
Setelah dirawat di rumah sakit dan dinyatakan semakin membaik, Zavian akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Sedangkan Papa Adrian yang sejak awal telah membuat rencana agar memaksa Zavian kembali ke kediaman keluarga Rayyansyah tidak bisa berbuat banyak. Keadaannya sendiri sedang mengkhawatirkan dan dia tidak bisa membuat keputusan seenaknya karena Mama Widya ada di pihak Zavian.
“ Biarkan Zavian pulang ke rumahnya karena di sanalah dia menjalani hidup bersama istrinya,” ujar Mama Widya.
“ Aku hanya menawarkan opsi lain,” sahut Papa Adrian dengan pelan.
“ Mereka tidak butuh opsi lain untuk menjalani kehidupan sebagai suami istri,” balas Mama Widya kemudian.
“ Aku paham, Wid,” ucap Papa Adrian dengan begitu mudah. Padahal selama ini, di sepanjang pernikahannya dengan Papa Adrian, Mama Widya selalu manut dan patuh terhadapan segala keputusan suaminya.
“ Aku akan tinggal bersama Zavian dan Nayara. Barang-barangku sudah selesai di packing dan aku akan pergi ke sana,” ujar Mama Widya mengejutkan suaminya.
“ Gak, Wid. Kamu gak boleh pergi !” tegas Papa Adrian.” Aku gak kasih izin kamu keluar dari rumah ini dan tinggal bersama mereka !”
“ Aku hanya mau memberitahu tentang apa yang ingin kulakukan bukan sedang meminta izinmu. Jadi, kamu tidak bisa melarangku,” tegas Mama Widya.
Papa Adrian hanya bisa pasrah dengan keputusan istrinya. Untuk pertama kalinya Mama Widya pergi dari rumah dengan tujuan meninggalkan suaminya . Setelah puluhan tahun terlewati demi mendampingi dan menjadi support system untuk suaminya.
“ Wid……” Papa Adrian menangis melihat istrinya menaikkan barang-barangnya ke dalam mobil. Batin pria itu teriris pilu menyadari bahwa ternyata istrinya benar-benar pergi meninggalkannya.
“ Seandainya rasa kecewa di dalam dadaku tidak sebesar ini, mungkin aku tidak akan membuat keputusan seperti ini,” ucap Mama Widya sebelum pergi.
Ada rasa sunyi dan hening yang terasa menyesak ke dalam dada pria paruh baya itu . Dia tampak lemah dalam keadaan dan rasa sakit yang kini sedang menghimpitnya.
Sedangkan di rumahnya, Zavian dan Nayara memulai hari-hari dengan cara senormal mungkin. Cedera patah tulang di pahanya membuat Zavian harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu. Dia sengaja memilih kursi roda elektrik yang bisa digerakkan dengan mudah dan bebas.
__ADS_1
Tujuan Zavian memilih itu karena dia tidak ingin merepotkan istrinya. Melihat perjuangan Nayara dalam merawatnya, Zavian semakin termotivasi untuk segera sembuh. Dia tidak ingin menambah beban istrinya dalam keadaannya saat ini. Apalagi Nayara juga dalam keadaan hamil dan mulai tampak kesusahan dengan perutnya yang mulai membesar.
“ Maaf sudah merepotkanmu,” bisik Zavian saat Nayara selesai membantunya berganti pakaian.
“ Kamu gak boleh minta maaf begitu. Memangnya apa yang sedang kamu alami ini sebuah kesalahan? Atau kamu menganggapku sebagai orang lain yang merasa keberatan melakukan ini?” balas Nayara dengan wajah cemberut.
“ Bukan begitu maksudnya, sayang,” Zavian segera memperjelas maksud ucapannya. Dia tidak ingin Nayara merasa tidak enak hati karena ucapannya barusan. “ Aku cuma mau minta maaf karena gak bisa memenuhi tugas sebagai seorang suami untukmu.”
“ Kan kamu lagi sakit, By. Gak apa-apa dong kalau aku yang gantian merawat dan mengurusmu,” balas Nayara .
Zavian mengangguk seraya tersenyum penuh syukur. Dia merasa bahagia karena Nayara tampak begitu mencintai dan juga menyayanginya begitu tulus, sedangkan Nayara berjanji pada dirinya bahwa dia akan selalu berada di sisi Zavian dalam keadaan apapun.
Bagi Nayara, Zavian adalah sosok laki-laki luar biasa yang berhasil membuatnya jatuh cinta begitu dalam. Ketulusan yang diberikan oleh Zavian selama ini telah membuat Nayara menyadari bahwa dia beruntung mendapatkan Zavian di dalam hidupnya. Tidak akan ada yang bisa menggantikan Zavian di dalam hidup Nayara.
Zavian telah mencintainya dengan begitu luar biasa, maka ini saatnya Nayara menunjukkan rasa cintanya pada Zavian.
“ Aku beruntung memilikinya, Ma,” balas Zavian dengan berbisik.
Nayara ikut mendekati Mama Widya dan ikut berbisik,” Aku sangat mencintainya,Ma.”
Mama Widya tertawa sambil mengangguk- anggukkan kepala mendengar pengakuan anak dan menantunya. Berada di tengah-tengah Zavian dan Nayara yang penuh cinta membuat wanita itu ikut dipenuhi oleh energi positif. Rasanya begitu tenang dan menyenangkan. Jauh berbeda saat Mama Widya ada di sisi Papa Adrian dan juga Fabian yang selalu mengumbar ambisi mereka setiap waktu.
“ Mama senang tinggal di sini,” kata Mama Widya kemudian.
“ Kami juga senang, Ma,” balas Nayara dan diikuti anggukan setuju oleh Zavian.
__ADS_1
Selama dua minggu Mama Widya tinggal di rumah Zavian dan berbagi kebahagiaan dengan anak dan menantunya. Berbagai upaya Papa Adrian yang membujuknya agar kembali tidak dihiraukannya. Usaha ipar dan juga keluarga yang lain dalam meluluhkan hatinya juga tidak membuahkan hasil.
Hingga suatu hari, kabar buruk kembali datang.
Tangan Mama Widya mendadak gemetar saat menerima telepon dari Fabian yang mengatakan bahwa Papa Adrian pingsan. Laki-laki tua itu segera dilarikan ke rumah sakit demi mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tim medis.
“ Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Papa, itu pasti gara-gara Mama !” teriak Fabian lewat sambungan telepon.
Mama Widya ingin sekali memarahi anaknya itu tapi keadaan sedang tidak memungkinkan . Jadi, dengan segera Mama Widya menyusul ke rumah sakit dan tiba di sana sekitar tiga puluh menit kemudian. Papa Adrian masih ditangani di ruang ICU dan belum bisa dijenguk.
Ada Fabian dan Tante Tania yang sedang menunggu di sana. Keduanya menyambut kedatangan Mama Widya dengan sorot mata yang terkesan kurang ramah.
“ Akhirnya Mama datang juga,” gumam Fabian pelan.” Bagaimana keadaan Zavian ? Sedih dong, ninggalin dia karena harus ke sini.”
Kalimat sindiran Fabian benar- benar terdengar sangat menjengkelkan sekali. Apalagi seringai kecil yang ditampilkannya seolah menambah suasana menjadi kurang nyaman. Seolah-olah memaksa Mama Widya agar merasa bersalah atas apa yang kini sedang terjadi pada Papanya.
“ Diam kamu !” bentak Mama Widya dengan suara sengaja direndahkan . Matanya melotot kesal ke arah Fabian tapi anak sulungnya itu malah mengulas senyum sinis.
“ Kukira Mama gak akan datang melihat kondisi Papa karena sekarang Mama lebih memprioritaskan Zavian,” ujar Fabian lagi .
“ Sudah, Bian.” tante Tania segera melerai aksi Fabian yang sengaja memancing emosi mamanya.
“ Memang benar kok, Tante. Saat Papa sedang sakit begini saja Mama lebih mementingkan Zavian dan memilih meninggalkan Papa. Kalau seandainya aku yang sakit mungkin Mama gak akan peduli sama sekali. Anak kesayangannya kan bukan aku , tapi Zavian.” sindir Fabian.
“ Kamu gak sadar ya, apa yang sudah kamu lakukan pada Zavian?” tanya Mama Widya dengan wajah mulai muak. Dia benci sekali dituduh sebagai satu-satunya orang yang paling bersalah dan juga sebagai orang yang bertanggung jawab atas segala kekacauan ini.” Memangnya kamu pikir Zavian bisa celaka seperti itu karena ulah siapa, hah? Siapa yang membuat Zavian kecelakaan sampai menderita separah itu?”
__ADS_1
.
...****************...