
“ Kamu beneran bisa menemaniku, By? Gak lagi sibuk,” tanya Nayara untuk memastikan dia tak mengganggu pekerjaan suaminya saat ini.
“ Enggak, sayang. Aman kok,” ujar Zavian. Laki-laki itu menggulung lengan baju sampai siku.
Zavian sengaja meninggalkan kantornya demi menemani Nayara cek ke dokter kandungan hari ini. Lagipula, Yudha teman sekaligus rekan kerjanya juga tidak keberatan ditinggalkan sendirian karena Zavian telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik hari ini.
Zavian menyetir sendiri menuju rumah sakit dan membimbing istrinya turun dari mobil. Nayara telah membuat janji temu dengan dokter dan tidak perlu ikut antrian lagi. Keduanya berjalan melewati lobi rumah sakit dengan tangan bergandengan mesra.
“ Itu Sarah ,” bisik Nayara saat melihat keberadaan perempuan yang pernah menjadi madunya itu.
“ Abaikan saja,” balas Zavian sambil merengkuh bahu Nayara agar lebih merapat ke arahnya.
Sedangkan Sarah juga menatap keduanya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Wajahnya basah oleh air mata dan tidak bisa memikirkan rasa sakit hati ataupun dendamnya yang tak beralasan terhadap Nayara. Karena Sarah baru saja menerima kabar mengejutkan dari dokter.
Sarah menatap punggung Nayara yang berjalan membelakanginya. Wanita itu tampak bahagia dengan kehidupan barunya bersama Zavian. Padahal dulu Sarah berpikir bahwa Nayara akan hancur setelah perceraiannya dengan Fabian.
Siapa sangka, ternyata justru dirinyalah yang hancur akibat perbuatannya sendiri . Belum pulih rasa sakit pasca operasi caesar yang dijalaninya saat melahirkan, kini Sarah harus menerima kenyataan pahit bahwa anak yang dilahirkannya secara prematur harus meninggal dunia.
Sarah menangis lagi. Surat keterangan kematian yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit dipandanginya dengan mata berkabut. Sementara itu ibunya datang mengabarkan bahwa mobil untuk mengantarkan mereka pulang sudah menunggu.
Dengan langkah tertatih, Sarah berjalan meninggalkan lobi rumah sakit dan masuk ke dalam mobil. Kehilangan ini telah membuatnya terpuruk ke dalam sebuah luka yang begitu menyakitkan. Tidak ada kehilangan yang membuatnya merasa baik-baik saja.
Sedangkan di ruangan dokter, Zavian dan Nayara memandang layar monitor dengan senyum yang sama-sama merekah lebar. Apalagi ketika dokter mengatakan bahwa janin yang dikandung Nayara berkembang dengan baik.
“ Pertahankan terus kondisi yang baik ini, ya,” ujar dokter Raina dengan ramah. “ Saya akan meresepkan vitamin agar kondisi kesehatan ibu dan calon bayinya selalu terjaga.”
“ Syukurlah,” ucap Nayara dan Zavian secara serempak. Mereka saling pandang lalu sama-sama tersenyum.
Selesai konsultasi, Zavian langsung mengajak Nayara pulang kerumah. Dia sempat menawarkan apakah istrinya ingin belanja terlebih dahulu atau tidak. Saat Nayara menjawab tidak, maka Zavian langsung saja pulang.
“ Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya tumbuh besar,” ujar Zavian sambil mengelus perut Nayara.
“ Sama aku juga. Tapi kita harus bersabar menunggunya,” timpal Nayara.
“ Oh, iya. Mama mengajak kita untuk makan malam di rumah,” ucap Nayara memberitahu.
__ADS_1
“ Kamu jawab apa?” tanya Zavian.
“ Belum kujawab,’kan harus minta persetujuanmu dulu,By .”
“ Tolak sajalah, aku sedang tidak mau bertemu dengan Papa atau Fabian,” jawab Zavian.
Nayara mengerutkan dahinya mendengar permintaan suaminya,“ Kenapa?” tanya Nayara penasaran dengan apa yang telah terjadi diantara Papa Adrian dan suaminya. Karena Zavian belum menceritakan permasalahan apapun pada dirinya.
“ Pertemuan terakhir kami agak kurang menyenangkan,” jelas Zavian sambil menyetir mobilnya. Pandangannya lurus kearah jalan , sesekali menatap Nayara sekilas. “ Papa sepertinya marah padaku karena aku menolak usulan kerjasama dengannya.”
“ Oh, begitu,” desis Nayara paham.
“ Kalau aku terima ajakan papa untuk join, maka aku harus melepaskan kerjasama dengan Aryan. Padahal selama ini Aryan lah orang yang selalu membantuku disaat sedang kesulitan. Sementara Papa hanya ingin mengambil keuntungan saja tanpa mau memikirkan kerugian yang akan aku tanggung,” jelas Zavian lagi.
Laki-laki itu tampak sangat kecewa terhadap ayahnya, apalagi ketika Adrian dengan terang-terangan memintanya membantunya tapi secara bersamaan juga mengharuskan Zavian memutus kerjasama dengan MH Corporations . Papa Adrian berdalih bahwa dia tidak ingin bekerjasama dengan kompetitor yang bersaing dengannya.
“ Lakukan saja apa yang menurutmu benar, By. Tidak semua keinginan Papa harus dituruti,” ujar Nayara memberi saran.
“ Iya, aku gak mau mengikuti kemauan Papa. Itulah kenapa aku menghindari pertemuan dengan Papa,” jelas Zavian .
Sebenarnya tidak hanya Papa Adrian yang sedang dihindari oleh Zavian, tapi Fabian juga. Dia tidak mau terus-terusan merasa kesal karena sikap Fabian yang sangat menjengkelkan. Untuk itu , Zavian memutuskan menolak segala bentuk pertemuan dengan Papa dan juga kakaknya.
Sorenya, Nayara menyampaikan pada Mama Widya bahwa mereka tidak bisa datang untuk bergabung makan malam bersama keluarga Rayyansyah. Jawaban itu tentu saja mendapat respon kecewa dari Mama Widya yang telah berharap kedatangan anak dan menantunya malam ini.
Saat malamnya, ketika mendengar kabar penolakan itu, Papa Adrian hanya mendengus sinis. Dia tidak menyangka bahwa Zavian juga akan menolak untuk bertemu dengannya. Padahal rencananya malam ini Papa Adrian ingin mengiming-imingi anaknya dengan pemberian saham agar mau bekerja sama di perusahaannya.
“ Dasar anak tidak tahu diri,” Ucap Papa Adrian geram . “ Kemarin dia menolak ajakanku secara terang-terangan, sekarang dia juga menolak untuk datang ke rumah ini. Memangnya dia pikir dirinya itu sudah hebat sekali, hah?”
“ Nayara bilang kalau Zavian sedang sibuk dan lembur sampai malam di kantornya ,Pa.” jelas Mama Widya mencoba untuk menenangkan suasana hati suaminya.
“ Mereka menolak karena memang begitu keadaannya, bukan hanya untuk menghindari pertemuan dengan Papa.”
“ Sama saja !” kesal Papa Adrian.
“ Mentang-mentang sudah berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan besar, dia sekarang merasa sombong dan tidak butuh bantuanku lagi.”
__ADS_1
“ Zavian bukan anak yang seperti itu, Pa. Dia pasti punya alasan sendiri yang Papa tidak paham,” sergah Mama Widya.
“ Aku terlanjur kecewa dengan Zavian . Bisa-bisanya dia menolak membantuku,” tukas Papa Adrian dengan kesal kala mengingat penolakan dari Zavian.
Mama Widya berusaha menenangkan suaminya tapi tidak kunjung berhasil. Adrian yang telah berharap banyak bahwa Zavian akan datang membantunya harus menelan kekecewaannya sendiri. Nyatanya, Zavian tetap teguh pendirian dan tidak mau mengusik apapun yang bersinggungan dengan nama besar Raya Corp.
Masih ingat ucapan Zavian beberapa hari yang lalu saat menolak permintaan Papa Adrian. Kalimat yang terlontar dari Zavian benar-benar menyinggung perasaan Adrian yang selama ini terkesan hanya memperalatnya saja.
“ Raya Corporation adalah harta yang Papa wariskan pada Fabian. Jadi, silahkan Papa andalkan saja Fabian untuk mengatasi masalah ini karena aku tidak akan mengusik apa yang telah Papa wariskan padanya,” ujar Zavian.
“ Papa hanya ingin kamu menangani satu proyek, tidak masalah jika kamu harus membawa nama perusahaanmu di sini,” kata papa Adrian kala itu.
“ Tidak, Pa. Aku tidak akan mau menggabungkan perusahaanku dengan perusahaan milik, Papa. Kedepannya , aku tidak mau menerima intervensi apapun karena perusahaanku adalah sesuatu yang kubangun dari hasil jerih payahku sendiri. Jadi, tolong pahami bahwa sekarang ini posisiku adalah seorang CEO dari perusahaanku, bukan lagi sosok putra kedua yang hanya bisa diperalat sesuka hati,” jelas Zavian lagi.
Mati-matian Adrian membujuk anaknya tapi hasilnya tetap saja nihil. Dia tidak berhasil membuat Zavian kembali ke dalam rengkuhannya.
“ Sejak awal kita sudah salah dalam memperlakukan Zavian. Jadi, wajar saja jika sekarang dia tidak ingin dimanfaatkan lagi,” jelas Mama Widya.
“ Dia tetaplah anakku dan akan selamanya begitu,” tegas Papa Adrian . “ Tidak peduli seberapa hebatnya dia di luar sana, orang-orang akan tetap menganggap bahwa anakku yang sukses adalah karena jasaku.”
“ Sudahlah, Pa. Biarkan Zavian membentuk dunianya sendiri. Selama ini dia juga sudah banyak membantu tapi Papa tidak pernah menghargainya ,” sahut Mama Widya.
“ Aku akan membuat Zavian kembali padaku. Dia tidak boleh terlalu keras kepala dan angkuh begini,” gumam Papa Adrian pelan, tapi Mama Widya tetap bisa mendengar dengan jelas.
“ Ada apa,Pa? Kok hawanya tegang begini?” tanya Fabian yang baru saja bergabung di meja makan. Dia tidak datang sendirian, tapi ada Om Farhan dan Tante Tania yang juga ikut menempati kursi di meja makan.
“ Aku punya anak dua orang tapi tidak ada satupun yang berguna,” ujar Adrian dengan sindiran tajam. Dia melirik ke arah Fabian yang mematung di tempat duduknya. “ Yang satu sibuk bucin mengurusi istri orang, yang satu bersikap angkuh seolah-olah sedang memegang kendali dunia.”
“ Papa menyindirku ?” tanya Fabian dengan raut wajah tidak senang.
“ Iya, memang siapa lagi,” jawab Papa Adrian yang sudah muak.” Fokuslah bekerja, Bian. Hentikan sikap konyolmu yang membayar orang -orang untuk membuntuti Nayara . Dia sudah jadi istri adikmu!”
“ Dari mana Papa tahu?” tanya Fabian dengan wajah tegang. “ Apa Zavian yang memberitahu semuanya pada Papa?”
“ Bukan hal yang sulit untuk mengamati sepak terjangmu, Bian. Jika kau terus menerus bersikap seperti ini, maka aku akan melimpahkan kekuasaan kepada orang lain dalam memimpin perusahaan ini,” ancam papa Adrian.
__ADS_1
.
...****************...