
Sarah jatuh dalam posisi duduk dan dia meringis memegangi perutnya. “ Aduh, sakit.”
“ Berani-beraninya kamu merampas milikku,” ujar Bu Irma sambil mendekap kotak perhiasannya.
“ Bu… sakit,” seru Sarah sambil meringis kecil.
“ Halah ! Itu cuma akal-akalmu saja. Memangnya kamu pikir aku akan percaya pada perempuan licik sepertimu?” balas Bu Irma. Kemudian dia pergi meninggalkan Sarah sendirian.
“ Ibuuuu… Perutku benar-benar sakit,” teriak Sarah.
Bu Irma tidak peduli. Dia tetap pergi untuk mengamankan kotak perhiasannya. Tidak dipedulikannya teriakan Sarah yang memohon untuk diperhatikan.
Sarah merasakan pinggangnya sangat nyeri luar biasa. Lalu jantungnya berdegup kencang dengan rasa mulas yang mendadak datang. Beberapa detik kemudian Sarah merasakan seperti ada sesuatu yang pecah di bawah perutnya dan cairan perlahan-lahan merembes melalui celana daalam hingga ke pahanya.
Sarah berteriak lagi, kali ini sambil menangis tapi ibunya masih tidak peduli . Akhirnya Sarah meraih ponselnya lalu menelepon sebuah kontak dan menunggu panggilannya diangkat. Tidak lama kemudian seorang laki-laki di seberang sana menjawab teleponnya dengan ketus.
“ Kenapa kau masih menghubungiku, jalaang?”
“ Mas, tolong aku . Perutku sakit, sepertinya terjadi sesuatu dengan kandunganku,” ucap Sarah dengan lirih.
“ Kau pikir aku peduli?” balas Fabian dengan sinis. “ Masih punya muka kau menghubungiku? Dasar wanita tidak tahu malu!”
“ Kumohon, Mas. Tidak ada lagi yang bisa membantuku selain dirimu,” kata Sarah lagi yang masih terus memohon pada Fabian, berharap pria itu punya sedikit rasa kasihan pada dirinya.
“ Jangan bersikap seolah-olah yang kau kandung itu anakku, Sarah. Mau kau mati sekalipun, aku tidak peduli ! “ sahut Fabian dengan bentakan kasar.” Setelah ini jangan pernah menghubungiku lagi !”
Setelah berkata demikian kemudian telepon ditutup dan Sarah mendadak kebingungan. Saat mencoba menghubungi Fabian lagi, teleponnya tidak tersambung karena Fabian telah memblokir nomornya.
Sarah mencoba untuk berdiri perlahan-lahan karena pinggangnya terasa sangat sakit. Dia merasakan lututnya gemetar ketika mencoba berjalan, tapi baru beberapa langkah Sarah tidak sanggup lagi hingga kembali luruh di lantai. Dia berteriak memanggil ibunya sekali lagi.
Bu Irma yang keluar dari kamar mengamati Sarah yang sedang menangis sambil memegangi perutnya. Kali ini dia tidak menangkap kepura-puraan di wajah putrinya dan langsung berlari mendekat.
“ Kamu kenapa?” tanya Bu Irma sambil memegang bahu Sarah.
__ADS_1
“ Pake nanya !” seru Sarah di antara isak tangisnya. “ Sudah jelas Ibu yang membuatku jatuh.”
“ Kamu jatuhnya gak kencang, Rah. Lagian kamu juga yang mencari gara-gara duluan !” balas Bu Irma tak mau disalahkan.
Sarah tidak mau berdebat lagi karena rasa sakit di perut dan pinggangnya semakin menjadi-jadi. Bahkan dia merasakan detak jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dibandingkan biasanya hingga rasanya semakin sesak.
“ Basah, Bu.” ucap Sarah sambil menunjuk pahanya.
“ Astaga! Ketubanmu pecah !” teriak Bu Irma kaget. “ Cepat telepon seseorang untuk membawamu ke rumah sakit.”
“ Aku sudah menelepon Mas Fabian tapi dia gak peduli ,” sahut Sarah.
“ Ngapain juga kamu nelpon dia ? Padahal dia sudah membenci dan mengusirmu, mana mau lagi dia menolongmu. Dasar bodoh !” bentak Bu Irma kesal.
“ Terus aku harus nelpon siapa lagi, Bu?”
“ Telepon si Rendra itu. Bilang padanya kalau anaknya sedang dalam bahaya. Kalau dia gak bisa datang setidaknya kirim duit untuk berobat ke rumah sakit !”
Sarah membuka ponselnya lagi dan mencari kontak Rendra untuk dihubungi . Tapi sayangnya nomor Rendra tidak bisa dihubungi sama sekali . Mungkin pria itu sudah memblokir kontak Sarah karena dulu dia meninggalkan Rendra dengan cara yang sangat menyakitkan.
“ Coba hubungi siapa saja yang bisa kamu minta tolong !” perintah Bu Irma semakin panik.
Satu jam kemudian , setelah lelah berdebat dan menghubungi orang-orang yang ternyata tidak bisa memberi pertolongan, Sarah memesan taksi online untuk membawanya ke klinik yang dekat komplek perumahan. Padahal Bu Irma menyarankannya untuk langsung ke rumah sakit saja.
“ Aku gak kuat lagi, Bu. Rasanya sakit banget,” rintih Sarah sambil menangis .
“ Ya, sudah . Ke klinik saja biar cepat,” ucap Bu Irma. Dia membantu memapah Sarah agar berjalan keluar rumah .
Sesampainya di klinik, Sarah diperiksa keadaannya terlebih dahulu oleh perawat. Setelah selesai diperiksa ternyata Sarah belum diberi tindakan apa-apa. Saat Bu Irma menanyakan keberadaan dokter , perawat tersebut mengatakan bahwa dokter yang bertugas belum datang.
“ Klinik apaan ini, kenapa dokternya tidak standby di sini?” bentak Bu Irma marah.
“ Dokter kami sedang dalam perjalanan, Bu.” jawab salah seorang perawat.
__ADS_1
“ Kalau begitu kami keluar saja ! Lebih baik tadi langsung ke rumah sakit aja !” seru Bu Irma sambil menggerutu.
Akhirnya mereka pergi ke rumah sakit dengan menggunakan taksi online. Sepanjang perjalanan Sarah menangis menahan rasa sakit yang menjalari perut dan pinggangnya.
Ketika sampai di rumah sakit, Sarah langsung ditangani oleh dokter. Tidak lama kemudian dokter memeriksa kandungannya dengan menggunakan USG untuk melihat perkembangan janin Sarah.
“ Detak jantung janin mulai melemah, kita harus mengambil tindakan secepatnya,” ujar dokter kepada Sarah.” Kami menyarankan untuk dilakukan operasi darurat untuk menyelamatkan janin yang kini sedang kritis.”
“ Lakukan saja yang menurut dokter terbaik,” ujar Bu Irma pasrah.
Dia tidak tega melihat putrinya mengerang kesakitan terus menerus. Terbesit juga rasa sesal di dalam hati bu Irma karena dirinyalah yang telah menyebabkan Sarah terjatuh.
“ Bu, sakit sekali.” bisik Sarah sambil memegang tangan ibunya.” katanya aku mau dioperasi ya, Bu?”
“ Iya,” balas Bu Irma. “ Kamu yang kuat, ya.”
Setelah melakukan persiapan, akhirnya Sarah masuk ke ruang operasi. Dia menjalani operasi darurat dan anaknya lahir dalam keadaan prematur. Saat operasi Sarah juga mengalami kondisi kritis sehingga diperlukan transfusi darah.
Selesai operasi, Sarah dibawa ke ruang rawat sementara bayinya dimasukkan ke dalam inkubator. Dokter juga menjelaskan bahwa bayi yang lahir prematur akan mengalami berbagai kemungkinan masalah kesehatan. Mendengar hal itu Sarah langsung menangis.
“ Sudahlah, jangan menangis gitu,” ujar Bu Irma ketika para perawat dan dokter sudah pergi.” Bukannya kemarin kamu memang mau menggugurkan bayi itu? Sekarang sudah lahir kamu malah nangis-nangis.”
“ Ternyata aku tidak mau anakku kenapa-napa , Bu. Karena aku menyayanginya.” jawab Sarah di sela isak tangisnya yang terdengar sangat pilu.
“ Makanya kalau ngomong itu yang bagus-bagus saja,” geram Bu Irma. “ Kalau sudah kejadian begini kamu baru menyesal.”
Sarah menangis terus menerus mengingat betapa sial nasibnya. Apalagi ketika mendengar penjelasan dokter mengatakan bahwa bayinya sempat kritis karena organ tubuh seperti paru-paru dan jantungnya belum terlalu sempurna.
Setelah apa yang terjadi, Sarah merasa bahwa karma buruk baru saja menghampirinya. Dia diusir oleh Fabian dan melahirkan dalam keadaan menyedihkan. Parahnya lagi, laki-laki yang telah menanamkan benih di rahimnya tidak bisa dihubungi sama sekali.
Sarah memejamkan mata sambil merasakan lelehan hangat berjatuhan dari kedua matanya. Teringat lagi olehnya ketika dia memfitnah Nayara di hadapan Fabian dulu. Saat itu Fabian bahkan berani menampar Nayara karena sangat mempercayai dan menyayanginya. Gara- gara itu pula Nayara meminta cerai dan pernikahannya dengan Fabian berakhir.
Ternyata rasanya menyakitkan ketika harus mengingat hal yang sempat membuatnya merasa menang.
__ADS_1
.
...****************...