
Perjalanan mereka diisi oleh kesunyian karena tidak ada satupun di antara mereka yang berbicara. Sesekali ponsel Zavian berbunyi tapi laki-laki itu mengabaikannya karena memilih fokus mengemudi.
Jalanan yang masih sepi di pagi hari membuat perjalanan mereka menjadi lebih cepat dan mudah di rumah sakit harapan keluarga. Keduanya segera turun dari mobil dan berlari menuju UGD dimana Mama Widya berada.
Ternyata Zavian dan Tante Tania tiba berbarengan di rumah sakit dan langsung memeluk Mama Widya secara bergantian. Saat Fabian memeluk Mama Widya , tangis wanita itu semakin pecah. Dia terisak begitu pilu, bukan karena melihat kondisi anaknya. dengan kepala diperban tapi karena tidak mampu membendung kesedihan atas segala yang terjadi pada keluarganya.
“ Papamu sudah pergi, Bian. Papamu meninggal.” ujar Mama Widya.
“ Maafkan aku, Ma.” ujar Fabian sambil terisak.
Saat dihadapkan pada wajah kaku papanya yang kini tanpa nyawa, tangisan Fabian semakin menjadi-jadi. Sekuat apapun dia mengguncang tubuh itu, papanya tidak akan pernah membuka mata lagi. Dipeluknya tubuh kaku itu sambil meraung dan meratapi kepergian papanya yang begitu mendadak.
“ Sudah gak ada gunanya lagi kamu menangisi Papa sampai segitunya. Sekarang Papa sudah tenang dan gak merasakan sakit lagi,” ujar Zavian sambil menarik Fabian menjauh dari jenazah Papa Adrian.
Keluarga yang lain membantu mengurus administrasi serta pembayaran rumah sakit. Rencananya jenazah Papa Adrian langsung dibawa pulang karena telah mendapat kepastian dari pihak dokter di rumah sakit.
Pagi itu, mereka pulang membawa jenazah Papa Adrian dengan deraian air mata. Tidak ada yang menyangka bahwa mereka akan menghadapi takdir pahit secepat ini.
Kepergian Papa Adrian terlalu mendadak dan mengejutkan.Tanpa pesan , tanpa ucapan selamat tinggal. Wajar jika Mama Widya merasa syok karena merasa begitu kehilangan. Bahkan tangisnya tak kunjung reda meski keluarga yang lain selalu memberinya penghiburan.
“ Papamu tiba-tiba drop dan pingsan cukup lama. Mama segera memanggil dokter dan papamu sempat sadar. Tapi setelah itu dia pingsan lagi dan kami membawa papamu ke rumah sakit,” jelas Mama Widya dengan suara sengau sehabis menangis. Sekarang mereka telah tiba di rumah dan Mama Widya berbicara dengan Zavian berdua.
“ Kenapa Mama tidak memberitahuku?” tanya Zavian sedikit kecewa.
Mama Widya menggeleng lemah.” Kamu sedang sibuk mengurus Fabian di rumah sakit. Jadi, Mama pikir kamu gak perlu ikut terbebani memikirkan keadaan papamu. Mama kira semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata….”
Zavian segera memeluk Mama Widya dan mengusap punggung wanita itu. “ Mungkin ini yang terbaik untuk Papa karena selama ini beliau sudah menderita sakit cukup lama.”
“ Tapi Mama belum ikhlas, Za,” ucap Mama Widya kembali tersedu.” Padahal sebelum itu papamu berjanji akan segera sembuh supaya bisa melihat cucunya tumbuh besar. Tapi gak lama setelahnya papamu pergi begitu saja.”
Zavian merasakan sesuatu mencekat tenggorokannya hingga terasa sakit. Dia sendiri cukup terpukul dengan kepergian Papa yang serba mendadak ini. Zavian bahkan belum sempat meminta maaf kepada Papanya dan itu semakin menambah rasa sakit di dalam dadanya.
“ Papamu tahu semua tentang Fabian,” ujar Mama Widya sambil menghapus air matanya.“ Papamu menonton berita tentang Fabian yang terlibat kecelakaan bersama wanita setengah telanjang itu. Papamu juga tahu kalau Fabian berada di bawah pengaruh obat-obatan .”
__ADS_1
Zavian terpaku mendengar penjelasan Mamanya.
“Papamu sempat menyebut nama Fabian beberapa kali. Setelah itu tekanan darah Papamu naik drastis dan sempat kejang sebelum pingsan. Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, papamu sudah tidak bereaksi lagi ,” jelas Mama WIdya dengan begitu pilu.
Death on arrival. Itu penjelasan yang Zavian dapatkan terkait kematian Papanya dari pihak rumah sakit tadi. Papanya telah meninggal dalam perjalanan dan tidak bisa diselamatkan lagi. Pemicunya bisa jadi karena tekanan darah yang terlalu tinggi sehingga membuat penyakit jantung Papanya kumat dan berakhir dengan kematian.
“ Seandainya Fabian gak bikin ulah, mungkin Papamu tidak akan pergi secepat ini,” ujar Mama Widya kemudian.
“ Padahal selama ini Papa sangat menyayangi Fabian, tapi kenapa dia malah membalas kasih sayang papanya dengan sikap seperti ini?”
“ Sudah, Ma. Tidak ada yang perlu disesali lagi,” ujar Zavian sambil menenangkan wanita paruh baya itu. Mama Widya kembali menangis dalam pelukan Zavian.
Sementara itu, dari balik partisi ruangan, Fabian mendengar semua ucapan Mamanya barusan. Napasnya mendadak terasa sesak dengan genangan air mata yang mengaburkan pandangannya.
Memang benar apa yang diucapkan oleh Mama Widya barusan. Kematian Papa Adrian bisa jadi disebabkan karena tingkah Fabian yang keterlaluan . Dialah yang menyebabkan kekacauan di dalam keluarga Rayyansyah hingga berakhir dengan kematian Papa Adrian.
Fabian bodoh, toolol dan tidak tahu diri. Kini Fabian menangis terisak-isak sambil mengutuk dirinya sendiri. Dia duduk di lantai yang dingin sambil memeluk lututnya. Air mata bercucuran membasahi baju Fabian.
Segala rasa sakit yang sempat singgah akibat kecelakaannya tidak merasakannya lagi. Sekarang hatinya jauh lebih sakit dan pilu mendapati sosok Papa yang selama ini selalu membelanya telah pergi.
Zavian selalu berada di sisi Mama WIdya dan memeluk wanita itu agar tetap kuat. Sedangkan Fabian hanya berdiri di sisi Mamanya tanpa bisa melakukan apa-apa. Dia bisa merasakan seluruh mata menatapnya dengan pandangan sinis dan kemarahan yang tak terucapkan. Semua orang tahu bahwa Papa Adrian pergi tepat di saat anaknya tersandung kasus yang sangat menghebohkan publik.
Pikirkan Fabian hanya berisi penyesalan yang tidak dapat diungkapkannya dengan kata-kata . Bahkan saat melihat Nayara hadir di antara mereka, Fabian memilih megabaikan wanita itu. Dia tidak menatap Nayara dengan tatapan mendamba dan penuh hasrat seperti yang selama ini dilakukannya. Segalanya mendadak terasa hampa dan kosong.
“ Kenapa masih ada polisi di sini?” tanya tante Siska dengan sorot jengkel. Dia menatap ke arah empat orang polisi yang datang memasuki halaman. “ Apa mereka gak tahu kalau kita sedang berduka?”
“ Mereka pasti mau menciduk Fabian !” celetuk tanta Tania yang juga geram.
Zavian yang melihat itu langsung memanggil pengacaranya. Dia tahu bahwa polisi tidak akan membiarkan Fabian lepas begitu saja setelah apa yang sudah terjadi. Tapi bukan berarti mereka bebas bersikap semaunya di saat segalanya sedang kacau begini.
“ Aku tahu mereka sedang menjalankan tugas dan perintah atasan, tapi setidaknya jangan mengusik kami yang sedang berduka,” ujar Zavian sembari menekan nada suaranya agar tidak meninggi.
“ Tolong atasi mereka, ya.”
__ADS_1
“ Siap, Mas,” jawab sang pengacara keluarga Rayyansyah yang langsung bergerak cepat menghampiri para penegak hukum itu.
Pemakaman Papa Adrian dilakukan sore hari setelah seluruh anggota keluarga datang semuanya. Ada tangis dan ratapan mengiringi kepergian Papa Adrian ke tempat peristirahatan terakhirnya. Taburan bunga kini memenuhi gundukan tanah merah yang masih basah.
Mama Widya duduk dengan lemah dan menatap pemakaman suaminya dengan pilu. Sedangkan Zavian merangkul mamanya dan membisikkan kalimat-kalimat penguat.
“ Sekarang Mama cuma punya kamu, Vian,” ucap Mama Widya sambil menghapus air matanya.
Fabian yang mendengar hal itu merasakan sakit yang luar biasa di dalam dadanya. Tapi saat melihat situasi saat ini dan menyadari kesalahannya, Fabian mencoba untuk berlapang dada. Dia memang tidak pantas dan tidak akan bisa menjadi tumpuan mamanya. Dirinya hanyalah laki-laki bodoh yang selalu menjadi biang masalah di keluarganya.
Malamnya, pengacara Papa Adrian datang ke kediaman keluarga Rayyansyah sambil membawa beberapa file di tangannya. Pengacara yang selama ini dipercayakan oleh Papa Adrian dalam menangani segala masalah yang berkaitan dengan hukum itu tampak tegang saat keluarga inti Rayyansyah menatapnya.
“ Saya akan membacakan surat wasiat sekaligus pembagian warisan Tuan Adrian Rayyansyah,” ujar pria paruh baya yang umurnya tak berbeda jauh dari Papa Adrian
“ Apa gak bisa ditunda, pak? Kami masih dalam keadaan berduka,lho,” ucap Zavian yang merasa keberatan dengan semua ini.
“ Tuan Adrian sendiri yang meminta saya agar membacakan surat wasiat dan juga pembagian warisannya dibacakan sesaat setelah beliau dimakamkan ,” jelas pengacara yang bernama Indra itu.
“ Benar, Za. Papamu juga sempat bilang begitu sama Mama,” timpal Mama Widya.
“ Oh, iya . Saat di rumah sakit waktu itu, Tuan Adrian memperbarui surat pembagian warisannya, jadi surat yang lama sudah tidak valid lagi. Sekarang saya akan membacakan surat yang terbaru dan telah disahkan,” ucap Pak Indra lagi.
Kertas yang berisi tanda tangan Papa Adrian diatas materai itu diletakkan di tengah meja agar semua anggota keluarga bisa melihatnya. Di sana ada dua kertas, yang pertama adalah surat warisan berisi pembagian harta kekayaan Papa Adrian dan yang kedua adalah surat wasiat yang berisi pesan-pesan khusus untuk anggota keluarganya.
Pak Indra membacakan surat pembagian harta kekayaan terlebih dahulu. Setelah itu barulah dia membacakan surat wasiat.
Zavian tidak membantah apa-apa lagi. Dia pasrah saja dan mendengarkan apa yang diwariskan oleh Papanya sebelum meninggal. Tidak ada yang menarik perhatiannya sedikitpun tentang pembagian harta warisan papanya. Karena selama ini dia tidak mengharapkan apa-apa dan dirinya sudah memiliki kelimpahan materi yang mampu menghidupi anak dan istrinya.
Namun, Zavian terkejut saat pak Indra menyebutkan poin terakhir dari wasiat Papanya.“ Perusahaan Raya Corp dan segala asetnya diserahkan kepada Zavian Rayyansyah. Hanya Zavian Rayyansyah yang berhak mengelola perusahaan dan segala aset yang ada sesuai dengan kebijakannya. Keputusan ini juga akan dibacakan di hadapan pemilik saham dan juga dewan direksi.”
Zavian merasakan bahunya baru saja ditimpa beban berat. Dan suasana menjadi tambah tegang saat Fabian menatap Zavian dengan sorot mata yang begitu tajam.
.
__ADS_1
...****************...