Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Maafkan Mama


__ADS_3

“ Sekalipun kecelakaan tapi dia punya istri yang akan merawatnya, Ma ! Sedangkan Papa gak punya siapa-siapa yang akan merawatnya!” ucap Fabian. Dia menatap Mama Widya dengan sorot mata marah.


“ Nayara sedang hamil,” ujar Mama Widya dengan suara sedikit melunak.” Lagipula, kamu dan Papamu tidak membutuhkanku lagi.” 


“ Siapa bilang aku dan Papa tidak butuh Mama? Kami masih butuh Mama, kok. Bukan cuma Zavian saja yang pengen diperhatikan dan mendapat kasih sayang dari Mama,” balas Fabian.


Mama Widya menghela napas dalam- dalam. Suasana di rumah sakit tidak memungkinkan dia untuk berteriak marah demi melampiaskan emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. 


“ Baru kali ini Zavian sakit dan Mama membantu merawatnya secara langsung. Sebelumnya, dia menjalani hidup sendirian tanpa perhatian dariku. Lagipula Zavian tidak pernah menuntut banyak, dia tidak pernah memintaku untuk terus ada di sisinya. Karena dia sadar bahwa kamu tidak akan suka jika aku dekat dengannya,” ucap Mama Widya dengan suara sendu dan getir.


Mama Widya kemudian menatap Fabian dengan tajam. “ Sekarang di saat dia celaka karena ulahmu dan Papamu, aku ingin berada di sisinya. Aku ingin membayar waktu yang pernah terenggut untuknya. Tapi kenapa kamu malah menganggapku seperti wanita paling kejam? Tidak cukupkah selama ini kamu menjahatinya?” 


“ Aku tidak jahat padanya, Ma,” sela Fabian cepat. “ Tapi karena Mama bersikap seperti ini di saat Papa sedang sakit !” 


“ Sepanjang hidupnya, Vian tidak pernah mengeluh saat aku menyuruh perawat untuk menjaganya ketika dia sedang sakit. Tapi kali ini kenapa kamu mengeluh saat aku menyediakan perawat untuk merawat Papamu?” tanya Mama Widya dengan pandangan yang menusuk tajam. 


“ Sudahlah , Ma. Gak usah ngasih alasan lagi,” ucap Fabian yang mulai memasang wajah jengah. Dia tidak terima jika Mamanya mengungkapkan kebenaran yang terjadi selama ini. 


“ Harusnya aku tadi tidak memberitahu Mama tentang keadaan Papa. Biar Mama bisa bebas menjaga Zavian.” 


Tante Tania kembali melerai dan meminta agar keduanya tidak saling sahut-sahutan dalam perdebatan. Apalagi Tante Siska dan beberapa orang kerabat dekat ikut muncul dan ingin melihat keadaan Papa Adrian. Akhirnya Mama Widya mengalah dan memutuskan untuk tidak bersuara lagi.


Mama Widya menyadari perubahan sikap dari keluarga suaminya terhadap dirinya. Senyum basa-basi dan tatapan -tatapan dingin yang diterimanya telah membuat Mama Widya merasa muak sekaligus jengkel.

__ADS_1


“ Suami sakit bukannya dirawat tapi malah ditinggalkan,” sindir Tante Siska tanpa menatap wajah kakak iparnya. “ Parahnya lagi malah punya keinginan untuk menggugat cerai. Aku benar-benar tidak habis pikir dibuatnya.”


Hal itu benar-benar membuat Mama Widya merasa tersinggung. Emosi yang tadi sempat diredamnya kembali naik ke permukaan . 


“ Apa yang akan kamu lakukan saat tahu bahwa suamimu adalah orang yang ingin mencelakai dan membunuh anakmu sendiri?” tanya Mama Widya pada adik iparnya itu.


Tante Siska sedikit tergagap saat ditanya begitu. Dia tampak berpikir sejenak, sebelum menjawab pertanyaan Mama Widya.” Aku akan sangat kecewa dan marah, lalu mungkin akan…pergi?”


“ Itulah yang kurasakan,” sahut Mama Widya . “ Bertahun-tahun lamanya aku membiarkan suami dan anak sulungku bersikap jahat pada Zavian. Mereka selalu bersikap seenaknya bahkan sampai hendak mencelakai Zavian hanya demi memberi tekanan agar Zavian kembali tunduk di bawah kaki mereka. Lalu disaat aku mencoba untuk berada di sisi anakku yang selalu teraniaya, kalian malah menghakimiku seolah-olah aku ini wanita paling jahat sedunia.”


“ Sudah kubilang kalau Papa hanya ingin memberi peringatan kepada Zavian, Ma. Papa tidak benar-benar hendak membunuhnya, jangan berlebihan begini !” seru Fabian menyela ucapan Mamanya.


“ Bagaimana kalau di saat memberi peringatan itu adikmu meninggal, hah? Kamu pikir kecelakaan yang dialami Zavian itu hanya sebatas terbentur saja?” bentak Mama Widya dengan mata melotot. “ Mobilnya hancur dihantam truk dan dia koma selama seminggu. Apa seperti itu cara kalian memberi peringatan kepada Zavian?”


Fabian terdiam sambil mengusap wajahnya yang gusar. Sedangkan Mama Widya semakin jengkel saja dibuatnya. 


“ Menurutmu memang tidak mungkin tapi kenyataannya memang seperti itu ! Apa perlu kutunjukkan bukti-buktinya, Hah?” tanya Mama WIdya dengan tatapan mengejeknya. 


Kedua adik iparnya kompak menggelengkan kepala. Mereka menolak fakta yang ada. 


“ Sudah kubilang bahwa keputusanku tidak datang dalam pemikiran yang singkat. Ada banyak luka dan rasa sakit yang telah kusimpan selama ini. Kalian tidak pernah mengetahui hal itu,” ujar Mama WIdya dengan perasaan pilu.


Fabian diam mematung mendengarkan kalimat yang terlontar dari Mamanya. Dia bisa menangkap dengan jelas bahwa saat ini Mama Widya sedang berada di titik paling kecewa di dalam hidupnya. Dan, Fabian adalah salah satu penyebabnya.

__ADS_1


Saat Papa Adrian dipindahkan ke ruangan perawatan, barulah Mama Widya bisa berbicara dengan suaminya. Laki-laki itu tampak menahan, ia benar-benar merasa sakit sambil sesekali meringis.


“ Semua keluargamu menyalahkanku atas segala yang terjadi padamu saat ini.” ujar Mama Widya. Lalu seluruh kegetiran yang tersimpan di dalam dadanya mencair dan tumpah melalui sebuah tangisan. “ Mereka menganggap aku sebagai perempuan jahat yang tega meninggalkanmu. Padahal kamu adalah laki-laki kejam yang memang pantas untuk ditinggalkan.”


“ Wid, maafkan….aku…” Papa Adrian mencoba bicara dengan suara terbata-bata.


“ Minta maaflah pada Zavian,” sahut Mama Widya seraya menghapus air matanya.


“ Selama ini kamu telah bersikap tidak adil padanya. Bahkan kamu hampir membuatnya meregang nyawa setelah mengalami kecelakaan yang begitu hebat.”


“ Baik… Aku akan meminta maaf pada Zavian. Tapi kamu jangan pergi meninggalkanku. Kamu harus kembali ke rumah dan menemaniku lagi,” pinta Papa Adrian. 


“ Satu lagi, jangan mengusik Zavian ! Biarkan dia menjalani hidupnya dengan tenang bersama istrinya. Jangan memaksakan kehendakmu padanya.” ujar Mama Widya. 


“ Baiklah, aku akan menuruti semuanya,” sahut Papa Adrian.” Tapi kamu jangan pergi.” 


Mama Widya kemudian menangis lagi. Dia terus mengutuk dirinya sendiri yang merasa lemah melihat kondisi suaminya yang menyedihkan seperti ini. Ia tak bisa berbuat banyak, bahkan untuk melindungi putranya saja dia tidak mampu.


‘ Maafkan Mama Vian, Maafkan Mama….’ batin Mama Widya sambil menangis tersedu.


Zavian menatap ke arah jalanan dengan pandangan penuh harap. Sudah hampir seminggu Mama Widya pergi dari rumahnya setelah mendapat kabar bahwa Papa Adrian kembali drop dan dilarikan ke rumah sakit. Mama Widya sempat berjanji akan pulang ke rumah Zavian tapi sampai saat ini ternyata wanita itu tak kunjung datang. Padahal Zavian tahu bahwa sekarang Papa Adrian sudah keluar dari rumah sakit.


Bukannya ingin bersikap manja dan kekanak-kanakan, bukan pula karena ingin melihat orang tuanya berpisah. Tapi Zavian ingin merasakan kembali betapa dekat Mama Widya dengannya. Dia merasa senang dan bahagia saat Mama Widya ada di rumah ini. Ada bagian kosong yang telah lama menganga lebar dalam jiwa Zavian yang hanya bisa diisi oleh Mamanya. Tapi sekarang Mamanya kembali menjauh untuk alasan yang sudah berkali-kali dipahaminya. 

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2