
Lewat tengah malam , Fabian dipindahkan ke ruang rawat secara diam-diam. Zavian memilih kamar VVIP agar merasa aman dan terjaga dari kejaran media. Sedangkan Liza yang terlibat kecelakaan itu masih belum sadarkan diri dan sedang dirawat di ICU.
Secara pribadi dokter mengatakan bahwa keadaan Fabian sendiri tidak terlalu parah. Laki-laki itu mengalami benturan di kepala yang mengakibatkan luka lebar di sekitar pelipis . Lalu ada retak tulang di bagian tulang bahu yang tidak terlalu fatal . Selebihnya , tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“ Siialan ! Kenapa malah jadi begini, sih?” umpat Fabian sambil mendecak sebal. Dia tidak tahan dengan keadaannya yang serba terbatas. Sebuah penyangga lengan disampirkan di bahunya.
“ Lo masih bisa mengumpat setelah membuat kekacauan ini?” tanya Zavian dengan nada sinis.” Lo udah bikin orang lain meninggal, tau gak !”
“ Gue gak sengaja! Lagian siapa juga yang mau kecelakaan kayak gini !” sergah Fabian dengan wajah kesal.
“ Lo minum obat apaan, sih ?” tanya Zavian yang kini memilih bersandar ke bingkai jendela. Dia menatap Fabian yang sedari tadi menunjukkan sikap aneh.
“ Anak baik-baik dan soleh kayak lo gak perlu tahu,” jawab Fabian dengan nada sinis.
“ Polisi lagi ngincer lo buat diminta keterangan. Gue mati-matian menahan agar mereka gak menciduk lo sekarang juga ,” jelas Zavian dengan nada kesal yang tak tertahankan.
“ Lebay, ah !” sahut Fabian sembari mencibir adiknya itu.
“ Ada barang bukti yang ditemukan polisi di mobil lo dan mereka akan terus mengejar lo sampai dapat. Setelah ini lo akan berhadapan dengan hukum karena telah mengakibatkan nyawa orang lain melayang. Gak cukup sampai di situ, lo juga akan dicurigai sebagai pengguna obat-obatan terlarang !” jelas Zavian .
Fabian diam saja dan tidak terlalu memedulikan ucapan adiknya itu. Dia sibuk dengan pemikirannya sendiri tentang segala yang terjadi. Lelah berbicara dengan kakaknya yang memiliki ego tinggi, akhirnya Zavian pergi keluar dari ruangan itu.
Zavian sempat menelepon Nayara untuk mengatakan bahwa dirinya belum bisa pulang dan meminta agar istrinya itu bersabar. Zavian juga menelepon Mama Widya dan mengatakan bahwa semuanya akan teratasi dengan baik. Dia tidak mau ibunya kepikiran tentang masalah ini dan tetap meminta agar Papa Adrian tidak diberitahu.
Sementara itu di kediaman Rayyansyah terjadi kepanikan yang menghebohkan. Papa Adrian sempat tidak sadarkan diri selama beberapa saat dan Mama Widya segera memanggil dokter ke rumahnya. Dia tidak memberitahu keadaan Papa Adrian yang mendadak kolaps kepada Zavian.
Mama Widya sadar bahwa anaknya itu kini juga sedang sibuk mengurusi Fabian dan segala permasalahannya. Oleh karena itu, dia menahan diri untuk tidak menambah beban pikiran anaknya. Biarlah mereka berdua berjuang mengurus masalah masing-masing.
__ADS_1
“ Perasaanku gak enak,” gumam Zavian seorang diri.
Zavian ingin menelepon Mama Widya sekali lagi tapi diurungkannya. Sekarang sudah hampir jam empat pagi dan mungkin saja Mamanya masih tertidur setelah lelah mengurus Papa Adrian.
Padahal pada kenyataannya, Mama Widya tidak bisa memejamkan mata karena keadaan Papa Adrian yang terus memburuk. Pria paruh baya itu sempat bangun selama beberapa saat, setelah itu dia kembali tidak sadarkan diri.
Akhirnya Mama Widya dan dokter pribadinya memutuskan untuk melarikan Papa Adrian ke rumah sakit saat pagi buta. Keadaan pria paruh baya itu sangat menghkhawatirkan sekali dan harus mendapatkan penanganan medis dengan segera. Mereka tidak bisa memilih rumah sakit yang sama dengan tempat Fabian dirawat saat ini karena jarak yang tidak memungkinkan.
“ Pa, tolong bangun,” bisik Mama Widya di sepanjang perjalanan. Dia menatap wajah kaku suaminya dengan perasaan pilu yang teramat sangat. “ Tolong bertahan, Pa. Ingat janji Papa untuk segera sembuh karena ingin melihat cucu kita tumbuh besar.”
Sayangnya, Papa Adrian tidak bisa bertahan lebih lama lagi . Setibanya di rumah sakit terdekat, pria paruh baya itu telah dinyatakan meninggal oleh dokter yang memeriksanya. Tidak ada lagi detak jantung yang tersisa meski berkali-kali dilakukan usaha pemulihan menggunakan alat pacu jantung. EKG menunjukkan garis lurus bahwa kehidupan telah meninggalkan raga laki-laki itu.
Mama Widya menangis pilu. Suaminya pergi dalam keadaan yang tidak diduga-duga. Tidak ada salam perpisahan sama sekali. Hanya air mata yang menjadi saksi sebagai penutup kehidupannya.
“ Zavian, Papamu sudah meninggalkan kita.” suara Mama Widya terputus-putus karena berlomba dengan tangisannya. Dikabarkannya berita duka itu dengan perasaan teramat pilu.
“ Ada apa ?” tanya Fabian merasa tidurnya terganggu ketika mendengar suara isakan adiknya.
“ Mama memberi kabar bahwa Papa……..” Ada jeda sebentar sebelum Zavian melanjutkan kalimatnya, ia mengatur napas sejenak sambil mengusap air matanya. “ Papa sudah meninggal.”
Fabian terpaku saat mendengar kabar kematian Papanya. Dia tidak ingin mempercayai ucapan Zavian tapi sadar bahwa kematian bukanlah hal yang pantas untuk dijadikan lelucon.
“ Sekarang lo mau kemana ?” tanya Fabian saat melihat Zavian berjalan menuju pintu.
“ Ke rumah sakit Harapan Keluarga. Mama membawa Papa ke sana,” jawab Zavian .
“ Gue ikut !” Fabian melompat dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Zavian menatap kakaknya itu dengan mata sedikit menyipit. “ Lo yakin mau ikut dengan keadaan lo yang kayak gini?”
“ Ini Papa yang meninggal dan gue gak akan duduk diam aja di sini,” ujar Fabian. Pria itu kemudian melepaskan selang infus yang menancap di punggung tangannya. Ditekannya bekas tusukan jarum di sana agar tidak ada darah yang mengalir keluar.” Lagian, gue gak terlalu cedera parah, kok.”
Zavian menghela napas dalam-dalam sejenak, lalu berjalan keluar ruangan. Dia memanggil salah seorang laki-laki yang menjaga ruangan itu dan menanyakan apakah kondisi cukup aman jika Fabian keluar dari rumah sakit sekarang juga.
“ Di lobby dan parkiran ada beberapa wartawan yang menunggu sejak tadi malam. Kalau mau keluar sebaiknya lewat pintu belakang saja,” ujar laki-laki yang berpakaian serba hitam itu.
“ Ada polisi juga,” tanya Zavian lagi.
“ Iya, Mas. Mereka gak mau pergi dan berjaga di sana bersama para awak media.”
“ Ini situasi darurat,” jelas Zavian dengan tegas,” Papa kami meninggal dan Fabian harus keluar dari sini.”
“ Saya akan bantu kalian keluar dari sini tanpa ketahuan oleh mereka,” ujar pria itu kemudian.
Zavian mengangguk setuju lalu meminta salah seorang dari mereka agar memindahkan mobilnya ke parkiran belakang rumah sakit. Zavian juga segera berbicara dengan pengacara dan asistennya untuk menangani situasi jika nanti pihak rumah sakit atau siapapun yang menanyakan tentang keberadaan Fabian.
Setelah itu, Zavian dan Fabian berjalan cepat ke arah belakang bangunan rumah sakit. Dia melewati lorong sepi menuju dapur dan ruangan laundry sebelum keluar dan menemukan mobilnya terparkir di halaman belakang. Zavian segera naik dan disusul oleh Fabian setelahnya. Kemudian Zavian memacu mobilnya keluar dari gerbang belakang dan meluncur menuju jalan raya.
Diam-diam Fabian memuji kecekatan adiknya yang serba cepat tapi segalanya tetap berjalan dengan rapi. Jika dirinya yang mengatasi semua ini , bisa dipastikan suasana akan dihiasi oleh teriakan dan juga bentakan.
.
...****************...
turut berduka cita untuk Fabian ... Eh salah papa Adrian maksudnya..
__ADS_1
Silahkan yg mau ngucapin belasungkawa untuk papa Adrian, untuk Fabian juga, barangkali setelah ini dia akan menyusul papanya 🤭