Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Menolak kerja sama


__ADS_3

“ Sudah ada yang menawarkan kerjasama pada kita, Bian?” tanya Papa Adrian pada sang putra.


Dua hari setelah Business Gathering itu diadakan. seharusnya asisten mereka akan sibuk mengatur jadwal pertemuan dengan para pemilik perusahaan yang akan menjalin kerjasama bisnis. Tapi sampai detik ini, belum ada satupun sinyal penawaran kerjasama yang muncul.


“ Aku sudah membuat janji temu dengan Hendri,” jawab Fabian. 


“ Hendri lagi?” tanya Papa Adrian sedikit meremehkan. “ Kerjasama sebelumnya dengan perusahaan temanmu itu tidak terlalu menguntungkan.” Papa Adrian menggelengkan kepalanya setelah mendecak pelan. “ Cuma buang- buang dana dan waktu. Tidak efektif sama sekali.” 


Fabian mengusap wajahnya dengan pelan, lalu menarik napas dalam-dalam . Saat acara gathering berlangsung, Fabian tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain. Dia bahkan tidak mencoba mendekati beberapa pengusaha demi menawarkan kerjasama. Fokus Fabian terpecah saat melihat Nayara dan Zavian sehingga dia melupakan segala rencananya. Apalagi setelah insiden itu, Fabian langsung pulang karena tidak ingin terlihat kacau di tengah-tengah acara.


“ Papa akan memanggil Zavian ke sini,” ujar Papa Adrian mengejutkan Fabian. 


“ Untuk apa. Pa?” tanya Fabian waspada.


“ Cuma mau diskusi,” jawab Papa Adrian dengan santai.


Fabian tidak bertanya lagi karena sekarang segalanya sudah jelas. Papanya kecewa dan dia tidak bisa melakukan apa-apa agar keadaan menjadi lebih baik.


Fabian merasakan perutnya melilit perih. Hari ini dia hanya mengkonsumsi setengah cangkir kopi saat sarapan. Lalu tidak makan apa-apa lagi sampai siang karena sibuk mengerjakan berbagai hal. Pada hari- hari sebelumnya kurang lebih juga begitu. 


Pola hidupnya sangat tidak sehat dan Fabian menyadari hal itu. Tapi dia tidak berusaha untuk melakukan perubahan apapun.


“ Selamat sore, pak . Ada pak Zavian di luar dengan maksud ingin menemui Bapak. “ Suara sekretaris Papa Adrian yang melontarkan pemberitahuan sontak membuat punggung Fabian menegang. 


“ Memangnya mau diskusi sekarang?” tanya Fabian pada ayahnya itu. 


“ Iya, mumpung Zavian punya waktu luang hari ini. Biasanya sibuk terus dia,” jelas Papa Adrian.


Fabian tahu bahwa kehadirannya tidak diharapkan di ruangan ini. Jadi dengan langkah gontai dia keluar dari ruangan CEO dan berpapasan dengan Zavian. Keduanya tidak saling sapa selayaknya dua saudara. Ada aura dingin yang menguar dari Zavian saat menatap Fabian. 


Zavian masuk ke dalam ruangan CEO Raya Corp itu dan menyalami papanya sebelum duduk. Zavian berbasa-basi sejenak menanyakan kabar, lalu mengalihkan topik pembicaraan ke arah lain. Mereka berbicara cukup serius dan lama. Kadang terjadi perdebatan yang cukup alot tapi Zavian bisa mengakhirinya dengan mudah. Zavian berhasil menciptakan batasan yang tepat ketika berhadapan dengan ayahnya saat harus membicarakan pekerjaan. Karena saat ini dia adalah CEO dari perusahaannya sendiri, bukan anak kedua dari sosok Adrian Rayyansyah. 


Setelah percakapan serius itu selesai, kemudian Zavian undur diri dan keluar dari ruangan Adrian Rayyansyah. Dia langsung berjalan menuju lift dan sempat melirik ke arah ruangannya dulu. Zavian sudah mendengar bahwa posisi COO kini digantikan oleh Johan yang sebelumnya menjabat sebagai Head Manager.

__ADS_1


Pintu lift tertahan sejenak dan Fabian masuk ke dalam ruangan sempit itu. Dia berdiri dengan posisi miring dan menghadap ke arah Zavian. Dia menatap adiknya dengan tajam, benar-benar tidak bersahabat. Sayangnya aura intimidasi yang diberikan Fabian ternyata tidak sanggup menggores ketenangan Zavian. 


“ Papa bilang kalau perusahaan kita akan melakukan kerja sama,” ujar Fabian dengan nada kesal.


Zavian diam saja, dia memberikan Fabian waktu yang cukup banyak untuk menyelesaikan ucapannya. 


“ Jangan merasa dirimu hebat hanya karena Papa terlihat sedang membutuhkan bantuanmu,” cibir Fabian lagi. Dia menatap Zavian yang sedang melirik jam tangannya.


“ Kamu memang pintar dan berhasil mendapatkan pengakuan Papa dalam hal itu. Tapi jangan berpikir kalau kamu bisa membuat Papa meragukan kemampuanku. Aku tetaplah satu-satunya pewaris yang akan menjabat sebagai CEO selanjutnya,” lanjut Fabian lagi.


Melihat Zavian yang diam tanpa suara, Fabian semakin kesal dan terus memojokkan adiknya itu. “ Tetaplah berada di luar lingkaran keluarga Rayyansyah seperti yang telah kamu lakukan selama ini. Karena setelah kupikir-pikir , keberadaanmu memang tidak terlalu penting.” 


Saat lift berhenti di lobi, Zavian menatap Fabian dan berkata,” Terima kasih atas peringatannya. Kuharap setelah ini kamu tidak melewati batasanmu lagi dan nikmati saja posisimu sebagai pewaris Papa.”


Setelah berkata begitu, Zavian lalu berjalan keluar meninggalkan Fabian sendirian. Dia hanya sedang menahan diri untuk tidak keluar jalur yang seharusnya. Karena sebenarnya Zavian bisa saja menghancurkan Fabian dengan menganggap laki-laki itu seperti orang lain dan melupakan ikatan darah di antara mereka. 


Tapi selama Nayara baik-baik saja dan tetap menjadi miliknya, maka Zavian akan terus menahan diri terhadap kakaknya itu. 


Lebih tepatnya Zavian menolak untuk membantu ayahnya yang sedang kelimpungan . 


Setelah dirawat pasca melahirkan , akhirnya Sarah diperbolehkan pulang ke rumah. Tapi anaknya masih harus tetap dirawat karena bayi kecil itu masih ketergantungan dengan inkubator dan alat-alat penunjang kehidupannya.


Setiap hari Sarah datang ke rumah sakit untuk melihat perkembangan anaknya, lalu dia akan menangis dan meratapi kenapa nasibnya teramat menyedihkan seperti ini. Anak yang diharapkannya bisa mengeratkan pernikahannya dengan Fabian ternyata bukan anak biologis sang suami. Dalam keadaan terusir tanpa harta, Sarah malah melahirkan bayi prematur karena kurang bulan.


Apalagi ketika dokter mengatakan bahwa kondisi anaknya terus menurun dari hari ke hari disebabkan oleh organ vital yang belum terbentuk sempurna. Sekarang Sarah hanya bisa meratapi kemalangannya yang seolah tanpa ujung. 


Sementara itu, di sisi lain Zavian dan Nayara sedang berbahagia menikmati kehamilan Nayara yang semakin besar dari hari ke hari.Berbagai persiapan mental mereka lakukan agar ketika anaknya lahir nanti, keduanya telah siap menjalani peran sebagai orang tua yang baik. 


“ Kapan jadwal konsultasi ke dokter kandungan, sayang ?” tanya Zavian sambil mengelus perut istrinya. 


“ Besok,” jawab Nayara. “ Kamu bisa menemaniku, By?” 


“ Bisa dong, sayang,” jawab Zavian dengan yakin.

__ADS_1


Di sela kesibukannya mengurus proyek baru dan juga rencana jalinan kerjasama dengan perusahaan lain, Zavian akan selalu menyempatkan waktu untuk menemani Nayara kontrol kehamilan. Dia tidak ingin melewatkan satupun momen penting tentang anak dan istrinya. Karena bagi Zavian, keduanya adalah hal yang paling berarti di dalam hidupnya. Nayara dan calon anak mereka adalah sesuatu yang tidak akan bisa dibandingkan dengan apapun. 


“ Wangi kamu enak banget, By,” ujar Nayara sambil mengendus leher suaminya.


Zavian meraih pinggang istrinya dengan cepat dan membawa perempuan itu ke dalam pelukannya. “ Padahal aku belum mandi,lho.” 


“ Hm, tapi aku tetap suka wanginya,” celetuk Nayara sambil memejamkan mata . Dia menghirup lagi aroma tubuh suaminya dengan rakus, kali ini sambil memejamkan mata. 


“ Rasanya menenangkan.” 


“ Padahal aku rencananya mau mandi, tapi kalau kamu kayak gini aku mendingan gak usah mandi aja deh,” ucap Zavian. 


Nayara terkekeh pelan, lalu menjauhkan wajahnya dari leher suaminya,” Ayo, mandi bareng! Kebetulan aku juga belum mandi.” 


“ Ayo!” ajak Zavian kemudian membuka bajunya.


Selanjutnya, laki-laki itu akan sibuk melucuti pakaian istrinya, sesekali tangannya akan menjamah penuh godaan karena tubuh istrinya memang begitu menggoda. Nayara tidak menolak saat Zavian mulai menyerangnya dengan kecupan-kecupan kecil, kadang ada gigitan gemas yang singgah ke beberapa bagian tubuhnya. 


“ Jadi mandi gak, nih ?” tanya Nayara saat tangan Zavian mulai bergerak kemana-mana sambil meremass dengan begitu menggairahkan. 


“ Main dulu, gimana?” tanya Zavian sambil menengadah ke arah Nayara yang tampak pasrah menerimanya.


Tidak ada jawaban yang mengizinkan secara jelas, tapi rengkuhan tangan Nayara pada pundak Zavian telah memperjelas segalanya. Zavian menggendong Nayara dengan gerakan penuh kehati-hatian, lalu membawa wanita itu ke dalam kamar mandi . Diletakannya istrinya di dalam shower room dan mendorong wanita itu agar merapat ke dinding.


Zavian lalu meraih shower dan mengatur suhu airnya agar terasa pas dan hangat. Tapi tentu saja, Nayara yang kini ada di dalam dekapannya jauh lebih hangat. Apalagi kulit mereka bersentuhan skin to skin tanpa ada penghalang sehelai benang pun. Dan permainan panas mereka di dalam kamar mandi pun terjadi. Nayara membuatnya gila dan terus menginginkannya.


Satu hal yang tidak akan pernah disesali oleh Zavian adalah menggoda Nayara hingga jatuh ke dalam pelukannya. Persetan dengan perseteruannya dengan Fabian dalam urusan asmara. Karena Nayara memang layak untuk direbut dan menjadi miliknya satu-satunya.


Zavian bahkan merelakan akal dan logikanya lumpuh saat berhadapan dengan pesona Nayara yang begitu luar biasa. 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2