
Setiap hari Bram akan mengamati keadaan rumah Zavian sambil bekerja di taman pinggir jalan. Ada saja yang akan dikerjakannya, mulai dari mencabut rumput, sampai memotong dahan pohon ketapang.
“ Sudah beberapa hari ini Zavian dan Nayara tidak keluar rumah, Bos.” lapor Bram melalui earphone yang terpasang di telinganya.
“ Iyalah, dia kan sudah jadi pengangguran sekarang .” sahut Fabian dengan kekehan singkat. “ Sebentar lagi dia akan keluar rumah dan menuju ke arahku untuk minta maaf. Dia akan mengemis-ngemis agar kembali diberi posisi di perusahaanku.”
Fabian tidak tahu bahwa dalam kondisi yang senyap itu, Zavian telah bergerak cukup jauh. Akta pendirian perusahaannya telah selesai dibuat dan seluruh aspek operasional mulai bergerak. Zavian memang tidak kemana-mana karena dia harus melakukan teleconference dengan calon klien dan investor dari luar negeri.
Sementara itu partner kerjanya yang bernama Yudha dan para pekerja telah turun ke lapangan untuk menjalankan proyek. Zavian hanya memantau dari balik layar dan memastikan bahwa segalanya berjalan dengan lancar.
“ Kabari aku kalau Nayara keluar dari rumah, aku sudah tidak sabar ingin membuatnya kembali jatuh ke dalam pelukanku .” ujar Fabian.
“ Siap, Bos.” jawab Bram dari seberang telpon.
Saat Fabian selesai menelepon, pintu ruangannya diketuk dari luar. Sekretarisnya memberitahu bahwa sang CEO memanggilnya ke ruangan beliau.
Dengan langkah penuh percaya diri, Fabian masuk ke ruangan CEO. Dia sempat menghentikan langkah sebentar di depan pintu itu dan bergumam di dalam hati. ‘ Aku sudah tidak sabar menempati ruangan ini.’
“ Duduklah, Bian.” ucap papa Adrian dengan wajah keruh. Laki-laki itu tidak menjamu Fabian di sofa seperti biasa, tapi dia duduk di kursi kebesarannya dengan angkuh.
“ Ada apa , Pa?” tanya Fabian dengan waspada ketika melihat ayahnya dalam mode serius.
“ Kamu sudah tahu bahwa ada beberapa karyawan inti yang mengajukan one month notice dan resmi last day hari ini ?” tanya papa Adrian dingin bercampur kalut.
Fabian terdiam dan mendadak beku. Dia mana pernah mengecek email dari HRD dan menyadari hal ini. Yang dilakukannya hanyalah mengejar Nayara saja.
“ Dan yang paling mengejutkan lagi , setelah keluar dari sini mereka akan bergabung dengan PT ZN Abadi . Kamu tahu siapa pemilik perusahaan itu ?”
__ADS_1
“ Siapa Pa?” tanya Fabian penasaran.
“ Zavian Rayyansyah !”
“ Apa?” Fabian kaget luar biasa dengan pemberitahuan yang papanya sampaikan. Ada sesuatu yang keras menampar Fabian dengan telak. “ Apa nama perusahaannya?” tanya Fabian sekali lagi. Dia ingin memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
“ PT ZN Abadi.” jawab Adrian dengan tegas. Pria itu menatap Fabian dengan rasa kecewa yang mulai menampakkan akarnya.
“ Zavian pasti bercanda kan ,Pa? Mana mungkin dia bisa membangun perusahaan sendiri dengan nama yang…..” Fabian menggantung ucapannya sebentar. Kemudian dia mendecih sinis dengan tangan terkepal erat. “ Ah, siial !”
Hanya dengan mendengar nama perusahaan milik Zavian saja, batin dan jiwa Fabian seolah terbakar hingga hangus. Fabian merasa bahwa saat ini Zavian sedang mengejek dirinya habis-habisan dengan cara yang begitu hebat.
“ Ada tujuh orang karyawan kita yang mengajukan surat pengunduran diri sejak bulan lalu. Semuanya adalah karyawan senior dari berbagai divisi.” Papa Adrian menyodorkan map berisi data karyawan yang masa kerjanya resmi berakhir hari ini.” Setelah ini mereka akan pindah ke perusahaan baru milik Zavian. Dan kamu tidak tahu apa-apa tentang ini !”
Ada nama Laura dan Gina dari divisi Accounting , Sasha dari divisi tim purchasing , Ilham dari divisi marketing, Jefri dari divisi IT, Karen dari divisi sosial media, dan terakhir adalah Vina yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris Zavian.
“ Bagaimana caramu mengatasi ini, Bian ?” tanya sang papa yang mencoba tenang. Namun sebenarnya menyimpan sebuah kemarahan yang luar biasa. Dia menatap anak sulungnya dengan gusar.
“ Semudah itu kamu bicara ?” tanya papa Adrian dengan rahang terkatup geram .
“ Bagaimana dengan proyek yang sekarang pengerjaannya sedang tertunda ?”
“ Biar ku lanjutkan. Papa tenang saja .” ucap Fabian dengan penuh percaya diri.
“ Kalau begitu, minggu ini kuharap proyek itu kembali dilaksanakan.” pinta papa Adrian.
“ Gak masalah.” ujar Fabian dengan enteng. Dia bersikap santai di hadapan papanya. Tapi di dalam hatinya, Fabian mengutuk bersama sumpah serapah yang tak terucapkan.
__ADS_1
Saat Zavian memutuskan keluar dari perusahaan, Adrian terpedaya ucapan Fabian yang selalu berkata bahwa suatu saat nanti Zavian akan kembali bekerja diperusahaan ini. Karena dia yakin keputusan Zavian untuk keluar hanyalah karena merasa iri melihat kakaknya.
Itulah kenapa selama sebulan terakhir ini mereka tidak mencari orang untuk menggantikan posisi Zavian. Bahkan Adrian membiarkan proyek yang sedang berjalan ditunda. Dia yakin sekali Zavian akan kembali. Papa Adrian juga mencoba membangun kepercayaan terhadap Fabian yang berkali-kali berkata bahwa dirinya tak kalah hebat dibandingkan sang adik.
Sayangnya, seluruh kepercayaan dan penantian itu kini patah dan hancur berkeping-keping. Zavian tidak akan pernah kembali karena dia telah memiliki perusahaan sendiri.
“ Siialan ! Siaalan !” umpat Fabian dengan geram “ Kenapa dia tidak datang padaku dan memohon maaf agar kembali menempati posisinya di perusahaan ini? Kenapa dia malah melakukan ini ?”
Fabian benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan mengejutkan Zavian . Padahal selama ini orang suruhannya selalu memata-matai kegiatan Zavian setiap hari. Zavian hanya akan keluar rumah untuk menemani istrinya, selebihnya tidak ada kegiatan berarti dari pria itu. Tapi siapa sangka, sekarang Zavian malah memberinya kejutan tak terduga seperti ini.
Fabian menghubungi sekretarisnya dan minta dibawakan file penting terkait pengerjaan proyek yang kini terbengkalai setelah ditinggalkan Zavian. Tidak lama kemudian, sekretarisnya datang dan memberikan map berisi dokumen yang dimintanya. Tapi Fabian malah protes karena ini tidak sesuai dengan keinginannya .
“ Maaf pak. Hanya ini dokumen tersisa terkait proyek yang bapak minta.” jelas perempuan itu dengan sopan.
“ Hanya ini ?” tanya Fabian mengerutkan dahinya. “ Ini adalah file rancangan mentah yang kubuat sewaktu mengajukan proyek ini. Aku meminta dokumen pelaksanaan proyek yang sudah disepakati bersama kontraktor dan juga vendor .” ujar Fabian.
“ Sekretaris pak Zavian hanya memberikan ini.” jawab perempuan itu lagi.
“ Kamu sudah bilang minta semuanya ?”
“ Sudah pak. Sekretarisnya pak Zavian berkata bahwa hanya ini file yang tersisa.”
Fabian mendadak gusar dan dia memutuskan untuk berjalan keluar. Tempat yang hendak ditujunya adalah ruangan Zavian untuk mencari dokumen yang diperlukannya.
Saat masuk ke dalam ruangan itu, Fabian kemudian duduk di kursi yang sebelumnya ditempati oleh Zavian dan menghidupkan komputer di meja. Setelah loading beberapa saat , Fabian kemudian mencari file yang diperlukannya.
Sayangnya tidak ada sedikitpun jejak yang ditinggalkan Zavian terkait pembangunan proyek terbaru. Komputer di meja Zavian bersih tanpa menyisakan apa-apa. Karena tidak tahan dengan rasa penasaran yang membuatnya kalut, akhirnya Fabian mencoba untuk menghubungi Zavian terlebih dulu. Persetan dengan harga diri dan keangkuhannya. Kali ini Fabian benar-benar butuh file itu agar papanya tidak kecewa terhadap dirinya .
__ADS_1
.
...****************...