
Sudah enam bulan berlalu, Zavian telah menepikan rasa kecewa yang timbul akibat Mama Widya batal mengunjunginya, bahkan sampai berbulan-bulan lamanya wanita paruh baya itu tak juga datang menemuinya.. Memang sudah tidak sepatutnya dia mengharapkan apa-apa sebab dialah yang memutuskan untuk pergi dan meninggalkan semuanya. Lagipula, Zavian sadar bahwa dia tidak akan pernah menang jika disuruh berlomba dengan Fabian dalam mendapatkan perhatian Mama Widya.
“ By….. melamun lagi.” suara Nayara mengalihkan perhatian Zavian yang sejak tadi tampak termenung memikirkan sesuatu.
“ Gak kok,” sanggah Zavian dengan cepat. Dia berjalan mendekati istrinya dan meraih wanita itu ke dalam pelukannya.
“ Kamu gak kemana-mana hari ini,’kan ?”tanya Nayara lagi.” Laporan cuaca bilang kalau sebentar lagi akan ada badai salju.”
Zavian menggeleng. Dia tidak berencana meninggalkan rumah hari ini.” Aku akan di rumah saja sambil nungguin kamu.”
Setelah menyelesaikan project kerjasama dengan perusahaan milik Austin, Zavian memutuskan untuk tidak bekerja pada siapapun lagi. Dia hanya memusatkan perhatian kepada perusahaan miliknya yang kini di bawah kepemimpinan Yudha. Zavian akan memantau dengan cermat, memberi saran, membuat kebijakan baru, serta menyetujui hal-hal penting terkait dengan perusahaannya.
Sesekali di sela waktu luangnya, Zavian juga bersedia mereview rancangan bisnis sebuah perusahaan dan mendapat bayaran atas jasanya. Selain itu, dia juga menginvestasikan sebagian uangnya kepada sebuah perusahaan startup yang sedang berkembang dan menerima profit sharing yang cukup memuaskan setiap bulannya.
Saat ini Zavian berusaha menjadi sosok ayah yang menemani perkembangan putranya dari waktu ke waktu, sekaligus menjadi suami yang begitu memedulikan istrinya. Apalagi saat ini kandungan Nayara sudah memasuki bulan terakhir dan mereka bersiap untuk menantikan kehadiran Sang Buah Hati.
“ Duduk di sini,” ajak Zavian sambil meraih selimut hangat untuk menutup kaki istrinya. Di luar sedang turun salju dan Zavian telah menyalahkan pemanas ruangan. Tapi duduk berdua sambil berpelukan tetap akan memberikan kenyamanan tersendiri.
“ Aku senang melihatmu seperti ini,” ujar Nayara sambil merebahkan kepala di bahu suaminya.” Kamu ada di rumah untuk menemaniku dan gak kerja dari pagi sampai pagi seperti beberapa bulan yang lalu.”
“ Oh, ya ? Aku melakukan semua ini demi kamu dan anak-anak kita,” jawab Zavian. Dan sudah sepatutnya Zavian bersikap demikian.Rasanya kejam sekali jika Zavian harus meninggalkan anak dan istrinya di rumah, sementara dia pergi bekerja siang sampai malam demi memenuhi ambisinya.
Sekarang tidak ada lagi sosok laki-laki yang gila kerja sampai membuat istri dan anaknya merasa kesepian. Biar saja orang lain yang bekerja untuknya dan membuat uangnya berlipat ganda. Zavian lebih memilih menghabiskan waktu bersama Nayara dan Zeano.
“ Sudah ada tanda-tanda mau lahiran ?” tanya Zavian.
Menurut prediksi dokter mungkin dalam minggu ini Nayara akan melahirkan, tapi tidak tahu persis harinya. Apalagi akhir-akhir ini istrinya sudah sering mengeluh tentang perutnya yang sering kram.
“ Belum,” jawab Nayara.
Zavian kemudian berlutut dan mengelus permukaan perut Nayara sambil menempelkan sisi wajahnya di sana.” Nanti berjuang sama Mama ya, Sayang. Kamu harus lahir dengan selamat dan baik-baik saja. Papa sudah tidak sabar ingin memeluk dan menciummu.”
__ADS_1
Tepat setelah bicara begitu, sebuah gerakan dari dalam muncul begitu kuat dan membuat Zavian tertawa. Dia tampak bahagia karena tahu bayi di dalam perut istrinya seolah merespon ucapannya barusan.
Lalu keesokan harinya, Nayara mengalami kontraksi dan rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Zavian segera menelepon ambulans dan Nayara segera dilarikan ke rumah sakit. Sementara Zeano dititipkan kepada Bibi Marie yang selama ini dipercaya oleh Zavian dan Nayara.
Proses kelahiran anak kedua ini cukup rumit dan penuh drama. Kontraksi pertama dimulai sejak siang tapi menjelang sore jalan lahir masih tidak beranjak di posisi bukaan empat. Dalam masa-masa sulit itu Zavian selalu menemani Nayara tanpa beranjak sedikitpun dari sisi istrinya.
Zavian menghapus keringat yang mengalir di dahi Nayara berulang kali. Dia membisikkan kalimat-kalimat penyemangat agar istrinya tetap kuat dalam berjuang.
“ Bagaimana jika nanti aku mati ?” tanya Nayara . Dia sudah hampir putus asa dalam menahan rasa sakit yang tak kunjung reda.” Rasanya sakit sekali……”
“ Jangan berpikir begitu, kamu akan selamat dan anak kita juga akan baik-baik saja,” sanggah Zavian dengan cepat.
“ Aku sangat mencintaimu, By.”
“ Aku juga,” balas Zavian.” Kamu tahu sebesar apa aku mencintaimu, Sayang.”
Nayara mencoba menenangkan pikiran sesuai dengan arahan perawat yang memintanya untuk tetap tenang. Zavian sendiri sudah berulang kali meminta agar Nayara menjalani operasi sesar tapi ditolak oleh dokter yang menangani.
Zavian hendak protes karena tidak sanggup melihat istrinya kesakitan , tapi dia tidak bisa melawan aturan yang berlaku. Aturan melahirkan di Amerika ternyata jauh berbeda dengan Indonesia . Di sini, operasi sesar hanya berlaku untuk keadaan darurat saja. Jika masih ada kemungkinan melahirkan secara normal, maka dokter akan mendukung persalinan normal. Seluruh perawat juga memberikan dukungan agar ibu melahirkan terus semangat.
Menjelang tengah malam, barulah persalinan terjadi dan Nayara berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat mirip dengannya. Zavian tidak henti-hentinya mengucap kalimat syukur atas kelahiran putrinya.
“ Ini terakhir kali aku melihatmu begitu kesakitan , Sayang. Aku janji tidak ada lagi anak setelah ini,” ucap Zavian.
“ Rasanya luar biasa sakit, tapi setelahnya aku merasa lega,” ucap Nayara dengan napas yang masih sedikit tersengal.
“ Aku tidak sanggup lagi melihatmu meregang nyawa, aku takut sekali , Nay.” Zavian menciumi punggung tangan istrinya berulang kali.
Satu-satunya ketakutan terbesar Zavian adalah kehilangan Nayara. Dia bisa melangkah sejauh ini dan mengambil keputusan penting atas hidupnya sendiri karena ada wanita itu di sisinya. Jika tidak ada Nayara, mungkin Zavian tidak akan berada di tempat ini. Mungkin Zavian akan terjebak dalam aturan ketat keluarga Rayyansyah dan tidak akan pernah bisa melepaskan diri sebagai bayang-bayang Fabian.
Hari itu, setelah kelahiran anak keduanya, Zavian merasa hidupnya telah penuh dan tercukupi. Dia telah memiliki putra dan putri sekarang, rasanya lengkap. Dia berjanji tidak akan membuat Nayara hamil dan melahirkan lagi, Zavian tidak ingin membuat istrinya berada di ambang kematian yang terasa begitu menakutkan untuknya.
__ADS_1
“ Tidak ada anak lagi setelah ini, “ ucap Zavian berkali-kali.” Zeano dan Zianna sudah cukup sebagai pelengkap kebahagiaan kita,” balas Zavian.
Nayara menyetujui apapun keputusan suaminya. Sama seperti Zavian , Nayara juga takut kehilangan suaminya. Entah itu ditinggalkan atau meninggalkan , rasanya sama-sama menakutkan.
Setelah mendapat perawatan yang cukup, Nayara dan bayinya kemudian diizinkan pulang. Saat itu Zavian meminta Zean menyapa adiknya untuk pertama kalinya. Zean yang saat ini berusia hampir tiga tahun tampak antusias menyambut kepulangan Mama dan adik perempuannya.
“ Kamu sudah jadi kakak sekarang,” ucap Zavian pada putranya yang terlihat antusias.
“ She’s cute,” ujar Zean sambil menunjuk bayi mungil yang dikenalkan sebagai adiknya.
“ Benar dia tampak imut dan menggemaskan. Lihatlah matanya yang cantik seperti Mama,” ujar Zavian.
Nayara tertawa kecil sambil menggendong Zia, sementara itu Zavian memeluk Zean. Mereka tampak bahagia dan saling melengkapi satu sama lain.
Dua minggu kemudian, di tengah cuaca dingin bersalju , pintu rumah Zavian diketuk beberapa kali . Ia yang baru saja selesai menidurkan Zean menoleh keheranan pada istrinya. Tidak ada janji temu dengan siapapun hari ini. Bahkan sales asuransi pun biasanya tidak akan berkeliling di saat cuaca sedingin ini.
“ Biar aku yang membukanya,” ujar Zavian sambil berjalan ke depan.
Laki-laki jangkung itu mengintip tamunya terlebih dahulu sebelum membukakan pintu. Mata Zavian membelalak kaget saat melihat siapa yang ada di balik pintunya saat ini. Seorang perempuan Asia paruh baya mengenakan leather coat tampak menunggu penuh harap .
Zavian segera membuka pintu rumahnya dan menerima wanita itu dengan penuh haru. Disambutnya wanita itu dengan sebuah pelukan hangat penuh kerinduan.
“ Mama……..”
.
...****************...
Jangan lupa like tiap babnya ya guys, karena sebentar lagi kita akan berpisah dengan Zavian dan Nayara.... 🥹
btw hari ini udah 2 bab, nanti sore aku up 1 bab lagi... Tungguin ya dan jangan lupa dukungannya. Sarangahe 🫰🫶
__ADS_1