Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Jangan usik Mamaku !


__ADS_3

Orang-orang berdatangan dengan mengenakan pakaian hitam pertanda ikut berduka. Karangan bunga berisi ucapan belasungkawa berjejer memenuhi halaman rumah hingga ke jalanan. Kolega bisnis dan teman-teman Fabian datang semua. Terlepas dari kontroversi dan sikapnya semasa hidup, Fabian tetaplah putra seorang Adrian Rayyansyah yang dikenal oleh banyak orang. 


Mama Widya kemudian memilih duduk di dekat jenazah Fabian dengan wajah pucat penuh kesedihan. Anggota keluarga yang lain juga ikut menemaninya di sana. Sedangkan Zavian dan Nayara masih bisa menguatkan diri dan menerima tamu yang hadir dengan kepala tegak .


Mata Zavian terus mengawasi Tante Tania yang kini datang sendirian. Sepertinya Om Farhan akan menyusul setelah ini dan hal itu semakin membuat Zavian khawatir. Karena tidak ada yang mendampingi Tante Tania dan dia bebas melontarkan kalimat menyakitkan sesuka hati. 


“ Akhirnya si pengacau pergi juga,” tukas Tante Tania dengan sinis. Tidak ada rasa bersimpati atas duka yang sedang menimpa iparnya sedikitpun. Dia justru melirik ke arah jenazah Fabian dengan tatapan penuh kebencian. 


Kemudian Tante Tania mendekati Mama Widya hanya untuk melontarkan ucapan kebencian. “ Udahlah, Mbak. Gak usah ditangisi anak seperti itu. Kalau aku jadi dirimu pasti bersyukur atas kematian Fabian. Soalnya malu punya anak yang kelakuannya bobrok , bahkan sampai mengidap HIV segala,” ujar Tante Tania. 


“ Walau bagaimanapun juga dia tetap akan menjadi anakku. Sebagai seorang ibu seharusnya kamu paham kenapa aku menangis ,” balas Mama Widya. 


“ Aku memang seorang ibu tapi sorry…. anakku tidak ada kelakuannya yang seburuk Fabian,” balas Tante Tania dengan begitu angkuh. 


Zavian yang melihat hal itu langsung datang mendekat dan menarik Tante Tania menjauh dari Mamanya. Dia tidak ingin mamanya semakin merasa terpuruk setelah mendengar ucapan-ucapan penuh kebencian dari Tantenya. 


“ Doa Tante agar Fabian segera meninggal akhirnya terkabul juga. Abis ini pesta syukuran ya, Tan ?” ucap Zavian dengan sindiran langsung. Sekarang mereka berdiri di sudut ruangan yang sepi dari para pelayat. 


Tante Tania mendengus kesal mendengar ucapan keponakannya itu. “ Kamu tidak tahu bagaimana rasanya ada di posisiku, Vian. Kamu pikir mudah memaafkan kelakuan Fabian dulu ?”


“ Pertanyaan yang sama ,” tukas Zavian dengan cepat.” Memangnya Tante tahu bagaimana rasanya ada di posisiku selama ini ?”

__ADS_1


Tante Tania menatap Zavian dengan kening sedikit mengerut. Dia membalas tatapan Zavian yang seakan-akan mengejeknya. Memang benar, jika dibandingkan dengan Tante Tania, maka rasa sakit Zavian sebelum ini tentu tidak ada apa-apanya. Tapi Zavian memilih memaafkan Fabian dan melupakan semua kenangan pahit yang terjadi kemarin. 


“ Aku mengakui bahwa Fabian terlalu banyak membuat kesalahan semasa hidupnya . Tapi pada akhirnya dia telah menyesali itu semua. Dia bahkan mengirim surat permintaan maaf yang ditulisnya secara langsung kepada Tante, tapi Tante malah merobek surat itu sambil mengumpat padanya,” ujar Zavian. 


Tante Tania melengos untuk menyembunyikan raut wajahnya yang sedang malu. Bukan malu karena tidak menerima permintaan maaf Fabian, tapi malu karena sikap buruknya ketahuan. Sedangkan Zavian masih menatapnya dengan sorot mata yang penuh ejekan. 


“ Sebenarnya mau Tante maafkan atau tidak, itu urusan Tante. Tapi sekarang ini, jangan pernah mengungkit-ungkit masalah di saat kami sedang berduka,” ucap Zavian. 


Laki-laki itu hendak pergi berlalu, tapi dia malah menahan langkah dan berbalik. Kemudian dia kembali berkata,” Untuk hari ini saja, jangan mendekati Mamaku. Apalagi sampai melontarkan kalimat yang akan membuatnya sedih. Jika Tante masih merasa ada urusan tentang Fabian, bicarakan denganku setelah ini.” 


Tante Tania mendadak membeku di tempatnya berdiri. Tatapan dan ucapan Zavian terdengar begitu tegas dan berani. Sosok yang selama ini tampil sopan itu seolah sedang menunjukkan sisi lain dirinya. 


“ Kalau begitu jangan usik Mamaku !” balas Zavian dengan tatapan begitu tajam.” Karena sekarang akulah yang akan menjaga Mamaku dan tidak akan membiarkan siapapun menjatuhkannya. Lagipula, aku tidak peduli jika harus berseberangan pendapat dengan Tante. Silahkan bangun kubu Tante sendiri, aku tidak takut.”


Tante Tania tidak dapat berkata-kata lagi. Dia tampak ciut setelah Zavian berkata dengan penuh intimidasi padanya. 


Acara kemudian berlanjut dan pelayat terus berdatangan. 


Mata Zavian terus mengawasi Tante Tania dan meminta agar Nayara menemani Mama Widya. Sebelum jenazah Fabian dikebumikan, Zavian juga mewakili Mamanya menyampaikan kalimat permohonan maaf kepada semua orang jika ada yang merasa tersakiti semasa Fabian masih hidup. 


Zavian menatap ke arah Tante Tania tapi wanita itu malah melengos. Jelas sekali tante Tania masih menaruh dendam kepada Fabian yang dianggapnya sebagai biang penyebab masalah. 

__ADS_1


Sorenya, Fabian dimakamkan di samping makam Papa Adrian dan terus diiringi oleh cuaca redup yang sendu. Kini anak dan ayah itu bersanding di dalam keabadian setelah puas menjalani pahit manis kehidupan di dunia ini. 


“ Kami akan sering ke sini, Bian,” ujar Mama Widya dengan lirih. Dia menatap Zavian dan anaknya itu mengangguk pelan. 


“ Tenang di sana , Mas,” ucap Zavian lirih. 


Saat hari mulai gelap, para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman, begitu juga dengan Zavian yang menuntun Mama Widya masuk ke dalam mobil. Mereka bersiap pulang dan meninggalkan gundukan tanah yang masih basah. 


Saat di mobil dan mereka mulai bergerak menjauhi area pemakaman, keadaan semakin bertambah sunyi namun terasa begitu emosional . Mama Widya menyadari bahwa salah satu anaknya pergi selama-lamanya dan tidak akan pernah ditemuinya lagi. Dia telah meninggalkan Fabian di sana sendirian. 


Ternyata meninggalkan makam anaknya untuk pertama kalinya rasanya sangat tidak enak. Kesedihan kembali mengambil alih dan ia menangis lagi. 


“ Gak apa-apa nangis sekarang, Ma. Tapi setelah ini Mama gak boleh menangis lagi. Mama harus bahagia,” ucap Zavian seraya merangkul Mamanya. Padahal dia sendiri tidak luput dari kesedihan yang sama. 


Mama Widya menghapus air matanya dan menatap Zavian.” Kamu harus sehat-sehat ya, soalnya Mama gak sanggup kalau kamu sampai meninggalkan Mama. Karena sekarang Mama sudah tidak punya siapa-siapa lagi.” 


Zavian hanya mengangguk dalam diam dan berjanji akan terus menjaga Mamanya. Tidak akan dia biarkan Mamanya bersedih sendirian. 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2