Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Merindukan kebebasan


__ADS_3

“ Akhirnya Mama datang juga melihatku di sini,” ujar Fabian sambil menangis tersedu-sedu. Dia terlihat begitu menyedihkan dengan keadaannya saat ini. 


“ Bangunlah,” ucap Mama Widya sambil meraih bahu anaknya.


“ Kupikir Mama sudah tidak sayang lagi padaku dan membiarkanku mati sendirian di dalam penjara,” keluh Fabian sambil menghapus air matanya. Dia berdiri dan menunduk dalam-dalam.


“ Mama masih sayang padamu, Bian,” jawab Mama Widya dengan jujur.


Sebagai seorang ibu, dia jelas menyayangi anaknya dan tidak rela anaknya menderita seperti ini. Tapi dia menekan perasaannya mati-matian agar Fabian sadar bahwa apa yang telah dilakukannya selama ini salah. 


Zavian meminta izin khusus kepada petugas yang berjaga agar mereka diberi waktu dan ruang untuk berbicara lebih lama. Karena memang ada banyak hal yang harus dibicarakan setelah satu bulan berlalu. Kini mereka duduk bertiga di sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruang penjaga. 


“ Kamu kurus sekali,” ucap Mama Widya sambil menatap iba wajah putranya yang semakin tirus. 


“ Hidup di penjara sama sekali gak enak , Ma .” jawab Fabian.” Makanya aku seneng banget Mama dateng ke sini.” Fabian menatap Zavian dan Mama Widya secara bergantian. “ Kalian datang untuk membebaskanku dari sini, kan ?” 


“ Maksud kami ke sini cuma untuk melihat keadaanmu saja, Bian,” sahut Mama Widya sambil menggelengkan kepala.


“ Ada yang harus ku bicarakan denganmu secara langsung,”ujar Zavian saat menangkap raut terkejut dari kakaknya itu.


Fabian mengangkat kedua tangannya dengan gestur menyuruh berhenti bicara. Keningnya berkerut pertanda ada yang tidak disenanginya.


“ Jadi kalian datang kesini  bukan untuk membebaskanku ?” tanya Fabian.


Mama Widya menggeleng pelan, sedangkan Zavian hanya mendengus samar . Melihat respon yang diberikan oleh Mama dan juga adiknya itu membuat Fabian langsung marah. 


Selama ini dia selalu berharap akan ada seseorang yang datang untuk menyelamatkannya. Bahkan Fabian berpesan berkali-kali pada pengacaranya agar penahanannya ditangguhkan, tapi ternyata apa yang dia mau tidak pernah terkabul. Pengacaranya sangat idealis dan berpegang teguh pada hukum.


Saat melihat kedatangan keluarganya, Fabian berharap akan mendapatkan bantuan yang sangat berarti. Satu bulan berada di balik jeruji besi dengan segala prosedur hukum yang dijalaninya membuat Fabian merasa teramat lelah. Dia rindu kebebasan di luar sana.


“ Kalian ini sebenarnya masih keluargaku, bukan ?” tanya Fabian dengan suara getir.

__ADS_1


“ Kami masih keluargamu, Bian. Selamanya akan tetap begitu. Tapi sekarang kamu dalam keadaan bersalah dan harus bertanggung jawab. Kamu gak bisa seenaknya minta dibebaskan setelah apa yang kamu perbuat.” jelas Mama Widya. 


“ Tega Mama ngomong gitu?” tukas Fabian lagi. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis. “ Lihat keadaanku saat ini, Ma. Aku kurang makan, kurang tidur dan sangat menyedihkan. Apa Mama tidak kasihan sedikit pun?”


“ Mama kasihan tapi kamu harus menjalani hukumanmu,” ucap Mama Widya.


“ Terus lo ngapain ke sini ? Cuma mau mengejek gue ?” tanya Fabian jengkel sambil menatap Zavian yang berada di hadapannya saat ini.


“ Gue cuma menemani Mama,” jawab Zavian dengan santai.


Fabian berdecih sinis untuk beberapa saat. Dia kemudian berkata,” Aku gak nyangka kalian bakalan kayak gini. Padahal kita masih satu keluarga tapi gak mau ngasih bantuan.”


“ Masalahnya kasusmu ini sudah parah, Bian. Kamu nabrak orang sampai meninggal dan itu sudah jelas gak bisa lolos dari hukum. Ditambah pula dengan kasusmu yang terbukti mengkonsumsi narkoba.” jelas Mama Widya dengan suara yang dibuat setegas mungkin.  Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan anaknya.” Kamu gak bisa minta dibebaskan seenaknya. Kasus ini gak sama kayak kasus video panasmu dimana kamu bisa lepas dari jerat hukum meski telah ditetapkan sebagai tersangka.”


“ Tapi Mama punya uang dan bisa menyogok polisi supaya aku dibebaskan ! Mama bisa melakukan itu !” seru Fabian dengan penuh emosi.” Lagipula semua ganti rugi dan juga uang kematian yang diminta korban sudah kubayar pakai uangku sendiri. Masih dibilang gak adil juga?”


“ Nyawa itu gak ternilai harganya,” cetus Zavian menyahuti ucapan Fabian.” Lo udah ngerasain gimana kehilangan Papa dalam waktu yang tidak diduga-duga. Begitu juga dengan korban yang kehilangan ayahnya akibat ulah lo. Walaupun dikasih uang sebanyak apapun itu tidak akan bisa menggantikan nyawa seorang ayah !”


“ Bacot lo , brengssek !” hardik Fabian pada adiknya itu.” Gue muak melihat sikap lo yang sok idealis ini !”


Fabian langsung berdiri dan menatap dua orang di hadapannya dengan sorot mata kesal dan penuh amarah.


“ Kalau kalian gak bisa bantu apa-apa mending pergi dari sini !” bentak Fabian dengan keras.


Mama Widya kaget bukan main. Dia menatap anaknya itu dengan sorot mata penuh kesedihan. “ Fabian…”


“ Mama gak mau membebaskanku , kan?” tanya Fabian dengan nada sinis.”Mending Mama gak usah ke sini lagi ! Biar aja aku mati di dalam penjara ini !”


“ Mama datang ke sini karena masih peduli sama lo !” seru Zavian yang muak melihat tingkah kakaknya. 


“ Halah ! Peduli apaan? Gue minta dibebaskan aja Mama gak mau !” balas Fabian.

__ADS_1


“ Kesalahan lo udah parah banget, ya! Sadar dong !” balas Zavian semakin geram.” Gak semua keinginan lo bisa terkabul!”


“ Makanya gue suruh kalian pergi dari sini ! Kedatangan kalian gak guna sama sekali ! Kalian cuma datang untuk mengasihani gue tapi gak mau membantu membebaskan !” sahut Fabian.  


“ Ayo, Ma. Kita pergi saja,” ujar Zavian sambil berdiri.


“ Biar gue yang mengurus diri gue sendiri ! Mau hidup atau mati pun gue di sini, kalian gak usah tahu ! “ teriak Fabian lagi.


Mama Widya kembali meneteskan air mata tapi Zavian segera menarik tangan wanita paruh baya itu untuk segera keluar. Awalnya Mama Widya masih ingin bicara dan membujuk Fabian tapi Zavian melarangnya.


“ Kupikir Fabian menangis karena dia sudah bertaubat dan menyadari kesalahannya. Tapi ternyata dia menangis karena gak kuat ada di dalam penjara,” gerutu Zavian.” Sikapnya masih sama ternyata.”


Mama Widya meraih tisu dan menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipi. Dia juga tidak menyangka bahwa Fabian akan bersikap bebal seperti ini. Padahal Mama WIdya sudah berencana ingin menyewa pengacara kondang untuk membelanya di pengadilan nanti agar hukumannya diringankan . Tapi ternyata segalanya berjalan tidak sesuai dengan keinginannya.


“ Mama kecewa sama Fabian,” ujar wanita itu.


“ Dia sudah terbiasa dimanja dan semua keinginannya dikabulkan . Makanya dia berpikir orang-orang akan berpihak padanya meski telah melakukan kesalahan yang fatal sekali,” sahut Zavian. 


“ Ini semua salah Mama,” ucap Mama Widya penuh penyesalan.


“ Iya, Mama memang salah dalam mengasuhnya, tapi sekarang berhentilah menyalahkan diri sendiri,” ucap Zavian dengan lembut.


Mama Widya menangis lagi membayangkan sikap anaknya yang tak kunjung berubah meski sudah masuk ke dalam penjara. Sedangkan Zavian menahan diri untuk tidak membahas masalah perusahaan di hadapan Fabian. 


Sementara itu di dalam sel tahanannya, Fabian kembali mengamuk sambil berteriak-teriak . Dia kecewa sekali melihat penolakan Mamanya. Padahal selama ini Mamanya selalu mengabulkan keinginannya tanpa pikir panjang.


“ Brengssek !” teriak Fabian sambil memukul-mukul dinding.” Zavian siialan ! Pasti dia yang mempengaruhi Mama supaya menolak untuk membebaskanku dari sini. Memang dasar adik kurang ajar !”


Umpatan demi umpatan meluncur  bebas dari mulut Fabian. Untung saja dia ditempatkan di sel khusus sehingga tidak ada napi lain yang terganggu akibat ulahnya. Para penjaga juga berusaha memaklumi tingkah Fabian karena mereka berpikir mungkin saja Fabian sedang sakau karena mengalami gejala putus obat.


Segala usaha Fabian untuk bebas tidak membuahkan hasil . Dia tetap harus menjalani sidang pidana atas semua kasus yang kini sedang menimpanya. Bahkan niatnya untuk mengganti pengacara juga tidak bisa terlaksana. 

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2