
Sementara itu Nayara terkejut mendapati Zavian berdiri di dekat bingkai tangga. Sepertinya dia sudah berdiri di sana sejak tadi dan terlihat sedang menunggu.
“ Zia sudah tidur ?” tanya Zavian.
“ Sudah.” Nayara mengangguk pelan.” Tadi aku bicara dengan Fabian,” ungkap Nayara dengan jujur.
“ Aku tahu, makanya menunggumu di sini,” ucap Zavian dengan lembut.” Apakah kamu sudah memaafkannya?”
Nayara mengangguk dan menemukan tatap bangga dari suaminya. Saat ini masa lalu mereka dengan Fabian sudah selesai dan dipastikan tidak ada lagi yang tersisa.
Zavian mengajak Nayara berjalan ke belakang tiang dimana keduanya tersembunyi oleh dekorasi ulang tahun. Di sana, Zavian melindungi Nayara dengan tubuh jangkungnya agar tidak terlihat siapapun. Lalu mereka berpelukan dan berciuman dengan perasaan yang semakin menyatu erat.
Keduanya bersyukur untuk segala kesempatan yang masih diberikan Tuhan. Mereka bersyukur atas hati yang senantiasa menerima segalanya dengan lapang.
Hanya satu yang mereka lupa, bahwa dari lantai atas Fabian bisa menyaksikan semuanya.
Laki-laki itu menatap kemesraan Zavian dan Nayara dengan getir, lalu menyadari kesendiriannya. Sama seperti mereka, Fabian juga telah memaafkan keduanya. Dia ikhlas melihat Nayara , perempuan yang dicintainya hingga saat ini berbahagia dengan adiknya.
Fabian menghapus sudut matanya yang basah. Lalu dia melihat kembali ke arah Nayara dan Zavian yang kini duduk di sisi Zean. Kostum Iron Man itu sudah dilepaskan dan kini Zean memilih menyandar pada ayahnya. Dia tampak mulai lelah setelah menghabiskan energi sejak tadi dengan bersenang-senang. Sementara itu Mama Widya duduk di sisi Nayara dan keduanya menertawakan sesuatu.
“ Selamat ulang tahun , Zeano. Semoga kamu tumbuh besar dengan mewarisi semua sifat baik Daddymu. Semoga hidupmu dipenuhi oleh kasih sayang. Dan kamu, Zavian…… Terima kasih sudah menjadi adikku, aku bangga padamu. Aku berdoa agar kebahagiaan selalu menyertai setiap langkah kalian semua,” ucap Fabian bermonolog.
Malam harinya, Zean tampak antusias membuka kado-kado yang diterimanya. Dan kado dari Fabian paling menarik perhatiannya. Hanya sebuah action figure Iron Man edisi terbatas yang dibeli khusus dari official store Marvel . Tapi Zean sangat menyukainya.
“ Thank you, Om,” seru bocah kecil itu dengan senyumnya yang lebar.” Aku mau jadi Iron Man.”
“ Iron Man itu pintar, baik , setia, penyayang dan pastinya kaya. Kamu pasti bisa menjadi laki-laki sehebat itu, Ze. Daddymu yang akan membantumu mewujudkan mimpi-mimpi hebatmu,” ujar Fabian.
__ADS_1
Lalu Fabian juga memberikan kotak kado untuk Zianna. Masih sebuah action figure tapi dari salah satu karakter putri Disney yaitu Mulan. Seharusnya Fabian memilih Elsa atau Aurora yang manis dan feminim, tapi entah kenapa dia justru menjatuhkan pilihan pada sosok putri yang kuat dan pemberani seperti Mulan.
“ Aku tidak yakin bisa menghadiri ulang tahun pertama Zia, jadi aku titip kado ini untuknya. Entah kelak dia akan menyukai ini atau tidak, tapi kalian harus menyampaikan bahwa aku juga menyayanginya,” ucap Fabian.
“ Thanks,” ujar Zavian dengan perasaan mendadak nyeri.” Zia pasti akan menyukai ini.”
Tidak hanya itu, Fabian juga melimpahkan uang dan harta miliknya kepada kedua keponakannya dengan jumlah yang sama besar. Tidak ada yang bisa menolak atau menggugat keputusannya itu.
Lalu hari-hari selanjutnya, keadaan Fabian semakin memburuk dan dia menolak dibawa ke rumah sakit. Dia hanya ingin ditemani oleh Mama Widya dan Zavian. Tiba-tiba saja dia menjadi begitu manja dan selalu ketakutan jika ditinggalkan sendirian.
“ Aku sering bermimpi bertemu dengan Papa,” ucap Fabian.
Hampir setiap hari dia mengatakan hal yang sama. Dan akhir-akhir ini Fabian juga sering merasakan kedinginan meski cuaca sedang panas.
“ Peluk ,Ma,” ujar Fabian dengan sorot mata memohon.” Dingin banget soalnya.”
Mama Widya naik ke atas ranjang dan memeluk anaknya dari sisi kiri. Tubuh Fabian yang dulu kekar dan gagah kini terasa kecil dan sangat kurus. Tubuhnya menguarkan rasa dingin yang aneh. Tapi Mama Widya terus mendekap anaknya dengan erat.
“ Senang banget rasanya dipeluk begini,” ucap Fabian.
“ Mama bakalan peluk kamu sering-sering,” ujar Mama Widya.
“ Gue juga bakalan lebih sering meluk lo,” sahut Zavian.
“ Tapi gue juga pengen dipeluk sama Papa. Kapan sih, terakhir kali Papa meluk gue ? Waktu TK apa waktu kelas satu SD, ya ? Lupa ….” gumam Fabian.
Mama Widya dan Zavian tidak menyahut, mereka diam saja.
__ADS_1
“ Sebentar lagi gue pergi. Kayak ada yang manggil-manggil gitu,” ujar Fabian. Dia menepuk-nepuk tangan Zavian yang kini sedang merangkulnya.” Lo jagain Mama ya.”
“ Kamu gak akan kemana-mana , Bian. Kamu tetap di sini sama Mama dan Zavian,” ujar Mama Widya dengan perasaan yang mendadak sedih.
“ Lo kayaknya lagi ngantuk, makanya ngelantur gitu,” ucap Zavian. Hawa dingin di antara mereka membuat perasaan Zavian menjadi tidak enak.
“ Gue tidur, ya. Bye….” bisik Fabian.
Mereka diam lagi dan Fabian semakin merasa kedinginan. Mama Widya menambah selimut dan kembali memeluk anaknya. Lalu tidak lama setelahnya Fabian bernapas seperti mendengkur, kejang sesaat , lalu tubuhnya melemah. Benar-benar lemah, seperti sesuatu yang telah hilang meninggalkan dirinya.
Menyadari hal itu, Zavian dan Mama Widya menangis sambil terus memeluk Fabian dengan erat. Air mata mereka berjatuhan dalam kesunyian . Pelukan itu masih bertahan lama, hingga akhirnya Zavian bangun lebih dulu dan menatap wajah pucat Fabian yang kini terlihat begitu tenang. Tidak ada lagi gurat kesakitan atau kesedihan di sana.
Fabian meninggal dalam pelukan Mama dan adiknya. Dia pergi setelah menggenggam maaf dari dua orang terdekat yang paling sering disakitinya.
“ Tidur yang nyenyak, Mas,” bisik Zavian.” Gak apa-apa , Mama biar gue yang jaga .”
Sempat ada perayaan dan tawa kebahagiaan , lalu sekarang kesedihan kembali datang mengambil alih. Langit yang mendung dan hujan turun rintik-rintik seolah ingin melengkapi kesedihan yang dirasakan oleh keluarga Rayyansyah saat ini.
“ Mama yang tabah, ya,” bisik Nayara sambil memeluk mertuanya.
“ Selama ini Mama selalu berada di samping Fabian setiap saat. Mama menemaninya setiap kali drop dan harus dirawat di rumah sakit. Mama tahu seperti apa kesulitannya dalam bertahan. Jadi, sekarang Mama harus ikhlas atas kepergiannya, tapi kenapa rasanya sakit sekali.” ujar Mama Widya dengan lirih.
Zavian ikut memeluk Mamanya dan menguatkan wanita itu. Tidak ada yang akan baik-baik saja saat dihadapkan pada sebuah perpisahan abadi yang bernama kematian. Seperti apapun jejak kehidupan Fabian sebelumnya, dia tetaplah anak bagi seorang ibu dan saudara bagi adiknya.
Mereka bertiga menangis, lalu setelahnya sepakat untuk menghapus air mata sebelum menemui para pelayat .
.
__ADS_1
...****************...
Yg mau mengucapkan belasungkawa untuk Fabian dipersilahkan.... komen ya 😊