
“ Kalau nanti ada kekacauan lagi, tinggal panggil Zavian untuk membereskan masalahnya,” timpal Tante Siska dengan nada menyindir.
“ Selama ada Zavian maka kita bisa bernapas lega. Bebas deh, mau ngapain aja ,” sambung Tante Tania. “ Aku heran, deh. Apa sih yang gak bisa diperbaiki oleh Zavian ? Kayaknya dia bisa semua,”
“ Ada satu,” jawab Tante Siska menyahuti ucapan kakaknya itu dengan senyuman sinis.
“ Zavian gak bisa mengatasi penyakit HIV yang diderita Fabian. “
Ada tawa mengejek setelahnya dan suasana menjadi tambah panas. Fabian mengepalkan tangan saat mendengar ejekan yang selalu saja menjatuhkan mentalnya itu. Dia menekan rahang kuat- kuat dan menahan caci maki agar tidak terlontar.
“ Jangan bawa-bawa penyakit Fabian di sini !” ujar Mama Widya dengan geram. Ditatapnya iparnya satu per satu dengan kemarahan yang terlihat begitu jelas .” Fabian tidak akan menularkan penyakitnya dengan mudah !”
“ Oh, ya ? Bagus deh, kalau begitu.” sahut Tante Tania dengan senyum menyebalkan.
Mama Widya hendak kembali bersuara tapi dia terdiam saat Zavian berdehem kencang. Ditatapnya anaknya yang tampak sedang kurang senang dengan pembicaraan di meja makan.
“ Aku sudah selesai,” ujar Zavian dengan wajah yang begitu dingin. Dia berdiri dan meninggalkan meja makan dengan langkah tergesa . Hanya Nayara yang berpamitan dengan sopan sebelum akhirnya menyusul suaminya.
Selepas kepergian Zavian, suasana menjadi semakin tegang. Sindiran demi sindiran terus tertuju pada Mama Widya dan wanita itu tidak bisa mengelak. Kedua iparnya tampak kurang senang dengan keputusan ini dan mereka semakin jengkel ketika tahu bahwa keputusan Zavian berasal dari tekanan Mama Widya.
Melihat Mamanya diserang begitu, Fabian tidak tinggal diam. Sejak awal dia memang kurang suka dengan kedua tantenya yang selalu saja melontarkan ujaran sinis pada dirinya dan juga Mama Widya. Jadi Fabian tidak bisa menahan diri untuk tidak mendebat keduanya secara terang-terangan.
“ Kalian tidak bisa berbuat banyak atas keputusanku meskipun tidak menyukainya. Karena pada kenyataannya , perusahaan itu memang milik Papa dan harus jatuh ke tanganku. Terus saja membenci kami dan melakukan hal yang tidak berguna. Itu tidak akan mengubah apapun,” ujar Fabian dengan berani.
“ Kamu pikir kami peduli dengan jabatanmu di perusahaan itu?” Tanya Tante Tania dengan senyum mengejek .” Enggaklah ! Kami gak peduli padamu.”
“ Jelas saja Tante peduli,” sahut Fabian. Matanya menoleh ke arah Om Farhan yang juga sedang menatapnya.” Karena dengan kembalinya aku ke sana, maka posisi suami Tante sedang terancam oleh keberadaanku.”
Mama Widya tertawa melihat betapa berani anaknya dalam berbicara. Dia tampak bangga melihat Fabian yang kini menghadapi kedua iparnya demi melindungi dirinya. Sedangkan Fabian kembali melanjutkan kata-katanya.
“ Orang luar memang harus sadar akan posisinya,” sindir Fabian kembali menohok tajam .
__ADS_1
Ada jeda hening selama beberapa saat. Tante Tania maupun Tante Siska tidak bersuara sedikitpun. Mereka diam dengan wajah tegangnya masing-masing.
“ Satu-satunya cara ampuh kalian untuk menyerang kami hanyalah dengan menggunakan penyakit HIV yang diderita oleh Fabian,” ujar Mama Widya dengan begitu angkuh.” Kalian melakukan itu karena tidak tahu lagi bagaimana caranya menyerang kami.”
“ Oh, enggak !” Tante Tania mengibaskan tangannya sekilas.” Kami bukannya sedang iri atau merasa terancam. Sama sekali enggak.“
“ Tapi wajah serakahmu menunjukkan itu semua,” cibir Mama Widya.
“ Aku hanya sedang mengkhawatirkan kelangsungan perusahaan yang dibangun oleh ayahku sejak lama. Itulah kenapa aku meminta suamiku bekerja di sana agar bisa mempertahankan apa yang sudah ada. Padahal aku dan keluargaku masih bisa hidup dengan layak tanpa perusahaan itu,” balas Tante Tania.
“ Halah ! Itu hanya alasanmu saja,” ketus Mama Widya. “ Padahal kamu senang suamimu menjabat sebagai CEO di sana iya kan ?”
“ Gak juga sih . Apalagi setelah Fabian bergabung nanti, aku rencananya akan mengundurkan diri,” jawab Om Farhan dengan begitu santai .
Ada gerak terkejut yang tampil di wajah Mama Widya dan juga Fabian. Hal itu membuat Tante Tania hampir tertawa keras melihatnya.
“ Orang luar sepertiku memang tidak pantas memegang kuasa di perusahaan milik keluarga kalian,” ujar Om Farhan kemudian.
” Jadi aku akan mengundurkan diri dan mari kita lihat sehebat apa putra pertama Adrian Rayyansyah dalam mengelola perusahaan itu.”
“ Sepertinya kami memang tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Silahkan kelola perusahaan itu dan makan apa yang bisa kalian makan sampai habis,” ujar Tante Siska menyahuti .
“ Nikmat posisi barumu, Fabian,” sambung Tante Tania .
“ Ini kan yang kalian mau ? So, congratulation !” seru Tante Siska .
Setelah itu mereka berdiri dan meninggalkan meja makan dengan wajah tanpa bersalah. Om Farhan tampak merangkul Tante Tania , sedangkan Tante Siska tertawa sambil menggenggam tangan suaminya. Tidak ada beban sama sekali di wajah mereka sedikitpun. Seolah-olah keputusan Fabian untuk kembali ke perusahaan Rayyansyah tidak memberi gangguan apa-apa pada mereka.
Mama Widya menatap kepergian para iparnya dengan dada yang mendadak nyeri. Begitu juga dengan Fabian yang merasa bersalah tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Perasaan yang seharusnya lega dan diliputi kemenangan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan . Sikap diam Zavian yang enggan memberi komentar apa-apa semakin memperburuk keadaan.
__ADS_1
Rasa ngeri itu terus berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Fabian tidak bisa merasakan kenyamanan saat dia kembali menduduki posisi penting di perusahaan ayahnya. Begitu juga dengan Mama Widya yang terus dihantui rasa takut yang tidak jelas asalnya dari mana.
Hingga pada akhirnya, kabar tentang penjualan saham milik Zavian sampai ke telinganya. Dua juta lembar saham itu ditarik hingga membuat kekacauan yang masif. Segalanya menjadi semakin memburuk ketika Fabian tidak bisa berbuat apa-apa demi menyelamatkan perusahaannya.
“ Kenapa kamu menjual sahammu yang ada di perusahaan kita ?” tanya Mama Widya pada Zavian.
“ Aku butuh uang untuk membangun kantor baruku,” ujar Zavian dengan tenang.
“ Memangnya kamu gak bisa mikirin apa akibatnya pada perusahaan kita ? Kenapa kamu selalu seenaknya begini? “ tanya Mama Widya.
“ Seenaknya ?” Zavian sampai mengerutkan dahinya mendengar ucapan sang Mama. Dia menatap Mamanya begitu lekat.” Apa salah kalau aku mengambil kembali apa yang menjadi milikku ?”
“ Salah ! Jelas saja salah !” bentak Mama Widya.” Kamu seharusnya jangan bertindak seperti ini!”
“ Apa hak Mama melarangku melakukan itu ?” tanya Zavian kemudian.
Mama Widya tercengang . Dia tidak menyangka Zavian akan melontarkan kalimat setajam itu. Jelas sekali dia tidak berhak mengatur apapun yang ingin dilakukan Zavian atas hartanya sendiri. Mama Widya tidak ada hak di sana.
“ Lagipula, aku sudah memperingatkan Mama sebelumnya agar memberi jaminan yang setimpal jika ingin Fabian kembali masuk ke perusahaan itu,” ujar Zavian.” Mama yang jangan bersikap seenaknya begini.”
“ Mama hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Fabian !”
“ Disaat perusahaan itu sedang di ambang kehancuran akibat ulah Fabian, Mama memintaku untuk memperbaikinya. Mama tidak sedikitpun memarahi Fabian atau memintanya bertanggung jawab. Sekarang setelah semuanya membaik, Mama ingin memasukkan Fabian kembali ke sana. Mama pikir ini adil untukku ?” tanya Zavian.
“ Dia kakakmu, Za !” seru Mama Widya.
“ Dan aku juga anakmu !” sahut Zavian tak kalah keras.
Keduanya saling tatap dengan perasaan masing-masing . Zavian rasanya ingin menangis saat berkata begitu, tapi air matanya tidak boleh keluar setitik pun. Biar saja dadanya dipenuhi rasa sakit yang menusuk -nusuk tajam, Zavian masih bisa menahannya seorang diri.
“ Aku menyerah, Ma…” lirih Zavian.
__ADS_1
.
...****************...