Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Berhak untuk dibenci


__ADS_3

 Seminggu setelahnya, Tante Tania datang ke rumah bersama dengan Tante Siska. Melihat kehadiran mereka, Mama Widya langsung menghembuskan napas lelah. Jelas sekali bahwa selama kepergian Zavian , kedua iparnya itu selalu menekan  Mama Widya. 


Tapi hari ini Zavian tidak akan membiarkan siapapun mengusik Mamanya. Wanita itu sudah terlalu lelah dalam menjalani kisah hidupnya yang berat hingga berujung pada duka akibat kepergian anak sulungnya. 


“ Asal kamu tahu, Vian. Selama dua tahun belakangan kami selalu mencarimu kemana-mana,” ujar Tante Tania yang disusul anggukan Tante Siska. 


“ Oh, ya ?” Zavian merespon dengan raut wajah pura-pura tidak tahu. Padahal dia tahu semuanya.” Untuk apa Tante mencariku ?”


“ Kami mencarimu untuk menuntut agar kamu bertanggung jawab atas kekacauan yang diperbuat oleh Fabian pada perusahaan kita.” ujar Tante Tania. 


Zavian menghembuskan napas berat. Semenjak kepulangannya, dia selalu berusaha menghindari topik pembicaraan tentang hal ini. Tapi sepertinya kali ini Zavian tidak bisa menghindar lagi. 


“ Kenapa harus aku yang bertanggung jawab ?” tanya Zavian dengan wajah datarnya. 


“ Karena kekacauan ini disebabkan oleh Fabian dan si brengssek itu kakakmu,” jawab Tante Tania dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya. 


“ Kepengurusan perusahaan sudah kalian ambil alih selama dua tahun ini dan keluargaku tidak ikut campur lagi. Berarti apapun yang terjadi selama jangka waktu itu merupakan tanggung jawab kalian,” jelas Zavian. 


“ Jelas kamu masih harus bertanggung jawab !” sentak Tante Tania dengan wajah penuh emosi.” Perusahaan itu kuambil alih karena sudah diambang kebangkrutan ! Tidak ada lagi yang beres di sana. Dan semua itu gara-gara Fabian !”


“ Benar, semua itu salah Fabian !” timpal Tante Siska.


“ Sudah mati saja dia masih meninggalkan masalah untuk orang lain , apalagi kalau sampai berumur panjang,” ucap Tante Tania semakin sinis.” Dia benar-benar layak dilemparkan ke dalam neraka !” 


“ Jaga ucapan Tante ! “ balas Zavian dengan nada sedikit tinggi. Sejak tadi dia terus menahan emosi ketika Fabian yang sudah meninggal masih dihujat dengan begitu buruk. Tapi kali ini Zavian tidak bisa menahan diri lagi. 

__ADS_1


“ Faktanya memang begitu,’kan ? Memangnya apa yang mau kamu bantah dari kelakuan buruk kakakmu itu, Hah?” tanya Tante Tania. 


“ Aku tidak sedang membela perbuatan Fabian yang semasa hidupnya memang bersalah, tapi sekarang situasinya sudah berbeda . Dia sudah meninggal dan tidak sepatutnya Tante mendoakan agar dia masuk neraka. Itu kejam sekali,” ujar Zavian. 


“ Segala sesuatu itu harus dipertanggung jawabkan, Vian. Itulah kenapa kami datang ke sini,” sahut Tante Siska. 


“ Memang benar, tapi jangan bawa-bawa Fabian lagi dalam masalah perusahaan itu,” ucap Zavian. 


Dipandanginya kedua tantenya satu per satu dengan sorot mata kecewa. Sejak dulu Papa Adrian selalu membagi keuntungan perusahaan kepada kedua adiknya dengan adil. Sedangkan Tante Tania dan Tante Siska tidak mau tahu dengan betapa kerasnya usaha Papanya untuk memajukan perusahaan itu. Tapi sekarang , disaat keadaan mulai berbalik , keduanya malah meminta Zavian untuk bertanggung jawab. Seolah-olah mereka tidak mau pusing mengurus perusahaan itu dan hanya mau hasilnya saja. 


“ Vian, ayolah. Buat lagi perbaikan seperti yang pernah kamu lakukan dulu. Investasikan uangmu dan buat perusahaan Rayyansyah bekerja sama dengan perusahaan milikmu. Hanya dengan itu keadaan bisa kembali membaik,” ucap Tante Tania penuh rayuan. 


Zavian menggelengkan kepala dengan cepat. Dia telah memutuskan untuk tidak ingin lagi terikat pada perusahaan keluarga yang selalu membuatnya pusing sejak dulu. Sekarang dia hanya ingin hidup tenang bersama Mama Widya serta keluarga kecilnya. 


“ Tapi Vian……” 


“ Selama ini aku sudah melakukan berbagai cara agar perusahaan itu membaik dan kalian bisa menerima hasilnya . Tapi aku juga berhak membuat keputusan untuk kembali ke sana atau tidak, dan kalian tidak bisa protes ,” ucap Zavian dengan tegas. 


“ Kami butuh bantuanmu,” ujar Tante Tania dengan suara yang mulai melunak. 


“ Untuk saat ini aku tidak mau membantu,” tukas Zavian. Dia kemudian berdiri dan membungkuk dengan menumpukan tangan ke sisi meja.” Tante jangan lupa, bahwa selama dua tahun aku pergi, aku tetap mengetahui apa yang terjadi di sini. Termasuk bagaimana buruknya Tante dalam menghina Mamaku.”


Tante Tania terkesiap dan merasakan tangannya mendadak menggigil. Tatapan Zavian terlihat begitu dingin dan menusuk. Selama ini Zavian memang tidak mau membantu tapi bukan berarti dia tidak peduli pada apa yang terjadi terhadap Mamanya. 


Zavian kemudian pergi berlalu dan meninggalkan kedua tantenya itu. Lalu Zavian menemukan Mama Widya sedang menunggunya di ruangan lain dengan sorot mata khawatir. 

__ADS_1


“ Tidak apa-apa, Ma. Gak usah cemas,” ujar Zavian menenangkan wanita itu.


“ Syukurlah,” ucap Mama Widya. Dia khawatir sekali kedua iparnya itu akan menekan dan merendahkan Zavian seperti yang selalu dilakukannya selama ini. 


“ Mama mau ikut denganku?” ucap Zavian kemudian. 


Mama Widya mengangguk cepat. Air matanya nyaris tumpah. Sekarang tidak ada lagi tempatnya berpegang selain Zavian, anak satu-satunya. 


“ Bawa Mama kemanapun kamu pergi.” 


“ Kalau dipikir-pikir, tidak salah jika sekarang Tante Tania dan Tante Siska bersikap ketus kepada kita. Soalnya sejak dulu masalahnya memang berasal dari Fabian dan Mama yang terlalu ikut campur dalam kebijakan perusahaan.” Mama Widya berkata dengan sorot mata penuh sesal. 


Mama Widya sendiri tidak dapat memungkiri bahwa sikapnya yang keterlaluan telah terlebih dahulu menggoreskan luka terhadap iparnya. Dia tidak akan menutup mata untuk semua hal yang pernah terjadi di antara mereka. Tentang keangkuhan yang ada pada dirinya seolah suaminya akan hidup baik-baik saja selamanya. Tentang ambisinya yang memaksa anaknya  agar menjadi pewaris utama atas perusahaan Rayyansyah. 


Mama Widya tidak akan pernah lupa seperti apa sikapnya dulu. Dan sekarang, setelah berkali-kali gagal dan kehilangan, dia merasa bahwa dirinya berhak untuk dibenci oleh kedua iparnya. Dia sadar sepenuhnya atas kesalahannya. 


“ Aku tahu, Ma. Dan sekarang aku menolak untuk kembali ke sana juga bukan karena dendam, tapi memang lagi gak mau repot aja,” jawab Zavian. 


“ Suatu saat nanti, bantulah mereka , Zavian. Kamu harus memutus rantai dendam yang sudah terlanjur muncul di antara kami. Jangan sampai keadaan ini berlarut-larut atau bersambung terhadap anak dan cucumu kelak,” bisik Mama Widya. 


Zavian mengangguk paham. Dia mengerti apa yang harus dilakukannya untuk kedepannya. Ini bukan lagi mengenai untung rugi yang bisa diraihnya, tapi juga tentang bagaimana hidup akan menjadi lebih baik di masa depan. Oleh karena itu dia akan berhati-hati dalam bertindak agar tidak ada lagi orang yang tersakiti. 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2