
Sudah seminggu ini Nayara merasakan perutnya tidak enak. Ada rasa mual yang membuatnya selalu ingin muntah setiap kali mencium aroma bawang. Akhirnya, Nay enggan memakan makanan yang mengandung bawang. Roti lapis dan teh hangat menjadi comfort food nya selama hampir seminggu ini.
Zavian kemudian memanggil dokter untuk memeriksa istrinya karena dia takut terjadi apa-apa. Apalagi Nayara punya riwayat sakit asam lambung parah. Tapi penuturan dokter yang memeriksa malah membuatnya terkejut. Apalagi ketika ditanya kapan Nay terakhir datang bulan, maka bertambah pula kecurigaan di dalam benak Zavian.
“ Saya sarankan ibu Nayara melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan atau melakukan test kehamilan mandiri dulu menggunakan testpack.” ujar Dokter bernama Indira itu.
“ Maksud dokter , istri saya hamil?” tanya Zavian .
“ Kemungkinannya begitu, pak. Soalnya dilihat dari keluhan yang dirasakan dan juga jadwal haid terakhir sampai sekarang, ada kemungkinan keluhan ini disebabkan oleh kehamilan.” jelas Dokter Indira memberi penjelasan.
Ada degup yang berdebar kencang seakan memukul-mukul dinding dada Zavian. Sementara itu Nayara mengerjapkan matanya beberapa kali , dia seolah tidak percaya dengan kemungkinan itu.
“ Untuk sementara saya tidak meresepkan obat apa-apa dulu ya, Bu. Jika memang hasilnya nanti positif, segera kita buat jadwal konsultasi. Tapi kalau perkiraan saya salah dan keluhan Bu Nayara semakin bertambah segera datang ke rumah sakit.” ucap Dokter itu kemudian .
“ Baik, Dok . Terima kasih .” ujar Zavian dengan perasaan yang masih campur aduk tak karuan .
Setelah dokter itu pulang. Zavian segera mengajak istrinya ke apotik untuk membeli testpack. Dia tampak bersemangat sekali, seolah-olah ada kebahagiaan yang sedang ditunggunya.
“ Bagaimana kalau aku tidak hamil?” tanya Nayara dengan gugup.
“ Ya, gak pa-pa.” jawab Zavian santai.
“ Kamu gak kecewa?” tanya Nayara yang sangat takut mengecewakan suami yang sangat dicintainya itu.
“ Aku memang berharap kamu hamil, sayang. Tapi kalau misalnya belum hamil, aku juga tidak akan kecewa. Tidak ada yang salah denganmu jika kamu belum hamil.” jelas Zavian mencoba menenangkan sang istri yang tampak khawatir kalau sampai ia kecewa.
Nayara meremas ujung tangannya dengan gugup. Selama setahun pernikahannya dengan Fabian, dia tidak pernah dinyatakan hamil. Padahal dia tidak memakai alat kontrasepsi apapun. Sedangkan Fabian dengan mudahnya menghamili Sarah. Jujur saja, hal itu sangat mengganggu perasaan Nayara. Bahkan dia sempat merasa bahwa tuduhan mandul yang disematkan Sarah padanya memang benar adanya.
Zavian sengaja memilih beberapa testpack dari berbagai merek. Ada yang harganya murah dan ada pula yang cukup mahal, tergantung dengan merek produknya.
“ Kalau misalnya ragu dengan hasil di salah satu merek, bisa coba pakai merek lain.” ujar Zavian menjelaskan ketika Nayara protes kenapa banyak sekali membeli testpack.
“ Katanya test kehamilan akan lebih akurat jika dilakukan saat pagi hari.” ucap Nayara saat membaca keterangan di belakang bungkus testpack itu.
“ Jadi mau menunggu sampai besok pagi?” tanya Zavian.
Nayara mengangguk pelan. “ Takutnya kalau kucoba sekarang hasilnya gak memuaskan. Jadi, lebih baik kita ikuti saja saran yang ada di sini.”
“ Boleh juga.” sahut Zavian dengan sabar.
Sepanjang malam, Nayara hampir tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan apakah dirinya memang hamil atau tidak . Berulang kali pula Zavian menenangkannya dengan kalimat-kalimat yang manis.
“ Bagiku menikah itu tujuannya bukan cuma sekedar punya anak saja. Tapi menikah itu supaya kita punya teman hidup untuk melewati waktu yang panjang hingga tua nanti. Percayalah, Nay . Ada banyak kebahagiaan yang akan kita lalui meskipun hanya berdua.” ujar Zavian.
Nayara menengadah untuk menatap wajah suaminya yang kini sedang memeluknya. Di sana, di kedua mata yang menyorot teduh penuh rasa sayang itu , Nay menemukan sebuah ketulusan. Dia tahu bahwa Zavian melontarkan kata-kata bukan hanya sekedar memberi hiburan sesaat saja, tapi memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“ Punya anak itu gak semudah kelihatannya, Nay. Kita harus benar-benar selesai dengan diri sendiri terlebih dahulu sehingga bisa berperan menjadi orang tua yang baik untuk mereka.” jelas Zavian.
Nayara mengangguk, membenarkan ucapan suaminya tanpa bantahan. Tapi jauh di lubuk hatinya, Nayara ingin sekali punya anak bersama Zavian. Dia ingin membesarkan buah cinta dari Zavian dan sosok yang akan menjadi separuh jiwa mereka berdua.
Paginya Nayara bangun terlebih dahulu dan buru-buru menuju toilet. Dia mengikuti instruksi yang ada di balik kemasan testpack itu. Kemudian dicelupkannya ujung benda pipih itu ke dalam urin sampai batas yang telah ditentukan.
Nayara memejamkan matanya selama beberapa detik sambil berdoa agar hasilnya sesuai dengan apa yang diinginkannya. Saat membuka mata, Nayara menatap ada dua garis merah samar yang perlahan-lahan berubah menjadi pekat.
Dua garis merah.
Nayara masih belum bisa percaya dan menahan diri untuk berteriak kegirangan. Disobeknya bungkus testpack yang lain dan dicelupkannya ujung benda itu. Kemudian ditunggunya lagi dengan rasa sabar. Dan, hasilnya sama. Ada dua garis merah tertera di sana.
Ada tujuh testpack yang dicoba oleh Nayara, mulai dari merek biasa saja sampai testpack digital. Semuanya menunjukkan hasil yang sama.
Positif. Pregnant.
“ Gimana , sayang ?” tanya Zavian yang menyusul masuk. Wajah pria itu masih menyimpan kantuk tapi dia memaksa bangun karena tidak mendapati istrinya di sisinya.
“ Hasilnya sama semua.” ujar Nayara . Dia menunjukkan testpack yang berjejer di atas wastafel.
__ADS_1
“ Wah!” seru Zavian dengan mata berbinar. Dia menatap takjub pada benda-benda itu.
“ Jadi ?”
“ Aku hamil.”
Setelah mendapatkan hasil positif dari pengecekan melalui testpack, Zavian menjadi orang yang paling berbahagia atas kabar gembira ini. Tidak terhitung entah berapa kali dia mengecup dan memeluk perut datar istrinya.
“ Ayo kita ke dokter kandungan seperti yang disarankan oleh Dokter Indira kemarin.” ucap Zavian.
“ Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya.” balas Nayara .
“ Memangnya sudah bisa dilihat? Bukannya masih kecil, ya ?” tanya Zavian penasaran.
“ Bisa lah. Nanti pakai alat USG gitu dan kelihatan dia sudah berumur berapa minggu.” jelas Nayara.
Nayara ingat lagi dulu Sarah selalu memamerkan hasil USG miliknya setiap kali selesai kontrol ke dokter. Nayara memang bersikap cuek tapi dia menyimak semua apa yang dikatakan oleh Sarah. Termasuk ketika dokter bisa memprediksi usia janin yang dikandungnya.
“ Kalau jenis kelaminnya sudah bisa dilihat, belum?” tanya Zavian kemudian.
“ Kayaknya belum deh. Kan masih kecil, By.” jawab Nayara. “ Memangnya kamu mau punya anak laki-laki atau perempuan ?”
“ Apa saja boleh. Mau laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting anak kita lahir dengan sehat dan selamat.” timpal Zavian.
Zavian menempelkan pipinya ke perut Nayara sambil memejamkan mata. Dia mengucap syukur berkali-kali dengan perasaan penuh haru. Rasanya Tuhan begitu baik dengan melimpahkan keberkahan yang tak terhingga kepadanya.
Nayara mengelus kepala Zavian dengan rasa haru yang meluap- luap . Nayara tidak menyangka bahwa dirinya dinyatakan hamil, padahal dulu dia sempat menyerah atas kemungkinan itu.
Siangnya, Zavian membawa Nayara ke salah satu rumah sakit setelah membuat janji dengan dokter kandungan. Dia sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa perkembangan janin yang ada di dalam perutnya.
“ Oh, iya. Mama mau berkunjung ke sini nanti siang.” ujar Zavian memberitahu Nayara.
“ Gak pa-pa.” jawab Nayara sambil menatap suaminya yang sedang menyetir.
“ Apa sekalian nanti kita kasih tahu mama tentang kehamilanku?”
“ Boleh juga sayang.” sahut Zavian setuju.
“ KIra-kira bagaimana reaksi mama saat tahu aku hamil, ya. “ gumam Nayara.
“ Pasti seneng banget lah. Dapat cucu baru.” jawab Zavian. “ Kalau nanti mama bujuk-bujukin kamu supaya kembali tinggal di rumah, kamu jangan mau, ya.”
“ Sekarang aku gak akan ngeyel lagi kok.” Aku nurut sama kamu aja, By.” jawab Nayara.
“ Syukurlah. Aku pasti akan mengabulkan semua permintaanmu, Nay. Tapi jangan pernah meminta sesuatu kepadaku berdasarkan perintah keluargaku. Apalagi jika perintah itu bisa membahayakan hubungan kita yang sedang hangat-hangatnya.” jelas Zavian.
Dua minggu yang lalu, Nayara dan Zavian terlibat perseteruan sengit. Semua itu terjadi setelah kepulangan Mama Widya dan Nayara langsung mengatakan bahwa mereka sebaiknya pulang ke kediaman keluarga Rayyansyah. Zavian jelas tidak terima dengan ajakan itu, apalagi saat tahu bahwa mama Widya lah yang memaksa agar Nayara membujuknya.
“ Maaf aku gak akan maksa-maksa kamu lagi untuk mengikuti kemauan mama.” balas Nayara.
Zavian menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala, kemudian dia meraih tangan Nayara untuk digenggamnya. “ Gak semua keinginan mereka harus kita turuti, Nay. Kadang kita juga perlu menentukan tujuan dan masa depan sendiri, biar hidup tidak bergerak pada satu tempat saja.”
“ Iya, sayang. Aku paham.” sahut Nayara.
Zavian tahu bahwa Nayara merasa berhutang budi pada kedua orang tuanya. Itulah kenapa kadang Nayara lebih memilih untuk mengikuti perintah papa Adrian dan mama Widya . Meski perintah itu bertolak belakang dengan keinginan Zavian selaku suaminya.
“ Percaya padaku, Nay. Kamu pasti akan baik-baik saja ketika hidup bersamaku. Kupastikan kamu tidak akan kekurangan apapun dan masih bisa hidup dengan baik seperti ketika kamu berada di bawah perlindungan papa.” ujar Zavian kemudian.
Nayara mengangguk lagi. Kali ini dia harus semakin yakin dengan Zavian karena mereka sebentar lagi akan mempunyai anak. Ada anak sebagai tempat melimpahkan kasih sayang dan juga sebagai pengikat yang jelas di antara mereka berdua.
Setelah sampai di rumah sakit, mereka kemudian langsung melangkah masuk dan menyelesaikan proses administrasi. Setelah itu barulah keduanya dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan dokter spesialis kandungan.
“ Ada keluhan apa, Bu?” Dokter Raina bertanya dengan sopan pada Nayara.
“ Saya sering mual-mual di pagi hari dan tidak bisa mencium aroma bawang. Rasanya mual dan langsung muntah.” ujar Nayara memberi penjelasan.
__ADS_1
“ Itu hal yang wajar terjadi saat kehamilan baru memasuki trimester pertama. “ jelas Dokter Raina. “ Silahkan berbaring, Bu. Kita periksa kandungannya, ya.”
Nayara berbaring di ranjang, lalu asisten dokter menutup kakinya dengan kain selimut. Setelah itu barulah perut Nayara disingkapkan dan diberi gel dingin. Ada bunyi gemuruh halus yang mengudara saat alat USG itu bekerja, lalu monitor menampilkan keadaan rahim Nayara.
“ Kehamilannya sudah masuk delapan minggu ya, Bu.” ucap Dokter Raina.
“ Semuanya baik-baik saja. kan. Dok?” tanya Zavian.
“ Iya tidak ada yang perlu dikhawatirkan .” ucap Dokter itu.
Zavian menghembuskan napas lega mengetahui segalanya baik-baik saja. Selama seminggu ini Zavian selalu panik setiap kali Nayara menolak untuk makan. Tapi setelah tahu bahwa sikap itu terjadi karena perubahan hormon akibat kehamilan istrinya, Zavian tidak terlalu khawatir lagi.
Dokter menyarankan agar Nayara istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi. Tidak lupa dokter meresepkan vitamin dan juga obat tambah darah agar kondisi Nayara dan janinnya tetap kuat.
Selesai berkonsultasi , mereka kemudian pulang ke rumah. Sepanjang jalan pulang, wajah Zavian tampak semakin cerah dan berbahagia.
Ketika memasuki halaman rumah, mereka melihat sebuah mobil yang cukup familiar. Dan itu jelas milik mama Widya.
“ Kalian darimana?” tanya mama Widya sambil mengamati Zavian dan Nayara secara bergantian.
“ Dari rumah sakit, Ma.” jawab Zavian. Dia menoleh ke arah Nayara sekilas. “ Nganterin Nay kedokter.”
“ Astaga ! Nay sakit apa ?” tanya perempuan itu sambil menghampiri menantunya.
“ Gak sakit apa-apa, kok. Ma.” jawab Nayara sambil menoleh ke arah Zavian. Nayara memberi kode kepada suaminya itu agar Zavian saja yang memberi penjelasan.
“ Kita duduk dulu, Ma.” ajak Zavian. Dia meminta mamanya duduk di sofa ruang tengah, sedangkan Zavian dan Nayara duduk bersisian di depan mama Widya.
“ Nay hamil, Ma.” ujar Zavian memberitahu ibunya.
Mama Widya membelalakkan matanya kaget, lalu dia menjerit kegirangan. Dia segera berdiri dan menghampiri Nayara. Dipeluknya perempuan itu dengan sangat erat.
“ Syukurlah, Nay. Syukurlah ..” ucap Mama Widya . Wanita itu tampak begitu bahagia mendapat berita menyenangkan ini.” Sudah berapa minggu?”
“ Baru delapan minggu, Ma.” jawan Nayara.
“ Masih sangat kecil.” sahut Mama Widya berbicara dengan sedikit keluhan. “ Mulai sekarang kamu harus berhati-hati , Nay. Jangan sampai jatuh apalagi cedera. Sekarang ada nyawa lain yang tumbuh di rahim kamu. Kamu juga harus makan makanan bergizi agar anakmu di dalam tetap aman dan sehat.”
“ Iya, Ma.” sahut Nayara.
“ Satu lagi, kalian mending balik tinggal di rumah aja deh.” pinta mama Widya.
‘ mulai lagi.’ keluh Zavian di dalam hati. “ Kami tinggal di sini aja, Ma.”
“ Ya ampun, Vian. istri kamu lagi hamil, lho.” mama Widya mendelik sebal ke arah anaknya.
“ Apa gak kasihan sama Nayara kalau ditinggal sendirian di rumah saat kamu kerja.”
“ Lebih kasihan lagi kalau Nay tinggal di rumah mama yang ada pengganggunya itu. Bisa-bisa istriku gak tenang dibuatnya. “ sahut Zavian dengan sinis. “ Lagi pula di sini ada Evy yang menjaga Nayara.”
“ Apa sih yang bisa dilakukan sama ART seperti itu? Apalagi dia masih lajang dan lugu begitu. Mama gak bisa percaya .” sahut mama Widya.
“ Evy bisa melakukan segala hal, termasuk menjaga Nayara dari orang jahat.” balas Zavian.
Mama Widya tetap bersikeras ingin mengajak Nay untuk kembali kerumahnya. Tapi Zavian dengan tegas dan lantang menolak secara terang-terangan. Hingga akhirnya wanita paruh baya itu pasrah dan memilih mengalah.
.
...****************...
Kehancuran Fabian di depan mata.. ketawa jahat dulu ah 😂😂..
untuk wedding agreement yg nungguin , maaf blm bisa up skrg... aku lg fokus Nay sama Zavian dl yaa.. Saranghae 🫶🫰
Jangan lpa subscribe dan rate bintang 5 yaa.. like, komen, dan hadiah nya kalo boleh ❤️
__ADS_1