
“ Apa ada kabar terbaru dari Jakarta ? “ tanya Nayara sesaat setelah Zavian menerima telepon dari orang-orangnya di Jakarta.
“ Fabian putus asa dan berusaha bunuh diri lagi,” jawab Zavian.
“ Lalu ?”
“ Orang suruhanku berhasil mencegahnya tepat waktu sebelum dia melompat dari rooftop Rafflessia Tower ,” jelas Zavian.
“ Bagaimana dengan Mama ?” tanya Nayara.
“ Seperti biasa, Mama akan panik dan histeris karena dia takut ditinggalkan oleh anak kesayangannya,” tukas Zavian.
“ Oh, begitu. Gak usah heran, ya,” sahut Nayara yang membuat Zavian tertawa.
Mama mungkin merasa bahwa dia telah ditinggalkan oleh Zavian, padahal dia tidak tahu bahwa selama ini Zavian selalu menjaganya dari kejauhan. Ada orang-orang yang berada di sekeliling Mama Widya dan mereka juga bekerja untuk Zavian.
Bahkan Zavian juga mengawasi kemana kakaknya pergi agar Fabian tidak melakukan hal-hal bodoh. Itulah kenapa Fabian yang mudah putus asa bisa diselamatkan tepat waktu.
Semenjak tinggal jauh dari Mamanya dan tidak berhubungan secara langsung, hidup Zavian dan Nayara berjalan dengan baik-baik saja. Bukan berarti dulu tidak baik-baik saja, tapi Zavian selalu mengeluarkan energi untuk menjaga suasana agar tetap kondusif. Berbeda dengan saat ini dimana Zavian bisa bekerja dan tampil apa adanya.
Nayara juga tidak banyak mengeluh tentang keadaan yang kadang membuatnya merasa kesulitan. Tidak ada asisten rumah tangga, tidak ada sopir pribadi bahkan Nayara tidak memiliki pengasuh untuk anaknya. Dia melepaskan gaya hidupnya yang selama ini serba mudah dan penuh bantuan.
Bukan karena gaji asisten rumah tangga yang sangat tinggi karena Zavian masih mampu membayar para pekerja itu. Tapi Nayara lebih memilih menyewa jasa pekerja melalui aplikasi online untuk sesekali membantunya membersihkan rumah. Sisanya akan dikerjakannya sendirian tanpa mengeluh.
“ Kenapa harus memutus kontrak pengasuh Zeano ? “ tanya Zavian suatu saat pada Nayara yang sibuk membuatkannya teh disela waktu menyuapi anaknya.
“ Aku kurang cocok dengan pola asuhnya,” jawab Nayara . Dia menoleh ke arah Zavian dan menunjuk cangkir teh yang masih mengepulkan uap hangat. “ Aku juga mengganti teh dengan merek baru. Semoga kamu menyukainya, sayang.”
Zavian mengabaikan cangkir tehnya dan kembali berkata,” Setelah minggu lalu kamu memecat asisten rumah, sekarang kamu juga melepaskan pengasuh Zean. Apa aku harus menghubungi agen lain untuk mencari pekerja rumah untukmu?”
“ Gak usah,” sahut Nayara cepat.” Aku masih bisa mengerjakan semuanya sendirian.”
“ Tapi kamu kerepotan sayang,” ucap Zavian yang mulai protes dengan keputusan istrinya.
“ Tidak masalah dan aku tidak akan mengeluh,” ujar Nayara meyakinkan Zavian.
” Lagipula , pengasuh di sini terlalu mengatur dan memaksaku untuk menerapkan pola asuhnya terhadap Zean. Aku tidak suka.”
__ADS_1
“ Apa gara-gara semuanya melarangmu tidur dengan anak kita ?” tanya Zavian .
Nayara mengangguk membenarkan.” Mereka terlalu mendikte dan melarangku tentang banyak hal. Tidak hanya melarang tidur bersama anak, tapi juga melarangku segera memberi susu saat Zean menangis dan juga melarang menggendong terlalu sering. Aku tidak bisa melakukan semua itu, By. Aku ingin tidur sambil memeluk anakku, aku ingin menenangkan anakku disaat dia menangis, aku ingin dekat dengan anakku.”
“ Oke , aku paham, “ ujar Zavian kemudian.
” Bagaimana kalau kita cari pengasuh yang berasal dari Indonesia ? Kurasa mereka akan memahamimu dengan baik.”
“ Kalau ada tidak apa-apa, tapi kalau tidak ada aku juga tidak memaksamu untuk mencarinya,” ujar Nayara .
Zavian mengangguk setuju, kemudian dia mendekat dan menggendong Zean yang sudah selesai makan. Zavian membantu menghapus sisa bubur di sudut bibir bayi itu dan Zean tampak senang berada dalam pangkuan ayahnya.
“ Nanti malam aku akan pulang cepat,” ujar Zavian.
Nayara menyambut ucapan suaminya dengan senyum lebar penuh antusias. Dia senang sekali jika Zavian pulang lebih awal karena dia akan punya teman untuk berbicara dan menghabiskan waktu. Bukan hal baru lagi bagi Nayara yang selalu melewatkan waktu sendirian dan menunggu kepulangan Zavian hingga larut malam. Bahkan semenjak memutuskan untuk ikut Zavian menetap di kota ini pun, Nayara mulai terbiasa melakukan segala hal sendirian.
Malam ini, Nayara meletakkan ponselnya ke atas nakas setelah mengirim satu pesan kepada sang suami. Zavian sudah berjanji akan pulang lebih cepat tapi ternyata pria itu belum muncul di rumah setelah jam menunjukkan pukul sebelas malam. Nayara tidak lagi menelepon dan bertanya kenapa Zavian belum juga pulang, dia hanya mengirim pesan bahwa dirinya akan tidur lebih dulu.
Tidak ada balasan pesan dari Zavian, bahkan setelah satu jam berlalu. Nayara yang putus asa benar-benar mencoba memejamkan mata dan berusaha melupakan suaminya yang akhir-akhir ini selalu tidak menepati janji.
Seharusnya Nayara bisa tidur dalam kesendirian seperti malam-malam sebelumnya. Namun malam ini matanya terus terjaga meski sudah dipaksa tidur. Seharusnya kesepain tidak akan terasa sesakit ini seandainya Zavian tidak melupakan janjinya.
Nayara tidak berniat menyambut kepulangan suaminya dan justru merebahkan tubuh di kasur . Dia menarik selimut dan memejamkan mata ketika mendengar langkah Zavian mendekat ke arahnya.
Ada dessah kecil terdengar dari mulut Zavian saat mendapati istrinya sudah tertidur , lalu pria itu berlalu begitu saja. Setelah berganti pakaian, Zavian kemudian merebahkan diri di samping Nayara dan memeluk istrinya dengan erat.
Dia menyadari bahwa akhir-akhir ini banyak sekali janji yang terlupakan dan waktu kebersamaan mereka semakin sedikit. Kadang Zavian ingin memperbaiki semuanya dengan mengambil waktu libur, tapi pekerjaannya tidak mengizinkan.
Paginya, Zavian bangun dan mendapati Nayara telah menghilang dari dalam dekapannya. Zavian segera bangun dan membersihkan diri, setelah itu dia berjalan menuju pantry dimana Nayara sedang sibuk bekerja sementara Zean diletakkan di dalam stroller.
“ Selamat pagi, sayang,” sapa Zavian. Dia memeluk Nayara dari belakang dan mengecup pipi istrinya .
Nayara tidak bereaksi apa-apa, dia bahkan tidak membalas sapaan suaminya sama sekali. Zavian mengernyitkan dahinya saat mendapati sikap dingin sang istri dan mencoba mencari tahu salahnya dimana.
“ Kamu lagi gak enak badan ?” tanya Zavian.
“ Mm….” gumam Nayara dengan suara yang tidak jelas.
__ADS_1
“ Kenapa , sih ?” tanya Zavian saat menyadari suasana yang semakin kaku. Apalagi ketika Nayara terlihat enggan membalas sentuhannya.” Aku salah apa ?”
“ Gak ada ,” sahut Nayara sambil terus bekerja mengoles selai coklat ke permukaan roti gandum yang sudah dibakar.
“ Ayolah, sayang.. Aku ada salah apa ? Kenapa kamu tiba-tiba ngambek begini ?” desak Zavian lagi.
“ Udahlah, lupakan saja semuanya. Lupakan semua janji-janjimu yang hanya akan berakhir sebagai kalimat omong kosong,” gerutu Nayara dengan kesal.
Zavian mulai menyadari letak kesalahannya dan dia terkekeh pelan. Dia kembali memeluk Nayara, kali ini lebih erat hingga wanita itu terpaksa menghentikan pekerjaannya.
“ Maaf, sayang. Semalam aku pulang telat karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan terlebih dahulu . Maaf, ya.” Zavian berusaha membujuk istrinya.
“ Lain kali gak usah pakai janji-janji segala,” ujar Nayara setelah itu.
“ Mm, oke,” ujar Zavian .
Pagi itu Nayara menunjukkan kekesalannya pada sang suami dan merasa bahwa dirinya kekanak-kanakan. Bagaimana mungkin dirinya marah pada Zavian hanya karena pria itu pulang telat. Dia memaafkan Zavian dan berusaha bersikap tenang. Tapi malam-malam selanjutnya , Nayara kembali merasakan kesepian dan hal itu terus berlanjut.
Bahkan tidak banyak waktu kebersamaan Zavian dengan keluarganya dan hal itu membuat Nayara semakin uring-uringan.
“ Kamu memang sesibuk itu, ya ?” tanya Nayara saat Zavian pulang jam dua dini hari dan tampak sangat kelelahan. Dia sengaja menunggu suaminya pulang dan menolak untuk tidur lebih dulu.
“ Iya, sibuk.” jawab Zavian apa adanya karena memang seperti itulah kenyataannya.
“ Bahkan sampai gak punya waktu untuk mengangkat teleponku dan gak bisa membalas pesanku?” cecar Nayara lagi. Dia menatap mata Zavian yang memerah karena kurang tidur, tapi amarahnya sedang merambat naik dan dia butuh pelampiasan.
Zavian mengangguk pelan dan berkata,
” Kadang aku lupa mengecek ponsel, maaf .”
“ Kamu lama-lama semakin keterlaluan deh,” ujar Nayara dengan suara sedikit meninggi.
“ Kalau begini terus lebih baik aku dan Zean balik ke Indonesia ! Biar kamu bebas kerja dari pagi sampai pagi !”
.
...****************...
__ADS_1
Sekali² bikin huru hara di rumah tangga mereka ah, biar gak bosen 🤭 😂
Duh maaf kalo lama Up nya , bab ini udh aq Up dr jam 9 mlm, tp skrg udh jam setengah 9 pagi msh di review jg 😮💨...