Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Perdebatan ibu dan anak


__ADS_3

“ Kamu baik-baik saja?” tanya Zavian sambil menangkup pipi istrinya. Suara Zavian terdengar rendah tapi jelas menahan amarah. 


Nayara mengangguk pelan, bibirnya masih bergetar dengan napas sedikit tersengal. Ditahannya telapak tangan Zavian yang sedang berada di pipinya, dia tidak ingin melepaskan rasa hangat yang membuatnya perlahan-lahan lega sekaligus tenang. 


“ Aku baik-baik saja. Mas Fabian tidak sempat menyentuhku. Dia hanya berdiri di sana,” ucap Nayara menjelaskan keadaan yang tadi di alaminya. Wanita itu juga tidak mau Zavian kalap dan menghajar kakaknya di sini. 


“ Syukurlah.  Ayo kita keluar !” ujar Zavian dengan sedikit berbisik . 


Zavian menggenggam tangan istrinya dan membimbing Nayara keluar dari toilet itu. Dia sempat melirik ke arah Fabian dan menatap dengan sorot penuh amarah yang tersimpan. Sedangkan Fabian masih duduk di lantai dengan perasaan yang terluka teramat parah. Dipandanginya kepergian Nayara bersama Zavian yang tak dapat dicegahnya. 


“ Urus dia, Vy,” titah Zavian pada Evy yang masih tetap bersiaga di dekat Fabian. 


Wanita itu mengangguk diam dan langsung membawa Fabian keluar dari toilet wanita. Dia sempat meminta maaf kepada beberapa orang yang berada di sana, kemudian kembali menyeret Fabian menjauh.


“ Maaf, ya. Seharusnya tadi aku menemanimu,” ucap Zavian penuh sesal.


Tadi saat Nayara pamit hendak ke toilet, Zavian sedang membahas rencana kerja sama dengan Farel, sehingga dengan berat hati dia membiarkan istrinya pergi sendirian. 


Zavian sempat mencari keberadaan Evy setelah Nayara pergi, tapi perempuan itu sedang ada di parkiran karena mencurigai pergerakan seseorang di mobil Zavian. Tapi setelah diminta untuk menyusul Nayara, Evy segera menuju toilet. 


“ Setelah ini kita pulang saja ya,” bisik Nayara pada Zavian. Dia tidak sanggup lagi berlama-lama ada di sini.


“ Iya, sayang,” jawab Zavian. “ Tapi kita  temui sebentar rekan-rekanku. Gak enak kalau aku menghilang begitu saja.” 


Nayara mengangguk pasrah saat Zavian kembali membimbingnya ke tengah-tengah hingar bingar suasana. Seperti janjinya, Zavian hanya datang untuk berpamitan dan meminta asistennya untuk tetap di sana.


“ Istriku sedang hamil, jadi terpaksa pulang cepat karena dia sudah merasa lelah dan juga  udara malam kurang bagus untuk kesehatannya,” jelas Zavian pada rekan-rekannya.


“ Tidak apa-apa,” sahut Aryan sambil mengangguk paham. Dia tahu bagaimana kondisi wanita hamil karena istrinya Elnara pun juga sedang hamil. “ Utamakan kesehatan istrimu terlebih dahulu. Apalagi dia sedang dalam keadaan hamil begitu. Mereka berdua jauh lebih berharga dari apapun.” 


“ Rian masih akan tetap di sini. Jika ada rencana atau janji temu silahkan atur dengannya saja,” jelas Zavian sambil menunjuk asistennya.


“ Boleh. boleh. Kami akan mengabarimu tentang rencana kesepakatan kerja sama kita,” sahut Farel .


“ Thanks. Kami pergi dulu, ya,” ucap Zavian.


Rekan-rekannya mempersilahkan dengan senang hati dan Zavian berlalu sambil menggandeng istrinya keluar dari gedung. Saat Zavian berjalan keluar, dia tidak bisa menghindari permintaan wawancara dari beberapa awak media. Jadi, dengan sabar Zavian menjawab beberapa pertanyaan dengan tegas dan jelas sehingga tidak membuatnya tertahan lama. 


Setibanya di mobilnya, Zavian keheranan melihat security sedang mengecek mobilnya dengan menggunakan sensor. 

__ADS_1


“Ada apa ini?” tanya Zavian pada mereka .


“ Tadi saya memantau dari CCTV kalau ada seseorang yang sedang mengutak-atik mobil Bapak. Saat kami datang ke sini orangnya langsung kabur,” jawab security itu. 


“ Sebaiknya Bapak dan Ibu pulang pakai mobilnya Mbak Evy saja. Soalnya saya gak yakin dengan mobil ini,” kata sopir bernama Heri itu. “ Barusan saya sudah menghubungi mekanik untuk memeriksa keadaan mesin mobil ini.” 


Zavian tahu bahwa ada sesuatu yang sedang tidak beres. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk memanggil Evy dan mereka pulang satu mobil bertiga. 


Saat di mobil Evy juga mengatakan bahwa dia sempat mencurigai seseorang tapi tidak bisa memastikan siapa orang tersebut dan apa tujuannya. Perempuan itu berjanji akan mencari tahu siapa yang ingin mencelakai Zavian ataupun Nayara. 


“ Oh iya, bagaimana Fabian tadi? tanya Zavian pada Evy.


“ Sepertinya dia sedang stress pak,” jawab Evy.


“ Bagaimana maksudmu? “ Zavian mengerutkan dahinya tidak percaya .


“ Dugaanku memang seperti itu,Pak. “ Evy enggan menjelaskan lebih jauh karena tidak ingin membuat spekulasi sembarangan. “ Dia berulang kali bilang kalau dirinya sudah menceraikan, Sarah.” 


Sepanjang perjalanan kepala Zavian dipenuhi oleh berbagai pemikiran tentang kelakuan Fabian. Dia juga menyimpan rasa curiga bahwa mungkin Fabian adalah sosok yang mengirim orang supaya mencelakainya. 


Sementara itu di kediaman orang tua Sarah. 


Semenjak diusir dari kediaman keluarga Rayyansyah yang megah, Sarah selalu menyesali nasibnya hingga berniat untuk menggugurkan kandungannya . Dia merasa bahwa tidak ada lagi keuntungan untuk mempertahankan janin itu. 


“ Minta tanggung jawab sana sama ayah kandungnya. Temui laki-laki itu dan suruh dia memberi biaya untuk anaknya !”


“ Rendra itu orang susah, jangankan untuk membiayaiku dan anak ini. Uang gajinya saja habis dari bulan ke bulan untuk dikirim ke orang tuanya!” tandas Sarah dengan gusar.


Bu Irma mendengus kesal mendengar jawaban anaknya, “ Terus kenapa kamu malah pacaran sama dia ? Hah?” 


“ Karena dia ganteng,” jawab Sarah sekenanya. 


“ Sudah ibu bilang berkali-kali padamu, jangan cari laki-laki yang cuma sekedar ganteng saja. Tapi lebih penting lagi mencari laki-laki mapan yang bisa memberimu hidup layak. Sudah dapat Fabian yang sempurna malah ada saja yang bikin kamu sial,” tukas bu Irma semakin sewot. 


“ Semua ini gara-gara Nayara !” teriak Sarah dengan marah. “ Coba aja kalau dia tidak hamil, pasti posisiku di rumah Mas Bian akan tetap aman. Tapi gara-gara kehamilannya, Mas Bian malah meragukan dirinya sendiri dan akhirnya memaksaku untuk tes DNA . Siallan!”


“ Iya, benar! ini gara-gara Nayara,” timpal bu Irma menyetujui ucapan anaknya. 


Sarah menyunggingkan senyum sinis penuh dendam. Padahal Sarah mengira bahwa dirinya adalah pemenang di hati Fabian karena berhasil membuat suaminya menceraikan Nayara. Tapi ternyata Nayara malah kembali dengan sebuah pembalasan yang membuat hidup Sarah menjadi kacau dalam semalam. 

__ADS_1


“ Aku harus memberi pembalasan pada wanita itu,” gumam Sarah penuh dendam dan juga kebencian. “ Jika hidupku hancur, maka hidupnya juga harus hancur.” 


“ Memangnya apa rencana yang ingin kamu lakukan ?” tanya bu Irma.


“ Ibu punya uang berapa?” Sarah balik bertanya pada sang ibu. “ Aku perlu membayar seseorang untuk mencelakai perempuan siialan itu.” 


“ Uang ibu? Gak ada , ibu gak punya uang !” sahut bu Irma sambil menggeleng cepat. 


“ Jangan minta uang sama ibu!” 


“ Masa sih? Bukannya waktu ibu memegang kartu kredit Mas Bian , tagihan ibu sampai tujuh puluh lima juta sebulan? Beli apa aja memangnya ?” cecar Sarah sambil menatap tajam sang ibu. 


“ I-itu, eemmm… ibu beli.. eemm…” Bu Irma tampak gelagapan sambil menyembunyikan tangannya ke belakang punggung. 


Sementara itu Sarah memicingkan matanya menatap ke arah ibunya. Dia tahu bahwa selama ini ibunya mengoleksi berbagai perhiasan untuk dipamerkan pada teman-temannya. 


“ Sini gelangnya ! Gede juga tuh. Kalau dijual pasti mahal,” ujar Sarah.


“ Gak ! Gak ! Jangan Sarah, ini punya ibu.” Bu Irma menggelengkan kepalanya cepat kemudian langsung berdiri dan menghindar dari anaknya. 


Sarah membiarkan ibunya menjauh dan tidak berminat mendekati wanita yang telah melahirkannya itu. Tapi Sarah malah menuju kamar tidur ibunya dimana ada sebuah lemari tempat penyimpanan pakaian. Dibukanya pintu lemari itu dan ditariknya sebuah laci. Dia menyunggingkan senyum lebar setelah itu. 


“ Sarah jangan! Kamu gak boleh mengambil itu !” cegah Bu Irma menghalangi anaknya . Di sana ada kotak tempat menyimpan perhiasan dan Sarah sedang mengambil benda itu. 


Sarah menepis tangan ibunya dengan kasar lalu mendelik marah,” Kenapa aku gak boleh mengambil ini , hah ? Memangnya Ibu lupa darimana uang untuk membeli ini semua?” 


“ Tapi, Rah…” 


“ Diam !” bentak Sarah . “ Kalau bukan karena aku, mana bisa ibu membeli perhiasan ini . Sekarang aku akan mengambil ini semua.”


Bu Irma tidak terima melihat perhiasan yang selama ini dibangga-banggakannya dirampas begitu saja. Jadi, dia berusaha untuk merebut kotak itu dari anaknya.” Balikin, Rah. Balikin !” 


“ Minggir !” seru Sarah menepis tangan ibunya. 


Dia membawa kotak itu keluar dari kamar ibunya. Tapi Bu Irma mengikuti Sarah dan terus bersikukuh ingin merampas kotak itu dari anaknya. Kemudian terjadi tarik menarik antara Ibu Irma dan Sarah dengan begitu sengit. Tidak ada yang mau mengalah satupun. Hingga akhirnya Bu Irma menyentak dengan begitu kuat dan tak sengaja membuat putrinya terhempas ke belakang. 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2