Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Saling memaafkan


__ADS_3

Zavian mengelus punggung Mamanya yang sejak tadi belum mau melepaskan pelukan. Mereka masih berdiri di depan pintu tanpa suara . Hanya ada isakan pelan bersama getaran halus yang menandakan bahwa wanita itu menangis sambil memeluk anaknya. 


“ By, siapa tamunya ?” Nayara yang penasaran akhirnya ikut menghampiri suaminya dan tercengang melihat wanita dalam pelukan Zavian.” 


“ Mama ?” 


“ Mama kangen,” bisik wanita itu sambil menghapus air matanya yang meleleh. 


“ Aku juga,” balas Zavian. Saat Nayara mendekat dan ikut memeluknya, Zavian kembali  berkata.” Kami juga merindukan Mama. “ 


Mereka berpelukan bertiga, lalu setelahnya Zavian menuntun Mamanya masuk ke dalam rumah. Dia buru-buru menutup pintu demi mencegah udara dingin masuk ke dalam rumahnya.


“ Kamu apa kabar, Nay?” tanya Mama Widya sambil mengelus pipi menantunya yang tampak sedikit chubby. 


“ Baik, Ma. Kuharap Mama juga punya kabar baik,” jawab Nayara.


Mama Widya hanya tersenyum getir. Dia sendiri tidak tahu apakah saat ini keadaannya bisa dikatakan baik-baik saja. Ada banyak hal menyedihkan yang akhir-akhir ini terjadi padanya dan dilewatinya dalam kesendirian. Tapi Mama Widya tidak ingin membagi kisah sedihnya karena takut akan merusak kebahagiaan anak dan menantunya. 


“ Zean mana ? Mama kangen dia,” ujar Mama Widya. 


“ Dia baru saja tidur setelah bermain sejak tadi,” jawab Zavian. 


Saat mendengar suara rengekan bayi, mata Mama Widya langsung tertuju pada bouncer elektrik yang terletak di dekat pemanas ruangan. Selimut tebal di sana bergerak-gerak bersama tendangan kecil. Mama Widya mengerjapkan mata sambil menatap Zavian dan Nayara secara bergantian, 


“ Itu pasti adiknya Zean.” gumam Mama Widya.


“ Iya,” jawab Zavian sambil menuntun Mamanya mendekat dan meminta wanita itu duduk di sofa.” Nayara melahirkan bayi perempuan dua minggu yang lalu.” 


Bayi itu diangkat dari bouncer dan dibawa ke hadapan Mama Widya yang matanya semakin berkaca-kaca . Nayara menyerahkan bayinya kepada Mama Widya yang disambut dengan pelukan hangat. 


“ Dia cantik sekali ,mirip kamu Nay,” ujar Mama Widya. 


Sebenarnya bayi inilah yang membuat Mama Widya nekat datang ke Amerika dan meninggalkan Fabian sendirian. Orang kepercayaan Mama Widya mengabarkan bahwa Nayara telah melahirkan anak keduanya. Oleh karena itu, Mama Widya tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Dia telah bersabar selama berbulan-bulan dan harus mewujudkan keinginannya tanpa butuh persetujuan siapapun. 


Setelah puas menimang-nimang bayi cantik itu, Mama Widya kemudian menyerahkannya pada Nayara untuk disusui hingga tertidur. Mama Widya kemudian berjalan menuju kamar Zean untuk melihat cucu pertamanya yang sudah semakin besar. Diciumnya puncak kepala Zean lama-lama sambil menangis . 


Rasanya sakit sekali saat menyadari bahwa selama ini dia telah kehilangan banyak hal dan melewatkan setiap momen dari perkembangan cucunya. 


“ Apa Fabian tahu kalau Mama datang ke sini?” tanya Zavian saat mereka duduk berdua di ruang tengah. 


Iya, dia tahu,” jawab Mama Widya sambil mengangguk.” Dan dia mengizinkan Mama ke sini.”

__ADS_1


“ Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Zavian berbasa-basi. Padahal tanpa perlu bertanya dia sudah tahu bagaimana keadaan Fabian saat ini.


“ Buruk,” jawab Mama Widya sambil menggeleng dengan wajah semakin getir.” Fabian berulang kali masuk rumah sakit dan mendapat perawatan medis.”


“ Sorry to hear that ,” balas Zavian pelan. 


Mama Widya terdiam cukup lama. Dia memandang ke sekeliling dan merasakan aura kebahagiaan yang dibungkus oleh kehangatan. Zavian dan Nayara menjalani hidup dengan baik-baik saja. Mereka saling menguatkan satu sama lain dan mencintai sepenuh hati. Kelahiran anak kedua mereka semakin menambah rasa cinta dan juga melengkapi kebahagiaan. 


Nayara menjamu Mama Widya dengan menyediakan aneka masakan yang diolahnya sendiri. Wanita yang biasanya hidup serba dilayani itu kini tampak cekatan mengerjakan pekerjaan dapur. Zavian juga turun tangan membantu istrinya dalam menyiapkan beberapa masakan. Keduanya tampak kompak dan bekerjasama dengan baik. 


Dari tempatnya duduk, Mama Widya menatap anak dan menantunya dengan perasaan bahagia. 


Selesai makan malam, Mama Widya masih duduk di ruang tengah sementara itu Nayara menidurkan bayinya di dalam kamar. Zavian membawakan teh hangat dan membantu menyelimuti kaki Mama Widya agar tetap hangat.


“ Za, Mama minta maaf,” ujar Mama Widya sambil meraih tangan putranya. Ada rasa sakit dan penyesalan di dalam nada suaranya. 


Untuk segala hal yang pernah Mama Widya lakukan kepada Zavian di masa lalu, dan untuk semua rasa sakit yang telah diciptakannya. Mama Widya merasa bahwa dia perlu meminta maaf kepada anaknya. Zavian pergi menjauh hingga sampai ke belahan dunia yang lain juga karena dirinya. 


“ Aku sudah memaafkan, Mama,” ujar Zavian sambil merangkul wanita itu. 


Zavian pernah berkata bahwa dia harus memaafkan kedua orang tuanya dan menghapus rasa sakit hati terhadap mereka. Biar suatu saat nanti , anak-anaknya juga mudah memberi maaf ketika dia melakukan kesalahan. Karena Zavian yakin bahwa segalanya akan berputar dan kembali pada dirinya. 


“ Mama senang melihatmu hidup bahagia di sini,” ujar wanita itu lagi.” Apalagi sekarang anakmu sudah dua, pasti rasanya menyenangkan menemani mereka tumbuh besar setiap hari.” 


Tidak ada percakapan tentang perusahaan keluarga yang kini sedang berada di ujung jurang kehancuran. Tidak ada permohonan yang setengah memaksa agar Zavian kembali pulang. Tidak ada juga pembicaraan tentang Fabian. 


Dia membiarkan Zavian hidup dengan segala kebahagiaannya. Dia tidak akan mengusik anaknya lagi. 


Mama Widya murni datang meminta maaf untuk kesalahannya. Dan, kadang yang dibutuhkan bukanlah limpahan materi dan segala bentuk ambisi terhadap dunia, tapi juga seutas kata maaf yang mampu menenangkan segala kekacauan di dalam perasaan. Seperti yang dilakukan oleh Mama Widya sekarang. 


“ Terima kasih sudah mau memaafkan Mama,” ujar wanita itu lagi. 


“ Aku juga minta maaf karena telah meninggalkan Mama dan memilih hidup jauh di sini,” ujar Zavian. 


“ Mama menangis sewaktu tahu kamu pergi, rasanya menyakitkan sekali. Tapi setelah sekian lama waktu berlalu, akhirnya Mama sadar bahwa kamu memang harus pergi. Dengan begitu Mama bisa merenung dan menyadari betapa buruk perlakuan Mama kepadamu selama ini. Kepergianmu membuat Mama sadar bahwa Mama sebenarnya tidak bisa kehilanganmu, Mama juga menyayangimu, Za.” 


“ Ma….” 


“ Terima kasih karena kamu tetap kuat dan baik-baik saja. Mama senang melihatmu di sini. Mungkin, kepergianmu adalah keputusan terbaik yang sudah seharusnya kamu lakukan . Sekarang Mama lega.” 


Mungkin memang benar kata orang, bahwa kepergian itu mengajarkan arti kehilangan . Dan kehilangan juga bisa mengajarkan arti memiliki yang sesungguhnya . Itulah kenapa Mama Widya sekarang berada di sini. 

__ADS_1


Mama Widya telah bertekad untuk tidak merusak hubungannya dengan Zavian. Dia tidak ingin kehilangan Zavian lagi. 


Zavian memeluk Mamanya dengan erat lalu merasakan kehangatan menjalari hatinya. Sudut sepi yang selama ini dia biarkan kosong kini telah terisi kembali. 


“ Mama tidak bisa berlama-lama di sini. Mungkin minggu depan Mama harus kembali, gak apa-apa,’kan ?” tanya Mama Widya. 


“ Gak apa-apa , Ma. Aku senang Mama ada di sini walaupun sebentar, semuanya sangat berarti untukku,” ujar Zavian dengan tulus. 


Selama seminggu di sana, Mama Widya benar-benar menghabiskan waktu bersama, anak, menantu dan kedua cucunya. Satu hal yang disayangkan, yaitu kedatangan Mama Widya di musim dingin sehingga mereka tidak bisa berjalan-jalan keluar. Tapi kehangatan di dalam rumah tetap penuh dengan cinta dan rasanya tak kalah menyenangkan. 


“ Nanti Mama harus datang lagi kesini, tapi jangan di musim dingin lagi,” pinta Zavian sambil membantu Mamanya berkemas. 


Koper-koper miliknya sudah diangkat ke dalam  mobil dan Zavian yang akan mengantarkannya menuju bandara. 


“ Musim panas tahun depan Mama akan kesini lagi. Umur Zia sudah enam bulan saat itu,’kan ? Dan Zean sudah tiga tahun , kita akan merayakan ulang tahunnya di sini,” ujar Mama Widya dengan penuh semangat. 


“ Iya,” jawab Nayara sambil mengangguk tanda setuju.” Merayakan ulang tahun Zean bersama Mama sepertinya akan menyenangkan. Mama harus menepati ucapan Mama tadi.” 


“ Pasti, sayang. Pasti.” ucap Mama Widya . Dia mengenakan syal hangat yang membungkus lehernya. 


Mama Widya memeluk dan mencium Nayara sebelum masuk ke dalam mobil. Setelah itu Zavian menyetir mengantarkan Mamanya menuju bandara dan mereka berpisah dengan penuh kehangatan. 


Mama Widya pulang ke Indonesia dengan perasaan yang hangat dan lega. Dia telah mendapatkan maaf dari anaknya dan tidak lagi merasa kehilangan saat harus berpisah. Begitu juga Zavian yang melepas kepergian Mamanya dengan perasaan penuh cinta. Sekarang dia merasa bahwa dirinya juga dicintai dan disayangi. 


Saat kembali pulang ke rumah, Zavian tidak merasakan bahwa dia sedang melarikan diri berada jauh di sini. Setelahnya komunikasi dengan Mama Widya kembali terjalin hangat. Mereka rutin menelpon dan melakukan panggilan video untuk melihat bagaimana perkembangan Zean dan juga Zia.


Sayangnya, saat musim panas datang, Mama Widya tidak bisa menepati janjinya untuk berlibur dan merayakan ulang tahun Zean yang ketiga tahun. Dengan wajah sedih dan mata memerah sehabis menangis, Mama Widya menelpon Zavian. 


“ Keadaan Fabian memburuk,” ujar Mama Widya sambil menghapus air matanya. 


Di belakangnya tampak Fabian terbaring di ranjang rumah sakit dengan alat medis yang membantu agar dia tetap bernapas. Laki-laki itu tidak sadarkan diri. 


“ Maaf, Mama tidak bisa ke sana untuk memenuhi janji yang telah Mama ucapkan,” ucapnya lagi. 


Tanpa berpikir lama , Zavian membuat keputusan dengan cepat . Dia telah memaafkan semuanya dan tidak ada lagi sisa sakit di dalam hatinya.


“ Biar kami yang pulang, Ma.” 


.


...****************...

__ADS_1


udh 3 bab hari ini, besok lagi ya guys 🤭


Saranghae 🫶🫰


__ADS_2