Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Penyesalan Adrian


__ADS_3

Menjelang Nayara melahirkan, Zavian memilih untuk tidak kemana-mana. Dia selalu menemani istrinya setiap waktu tanpa ada yang terlewatkan. Dia mengabaikan desakan dari keluarganya. Lalu saat kontraksi itu mulai muncul secara teratur, Zavian segera membawa Nayara ke rumah sakit. 


“ Kalian berdua harus kuat,” bisik Zavian berkali-kali.


Ini pengalaman pertamanya menunggu kelahiran anaknya. Zavian yang biasanya tampil tenang ternyata bisa dilanda rasa panik. Dia tidak tega melihat Nayara kesakitan ketika akan melahirkan anaknya. 


‘“ Mas, sakit….” jerit Nayara dengan peluh mulai bercucuran. 


“ Pegang tanganku, sayang. Jangan dilepaskan,” ujar Zavian. 


Mereka saling berpegangan tangan di ruangan yang dingin itu. Dokter dan perawat sibuk membantu kelahiran anak pertama mereka . Nayara menjerit saat desakan demi desakan yang menyakitkan itu mendera tubuhnya. Sedangkan Zavian diam-diam menangis ketakutan. Dia takut sekali membayangkan jika Nayara meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. 


Setelah dua jam mengalami kontraksi dan segala drama tangisannya, akhirnya tangis bayi melengking memecah kepanikan yang ada di ruangan itu. Zavian tersenyum lega, lalu menciumi wajah istrinya dengan penuh haru.


“ Terima kasih, sayang. Terima kasih…” ucap Zavian bertubi-tubi. 


Sekarang bertambah lengkap kebahagiaan Zavian. Seorang bayi laki-laki telah hadir sebagai penguat ikatan cinta mereka berdua.


Zavian mengelus pipi Nayara untuk menyingkirkan jejak air mata yang ada di sana. Keringat yang semula membasahi pelipis Nayara juga telah dibersihkan. Sekarang Zavian menatap istrinya yang tertidur pulas pasca melahirkan. Wajah wanita itu tampak lelah setelah melakukan perjuangan yang begitu hebat. 


“ Anakmu belum diantar ke sini, ya ?” tanya Mama Widya yang baru saja datang melihat kehadiran cucu barunya.


“ Belum, Ma. Masih di ruang bayi,” jawab Zavian.


Sekarang Nayara sudah dipindahkan ke ruang perawatan, sedangkan bayi mereka masih ada di ruang bayi . Zavian sengaja memilih kelas VVIP agar istrinya merasa nyaman dan mendapat perawatan terbaik selama di rumah sakit ini.


“ Nayara baik-baik saja,kan ?” Mama Widya menatap menantunya yang sedang terbaring lemah dalam keadaan tidur. 


“ Mm. Dia baik-baik saja. Cuma kelelahan, Ma.”jawab Zavian.


“ Istrimu hebat,” puji Mama Widya. 


Sejak awal Nayara selalu mengatakan bahwa dia akan melakukan segala yang terbaik saat melahirkan anaknya. Entah dengan cara normal ataupun operasi caesar, bagi Nayara sama saja. Yang penting adalah anaknya lahir dalam kondisi sehat. Sedangkan Zavian menyerahkan keputusan pada istrinya dan mendukung apapun pilihan Nayara. 


Meskipun awalnya sempat cemas dan ragu, tapi sekarang Zavian bisa bernapas lega. Nayara dan bayinya baik-baik saja dan sedang menunggu pemulihan.

__ADS_1


“ Selamat ya, Zavian. Kamu sekarang sudah menjadi Ayah,” ujar Mama Widya sambil menatap anaknya dengan lekat. “ Mama harap kamu bisa jadi Ayah yang hebat untuk anak-anakmu. Jangan seperti Papamu…” ucapan Mama Widya terputus sejenak dan wanita itu menarik napas dalam-dalam.” Jangan pilih kasih karena anak-anakmu berhak mendapatkan kasih sayang yang sama.”


Ada rasa sesak di dalam dada wanita itu saat berkata demikian. Dia adalah saksi bagaimana tidak adilnya perlakuan suaminya terhadap Fabian dan juga Zavian. Sekarang, Mama Widya tidak ingin hal itu terulang kembali. “ Semoga Nayara bisa lebih tegas, tidak seperti Mama yang terlalu menurut pada suami.” 


“ Aku tahu,” sahut Zavian sambil tersenyum penuh arti ke arah Mamanya. “ Mama tidak perlu khawatir tentang hal itu.” 


Zavian telah bertekad memutus lingkaran setan itu dan memastikan bahwa segalanya telah berhenti pada dirinya saja. Dia tidak akan membeda-bedakan kasih sayang di antara anak-anaknya kelak agar rasa sakit yang pernah dialaminya tidak terulang kembali. Dan, Zavian juga percaya bahwa Nayara akan melakukan hal yang sama dengan apa yang kini dipikirannya. 


“ Bagaimana keadaan Papa?” tanya Zavian kemudian. “ Selama beberapa hari ini aku sibuk menjaga Nayara sampai gak sempat melihat Papa.”


“ Belum ada perkembangan apa-apa walaupun sudah menjalani terapi,” ujar Mama Widya dengan suara sendu. Rencana membawa Papa Adrian berobat ke Singapura juga terpaksa ditunda karena kondisi yang belum memungkinkan . Ditambah lagi sekarang Nayara baru saja melahirkan. 


Setelah tidur selama beberapa jam, akhirnya Nayara terbangun dalam keadaan yang jauh lebih baik. Rasa lelahnya telah hilang dan kini dia terlihat benar-benar bahagia. Apalagi saat perawat mengantarkan bayi mungil itu kepadanya.


Ada rasa haru menyeruak ke dalam dadanya saat melihat bagaimana bayi mungil itu menyusu padanya. Dia tidak percaya bahwa hidupnya yang semula suram dan berada dalam warna abu-abu kini telah berubah sepenuhnya. Ada satu kehidupan lagi yang bergantung padanya dan membuatnya percaya bahwa hidup tidak melulu diisi oleh kesedihan dan air mata. Ada Zavian di sisinya yang selalu setia menemani, menjadi penuntun langkahnya dan juga menjaganya. Dan, Nayara merasa bahagia dengan hidupnya.


“ Ganteng banget,” ucap Nayara penuh haru. Dipeluknya bayi yang kini tidur pulas setelah selesai menyusu itu. Dia menatap Zavian dan tersenyum .” Ganteng kayak Papanya.”


“ Aku gak mau bersikap narsis, tapi iya dia ganteng dan mirip denganku,” balas Zavian. 


“ Terima kasih istriku yang cantik,” ujar Zavian. Dia mendekat dan meraih tengkuk istrinya untuk mencium bibir Nayara sejenak.” Aku mencintai kalian berdua .” 


Nayara mengangguk kecil dengan mata berkaca-kaca . Dia juga mencintai Zavian dengan seluruh perasaan yang dimilikinya. Setelah itu, ruangan rawat Nayara menjadi ramai karena keluarga yang lain berdatangan dan memberi ucapan selamat kepada mereka berdua. Hadiah-hadiah dan juga buket bunga mulai berdatangan dari berbagai pihak . Hingga salah satu sudut ruang rawat Nayara dipenuhi oleh kado-kado yang dibungkus oleh kertas warna-warni cerah.


“ Kalian sudah memberinya nama ?” tanya tante siska. 


“ Sudah, Tan. Kami sudah menyiapkan nama untuknya.” jawab Nayara.


“ Siapa namanya ?” tanya tante Tania penasaran. 


Nayara menatap Zavian kemudian mengangguk sambil tersenyum, ia mengisyaratkan agar Zavian yang mengumumkan nama anak mereka kepada seluruh anggota keluarga . 


“ Namanya….. Zeano putra Raviansyah.” ucap Zavian dengan bangga saat menyebutkan nama anaknya. Nama itu dipilih ia dan Nayara sejak mengetahui jenis kelamin anaknya saat masih di dalam kandungan sang istri. 


“ Loh kenapa gak ada nama keluarga kita, Za?” protes Tante Tania.

__ADS_1


“ Iya benar, Za. Nama Rayyansyah itu sudah turun temurun harusnya anak kalian juga memakai nama keluarga.” timpal Tante Siska.


“ Zean adalah anakku dan Nayara , Tan. Aku ingin memberikan nama untuknya sendiri tanpa harus ada nama keluarga di belakang namanya. RaViansyah itu singkatan dari nama Naya-Ra dan Za- Vian.” jelas Zavian.” Ia tak peduli bagaimana respon keluarga Papanya termasuk sang Mama. Karena Zavian berpikir bahwa namanya dan Nayara lah yang berhak ada pada nama sang anak bukan Rayyansyah nama keluarga besar sang Papa yang sudah disematkan untuk keturunan-keturunan mereka sejak dulu. 


“ Nama yang bagus,” celetuk Mama Widya . Ia tak mempermasalahkan nama siapa yang ada dibelakang nama cucunya itu. Menurut Mama Widya itu adalah hak Zavian dan juga Nayara untuk memberikan nama untuk anak mereka. 


Tante Siska dan Tante Tania hanya mengangguk samar. Mereka tak berani protes atas keputusan Zavian. Karena percuma mereka mendebat keponakannya itu karena tahu betapa keras pendirian Zavian. Kalau ia sudah memutuskan tak ada yang bisa menggoyahkan keputusannya itu.


Setelah cukup lama berbincang Mama Widya ingin membawa bayi Nayara ke hadapan Papa Adrian tapi Zavian tidak memperbolehkannya. Alasannya tentu saja karena bayi itu masih terlalu rapuh. Akhirnya Mama Widya mengalah dan hanya bisa bercerita kepada suaminya yang kini terbaring lemah di atas ranjang.


“ Cucu kita sudah lahir.” Mama Widya berkata dengan pelan. “ Namanya Zeano putra Raviansyah. Mulai dari raut wajah, mata, hidung, sampai alisnya mirip sekali dengan Zavian. Cucu kita sangat tampan.”


Papa Adrian tidak menyahut karena memang tidak bisa melakukan apa-apa. Kondisinya malah semakin parah dari hari ke hari. Penyumbatan pembuluh darah di otak membuat sebagian tubuhnya mati rasa dan sebagian lagi lemah. Pria paruh baya angkuh itu kini  menjelma seperti mayat hidup yang menyedihkan. 


Sakit stroke yang dideritanya benar-benar merenggut segalanya. Tidak ada yang tersisa dari kejayaan seorang Adrian Rayyansyah yang dulu berkuasa begitu hebat. Bahkan air liur kadang menetes dari mulutnya dan Mama Widya dengan sabar mengahapus menggunakan tisu. 


“ Aku berharap Zavian bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya. Aku berharap dia tidak seperti kita yang gagal membagi kasih sayang secara adil,” ujar Mama Widya. 


Papa Adrian menangis dalam diam. Tanpa ada isakan sama sekali. Air matanya meleleh deras tanpa bisa ditahan. Jiwanya meronta ingin bebas tapi raganya mati dan kaku. Hatinya sakit sekali dan berharap masih bisa diberi kesempatan untuk menebus segala kesalahannya.


Papa Adrian ingin berbaur dengan keluarganya yang kini tengah berbahagia menyambut kelahiran cucu pertamanya. Dia juga ingin memeluk cucunya seperti yang dilakukan oleh Mama Widya dan yang lainnya. Tapi dengan keadaannya saat ini, dia hanya bisa pasrah sambil menahan rasa sakit di dalam dada.


Banyak penyesalan yang tak terucap oleh laki-laki itu terhadap Zavian. Tapi Tuhan seakan menghukumnya dengan membuat raganya mati agar rasa sesal itu terus menguburkannya dalam duka.


“ Oh, iya Pa.” Mama Widya berkata sambil menghapus air mata yang meleleh di kedua pipi suaminya. “ Fabian telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pornografi. Mama tidak bisa membelanya lagi. Biar saja dia dipenjara atas segala kesalahannya. 


Selama ini Mama Widya berusaha untuk  menyimpan informasi tentang kekacauan yang terjadi di belakang Papa Adrian. Tapi sekarang, dadanya terasa sesak dan tidak sanggup lagi menahan kesedihan itu seorang diri. 


“ Fabian juga ditipu oleh temannya yang bernama Hendri itu . Uang perusahaan yang katanya ingin digunakan sebagai pengerjaan proyek baru mereka dibawa kabur semuanya. Sekarang yang tersisa hanya hutang dan masalah,” ucap Mama Widya pilu. 


Air mata Papa Adrian semakin turun dengan deras. Rasanya sakit sekali melihat keadaan yang semakin hancur. Dia berharap agar nyawanya dicabut saat ini juga. Sayangnya , Tuhan masih ingin membuatnya panjang umur dan menyaksikan kehancuran yang terjadi akibat kegagalannya dalam mendidik anak.  


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2