidak percaya. Dia menatap Zavian yang kini tampak serius berhadapan dengannya.
“ Batasan yang jelas? Oh, astaga!” Mama Widya berseru dengan nada sinis.” Kamu berkata seolah-olah Fabian adalah orang asing di dalam hidupmu.”
“ Perlu kuingatkan lagi bahwa Fabian telah membuat kekacauan dengan menggadaikan aset perusahaan dengan nilai yang fantastis , surat hutang terbit dengan bunga besar dan pembayaran pajak tertunda selama satu tahun. Menurut Mama, siapa yang membereskan semua kekacauan itu?” tanya Zavian.
“ Kamu….” jawab Mama Widya pada akhirnya.
__ADS_1
“ Ya. Aku yang membereskannya. Karena Mama dan keluarga yang lain terus menerus mendesakku,” ujar Zavian. “ Tapi, apakah Mama pernah bertanya padaku tentang betapa berat semua tanggung jawab itu kutanggung sendirian ? Apakah Mama tahu apa yang sudah kukorbankan untuk membereskan kekacauan akibat ulah Fabian ?”
Wajah Zavian semakin dingin dan tegas seolah -olah yang duduk di hadapannya saat ini bukanhlah wanita yang telah melahirkannya. Tatapannya menusuk tajam hingga membuat Mama Widya membeku di tempat duduknya.
“ Aku menunda pembangunan gedung baru untuk kantorku dan mengalihkan dananya demi menutup hutang perusahaan. Aku mengeluarkan dana pribadi untuk mengejar Hendri ke Australia dan menyewa pengacara handal agar uang perusahaan yang dibawanya kabur bisa didapatkan kembali. Aku juga harus membeli dua juta lembar saham di saat investor lain menjual sahamnya. Semua itu aku lakukan agar perusahaan mangkrak itu kembali berjalan. Setelah keadaan membaik, Mama malah memintaku untuk kembali memasukkan Fabian ke dalam perusahaan itu. Mama juga menekan Om Farhan agar setuju memberikan posisi Vice Of CEO kepada Fabian agar dia kembali berkuasa.” Zavian berkata dengan suara yang ditekan agar tidak meninggi meski lehernya berkedut nyeri menahan emosi.
“ Mama cuma gak mau perusahaan itu lepas dari genggaman keluarga kita, Za. Farhan memang hebat, kerjanya juga bagus. Tapi dia tetaplah orang lain yang kebetulan menikah dengan tantemu. Itulah kenapa Mama pengen banget masukin Fabian ke sana biar Farhan gak mikir kalau dia sudah berkuasa sepenuhnya. Beda cerita kalau kamu yang jadi CEO di sana, maka Mama gak akan pernah memaksa Fabian untuk masuk lagi,” jelas Mama Widya.
“ Om Farhan tahu bahwa aku yang memegang kuasa di sana ,” sahut Zavian singkat.
“ Tetap saja, Za. Harus ada salah satu di antara kalian yang menjabat di sana. Kalau kamu gak mau menjabat di sana dengan alasan gak enak sama Bian, maka biarkan kakakmu masuk ke sana lagi !” seru Mama Widya.
“ Sudah kukatakan tadi, boleh saja Fabian masuk kalau memang itu keinginan Mama. Tapi berikan padaku jaminan dengan nilai yang setimpal,” sahut Zavian.
“ Harus banget kamu melakukan ini, Za?” tanya Mama Widya dengan dahi berkerut kurang senang.” Kok kesannya kayak kamu berubah jadi mata duitan, ya.”
“ Harus, Ma. Dana yang masuk ke sana tidak hanya uangku saja, tapi aku juga mempertaruhkan perusahaanku sendiri, ditambah pula aku meminjam uang pada Yudha. Jika Fabian kembali mengacau, maka aku tidak akan rugi-rugi amat karena memiliki jaminan yang setimpal,” jelas Zavian.
“ Berapa banyak uang jaminan yang kamu inginkan ?” tanya Mama Widya. Wajah wanita paruh baya itu mendadak angkuh saat membicarakan nominal uang. “ Akan Mama berikan jaminan asal Fabian kembali masuk ke sana.”
Sebagi mantan istri dari seorang Adrian Rayyansyah , tentu Mama Widya ikut mendapat warisan atas kekayaan suaminya . Ditambah pula dia adalah pemilik restoran ternama yang memiliki keuntungan yang cukup banyak. Bisa dikatakan bahwa Mama Widya tidak akan mundur jika ditantang untuk memamerkan hartanya.
Zavian mengambil beberapa berkas dari tas kerjanya dan diletakkannya kertas itu di hadapan Mama Widya. Wanita itu bisa membaca dengan jelas apa saja yang tertera di sana, jelas sekali bahwa Zavian telah menyiapkan hal ini dengan matang. Mulai dari harga saham sampai biaya operasional tertera jelas di sana.
Semua nominal itu akan dipegang oleh Zavian sebagai jaminan jika Mama Widya ingin Fabian kembali bergabung dengan perusahaan Rayyansyah. Jelas sekali bahwa kali ini Zavian tidak akan bersikap bodoh dengan merelakan seluruh usahanya berada dalam ambang kehancuran akibat kakaknya.
“ Kurasa Mama cukup kaya untuk memberiku jaminan sebanyak itu,” ucap Zavian dengan senyum sinis yang terulas tipis.”Berapa milyar itu, Ma? Coba sebutin, kayaknya aku lupa, deh.”
“ Gila kamu, Za!”
.
...****************...
Ayo ramein komentarnya dong, kalian di pihak mana? Mama Wid atau Zavian ?
__ADS_1