Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Jatuh pingsan


__ADS_3

Mama Widya duduk di mobil dan membuka kaca mata miliknya. Dia menangis lagi sambil sesenggukan seorang diri di dalam mobil. Rasa sakit dan kecewa yang melingkupi batinnya terasa begitu menyesakkan. Dia tidak pernah menyangka bahwa suami yang sangat dihormatinya selama ini begitu tega ingin menyingkirkan anak kandungnya sendiri.


Padahal apa salah Zavian padanya? 


Anak keduanya itu pintar dan berbakat. Zavian bisa diandalkan dalam berbagai kondisi dan selalu punya ide cemerlang. Sejak dulu, Mama Widya selalu berkata pada suaminya bahwa Zavian jauh lebih layak untuk memegang perusahaan dibandingkan Fabian. Tapi Papa Adrian tetap bersikukuh bahwa perusahaannya akan diwariskan kepada Fabian .


Sekarang Zavian hanya ingin menapaki hidup sendiri setelah sekian lama berada di bawah tekanan ayahnya. Zavian hanya ingin menata hidup tanpa perlu campur tangan kedua orang tuanya. Mama Widya memahami itu dengan baik dan menyadari bahwa Zavian jauh lebih bahagia saat menikah dengan Nayara dan mengelola perusahaannya sendiri.


“ Binatang saja tidak akan sekejam ini pada anaknya,” gumam Mama Widya setelah menyelesaikan tangisnya. Dia menghapus air matanya dan memastikan tidak ada jejak basah yang tersisa.


Mama Widya sempat menatap lama ke arah lobi dan berharap suaminya akan datang menyusulnya . Tapi setelah hampir tiga puluh menit menunggu sambil menangis, ternyata Papa Adrian tidak muncul juga. 


“ Dia benar-benar tidak ingin memperbaiki keadaan,” gumam Mama WIdya dengan kesal.


Setelah itu Mama Widya menghidupkan mesin mobil dan melaju meninggalkan pelataran parkir khusus VIP itu. Mobil yang dikendarai Mama Widya baru saja meninggalkan gedung kantor dan meluncur ke jalan raya saat Fabian menelepon dirinya. Mama Widya memasang earphone sebelum menjawab panggilan itu agar bisa menyetir dengan bebas.


“ Halo, Ma. Bisa datang ke kantor secepatnya ?” tanya putra sulungnya itu dengan suara teramat panik.


“ Ada apa ?” tanya Mama Widya sambil terus menyetir. 


“ Papa pingsan di ruangannya !” jelas Fabian dengan panik.


Mama Widya bisa mendengar situasi yang sangat ribut di belakang telepon Fabian . Ada suara sekretaris suaminya yang berteriak menyuruh memanggil ambulans.


“ Aku khawatir, Ma. Papa gak bisa dibangunin !” jelas Fabian lagi.


“ Bawa ke rumah sakit !” perintah Mama Widya dengan tegas. “ Cepat bertindak ! Jangan cuma bisa panik aja kamu !”


“ I-iya Ma, ” sahut Fabian singkat. Lalu langsung mematikan sambungan teleponnya. 


Perasaan wanita paruh baya itu menjadi tidak enak karena memikirkan suaminya. Dia memikirkan kemungkinan apakah suaminya pingsan karena disebabkan oleh pertengkaran mereka tadi atau tidak. Berbagai pertanyaan dan kemungkinan kini membuat dada Mama Widya bertambah sesak. Dalam waktu yang terasa mendesak, Mama Widya sampai juga ke lobi gedung kantor dimana suaminya berada. 

__ADS_1


Ternyata suasana di sana cukup ramai dengan satu ambulan terparkir tepat di depan lobi. Mama Widya segera turun dari mobil dan menyaksikan beberapa orang sedang membawa Papa Adrian menggunakan brankar untuk dimasukkan ke dalam ambulans. Dalam keriuhan itu, dia melihat Fabian yang tampak sedang berteriak kepada petugas ambulans agar segera menangani ayahnya.


“ Cepat! Jangan sampai Papaku terlambat mendapat penanganan !” bentak Fabian dengan keras. “ Awas kalian kalau sampai Papaku kenapa-napa !” 


“ Fabian !” Mama Widya berjalan mendekat sambil menghardik anaknya itu. “ Pelankan suaramu dan jangan membentak mereka !”


“ Soalnya mereka lamban sekali, Ma. Aku kesal melihatnya !” balas Fabian dengan wajah paniknya. 


“ Bukan berarti kamu bebas menghardik dan memarahi orang yang sedang berusaha menolong Papamu!” seru Mama Widya dengan mata melotot tajam. Dia tidak suka melihat tingkah anaknya yang arogan begitu. 


Petugas ambulans dan tim medis darurat menawari salah seorang anggota keluarga untuk masuk menemani Papa Adrian di dalam mobil. Awalnya Mama Widya meminta agar Fabian yang ikut tapi anak sulungnya itu menolak dengan tegas. 


“ Aku gak bisa, Ma. Mending Mama aja yang ikut sama ambulans itu dan menemani Papa,” ujar Fabian.


Akhirnya Mama Widya masuk ke dalam ambulans  dan duduk di kursi darurat .Dia menatap bagaimana petugas medis berusaha sekuat tenaga untuk memberikan penanganan pertama untuk Papa Adrian. Mama Widya kembali menangis dengan dadanya yang penuh sesak. Dia menyaksikan sendiri bagaimana wajah suaminya yang pucat itu tampak tenang seolah menyerupai mayat. 


Mama Widya mendengar ucapan-ucapan para petugas medis berkata bahwa kemungkinan besar Papa Adrian mengalami sakit jantung mendadak yang membuatnya hilang kesadaran dalam waktu yang tidak bisa diprediksi. 


‘ Apa gara-gara ucapanku yang meminta cerai tadi?’ batin Mama Widya. 


Sesampainya di rumah sakit, Papa Adrian segera mendapatkan penanganan oleh tim dokter. Mama Widya berdiri di depan IGD sambil menghapus air matanya. Dia tidak menyangka bahwa akan kembali berada di dalam situasi ini. Dia seperti merasa de javu karena mengalami suasana yang sama saat Zavian kecelakaan seminggu yang lalu. 


Masih teringat jelas di dalam benaknya bagaimana buruk tangis Nayara saat menunggu suaminya sadar pasca kecelakaan hebat itu. Keadaan seolah berbalik padanya. Sekarang Papa Adrian yang kejam itu berada di bawah penanganan dokter karena situasinya yang sedang kritis. 


“ Bagaimana keadaan Papa, Ma ?” tanya Fabian yang kini datang menghampirinya. 


“ Belum sadar juga,” jawab Mama Widya. Mereka berdua belum diizinkan untuk menemui Papa Adrian karena tim medis sedang menanganinya. 


“ Aku gak nyangka Papa bakalan begini, kaget banget waktu diberitahu kalau Papa pingsan,” ujar Fabian dengan pelan. 


Mama Widya tidak menyahut apa-apa, dia membiarkan anaknya itu berbicara seorang diri. Dia hanya menatap lurus ke dalam kaca jendela ruang IGD dan melihat bagaimana tim medis sedang mengelilingi ranjang dimana suaminya sedang berada. 

__ADS_1


“ Mona bilang kalau tadi Mama sempat datang ke ruangan Papa,” ucap Fabian lagi.


Mama Widya masih diam membeku. Sekarang Fabian menoleh ke arahnya dan menatap dengan sorot mata yang seolah penuh tuduhan. Mama Widya tidak akan menyangkal bahwa mungkin saja suaminya jatuh pingsan setelah kepergiannya. 


“ Saat aku diberitahu kalau Papa pingsan, aku segera menghampiri Papa. Mama tahu gak ? wajah Papa dingin banget waktu aku sentuh . Sepertinya Papa sudah pingsan cukup lama sebelum akhirnya Mona masuk dan dia menemukan Papa tergeletak di lantai,” jelas Fabian. 


Mama Widya menghapus air mata yang membasahi pipinya. Dia hanya mendengarkan penjelasan Fabian tanpa mau menyahuti ucapan anaknya itu dan memilih untuk berdiam diri.


“ Memangnya tadi Mama gak melihat ada tanda-tanda Papa bakalan sakit begini?” tanya Fabian kemudian. Dia tampak kesal dan menunggu jawaban Mamanya dengan penuh harap.” Memangnya tadi Mama ngapain ke ruangan Papa?”


“ Mama datang ke ruangan Papamu untuk menyerahkan bukti rekaman CCTV kejahatan Papamu,” ujar Mama Widya dengan pelan namun cukup jelas. 


“ Kejahatan Papa? Maksud Mama bagaimana ?” tanya Fabian yang semakin tampak penasaran. 


“ Papamu adalah orang dibalik terjadinya kecelakaan yang dialami Zavian,” lirih Mama Widya. Dia menatap wajah Fabian dan tidak menemukan raut terkejut di sana . Fabian tampak biasa saja mendengar ucapan Mama Widya barusan. Dan itu membuat Mama Widya semakin curiga sekaligus penasaran.


“ Papa punya maksud tertentu melakukan itu, Ma,” sahut Fabian .


“ Jadi kamu sudah tahu kalau Papamu yang mencelakai Zavian ?” tanya Mama Widya dan Fabian menjawab dengan anggukan pelan.


“ Kamu tidak melarang Papamu melakukan hal itu? Apa kamu tidak merasa kasihan pada adikmu?”


“ Zavian memang pantas mendapatkan itu, Ma. Dia terlalu membangkang dan melawan Papa dengan begitu sombong. Menurutku Zavian layak untuk dihukum,” balas Fabian. 


Mama Widya kembali marah dan muak melihat kelakuan Fabian. Dia tidak terima jika mereka menghukum Zavian dengan cara sekejam ini. Zavian tidak memiliki kesalahan apapun terhadap Fabian dan ataupun pada Papanya. Tanpa sadar , Mama Widya melayangkan tamparan pada anak sulungnya itu. 


Plak ! 


Untuk pertama kalinya, dia menampar anaknya dengan tangannya  sendiri setelah sekian lama memanjakan anak sulungnya itu. Emosinya memuncak mendengar ucapan Fabian barusan. 


“ Asal kamu tahu, aku akan menceraikan Papamu. Dan mulai sekarang sepertinya aku juga akan meninggalkanmu !” 

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2