Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Tidak Tulus


__ADS_3

“ By, ayo masuk.” Nayara datang dari arah belakang. Lalu Zavian merasakan tangan lembut istrinya melingkari pundaknya.” Hari sudah mulai gelap dan dingin.”


Zavian mengambil telapak tangan yang hangat dan halus itu untuk diciuminya. Aroma wangi bunga dari telapak tangan itu membuatnya merasakan sedikit ketenangan. Nayara tidak boleh tahu bahwa saat ini Zavian sedang berusaha menelan rasa getir di dalam dadanya sendirian.


Namun , “ Hubby, kamu kenapa ?” tanya Nayara. Wanita hamil yang memiliki perasaan sensitif itu berjongkok sambil mengusap sisi wajah Zavian.” Ada apa, By ?” 


Zavian tidak menjawab, tapi dia meraih tangan Nayara agar jatuh ke dalam pelukannya. Didekapnya wanita itu dengan begitu erat seolah takut kehilangan. Mata Zavian tiba-tiba memanas dan air matanya turun tanpa bisa dicegahnya.


“ Jangan tinggalin aku, Nay,” bisik Zavian yang terdengar sangat pilu.


“ Gak, Sayang. Aku gak akan ninggalin kamu By,” jawab Nayara.


Ada hening yang memberi jeda dan mereka saling meresapi perasaan masing-masing. Nayara kini tahu bahwa Zavian sedang bersedih, oleh karena itu dia membalas pelukan suaminya dengan begitu erat.


“ Aku akan tetap di sisi kamu, By. Selamanya.” Nayara mengucapkan janjinya dengan yakin dan sungguh-sungguh. 


Zavian mengangguk pelan. Ada kelegaan yang menjalari hatinya, lalu kesedihannya berangsur-angsur memudar. Lubang besar di hatinya masih menganga lebar dan tidak akan bisa tertutupi. Tapi ada sisi lain, sebuah kehangatan merangkul jiwanya hingga segalanya terasa baik-baik saja.


Benar, dunia Zavian akan baik-baik saja selama ada Nayara di sisinya. Wanita itu tidak hanya menjadi sosok istri yang akan melayaninya dalam hasrat semata, tapi juga berperan sebagai belahan jiwanya. Nayara seperti sebuah kepingan lain dari dirinya yang membuatnya merasa utuh.


“ Aku mencintaimu,” bisik Nayara .


Lalu mereka berciuman dengan lembut, hangat, dan penuh rasa cinta. Jemari Nayara menghapus air mata yang mengalir di pipi sang suami dan ia berjanji akan selalu ada untuk pria yang dicintainya itu.


“ Aku sangat mencintaimu ,” balas Zavian setelah tautan bibir mereka terlepas.


Zavian meraih wajah Nayara dan memandangi wanita cantik itu. Tidak apa-apa jika Mama Widya lebih memilih berada di sisi Fabian dan Papanya. Karena dunia Zavian akan baik-baik saja selama Nayara tidak meninggalkannya. 


Nayara membantu Zavian masuk ke dalam rumah dan menutup pintu balkon. Tapi tidak berapa lama kemudian terdengar suara mesin mobil berhenti tepat di depan rumah mereka, lalu asisten rumah tangga memberitahu bahwa ada seseorang yang datang berkunjung. 


“ Siapa ?” tanya Nayara yang tidak mengira akan ada tamu. 

__ADS_1


“ Nyonya Widya datang bersama Tuan Adrian,” jawab asisten rumah tangganya itu.


Nayara mendorong kursi roda Zavian menuju ruang tamu dimana Mama Widya dan Papa Adrian telah duduk menunggu kedatangan mereka. Papa Adrian tampak canggung saat melihat keadaan Zavian, sedangkan Zavian biasa saja. Mereka sempat bersalaman sambil menanyakan kabar masing-masing.


“ Semuanya baik-baik saja kan, Nay?” tanya Mama Widya pada menantunya. 


“ Iya, Ma. Semuanya baik-baik saja,” jawab Nayara seraya mengulas senyum ramah. 


“ Termasuk kandunganmu juga?”


Nayara kembali mengangguk. Zavian menatap orang tuanya dengan sorot mata bertanya-tanya karena tidak menyangka bahwa Papa Adrian akan datang berkunjung ke rumahnya. 


“ Bagaimana dengan keadaan Papa?” tanya Zavian.


“ Sudah mulai pulih karena Mamamu merawat Papa dengan baik,” jawab pria paruh baya itu. “ Ternyata obat paling ampuh untuk Papa hanyalah Mamamu.”


“ Syukurlah,” gumam Zavian dengan teramat pelan. Dia meraih tangan Nayara dan dipandanginya jemari halus itu selama beberapa saat. Rasa sakit di dalam diri Zavian kembali muncul tapi dia meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja. “ Aku senang Papa kembali pulih.” 


“ Eemm , begini….” suara Papa Adrian terdengar serak dan canggung. Dia menatap ke arah Zavian sekilas sebelum kembali bicara.” Papa mau minta maaf padamu, Za.” 


Zavian diam saja sambil menunggu Papanya selesai bicara tapi sikapnya malah membuat Papa semakin merasa tidak enak. Apalagi Mama Widya terus menatapnya dengan sorot mata tajam.


“ Kamu pasti sudah tahu kalau kecelakaanmu itu karena Papa . Tapi sungguh, Papa sendiri tidak menyangka kalau akhirnya akan menjadi separah itu. Iya, Papa salah dan tidak berhak membela diri lagi, tapi kamu maafkan Papa ya.” ucap Pria paruh baya itu.


Zavian mengangguk samar seolah tidak peduli, padahal hatinya sakit sekali. Apalagi saat dia menangkap bagaimana sorot mata Mamanya pada sang Papa. Dia tidak merasakan ketulusan dalam ucapan permintaan maaf Papanya. Segalanya serba tertekan dan penuh paksaan, tidak murni dari lubuk hati yang paling dalam.


“ Papa cuma mau kamu pulang ke rumah dan kembali bergabung dengan perusahaan kita. Tapi cara yang Papa gunakan memang tidak bagus dan sedikit keterlaluan. Kamu mau maafin Papa kan?” tanya Papa Adrian memastikan.


“ Iya,” sahut Zavian seraya mengangguk lagi. Ia mencoba memberikan sikap yang sama.


“ Aku sudah memaafkan Papa.”

__ADS_1


Mama Widya menghela napas berat, lalu menatap ke arah Zavian. Ada luka tak kasat mata yang kini membatasi jarak keduanya. Zavian tahu Papa Adrian tidak tulus dengan permintaan maafnya dan Mama Widya juga tahu bahwa Zavian memaafkan Papanya hanya sebatas basa-basi agar keadaan tetap membaik.


“ Mama juga telah memutuskan untuk tidak jadi menggugat cerai Papamu,” lanjut Mama Widya.


“ Oh,” Zavian tidak tahu harus memberikan ekspresi apa terhadap kabar itu. 


Zavian tidak ingin orang tuanya bercerai tapi dia juga tidak terlalu bahagia mendengar kabar itu. Masih teringat jelas bagaimana tangisan Mamanya saat berkata ingin meninggalkan Papa, tapi sekarang segalanya seperti berbalik sepenuhnya. Zavian tidak sedang kecewa atas pilihan Mamanya, dia hanya ingin Mamanya membuat keputusan yang tepat untuk diri sendiri. Zavian ingin Mamanya menjalani hidup dengan bahagia.


“ Bagaimana kerja samamu dengan Magenta Group ?” tanya Papa Adrian. 


“ Kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan masalah pekerjaan, Pa,” bisik Mama Widya disertai tatapan tajamnya. 


Papa Adrian berdehem singkat dan melirik Zavian yang masih menampilkan raut wajah setenang permukaan danau. 


“ Semuanya masih baik-baik saja sampai saat ini,” jawab Zavian kemudian.


Zavian pikir jawabannya akan memberikan rasa kecewa terhadap Papanya dan ternyata dugaannya memang benar. Raut wajah pria itu tampak sedikit keruh meski berusaha mati-matian untuk tetap tenang.


“ Baguslah ,” sahut Papa Adrian dengan begitu pelan.


Selama ini Papa Adrian selalu meminta orang kepercayaannya untuk memata-matai dan mengamati perkembangan perusahaan milik Zavian. Dia pikir perusahaan yang masih muda itu akan tumbang seiring dengan Zavian yang jatuh sakit. Tapi ternyata perusahaan Zavian tetap berjalan dengan baik.


“ Oh iya, Nay . Bulan depan kandunganmu sudah masuk tujuh bulan , ya. Apa gak mau bikin acara syukuran?” tanya Mama Widya .


“ Lihat saja nanti , Ma. Aku sekarang sedang fokus pada penyembuhan Zavian dulu. Kalau misalnya tidak mengadakan acara juga gak apa-apa,” jawab Nayara.


“ Oh , begitu. Apapun keputusan kalian berdua Mama akan setuju saja,” sahut Mama Widya.


Saat Papa dan Mama berpamitan untuk pulang, mereka sempat saling mendoakan keadaan satu sama lain. Meskipun kedatangan Papa Adrian untuk meminta maaf tapi tidak ada kesan lega yang ditinggalkannya.


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2