Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Semakin ketergantungan


__ADS_3

 Hari ini Mama Widya meminta perawat untuk menjaga suaminya karena dia ingin pergi ke kediaman Zavian. Setelah Nayara keluar dari rumah sakit pasca melahirkan, Zavian mengadakan acara syukuran atas kelahiran anaknya. Tentu saja Mama Widya harus menghadiri acara tersebut karena dialah satu-satunya orang tua yang tersisa setelah Papa Adrian terbaring tanpa daya. 


Sepanjang jalan masuk komplek perumahan itu berjejer papan karangan bunga yang bertuliskan ucapan selamat atas kelahiran anak pertama Zavian. Mama Widya tersenyum sendiri, dia merasa bahwa Zavian telah sukses menjalin relasi dengan berbagai pihak . Seluruh anggota keluarga yang lainnya juga sudah datang lebih dulu dan berkumpul di ruang tengah.


“ Mama…. Ayo sini.” Zavian menyambut kedatangan Mama Widya dengan senyum lebar. Lalu dituntunnya wanita itu ke arah Nayara yang sedang duduk di sofa tunggal sambil menggendong putra kecilnya. 


Di belakang Nayara ada sebuah dekorasi cantik yang dipenuhi bunga dan balon. Ada nama Zeano yang tersemat indah di antara bunga-bunga itu. 


“ Ini kado dari Mama,” ujar Mama Widya menyerahkan sebuah kotak yang dibungkus kertas berwarna biru.


“ Mama kenapa kasih kado segala? Harusnya gak usah repot-repot, Ma,” ujar Nayara.


“ Gak apa-apa kok. Ini kado pertama untuk cucu pertama Oma,” balas Mama Widya sambil tersenyum hangat,


Zavian dan Nayara sama-sama tersenyum bahagia menanggapi ucapan Mama Widya. Diterimanya kado itu dan diletakkan di tempat paling atas di antara tumpukan kado-kado dan juga buket bunga. Kado dari Mama Widya akan menjadi sesuatu yang paling istimewa dari semua kado yang ada.


“ Ayo, kita berfoto,” ujar Zavian sambil meraih Mama Widya agar mendekat dengan Nayara . Lalu fotografer memotret mereka bertiga dan mengabadikan kenangan itu. 


Sedangkan di tempat lain, Fabian membuka ponsel dan melihat ada banyak percakapan di grup keluarga. Dia memutuskan membuka grup dan menyesali tindakan itu setelahnya . Karena di sana sedang terjadi kehebohan atas perayaan kebahagiaan Zavian.


Fabian sebenarnya diundang secara langsung oleh Zavian agar datang menghadiri acara syukuran kelahiran anaknya, tapi dengan tegas Fabian menolak. Dia tidak akan sudi menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri. Sayangnya, di grup chat keluarga malah banyak foto-foto kebahagiaan Zavian yang dibagikan.

__ADS_1


Fabian membuka salah satu foto dimana potret Nayara sedang menggendong anaknya. Di sampingnya ada Zavian yang merangkul bahu wanita itu, tapi Fabian hanya fokus pada Nayara saja. Wanita itu tampak cantik dalam balutan gaun putih dan riasan wajah yang natural. Rambut panjangnya tergerai di sisi bahu dan dia mengenakan flower crown yang mempercantik penampilannya.


“ Benar-benar seperti bidadari,” gumam Fabian dengan penuh kekaguman. Saat Fabian menatap gambar adiknya yang ada di sisi Nayara, dia lantas mengumpat.


” Seharusnya aku yang merangkulmu dan yang ada di dalam gendonganmu itu anakku, Nay.”


Berlama-lama memandangi Nayara membuat Fabian merasa frustasi. Dia butuh obatnya sekarang juga agar seluruh rasa kesal dan amarah itu bisa reda dari pikirannya. 


Fabian meraih sebuah kotak dari laci mejanya dan mengambil plastik bening yang berisi serbuk putih. Dia telah menggunakan obat itu selama beberapa waktu belakangan dan semakin ketergantungan olehnya. Jika kehabisan barang itu, maka Fabian akan meminta Liza segera mengantarkannya memakai jasa kurir. Pokoknya barang itu adalah sesuatu yang tidak boleh hilang dari dalam hidupnya. 


Berbicara tentang Liza , Fabian telah menjadikan wanita itu sebagai partner di atas ranjangnya. Liza juga yang telah mengenalkan Fabian pada sebuah dunia yang baru dan lebih menyenangkan. Sekss dan obat-obatan telah membuat Fabian jatuh sepenuhnya ke dalam dunia terlarang itu. Dan dia percaya sepenuhnya pada Liza dan tidak ada yang membuat Fabian curiga sedikitpun. 


Proyek-proyek yang digagas Fabian berhenti  di tengah jalan dan tidak memiliki progress yang baik. Para investor angkat kaki dan mengakibatkan pendanaan terkendala hebat. Berkali-kali dewan direksi mengadakan rapat tapi tidak kunjung membuahkan hasil. Sementara itu, Fabian masih percaya diri bahwa dia bisa mengatasi segalanya sendirian.


“ Aku butuh barang itu lagi,” ujar Fabian pada Liza. Kepalanya seakan-akan mau pecah menghadapi situasi yang mulai tidak normal ini. Di sisi lain, Fabian merasa semakin ketergantungan pada obat-obatan terlarang itu. Dia bisa merasa gila jika tidak segera mendapatkan  barang haram itu.


“ Gak butuh aku sekalian?” tanya Liza dengan suara manja menggoda.


“ Boleh, ayo kita ketemuan,” sahut Fabian. 


“ Jemput aku di kost. Aku punya barang yang kamu butuhkan,” ucap Liza.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Fabian langsung menyanggupi dan memacu mobilnya menuju kost wanita itu. Di sana, Liza telah menunggunya dan segera masuk ke dalam mobil Fabian dengan cepat. Mereka berpangutan cukup lama sebelum akhirnya Fabian mendorong wanita itu menjauh. 


“ Mau sekarang?” tanya Liza . Dia mengeluarkan beberapa butir obat yang terbungkus plastik bening ke arah Fabian.


“ Pusing banget kepalaku,” sahut Fabian sambil menerima butiran pil itu dan langsung menenggaknya. 


Setelah menenggak obat itu Fabian segera melajukan mobilnya menuju sebuah hotel. Mereka akan bersenang-senang hari ini sampai puas. Sesekali mereka akan tertawa terbahak-bahak.


Di sepanjang perjalanan, Fabian menyempatkan untuk meraba tubuh Liza dengan sebelah tangannya , sedangkan sebelah tangan lagi memegang kemudi. Liza membuka pakaian atasnya agar Fabian leluasa meraba dadanya, begitu juga dengan ****** ********. 


“ Ahh…” dessahan Liza berlomba-lomba dengan suara musik yang sengaja disetel kencang. 


Tangan Fabian terus bergerak liar menyentuh wanita itu. Fabian berusaha untuk tetap  fokus di antara kegiatannya, tapi kepalanya yang mendadak pusing mengacaukan segalanya. Ada desakan di dalam dirinya yang membuat kepalanya terasa penuh dan mendadak pikirannya kehilangan kewarasan. 


Tiba-tiba mobil yang dikendarai Fabian melaju kencang seiring dengan injakan pedal gas yang tak terkendali lagi. Dia sempat menabrak kendaraan di depannya sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan. Liza berteriak histeris  sedangkan Fabian merasakan benturan yang cukup kencang.


“ Siial !” Fabian masih sempat mengumpat sebelum kesadarannya terenggut. 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2