
Fabian berusaha mati-matian membujuk agar membawa Nayara kembali ke rumah ini. Fabian juga membujuk supaya papa Adrian turun tangan menghentikan niat Nayara yang hendak bercerai darinya.
“ Kenapa papa memintaku untuk menceraikan Nayara? Bukankah selama ini papa selalu bilang bahwa Nay akan selalu menjadi bagian keluarga Rayyansyah?” Fabian menatap papanya dengan sorot mata penuh kecewa.
“ Kamu masih belum bisa menerima kenyataan kalau sekarang Nay sudah bukan istri kamu lagi?” Papa Adrian malah balik bertanya pada putra sulungnya itu.
“ Iya, aku ingin dia kembali jadi istriku!” tegas Fabian.
“ Tidak bisa, Bian. Tidak bisa!” papa Adrian menggeleng- gelengkan kepalanya . “ Kamu sendiri yang sudah menceraikan Nayara setelah melayangkan tamparan padanya.”
“ Aku khilaf, Pa.” sahut Fabian dengan raut wajah semakin memelas.” Waktu itu Sarah terus menangis sepanjang jalan dan dia mengatakan bahwa dirinya keguguran akibat ulah Nayara. Aku terhasut ucapannya dan percaya bahwa dia benar keguguran. Aku juaga…”
“ Itu kesalahanmu yang tidak akan pernah termaafkan!” sela Papa Adrian langsung memotong perkataan anaknya.” Kamu terlalu terpengaruh pada Sarah dan bersikap tidak rasional, seolah-olah akalmu sudah hilang karena pengaruh wanita itu.”
“ Pa……” Fabian menatap papanya dengan putus asa.
“ Asal kamu tahu, Bian. Nayara itu sudah tidak punya siapa-siapa di sini. Tidak ada orang tua atau keluarga yang menjadi tempatnya bergantung selain kamu dan keluarga ini. Tapi sebagai suaminya, kamu malah menyakitinya dengan berselingkuh. Kamu bahkan menamparnya tanpa mau mencari tahu kebenarannya.” jelas papa Adrian.
“ Aku…..”
“ Perselingkuhanmu bukanlah sebuah kekhilafan , Fabian !” tegas papa Adrian lagi. Dia muak mendengar Fabian terus membela dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa sikapnya adalah sebuah kekhilafan.
Fabian mengusap wajahnya dengan putus asa. Jika papanya yang sudah turun tangan, rasanya sulit untuk mengambil sikap seenaknya. Fabian memang punya kekuasaan sebagai anak pertama keluarga Rayyansyah, tapi papanya jauh lebih berkuasa dibandingkan dirinya.
“ Nayara memang akan terus menjadi bagian dari keluarga ini dan suatu saat dia akan kembali ke rumah ini. Tapi bukan sebagai istrimu.” ujar Papa Adrian menjelaskan .
Dada Fabian semakin dipenuhi rasa sakit saat mendengar ucapan papanya. Jantungnya bagai ditusuk ribuan pisau. Sulit menerima kenyataan bahwa Nayara bukan lagi istrinya.
“ Mulailah menerima kenyataan dan segera urus perceraianmu.” tegas papa Adrian lagi.
Rasanya Fabian ingin mengubur diri karena rasa sakitnya yang terlalu menyesakkan. Tapi apa yang sudah terjadi di belakang tidak dapat lagi diperbaikinya . Hanya ada jejak-jejak kenangan yang membuat Fabian semakin larut dalam penyesalan.
...----------------...
“ Dari mana kamu membawa pecahan kaca?” mama Widya bertanya saat salah seorang pelayan membawa sisa beling yang sudah dibereskan.
“ Ini dari kamar Nyonya Sarah, sepertinya dia sedang marah.” jawab pelayan itu memberi penjelasan.
Mama Widya hendak berlalu tapi dia segera berbalik dan memanggil pelayan itu.” Katakan pada pelayan yang lainnya bahwa kalian tidak perlu memanggil Sarah dengan sebutan Nyonya. Panggil dia dengan sebutan Mbak atau Ibu saja.
“ Baik, Nyonya.” sahut pelayan itu dengan patuh.
__ADS_1
Mama Widya lalu menemui Sarah yang sedang murka. Tapi saat tahu mertuanya datang, dia segera mengubah ekspresinya menjadi tenang dan ceria.
“ Pelayan bilang kalau kamu mengamuk sampai memecahkan gelas.” tutur mama Widya sambil menatap Sarah penuh selidik.
“ Oh ,itu tadi tanganku licin, Ma. Jadi gelasnya jatuh.” sahut Sarah berbohong.
“ Apa yang membuatmu marah, hem?” mama Widya masih mencecar Sarah agar wanita itu berkata jujur di depannya. Tidak bermuka dua seperti saat ini.
“ Gak ada, Ma. Beneran gak ada kok.” elak Sarah yang masih berusaha meyakinkan ibu mertuanya yang masih menatapnya dengan curiga.
Mama Widya hanya mencibir kebohongan menantunya itu.” Sudah kubilang padamu supaya jangan terlalu banyak berharap!"
“ Ma, aku ini sedang mengandung anak mas Bian, lho. Ini adalah penerus keluarga Rayyansyah . Apa mama tidak bisa bersimpati padaku sedikit saja?” ucap Sarah dengan wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin.
“ Kamu memang mengandung anak Fabian , tapi itu tidak bisa membuatmu bersikap seenaknya di rumah ini. Hidup ini bukan sinetron dimana seorang pelakor yang sedang hamil di bela-bela. Aku masih waras untuk melihat kebenaran dengan kedua mataku sendiri.” Mama Widya berkata dengan lugas.
“ Mama……” Sarah mendadak putus asa. Tidak mudah meluluhkan hati mertuanya dengan sandiwara yang ia ciptakan.
“ Aku bisa menerima kehadiran anakmu, tapi tidak dengan dirimu !” ujar mama Widya lagi.
” Jadi, jaga sikapmu, Sarah !”
Setelah itu Mama Widya pergi meninggalkan Sarah sendirian. Wanita hamil itu hanya bisa mengelus perutnya sambil menggumamkan kekesalannya. Niatnya yang ingin berkuasa di rumah ini tampaknya tidak akan terkabul dengan mudah.
“ Mas, aku sedih.” ucap Sarah yang mengadu pada Fabian saat suaminya masuk ke dalam kamar setelah menemui papa Adrian.
“ Sedih kenapa?” tanya Fabian tanpa menoleh ke arah istrinya.
“ Sikap mama ketus banget, padahal aku gak bikin kesalahan apa-apa.” jelas Sarah.
“ Ohh.” Fabian hanya bergumam samar menanggapi curhatan istrinya .
Sarah mendecih kesal melihat respon suaminya yang di luar dugaan.” Mas kok gak belain aku, sih?”
“ Kenapa aku harus membelamu? Padahal jelas-jelas kamu salah.” ketus Fabian yang sudah muak dengan tingkah istrinya itu.
“ Tapi mama itu dia…….”
“ Sudahlah, Rah. Jangan bikin drama lagi!” hardik Fabian kesal. “ Aku juga muak melihatmu selalu memanipulasi keadaan seolah-olah dirimu adalah orang yang paling teraniaya.”
“ Mas….”
__ADS_1
“ Aku gak akan mudah percaya padamu lagi, Sarah. Sudah cukup aku termakan hasutanmu terhadap Nayara hingga membuatnya pergi dari hidupku.” kesal Fabian dengan tatapam tajam.
“ Kenapa masih saja membahas Nayara?” tanya Sarah yang tidak terima.” Dia sudah pergi, Mas.”
“ Dan dia pergi itu karena ulahmu!”
“ Kok mas malah menyalahkanku sih?”
“ Karena kamu memang salah !” bentak Fabian dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.
“ Aku sudah mencari tahu tentang pertengkaranmu hari itu dengan Nay. Kamu bilang kalau Nay yang menganiayamu, padahal kenyataannya kamulah yang memulai pertengkaran itu !”
“ Tapi memang benar kalau Nayara yang mendorongku, mas!” bela Sarah yang masih tidak terima Fabian menyalahkannya.
“ Itu karena kamu yang menghinanya duluan !” Fabian menatap Sarah dengan begitu tajam. “ Aku menyesal telah menikahimu !” ucap Fabian dengan sorot mata penuh penyesalan.
Air mata Sarah jatuh bercucuran . Dia tidak menyangka bahwa hidupnya akan sesial ini. Padahal dia sempat merasa menang saat Nayara memutuskan pergi dari rumah ini. Tapi ternyata keluarga Rayyansyah sangat menyayangi wanita itu.
...----------------...
Setelah tiga bulan lamanya, perceraian Fabian dan Nayara akhirnya menemui titik akhir. Sesuai permintaan papanya, Fabian mulai menerima bahwa dia tidak bisa terus menerus mempertahankan Nayara di sisinya.
Hari itu, Nayara datang ke pengadilan ditemani oleh pengacaranya. Sedangkan Fabian datang bersama Sarah dan mereka tampak begitu romantis. Tautan tangan Sarah di lengan Fabian tidak pernah terlepas dan Fabian sesekali akan mengelus permukaan perut Sarah.
Saat tatapan mata Sarah dan Nayara bertemu, Sarah mengulas senyum penuh kemenangan. Seolah-olah berkata bahwa dia dan Fabian telah menunggu perpisahan ini sejak lama.
Nayara menatap adegan romantis itu dengan rasa sakit yang menggulung- gulung di dalam dadanya. Selama ini dia mengurung diri di apartemen sambil meratapi pernikahannya yang hancur. Tapi di sisi lain, Fabian justru berbahagia dengan istri keduanya.
“ Kamu juga bisa bahagia, Nay.” Zavian yang datang kemudian membisikkan kalimat itu di telinga Nayara.
Nay masih menimbang-nimbang ajakan Zavian untuk membalas kejahatan Sarah dan juga pengkhianatan Fabian.
Saat sidang selesai dan pernikahannya dengan Fabian benar-benar berakhir secara legal, Nayara mulai mempersiapkan langkah selanjutnya. Ia juga ingin memperlihatkan kepada Fabian bahwa dirinya juga bisa bahagia. Dengan pertimbangan yang cukup matang akhirnya Nayara menerima ajakan Zavian.
“ Ayo, kita menikah…” ucap Nayara mantap pada Zavian yang masih setia menemani dirinya sidang perceraian dengan Fabian.
Saat Nayara setuju untuk menikah dengannya, Zavian tahu bahwa dirinya hanyalah dijadikan pelampiasan rasa sakit hati. Tapi dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ini pilihannya dan dia tahu resikonya.
.
...****************...
__ADS_1