
Seperti janjinya, setelah mengantarkan Nayara ke rumah, Zavian meminta sopir taksi kembali ke swalayan tadi. Dia ingin mengambil mobil Nayara yang ditinggal di sana. Dengan santai, Zavian berjalan menuju mobil Nayara dan ujung matanya melirik ke arah mobil Fabian yang parkir tepat di sebelahnya.
Sementara itu Fabian menatap adiknya yang tenang dan santai dengan geram. Sudah hampir dua jam mereka menunggu Nayara akan kembali ke mobil , tapi sekarang Fabian paham bahwa wanita itu telah pergi sejak lama .
“ Kurang ajar!” umpat Fabian kesal. Dia menatap kepergian mobil Zavian dengan emosi yang membara. Dia tidak terima dan merasa dipermainkan oleh Zavian.
Fabian teringat lagi ketika mereka sama-sama masih duduk di bangku SMP , Zavian dengan segala kecerdasannya selalu menduduki peringkat satu. Sedangkan Fabian hanya sanggup mencapai ranking empat dan tidak pernah masuk tiga besar.
Karena rasa irinya, Fabian membasahi buku tugas Zavian dan merobek-robek hingga kertas itu hancur. Dengan begitu, Fabian berharap agar nilai adiknya turun. Tapi kenyataannya, Zavian tidak terpengaruh sama sekali. Zavian bisa menyelesaikan tugas dalam semalam dan nilainya tetap menjadi yang terbaik.
Saat SMA Fabian juga pernah menjebak Zavian agar terlibat perkelahian dengan siswa sekolah lain. Fabian berharap nama adiknya yang selalu harum itu tercoreng dan dipandang sinis. Tapi Zavian dengan segala kehebatannya berhasil lolos dari jebakan sang kakak.
Setelah mereka dewasa dan bergabung di perusahaan keluarga, berkali-kali Fabian membuat masalah dan melimpahkan pertanggungjawaban kepada adiknya. Fabian bebas berbuat sesuka hati karena dia tahu bahwa ayahnya akan tetap berpihak padanya.
Sehebat apapun Zavian, dia hanyalah bayang-bayang Fabian. Dia akan tetap berada di belakang Fabian untuk menerima nasibnya sebagai anak kedua yang tidak memiliki kekuasaan sebesar dirinya. Tapi sekarang Fabian semakin meradang karena menyadari bahwa ternyata Zavian tidak pernah menganggapnya sehebat itu.
Di mata Zavian, sosok Fabian hanyalah anak manja yang selalu menghalalkan segala cara dengan sikap yang manipulatif . Zavian bisa menyingkirkannya dengan mudah seperti menepuk debu.
Ternyata telah ada bendera permusuhan di antara mereka sejak dulu. Hanya saja , permusuhan itu tidak terlalu kelihatan karena Zavian terlalu pintar menahan diri .
“ Kita bubar .” perintah Fabian dengan wajah masam.
“ Baik, bos.” sahut Boris.
“ Kamu terus awasi keadaan rumah Zavian. Sekarang mungkin aku gagal, tapi rencana selanjutnya aku harus berhasil mendapatkan Nayara kembali.” ujar Fabian.
Boris mengangguk cepat, dia juga tidak sabar ingin berhadapan dengan ART kampungan yang ternyata bodyguard profesional itu.
Tapi sayangnya, penyamaran Boris tidak bertahan lama. Karena ketika laki-laki itu hendak masuk ke dalam komplek perumahan elit itu, security mencoba untuk menginterogasinya lebih dalam. Boris diminta untuk menunjukkan kartu identitasnya dan ponselnya hendak disita. Tapi karena dia menolak, maka pihak security tidak memberinya izin masuk.
“ Siallan !Bagaimana ini?” tanya Boris mendadak kesal sendiri. Fabian pasti memaki-maki dirinya saat tahu bahwa dia gagal menyamar.
Keesokan harinya , Zavian datang menemui papanya di ruang CEO . Ada Fabian juga di sana tapi Zavian tidak peduli. “ Kebetulan ada kalian berdua di sini, papa mau membicarakan sesuatu.” ucap papa Adrian pada kedua putranya. “ Proyek yang sekarang sedang berlangsung tampaknya memberikan keuntungan besar untuk perusahaan. Papa bangga pada kalian berdua.”
Zavian tidak bereaksi apa-apa dan hanya mendengus samar . Informasi ini bukanlah hal baru baginya karena sebagai pelaksana yang terjun langsung, Zavian tahu lebih banyak dari ini.
“ Aku akan membuat proyek baru yang lebih besar dari ini dan memastikan bahwa perusahaan kita melakukan ekspansi besar-besaran .” kata Fabian dengan sangat ambisius.
__ADS_1
“ Bagus , Bian. Papa suka semangatmu.” puji papa Adrian dengan begitu bangga .
“ Pemikiran seperti itulah yang harus dimiliki oleh seorang calon CEO penggantiku.”
Fabian tertawa semakin lebar dan angkuh .” Aku tidak akan membiarkan orang lain melangkahiku, Pa. Karena aku benci menjadi si nomor dua.” sindir Fabian sambil menatap adiknya.
Tatapan yang merendahkan tertuju pada Zavian. Fabian sengaja menghina adiknya secara tidak langsung dengan kalimat menohok. Rasa sakit hatinya karena kemarin gagal mendapatkan Nayara masih tersisa sampai sekarang.
“ Bagaimana denganmu, Vian? Kamu punya ide agar perusahaan ini menjadi lebih maju?” tanya papa Adrian pada putra keduanya.
“ No, comment.” jawab Zavian singkat.
Fabian tertawa kencang mendengar jawaban adiknya. “ Bagus, Zavian. Kamu memang tidak sepantasnya untuk memberi saran apa-apa. Karena tugasmu hanyalah melanjutkan apa yang telah kumulai. Istilah kasarnya, kamu hanya layak untuk memakan sisaku.”
“ Jangan bicara seperti itu, Bian !” tegur papa Adrian.
“ Memang seperti itu kenyataannya selama ini kan ?” balas Fabian semakin sinis.
“ Aku tidak mau memberi saran apa-apa karena mulai sekarang aku resmi mengundurkan diri dari perusahaan ini.” ucap Zavian dengan santainya.
Papa Adrian ternganga mendengar penuturan putra keduanya, begitu juga dengan Fabian.
“ Aku tidak bercanda.” jawan Zavian dengan tegas. Dia menoleh ke arah Fabian yang sangat terkejut mendengar keputusannya.
“ Papa seharusnya tidak terkejut begitu mengetahui kalau aku akan mundur. Karena papa sudah punya calon CEO yang hebat.”
Zavian mengambil berkas yang dibawanya dan dia letakkan tepat di hadapan Fabian.
“ Silahkan ambil kembali pekerjaanmu dan lanjutkan apa yang telah kamu mulai. Ayo buktikan pada semua orang bahwa dirimu bisa tampil hebat tanpa bantuan dari sosok yang selalu kamu anggap sebagai si nomor dua ini.” ucap Zavian dengan penuh penekanan.
“ Zavian….” papa Adrian bersuara pelan memanggil nama anaknya.
Zavian menatap Fabian dengan seluruh kemarahan yang dimilikinya. “ Aku tidak akan memakan sisa mu lagi ! Ah, tentang Nayara. Dia akan tetap jadi milikku dan aku akan menghabisimu jika kau kembali mencoba mengusiknya seperti kemarin!”
Bendera peperangan itu kini berkibar jelas di hadapan seorang ayah yang tak tahu bagaimana untuk bersikap bijaksana.
Zavian menatap sekeliling ruangannya dengan perasaan sedikit sendu. Sebenarnya dia suka berada di sini dan membantu papanya memajukan perusahaan. Tapi sayangnya sikap Fabian yang selalu berbuat semaunya telah membuatnya muak. Ditambah pula dengan sikap papanya yang tidak pernah berpihak padanya. Mungkin karena Zavian hanyalah anak kedua dan bukanlah sang pewaris utama seperti Fabian, makanya dia hanya dimanfaatkan tanpa dihargai.
__ADS_1
Setelah terus-terusan berada dalam rasa tertekan yang membuatnya muak, sekarang Zavian memutuskan untuk memilih jalannya sendiri. Di keluarganya dia memang anak nomor dua, tapi Zavian adalah pemeran utama di dalam hidupnya sendiri.
“ Semua sudah selesai, pak.” Sekretaris Zavian meletakkan sebuah file dan sebuah hard disk di atas meja kerjanya.
“ Bagaimana dengan komputermu? Sudah kamu hapus semua file yang kuminta?” tanya Zavian.
“ Sudah , pak.” jawab sekretarisnya sambil mengangguk. “ Komputer saya sudah bersih.”
Zavian mengangguk samar, dia memasukkan hard disk ke dalam tasnya dan mengambil dokumen yang diserahkan sekretarisnya tadi. Dia amati lembaran- lembaran kertas itu sejenak, lalu Zavian berjalan keluar ruangannya menuju ruang fotokopi bersama sekretarisnya . Di samping mesin fotokopi ada sebuah paper shredder atau mesin penghancur kertas.
Dengan tangannya sendiri Zavian memasukkan lembaran-lembaran penting itu ke paper shredder dan melihat bagaimana kertas itu berubah menjadi potongan-potongan kecil yang panjang. Setelah semua dokumen itu dihancurkan , Zavian menoleh ke arah sekretarisnya.
“ Panggil office boy dan suruh dia membakar kertas-kertas ini.” titah Zavian.
“ Baik, Pak.” jawab sekretarisnya itu disertai anggukan sopan.
Zavian tersenyum puas dan bergumam di dalam hati . ‘ Fabian harus memulai segalanya tanpa melibatkan campur tanganku.’
“ Kita gak mengadakan farewell dulu, Pak ?” tanya sekretarisnya itu sebelum Zavian beranjak pergi.
“ Tidak ada.” jawab Zavian dengan cepat.
" Perpisahan yang paling berkesan adalah perpisahan tanpa ucapan selamat tinggal .”
“ Pasti bakalan banyak yang akan kehilangan bapak di sini.” ujar sang sekretaris lagi.
“ Apalagi proyek kita baru saja dimulai.”
“ Kalau memang merasa kehilangan dan ingin tetap bekerja bersamaku, kalian susul saja aku ke tempat baruku.” balas Zavian. Dia menyunggingkan senyum penuh arti.
Setelah itu Zavian berjalan keluar sambil menenteng tasnya. Dia melangkah dengan ringan dan perasaan yang mendadak lega . Di dalam hatinya, dia berharap bahwa ini adalah hari terakhirnya menginjakkan kaki di perusahaan keluarganya sebagai putra kedua Adrian Rayyansyah.
Sebelum mencapai lift, ada beberapa orang yang mengejar langkahnya dengan tergesa-gesa hanya untuk bersalaman terakhir kalinya. Mereka sangat menyayangkan keputusan Zavian yang memilih out dari perusahaan di tengah-tengah kesibukan pengerjaan proyek baru.
Setelah selesai bersalaman dengan teman-teman dan para rekan kerjanya , kemudian Zavian keluar dari lobi dan langsung menuju mobilnya. Dia benar-benar meninggalkan Raya group tanpa pernah berharap akan kembali ke sini.
.
__ADS_1
...****************...