
Fabian menghela napas sejenak, dia kemudian menatap ke arah Nayara yang sedang menunduk. Setelah itu beralih pada adiknya dan bertatapan sengit. “ Aku menginginkan Nayara.” jawab Fabian tanpa dosa.
Zavian berdiri dan hendak menyerang Fabian kembali tapi papa dan mama segera menahannya.
“ Badjingan lo ! Nay udah jadi istri gue, Bangssat!” teriak Zavian.
Fabian berdiri dengan wajah babak belur dan mata sedikit bengkak dan menyipit, dia menatap Zavian dan Nayara secara bergantian.
“ Sejak awal Nayara itu milik gue dan dia akan kembali sama gue . Apapun caranya !” ucapnya dengan santai. “ Dan kamu, Nay.” Fabian menatap Nayara dengan sorot mata tajam. “ Untuk saat ini masih kubiarkan kamu bersama Zavian, sama sepertimu yang membiarkanku bersama Sarah. Dengan begitu kita impas. Setelah ini aku akan menceraikan Sarah dan kamu kembali padaku.”
“ Tutup mulut lo, brengseek !” teriak Zavian.
Mama berdiri di hadapan Zavian demi mencegah anak keduanya menerjang Fabian. Sedangkan papa sudah lebih dulu memegangi lengan Zavian. Sedangkan Nayara ikut berdiri di antara kekacauan itu.
“ Aku tidak akan pernah kembali padamu!” sahut Nayara dengan tegas.” Tidak akan pernah !”
“ Oh, ya ?” balas Fabian seraya menyunggingkan senyum miring. “ Kalau kamu tidak kembali padaku, maka aku akan merebutmu.”
Darah Zavian benar-benar mendidih mendengar ucapan Fabian barusan. DIa ingin kembali menghajar Fabian tapi mama malah memeluknya dengan begitu erat sambil memohon agar berhenti. Zavian tidak mungkin mendorong mamanya hingga tersingkir, jadi dia memilih mengalah meski emosi terus membakar hatinya.
“ Berani lo nyentuh Nay sedikit aja, gue bakal bikin lo menyesal seumur hidup!” teriak Zavian lagi.
Fabian hanya tersenyum menyeringai , dia menatap adiknya dengan sinis . Lalu setelah itu Fabian berlalu meninggalkan ruang tengah.
“ Sudah, Za. Sudah ! Jangan buat keributan lagi.” pinta sang mama sambil memeluk anaknya dengan sangat erat. “ Ingat , dia kakakmu dan dia hanya sedang cemburu.”
Papa dan Mama baru berani melepaskan Zavian setelah Fabian tidak terlihat lagi dan keadaan dirasa cukup kondusif. Setelah itu mereka mengajak Zavian bicara demi menenangkan pikiran tapi Zavian menolak.
“ Ini akibatnya anak terlalu dimanja dan semua keinginannya selalu dipenuhi tanpa syarat. Jadinya ngelunjak dan merasa bahwa dia bisa bersikap seenaknya.” cibir Zavian dengan begitu pedas.
“ Iya…iya . Ini salah kami.” ujar mama Widya dengan air mata yang berlinang.
__ADS_1
Zavian mengumpat sekali lagi, lalu dia mengajak Nayara masuk ke dalam kamar. Kamar mereka sudah dibersihkan dan segalanya ditata rapi seperti semula. Tapi Zavian merasa bahwa ini bukan lagi menjadi tempat yang aman untuk istrinya.
“ Kemasi pakaianmu, Nay. Kita pindah sekarang juga.” titah Zavian pada sang istri.
Nayara tidak memberi bantahan apa-apa. Dia hanya perlu menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya. Dengan cepat dia memasukkan baju dan barang-barang penting ke dalam koper. Tidak lupa Nayara mengganti baju tidur yang sedang dipakainya dengan celana jeans dan sweater.
Setelah selesai berkemas, Zavian dan Nayara menggiring koper mereka keluar kamar. Melihat itu, tangis mama Widya pecah tak terbendung . Dia tahu bahwa Zavian akan meninggalkan rumah ini. Sesuatu yang paling dicemaskannya sejak dulu.
“ Kami pergi dari sini.” pamit Zavian pada kedua orang tuanya.
“ Papa gak kasih izin kamu pergi, Za.” cegah papa Adrian yang memang sejak dulu menginginkan semua keluarganya hidup berdampingan di bawah atap yang sama.
“ Terus , apa papa ingin melihat aku membunuh pria yang berusaha melecehkan istriku?” tanya Zavian penuh dengan emosi.
“ Gak , Za . Kamu masih bisa tinggal di rumah ini dengan damai .” pinta mama Widya sambil menangis tersedu. “ Mama yang akan melindungi kalian semua.”
“ Maafkan aku, Ma. “ Zavian menggelengkan kepalanya. “ Sikap Fabian sudah sangat keterlaluan dan aku tidak akan bisa memaafkannya. Dia memang kakakku, tapi aku tidak akan mengalah dan bersikap diam melihatnya punya niat buruk pada istriku.”
“ Percaya padaku, Nay. Aku akan melindungimu.” ujar Zavian.
“ Aku percaya padamu, By.” jawab Nayara.
Dari jendela kamarnya yang ada di lantai dua, Fabian menatap kepergian mobil Zavian yang membawa Nayara bersamanya. Fabian meraba pelipisnya yang dibalut perban. Dia mendecih samar . Nayara telah memberinya luka yang nyata.
“ Tunggu aku, Nay. Kamu pasti akan kembali jadi milikku.” gumam Fabian.
Ditatapnya Sarah yang sedang tertidur pulas setelah menenggak obat tidur tanpa sadar. Fabian menghela napas berat. Tidak apa-apa jika rencananya kali ini gagal, tapi nanti apapun yang dilakukannya harus berhasil.
Nayara harus kembali jadi miliknya.
...----------------...
__ADS_1
Zavian membawa Nayara ke sebuah hotel dan mengambil sebuah deluxe room untuk menginap selama dua hari kedepan. Tidak lupa dia meminta incognito guest kepada resepsionis agar identitas mereka dirahasiakan jika nanti ada yang mencari .
Awalnya Zavian ingin membawa Nayara ke rumah yang telah dibelinya, tapi niat itu diurungkannya mengingat rumah itu belum bisa ditempati. Masih ada beberapa perabotan dan furniture yang belum ditambahkan. Lagipula, malam ini dia butuh tempat yang aman dari kegilaan Fabian.
“ Katakan kepada petugas parkir agar menutup seluruh body mobilku dengan cover car .” ucap Zavian pada sang resepsionis .
“ Baik , ada lagi yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis itu dengan sopan.
Zavian menggelengkan kepala, setelah itu digandengnya Nayara menuju lantai dua puluh tempat mereka akan menginap malam ini. Di belakang, seorang room boy mengikuti mereka sambil membawa koper menggunakan troli.
Zavian tidak tahu kegilaan apa yang akan kakaknya lakukan setelah ini. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah mengantisipasi seluruh kemungkinan sang kakak mendekati Nayara. Zavian tidak mau Fabian sampai tahu bahwa dia membawa Nayara ke hotel ini.
Sesampainya di kamar dan koper mereka dimasukkan, Zavian langsung memeluk Nayara dengan erat. Dia tahu sejak tadi istrinya takut dan cemas, terbukti dengan berkali- kali Nayara menghela napas dalam dan menghembuskannya dengan cepat.
“ Kamu aman di sini.” ujar Zavian yang mencoba menenangkan Nayara.
“ Maaf.” bisik Nayara dengan teramat pelan.
“ Untuk apa?” tanya Zavian seraya mengelus kepala Nayara dengan lembut.
“ Kalian bertengkar sehebat ini gara- gara aku. Sekarang aku malah berpikir kalau seandainya aku tidak ….”
“ Kamu tidak perlu minta maaf atas semua ini. Kamu tidak salah. Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri.” ucap Zavian cepat memotong perkataan sang istri .
“ Tapi, Za……”
“ Kamu sudah jadi istriku dan aku berhak marah jika ada yang mengganggumu. Termasuk jika orangnya adalah kakakku sendiri.” tegas Zavian. Semua hal menyangkut istrinya tak akan pernah Zavian anggap sepele.
.
...****************...
__ADS_1