Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Tes DNA


__ADS_3

“ Bagaimana kalau papa mengira bahwa kamu mandul? Apa dia masih mau memberi kepercayaan padamu?” tanya Sarah kemudian. Wanita itu menatap Fabian dengan tajam sambil mencari celah untuk menjatuhkannya. 


“ Sekarang saja papa sudah sangat kecewa padamu, apalagi jika ditambah dengan kabar menyedihkan bahwa ternyata kamu tidak akan bisa punya penerus. Bisa-bisa papa bersimpuh di kaki Zavian karena merasa bahwa adikmu jauh lebih hebat dibandingkan dirimu!” tambah Sarah lagi. 


Fabian tampak menimbang-nimbang ucapannya sejenak hingga akhirnya dia membenarkan apa yang dikatakan Sarah barusan. Jika memaksa melakukan tes DNA, itu artinya dia meragukan kemampuannya sendiri. Secara tidak langsung dia akan menganggap dirinya mandul hingga merasa bahwa anak yang dikandung Sarah itu bukan darah dagingnya. 


Apalagi jika nanti hasilnya ternyata menunjukkan bahwa dia benar-benar mandul. Sarah memang akan terusir dari rumah ini tapi dirinya harus menanggung malu yang teramat sangat. Buruknya lagi, papa akan sangat merasa kecewa padanya. Sungguh, Fabian belum siap untuk jatuh ke dalam posisi terburuk itu. 


Sementara itu, melihat Fabian dalam situasi bimbang, Sarah menarik senyum samar. Dia merasa lega karena keahliannya bermain kata-kata berhasil membuat Fabian terpukul.


“ Ini anakmu, Mas. Kamu tidak perlu meragukanku karena aku adalah perempuan setia yang menyerahkan diri hanya padamu. Jangan memandang rendah pada dirimu sendiri hingga membuat Zavian terlihat jauh lebih unggul .” ucap Sarah lagi. 


Fabian mengusap wajahnya yang semakin gusar. Kenyataan bahwa Nayara hamil saat bersama Zavian benar-benar memukulnya dengan telak. Fabian merasakan ada sesuatu yang salah, tapi apa ? 


‘ Kenapa saat bersamanya Nayara tidak hamil ? Benarkah semua ini hanya Takdir Tuhan semata ?’ 


“ Cobalah pegang perutku, Mas. Rasakan ikatan batin kalian berdua sebagai ayah dan anak.” pinta Sarah kemudian. 


Diambilnya tangan Fabian dan diletakkannya telapak tangan besar itu ke perutnya yang menonjol. Dengan wajah sendu dan mengiba, Sarah berkata dengan suara lirih. 


“ Dia anakmu, Mas.” ujar Sarah pelan . Dia menatap mata Fabian sambil menangis.


” Bayangkan betapa sedih janin yang suci tanpa dosa ini saat mendengar bahwa papa kandungnya ragu atas dirinya. Padahal jelas-jelas darah yang mengalir di badannya berasal darimu.” 


Untuk sesaat , Fabian termangu dan merasa tersentuh oleh ucapan Sarah barusan. Tangannya bergerak pelan di permukaan perut buncit itu. Selama ini dia memang kurang tertarik dengan kehamilan Sarah. 


Tidak ada rasa kasih sayangnya jatuh sedikitpun terhadap calon anaknya, apalagi sebuah ikatan perasaan yang kuat selayaknya ayah dan anak. Kemana perasaan bahagia itu perginya? 


“ Apa jenis kelaminnya?” tanya Fabian. 

__ADS_1


“ Dokter bilang kalau dia perempuan.” jawab Sarah pelan. 


“ Ah, perempuan ya.” gumam Fabian yang masih menyisakan rasa kecewa di suaranya.


“ Semoga adiknya nanti laki-laki, ya mas.” timpal Sarah.


Fabian mengerutkan dahinya mendengar ucapan Sarah barusan. “ Adiknya?” 


“ Setelah ini aku ingin melahirkan anakmu lagi. Sepertinya seru kalau anak kita lebih dari dua karena mereka punya banyak saudara dan rumah jadi rame.” jelas Sarah yang sudah punya bayangan akan masa depan yang akan ia jalani nanti bersama Fabian. 


Fabian menarik tangannya dari permukaan perut wanita itu.” Lahirkan saja yang ini dulu , baru pikirkan mau menambah anak atau tidak.” entah kenapa, ucapan Fabian terkesan dingin dan ketus.


Setelah berkata begitu, Fabian pergi meninggalkan Sarah di kamar sendirian. Tapi ketika hendak menuruni tangga, Fabian bisa melihat ke ruang tengah dimana Zavian dan Nayara duduk saling berdempetan di sofa . Keduanya tidak berhenti tersenyum lebar dengan jemari yang saling bertautan. 


Fabian menatap pemandangan itu dengan hati yang luar biasa sakit. Seharusnya dia yang menggenggam tangan Nayara dan memiliki wanita itu. Seharusnya dia tidak bersikap bodoh dengan mengkhianati Nayara.


Fabian tidak jadi menuruni tangga karena sadar dirinya tidak akan sanggup berhadapan dengan kebahagiaan Nayara. Dia kemudian berjalan ke sisi kanan dan menuju rooftop. Di sana Fabian menyulut rokok dan duduk sambil merenung. 


“ Siialan !” ucap Fabian dengan gumaman pelan. Dihisapnya batang rokok kuat-kuat lalu dilepaskannya asap putih secara kasar ke udara. 


Melihat Nayara hamil, Fabian seolah tidak terima. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terus bergejolak untuk menemukan kebenaran. Dirinya yang memang memiliki masalah atau Sarah yang bermain apik dalam kecurangannya? pertanyaan itu terus mengganggunya. 


Bahkan setelah kembali kekamar untuk tidur, Fabian tetap tidak bisa memejamkan mata sedikitpun. Dia bernapas dengan gelisah seperti sedang menanggung beban berat. 


“ Mas sudah tidur ?” Sarah menggoyang-goyangkan bahunya. Tapi Fabian diam saja dan pura-pura memejamkan mata. “ Oh, sudah tidur rupanya.” ujar wanita itu lirih. 


Setelah itu Fabian merasakan kasur bergerak oleh tekanan tubuh Sarah yang beranjak turun dari tempat tidur. Wanita itu memakai jubah tidur dan merapatkan kain itu untuk membungkus tubuhnya. Kemudian Sarah mengambil ponselnya dan berjalan dengan hati-hati keluar kamar. 


Fabian yang menyadari gerak-gerik mencurigakan itu langsung duduk dan bergerak pelan-pelan. Di dalam suasana yang remang-remang karena lampu utama telah dimatikan, Fabian mengikuti langkah Sarah tanpa suara. Wanita itu berjalan menuruni tangga lalu menuju sisi kiri, setelah itu dia menggeser pintu kaca yang terhubung ke kolam renang. 

__ADS_1


Sarah mengamati suasana sekelilingnya terlebih dahulu , lalu dia menghubungi seseorang menggunakan ponselnya. Fabian memutuskan untuk mengendap-endap melewati pintu kaca dan berdiri di balik pot besar tanaman aglaonema yang tidak jauh dari posisi berdiri Sarah.


Ada rasa curiga yang membumbung tinggi ketika melihat gerak-gerik Sarah yang tidak biasanya. Fabian tahu bahwa selama ini Sarah bersikap licik di belakangnya. Salah satu kelicikan Sarah adalah memberikan kartu kredit milik Fabian pada ibunya untuk berfoya-foya. Tapi karena Fabian tidak merasa terganggu, maka dia diam saja seolah-olah tidak tahu. Lagi pula uangnya cukup banyak dan tidak akan kekurangan jika dihisap oleh lintah kecil seperti orang tua Sarah. 


“ Mantan istri mas Bian sedang hamil dan dia malah mengajakku untuk tes DNA.” jelas Sarah pada seseorang di seberang telepon. Fabian menegakkan punggung sambil menyimak dengan baik. 


“ Tapi tenang saja, Bu. Aku sudah menahannya untuk tidak melakukan itu dan dia benar-benar patuh padaku .”ucap Sarah .


“ Dia tidak akan tahu rahasia kita!”


Terdengar suara tawa Sarah setelah itu. Kemudian dia kembali berkata. “ Cukup bandingkan saja dia dengan adiknya, maka dia akan merasa rendah diri dalam sekejap . Disaat itulah aku memberinya sugesti buruk.”


Sarah terkekeh lagi, tapi kali ini terdengar begitu bahagia. “ Nanti akan ku kirim uang untuk ibu. Pokoknya tenang aja !”


Setelah menemukan fakta yang dicarinya, maka ini saatnya untuk Fabian berjalan lebih dulu menuju kamar tidur. Dadanya sesak dan panas , tapi dia harus bisa mengendalikan keadaan.


Saat Sarah kembali ke kamar, dia merasa aman ketika menemukan Fabian masih tertidur pulas. Sarah juga ikut tidur seolah tidak terjadi apa-apa. 


Paginya, setelah Sarah bebenah seperti biasa , Fabian langsung mencengkram lengan wanita itu dengan sangat erat. Dia menarik Sarah masuk ke dalam mobil. 


“ Kita mau ke mana , Mas?” tanya Sarah kebingungan. 


“ Ke rumah sakit.” jawab Fabian.


“ Hah? Ngapain?” 


“ Aku tetap akan melakukan tes DNA terhadap kehamilanmu!” ujar Fabian dengan tegas hingga membuat Sarah terkejut luar biasa . “ Dan hanya kita yang tahu tentang hal ini. Jika kamu berani buka suara sampai orang lain tahu masalah ini, maka kau akan kuhabisi !”


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2