Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Pergi ke neraka


__ADS_3

Mama Widya ingin mengadakan acara ulang tahun Zean dengan meriah. Oleh karena itu, dia mengundang seluruh teman-teman dan keluarga untuk datang merayakan hari lahir cucu pertamanya. Ruang tengah yang luas di dekorasi dengan balon warna-warni serta karakter Iron man kesukaan Zeano. 


Ini pertama kalinya kediaman Rayyansyah kembali meriah oleh kecerian setelah kematian Papa Adrian orang-orang berdatangan dengan membawa kado dan dijamu dengan sangat baik. Mereka senang akhirnya Zavian kembali pulang dengan membawa putri cantiknya.


“ Jadi , bagaimana kehidupanmu selama di Amerika ?” tanya Om Farhan yang juga ikut hadir.


“ Baik-baik saja, Om,” jawab Zavian.


Pekerjaannya lancar, keuangannya stabil, anak dan istrinya sehat. Tidak ada kendala berarti yang Zavian temui selama tinggal di salah satu negara bagian di Amerika itu. Hanya konflik dengan Claire yang sempat membuatnya berhadapan dengan hukum, tapi segalanya juga selesai dengan baik. 


Hanya saja, ada satu hal yang tidak dapat Zavian pungkiri. Sejauh apapun dia pergi, sebaik apapun kehidupannya, tetap ada rasa rindu terhadap keluarganya. Karena Zavian pergi membawa luka dan belum bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Mama Widya dan Fabian. Dua orang itu adalah keluarga dekat yang bertalian darah dengannya. 


Untuk alasan itu pula, Zavian ada di sini saat ini. Dia kembali pada keluarganya, tempat dimana dia berasal.


“ Jadi, kamu mau balik ke Amerika atau bakalan stay di sini ?” tanya Tante Tania. 


“ Lihat nanti saja, Tan,” jawab Zavian. Sampai sekarang Zavian belum memutuskan apa-apa. Entah akan menetap di sini atau kembali pergi menjauh ke negara orang, dia masih bingung.


“ Apa kamu sengaja nungguin Fabian meninggal dulu ?” sambar  Tante Tania lagi. 


“ Tante berharap Fabian cepat meninggal, ya ?” tanya Zavian sambil menatap wanita di samping Om Farhan.” Masih dendam aja , Tan.”


“ Emang tinggal nunggu waktu aja ,’kan ? Lagian dia juga udah sekarat,” jawab Tante Tania dengan santai. 


Zavian agak sedikit kesal mendengarnya, tapi dia harus tenang dan tidak membiarkan emosinya terpancing begitu mudah. 


“ Kematian itu gak bisa diprediksi kapan datangnya, Tan. Bisa jadi Fabian yang sekarang lagi sekarat malah panjang umur. Terus  kita yang kelihatan sehat-sehat aja malah meninggal duluan. Namanya juga rahasia Tuhan,” ujar Zavian. 


Tante Tania mengernyit samar mendengar jawaban Zavian tapi dia tentu tidak akan puas jika harus berdiam diri. Diam dan mengalah bukanlah gayanya. Jadi, dia terus bicara. 


“ Orang jahat itu emang harus menerima ganjaran yang setimpal, sih. Biar dia sadar kalau kelakuannya selama ini memuakkan,” tukas Tante Tania menyindir Fabian. 


“ Siapa tahu ganjaran yang diberikan Tuhan sebelum meninggal itu membuatnya sadar akan kesalahannya dan bertaubat. Rasanya orang jahat yang meninggal setelah bertaubat jauh lebih baik dibandingkan orang yang tidak menyadari kesalahannya,” sahut Zavian. 


Tante Tania tampak kesal karena ucapannya selalu dipatahkan oleh Zavian. Urat lehernya menegang dengan air muka yang semakin keruh. 


“ Kalau bukan gara-gara Fabian pasti perusahaan Rayyansyah masih baik-baik saja sekarang. Aku tidak akan lupa bagaimana caranya menghancurkan jerih payah yang dibangun oleh ayahku ,” ujar Tante Tania lagi. 

__ADS_1


“ Tania, sudahlah. Jangan mengungkit-ungkit masalah di saat kita sedang berbahagia,” tegur Om Farhan. 


Tante Tania justru melotot ke arah suaminya dan berkata dengan ketus.” Sampai kapanpun aku akan tetap mengingat kelakuan culas Fabian yang menghancurkan perusahaan itu. Aku gak akan ikhlas , Mas.” 


“ Aku mengerti, tapi jangan membahas hal itu sekarang. Zavian sedang berbahagia merayakan ulang tahun putranya dan kita tidak boleh merusak suasana,” jelas Om Farhan. 


“ Oke , aku gak akan bahas itu sekarang karena kamu yang memintanya. Tapi jangan harap aku akan memaafkan Fabian dengan mudah. Justru, aku berharap  dia segera meninggal dan pergi ke neraka !” seru Tante Tania. 


Setelah bicara begitu, wanita itu segera berlalu dengan raut wajah yang dibuat kembali normal. Sementara itu Zavian mengeraskan rahangnya menahan emosi mendengar ucapan Tante Tania. 


Fabian memang bersalah dan kelakuannya dulu mendulang kebencian, Zavian akui itu. Tapi mendoakan Fabian segera meninggal hingga jatuh ke neraka benar-benar sebuah ucapan yang kejam.


“ Sorry,” ujar Om Farhan yang tidak enak hati melihat perubahan raut wajah Zavian.” Kamu tahu sendiri gimana sikap Tantemu.” 


“ Katakan pada Tante bahwa dia hanya boleh bersikap sekasar itu di hadapanku. Jangan pernah mengucapkan hal yang sama pada Mama. Aku bisa menahan emosiku tapi Mama belum tentu akan bersikap sama sepertiku. Mama sudah terlalu lelah dalam menghadapi semua ini, jadi jangan sakiti dia dengan ucapan-ucapan seperti itu,” jelas Zavian. 


“ Iya, nanti akan Om sampaikan pada Tantemu,” ucap Om Farhan dengan wajah semakin terlihat bersalah. 


Zavian hanya mengangkat minumannya sejenak, lalu berjalan ke arah lain. Dia menyapa tamu dan berusaha melupakan emosinya yang sempat terpantik oleh ucapan Tante Tania. 


Sementara itu di lantai dua, Fabian duduk bersandar sambil menatap kemeriahan di bawah sana. Dia tidak ingin bergabung dengan keluarganya karena sadar dengan keadaannya saat ini. Tapi Fabian tetap berbahagia untuk perayaan kali ini. 


Fabian sendiri tidak berhenti tersenyum melihat kebahagiaan itu. Apalagi ketika dia menyaksikan lucunya tingkah Zeano yang bermain bersama teman-teman seusianya. Bahkan bocah itu melompat-lompat dalam kostum IronMan tapi akhirnya malah terjatuh tersungkur. Bukannya menangis, Zean malah tertawa terbahak-bahak dan tawanya diikuti oleh anak-anak yang lain.


“ Benar-benar mirip Zavian waktu kecil,” gumam Fabian. 


Saat sedang menikmati kemeriahan di bawah sana, Fabian mendengar langkah kaki mendekat dan dia menoleh ke arah tangga. Ternyata ada Nayara yang sedang menggendong Zianna. Di belakangnya berjalan seorang pengasuh. Anak di dalam gendongannya tampak rewel dan merengek, jadi Nayara sibuk menenangkan putrinya tanpa menoleh ke arah Fabian. 


Tidak berapa lama kemudian, Nayara keluar dari kamar anaknya dan hendak menuju tangga. Tapi langkahnya terhenti saat Fabian memanggilnya. 


“ Nay, bisa kita bicara sebentar?” tanya Fabian. 


Dengan langkah ragu, Nayara berjalan mendekat, lalu berhenti dengan jarak sekitar tiga langkah dari Fabian. Ditatapnya laki-laki yang pernah menjadi suaminya itu dengan sorot mata yang dibuat sedatar mungkin. Dia tidak ingin menyinggung perasaan Fabian dengan tatapannya yang mengasihani. 


“ Sepertinya umurku tidak akan lama lagi, kamu pasti tahu itu,” ujar Fabian. 


“ Kematian bukanlah hal yang bisa diprediksi,” sahut Nayara dengan pelan. Dia berdiri menyamping dan memegang pembatas balkon. 

__ADS_1


“ Makanya aku mau minta maaf padamu, Nay. Siapa tahu setelah kita bicara ini malaikat maut langsung mencabut nyawaku. Soalnya,’kan kematian gak bisa diprediksi,” ujar Fabian .


Nayara tertawa sumbang dan menatap ke bawah dimana kemeriahan pesta ulang tahun sang putra masih berlanjut. 


“ Maaf karena dulu telah mengkhianatimu,” ujar Fabian pelan.” Bukannya aku tidak mau move on darimu, tapi rasanya penyesalan itu tidak mau beranjak dariku.”


“ Aku sudah memaafkanmu dan sekarang giliranmu memaafkan dirimu sendiri,” tukas Nayara dengan cepat. Dia menatap laki-laki itu dengan bersungguh-sungguh.” Aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang.” 


“ Mungkin akan sangat keterlaluan jika aku mengatakan ini padamu.”


“ Mengatakan apa ?”


“ Tentang perasaanku yang sampai saat ini masih mencintaimu, Nay,” ujar Fabian dengan tatapan sendu.


Empat tahun terasa seolah baru kemarin. Jangka waktu yang panjang itu tergulung dan terpangkas tanpa arti. 


Jemari Fabian mendadak gemetar. Dadanya tiba-tiba sakit oleh perasaannya yang tetap bertahan pada sebuah memori dimana kesalahannya dimulai pertama kali.


“ Jangan mengucapkan sesuatu yang hanya akan menyakiti dirimu sendiri.” Nayara menggelengkan kepala, seolah menegaskan bahwa tidak ada lagi ruang bagi Fabian untuk kembali. Segala kemungkinan itu telah tertutup rapat dan jika Fabian memaksakan diri, maka dia hanya akan menerima rasa sakit. 


“ Tidak ada yang salah dengan perasaanku , Nay. Perasaan ini milikku sendiri. Aku akan mati dengan membawa seluruh perasaan ini dan kamu tidak akan terusik sama sekali. Kamu cukup jalani kehidupanmu dengan baik. Cintai Zavian yang telah mencintaimu sejak dulu. Dia lebih baik dariku dan kebahagiaanmu sudah terjamin saat bersamanya. Sekarang aku hanya perlu minta maaf untuk seluruh jejak kesalahanku terhadapmu,” ucap Fabian. 


“ Aku juga minta maaf,” ujar Nayara pelan. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah lupa bahwa dirinya juga pernah membalas pengkhianatan Fabian dengan dosa yang sama. 


“ Aku sudah tahu tentang kejadian yang kamu lewatkan bersama Zavian saat malam itu,” ucap Fabian yang sontak membuat Nayara terkesiap kaget.


“ Bagaimana bisa kamu tahu ?” tanya Nayara. 


“ Zavian yang memberitahuku,” jawab Fabian. Dia menatap kedua mata Nayara sambil tersenyum tipis . Tidak ada kemarahan di matanya.” Dan aku memaafkan kalian berdua.” 


Nayara melepaskan napas lega. Di antara kebahagiaannya bersama Zavian, Nayara harus mengakui bahwa dosa itu terus mengganggu pikirannya. Tidak disangkanya ternyata Zavian juga memikirkan hal yang sama dan lebih dulu mengungkap hal itu kepada Fabian. 


“ Terima kasih sudah memaafkanku,” ujar Nayara. 


Fabian mengangguk dan Nayara pamit untuk kembali ke bawah. Dia berjalan menjauh dengan Fabian yang terus menatapnya hingga menghilang. 


“ Setidaknya salah satu di antara kita hidup dengan bahagia,” ucap Fabian kemudian. 

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2