
Nayara mendessah sekali lagi, merasa bahwa dirinya terlalu banyak berusaha untuk sebuah makan malam keluarga. Tapi di sisi lain, Nayara juga merasa perlu melakukan ini karena dia tidak ingin terlihat menyedihkan ketika harus berhadapan dengan istri baru suaminya.Lebih penting lagi, Nayara tidak ingin terlihat rapuh di mata Zavian dan juga siapapun.
Jadi, dengan keberanian yang telah dikumpulkannya menjadi satu, Nayara melangkah keluar kamar dan menuruni tangga. Langkahnya terayun dengan anggun menuju ruang makan yang telah diisi oleh seluruh anggota keluarga Rayyansyah .
Makan malam telah dimulai tanpa perlu menunggu kehadiran Nayara. Wanita itu terpaku sejenak menatap susunan kursi di meja makan yang mendadak berubah karena adanya anggota baru. Dan kebingungan Nayara dibaca oleh ibu mertuanya.
“ Silahkan duduk, Nay.” ujar mama Widya sambil menunjuk kursi kosong di sisi kiri Fabian. Sedangkan di sisi kanannya sudah ada Sarah yang duduk dengan anggun. Wanita itu tersenyum sekilas dan Nayara tidak berminat membalasnya.
Seorang pelayan membantu Nayara menarik kursi dan mempersilahkannya duduk. Dan disaat itu, Nayara tidak dapat menahan pandangannya untuk tidak melihat sosok pria yang kini duduk berhadapan dengannya di seberang meja.
Untuk pertama kalinya , setelah tiga hari menghindar Nayara kembali bertemu dengan Zavian. Pria itu tampak santai di posisi duduknya. Saat mata keduanya beradu tatap, Zavian mengulas senyum tipis yang sanggup membuat Nayara mendadak salah tingkah. Wanita itu memutus kontak terlebih dahulu dan menelusuri sajian yang dihidangkan di hadapannya.
“ Kamar Sarah sudah bisa ditempati mulai malam ini.” ujar Papa Adrian membuka percakapan di antara mereka.” Papa harap Fabian bisa mengatur kedua istrinya agar tidak ada drama di rumah ini.”
“ Iya, Pa.” jawab Fabian dengan patuh.
“ Aku akan berusaha menjaga sikap selama tinggal di sini.” sahut Sarah . Wanita itu melirik ke samping kiri dan menemukan anggukan kecil dari suaminya.
Sedangkan Nayara diam saja, meski dia tahu seluruh mata kini tengah menatapnya menunggu suaranya. Tapi wanita itu malah sibuk dengan makanan yang ada di piringnya. Setelah sekian lama tidak kunjung ada sahutan darinya, suasana di meja makan mendadak canggung dan senyap. Bahkan ibu mertuanya berhenti makan selama beberapa saat untuk melayangkan tatapan pada Nayara.
“ Nay?” suara mama Widya memecah keheningan.” Nggak mau ngomong sesuatu, gitu?”
Nayara berdehem pelan, kemudian berkata .
” Aku sedang menghindari adanya drama, makanya diam.” Sahutan Nayara membuat papa Adrian meletakkan sendoknya ke sisi piring. Pria itu menatap menantu pertamanya dengan pandangan sedikit tajam.
“ Tidak ada drama apapun , Nayara.” papa Adrian kembali menegaskan dengan suara yang jauh lebih berat dan dingin. “ Jika sikap diammu itu bisa membuat keadaan di rumah ini menjadi lebih buruk, sebaiknya kamu berhenti untuk diam.”
__ADS_1
Nayara menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong steak salmon , sedangkan disampingnya, Fabian menghela napas berat. Pria itu tampak malas menanggapi sikap Nayara yang memang mulai tak bersahabat.
“ Hhmm.” hanya itu yang keluar dari mulut Nayara setelahnya.
“ Tidak ada drama, tidak ada keributan. Jika ada hal yang tidak berkenan di hati kalian , silahkan temui papa secara personal.” ucap papa Adrian kemudian.
Suasana kembali hening dengan aura semakin dingin. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali mengudara, sisanya begitu tenang. Lagipula siapa yang berani mencari masalah dengan seorang Adrian Rayyansyah yang terkenal keras dan otoriter.
Hingga acara makan malam selesai, Nayara masih enggan bersuara. Dia memutuskan untuk mengabaikan setiap hal dengan sengaja atau lebih tepatnya berusaha untuk tidak peduli terhadap apapun.
Nayara kembali ke kamarnya dengan perasaan yang semakin berat. Dia duduk di meja rias sambil menatap wajahnya yang kuyu meski telah dipulas makeup. Ada raut menyedihkan yang tidak dapat dihapuskan dari sana.
Dia mengganti pakaiannya dengan baju tidur berbahan katun tipis yang dipadukan bersama celana pendek setengah paha. Nayara tahu bahwa Fabian tidak akan tidur dikamarnya. Karena pria itu pasti akan menginap di kamar istri barunya.
Jadi, Nayara merasa tidak perlu mengenakan gaun tidur seksi atau lingerie yang menggoda. Karena memang tidak ada gunanya . Tapi ketukan di pintu kamarnya membuat Nayara mengernyit heran . BIasanya Fabian tidak akan repot -repot mengetuk pintu jika ingin masuk kamar .
“ Kamu, ngapain?” tanya Nayara dengan mata membelalak .
Detik selanjutnya, Zavian bergerak masuk dan mendorong Nayara hingga langkahnya terjejal ke belakang. Lengan pria itu melingkar erat di pinggang Nayara dan pintu langsung tertutup rapat.
Nayara belum sempat bersuara saat ciuman zavian membungkam bibirnya dengan begitu cepat dan kuat. Nayara kelabakan selama beberapa saat . Setelah itu ciuman berakhir dan dia bisa bernapas lagi.
“ Aku menginginkanmu , Nay.” bisik Zavian dengan nada suara penuh penekanan.” Malam ini, di sini.”
“ Kamu gila, Za! Kamu mau melihatku mati dirajam suamiku, hah?” Nayara berkata dengan nada rendah dan diiringi mata yang melotot tajam.
“ Perlu kamu tahu, Nay. Suamimu sedang asyik menikmati tubuh istri barunya, jadi apa salahnya jika kamu juga bersenang-senang denganku malam ini.” ujar Zavian.
__ADS_1
“ Aku gak mau ! Pokoknya lepaskan!” bentak Nayara dengan suara yang tertahan.
“ Cuma sekedar quickie doang kok.” sahut Zavian .” Lima belas menit gak lebih.”
Setelah bicara begitu , Zavian segera menarik Nayara hingga tubuhnya terjerembab di atas kasur. Dengan tidak sabar Zavian meremass bukit kenyal Nayara dari luar baju. Gerakannya serba cepat dan sedikit kasar.
“ Hentikan , Vian !” Nayara mencoba menolak dengan menepis tangan Zavian yang berusaha menjammah tubuhnya lebih jauh.
“ Jangan berisik , Nay. Ingat suamimu ada di kamar sebelah.” ujar Zavian dengan senyum jahilnya.” Kamu tidak mau mati dirajam suamimu, kan?”
Nayara menggeleng pelan, matanya menatap Zavian dengan penuh permohonan.” Jangan lakukan ini, Za. Tolong berhenti…”
“ Gak bisa.” jawab Zavian sambil menggeleng tegas .” Tiga hari lamanya kamu menghindariku, Nay. Dan sekarang aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku.”
Nayara berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari kungkungan adik iparnya yang kini sedang dibutakan oleh hasrat. Sayangnya , tenaga Zavian terlalu kuat dan Nayara tidak bisa melawannya.
Sebelah tangan Zavian menahan rahang Nayara dan mengecup bibirnya dengan hisapan - hisapan kuat . Lidah Zavian mendesak kuat di antara bibir Nayara yang terkatup rapat, memaksa agar wanita itu membuka jalan. Nayara masih bertahan selama beberapa saat dengan bibir terkatup rapat, tapi saat tangan Zavian menyentuh dadanya dengan gerakan liar, pertahanannya runtuh seketika.
“ Aahh…” Eraangan Nayara lolos di antara ciuman itu dan Zavian segera mengambil kesempatan. Lidah Zavian menyelinap masuk ke dalam rongga mulut Nayara , mencecap dalam , membelai lidahnya dengan halus. Nayara masih bersikap pasif , dia tidak menikmati ciuman itu.
“ Nggak pakai braa , ya …” gumam Zavian setelah melepaskan ciuman. Ditatapnya wajah Nayara sambil terkekeh pelan.” Aku suka.”
Tangan Zavian mulai bergerak mengangkat pakaian Nayara, lalu berdecak kagum melihat pemandangan indah di depan matanya. Lalu dengan perasaan tidak sabar, dia meremass bongkahan bulat yang membusung itu. Jemari Zavian mencari-cari kerikil kecil di puncak bongkahan kenyal itu, ia segera memilinnya dengan gemas.
Nayara menggigit bibir dan menahan dessahan yang mungkin akan lolos dari bibirnya. Dia juga memutuskan untuk memejamkan matanya seerat mungkin. Karena menatap wajah Zavian hanya akan membuatnya merasa malu . Dia ingin menolak , sedangkan tenaganya tidak cukup kuat untuk memberontak.
.
__ADS_1
...****************...