
Fabian menghisap batang rokoknya dengan kuat demi memenuhi paru-parunya dengan asap mengandung nikotin itu. Kepalanya mendadak sakit dengan jantung berdebar-debar berisi kemarahan yang tertahan. Bayangan Nayara saat berciuman dengan Zavian kembali melintas di benaknya dan emosinya kembali menjalar.
“ Brengssek !” maki Fabian sambil melempar puntung rokoknya ke dalam tong sampah.
Sebanyak apapun rokok tidak akan membuat emosi dan kemarahan di kepalanya menjadi lega. Harus ada seseorang yang bersedia menjadi tempat pelampiasan kemarahannya. Seseorang yang mau tunduk atas perintahnya tanpa protes. Seseorang yang bisa dikendalikannya dengan semena-mena.
Fabian kemudian merogoh ponselnya untuk menelepon seseorang, “ Aku butuh perempuan yang berambut hitam panjang, hidung mancung , matanya indah, kulit putih dan tentu saja badannya ramping tapi berisi di tempat yang tepat.”
Fabian menyebutkan ciri-ciri Nayara pada seorang mucikari yang bertugas menyalurkan para pekerja sekss komersial di bawah binaannya. Inilah yang selalu dilakukan Fabian saat merasa putus asa dalam meraih Nayara. Dia akan mencari perempuan lain yang bisa memenuhi fantasinya terhadap Nayara.
“ Suruh perempuan itu memakai gaun hitam yang ketat,” perintah Fabian lagi. ‘ Nayara cantik sekali saat memakai gaun hitam,’ batin Fabian.
“ Baik , Pak. Saya akan mencarikan wanita dengan ciri-ciri penampilan seperti yang Bapak inginkan,” sahut suara dari seberang telepon.
Setelah permintaan Fabian disetujui, dia kemudian mentransfer uang ke sebuah rekening lalu melajukan mobilnya menuju sebuah hotel. Dadanya bergemuruh kencang dengan rasa frustasi yang tak kunjung hilang dari kepalanya.
Setibanya di hotel, Fabian memesan sebotol minuman beralkohol kepada petugas dan meminta untuk diantarkan ke kamarnya. Lalu pesanannya itu datang tidak lama kemudian dan Fabian langsung menenggak cairan itu langsung dari botolnya.
“ Lama sekali, siialan !” umpat Fabian sambil menatap ke arah pintu kamarnya. Seharusnya perempuan yang dipesannya itu datang terlebih dahulu sehingga dia tidak perlu menunggu seperti ini.
Kepala Fabian semakin bergemuruh dengan kekacauan yang membuat sesak sekaligus sakit. Ucapan Nayara tadi kembali teringat di benaknya. Dia telah berusaha mati-matian untuk meraih perempuan itu, tapi Nayara dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak akan meninggalkan Zavian apapun alasannya.
Rasa sakit itu semakin diperparah oleh kisruh di antara kedua orang tuanya yang hendak bercerai di saat Papa Adrian sedang sakit, Padahal keduanya bukan lagi pasangan muda yang menganggap perceraian sebagai cara untuk melepaskan diri agar bisa mencari pengganti baru. Belum lagi masalah internal perusahaan yang semakin memburuk dari hari ke hari.
__ADS_1
Beban Fabian sangat berat sekali. Seolah-olah kebaikan di dunia ini sedang tidak ingin berpihak kepadanya.
Fabian kembali menenggak minuman beralkohol dari botol yang dipegangnya. Ada rasa pahit dan sedikit menyengat menusuk rongga mulutnya hingga dia mengernyit untuk sesaat. Tapi setelahnya Fabian menemukan sebuah kelegaan saat alkohol itu mulai mengambil alih sebagian dirinya.
“ Malam, Mas.” seorang perempuan masuk ke dalam kamarnya dan berdiri di ambang pintu dengan senyum meyakinkan.
Perempuan itu mengenakan dress hitam ketat yang membentuk lekuk tubuhnya. Persis seperti apa yang diminta oleh Fabian. Rambutnya hitam panjang dan sedikit bergelombang. Hidungnya mancung dan kulitnya putih, ditambah dengan bentuk tubuh ideal. Tapi sayang, matanya tidak cantik. Lebih tepatnya, tidak secantik mata Nayara.
“ Ck !” Fabian berdecak kesal. Dia sadar bahwa Nayara hanya ada satu di dunia ini dan tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun.
Sekuat apapun Fabian berjuang , dia tidak akan memenangkan pertarungan dengan Zavian dalam merebut Nayara. Oleh karena itu, dia memilih cara lain dan memang satu-satunya cara untuk memuaskan ego dan emosi yang ada di dalam dirinya. Tidak apa-apa jika dia harus masuk ke dalam dunia fantasinya dan hidup di sana bersama bayangan Nayara.
“ Mendekatlah kemari,” ucap Fabian sambil menatap wanita itu dengan lekat.” Saat ini aku akan memanggilmu dengan nama Nayara.”
“ Kalau begitu lakukan tugasmu sebagai istriku, Nay,” kata Fabian . Dia menenggak minuman di botolnya sebelum meletakkan benda itu di atas kabinet.” Buat aku senang malam ini.”
Wanita itu mengulas senyum nakal, lalu menempelkan tubuhnya pada Fabian. Jemari lentik yang dihiasi kuteks merah itu menjalar liar di dada Fabian dan membuka kancing kemejanya satu persatu.
Fabian memejamkan mata dan membayangkan bahwa saat ini Nayaralah wanita yang sedang menjamaahnya. Dia mendessahkan napas berat yang cukup lama saat sentuhan demi sentuhan wanita itu membangkitkan gairahnya.
“ Mas suka posisi seperti apa?” tanya wanita itu saat keduanya sudah dalam keadaan sama-sama polos.
“ Nayara tidak pernah bertanya seperti itu, bodoh !” bentak Fabian marah. Dia mencengkeram rambut wanita itu dengan erat hingga menengadah menatapnya.
__ADS_1
“ Puaskan aku tanpa perlu bertanya apa yang kusukai ! Karena aku menyukai semua apa yang dilakukan oleh Nayara !”
“ Maaf,” cicit wanita itu ketakutan. Tapi Fabian yang telah terdistraksi terlanjur merasa kesal. Apalagi saat menyadari bahwa wanita di hadapannya saat ini sama sekali tidak mirip dengan Nayara meski telah menyerupai ciri-ciri yang disebutkannya tadi.
Kemarahan Fabian kembali menguasai. Khayalannya rusak dalam sekejap dan itu sangat menyebalkan sekali.
Dengan kasar , Fabian mengarahkan wanita itu ke bagian bawah tubuhnya yang sempat mengacung keras bersama khayalannya terhadap Nayara.
Wanita itu menurut karena dia dibayar memang untuk mengikuti setiap perintah Fabian, termasuk berpura-pura berperan sebagai Nayara, Ada rasa hangat menyelubungi Fabian saat senjatanya masuk ke dalam mulut wanita itu. Fabian kembali memejamkan mata dan mencoba kembali membangun khayalannya terhadap Nayara.
“ Nay, Ooohh!” Fabian menggumamkan nama itu berkali-kali.
Khayalannya kembali terbentuk dan dia mulai menggila terhadap tubuh wanita itu. Fabian menyetubuhii wanita itu dengan kasar dan tidak memiliki perasaan sama sekali. Apalagi saat ini Fabian juga di bawah pengaruh alkohol yang mengalihkan setiap kesadarannya.
Setelah seluruh hasrat dan bukti gairahnya tumpah, Fabian akhirnya bisa bernapas dengan sedikit lega. Meski masih ada rasa sakit dan amarah berkumpul di dalam dadanya, setidaknya dia mendapatkan pelepassannya sambil meneriakkan nama mantan istrinya itu .
“ Siapa Nayara itu, Mas?” tanya wanita asing yang terkulai lemah di samping Fabian. Dia terlalu penasaran dengan sosok perempuan yang namanya selalu disebut-sebut oleh Fabian dalam setiap dessahannya itu.
“ Dia wanitaku,” jawab Fabian singkat.
.
...****************...
__ADS_1