
Fabian mengusap pipinya dengan gerakan lambat. Dia terkesiap kaget. Matanya menatap nanar pada Mama Widya yang berdiri di hadapannya.
“ Jadi Mama meminta cerai lalu menyebabkan Papa tumbang seperti ini?” tanya Fabian pada sang Mama. “ Kenapa Mama sampai punya pemikiran seperti ini?”
“ Jangan menyalahkanku !” bentak Mama Widya sambil menunjuk wajah Fabian .
“ Kenyataannya memang begitu kan,Ma ?” tuding Fabian tidak mau kalah. Dia membalas tatapan tajam Mamanya dengan sorot yang tak kalah sengit. “ Sekarang aku sudah paham bagaimana keadaan yang sebenarnya. Mama sengaja datang ke kantor Papa dan tiba-tiba mengatakan ingin bercerai. Jelas saja hal itu membuat Papa terkejut dan jatuh pingsan , bukannya menolong, Mama malah pergi meninggalkan Papa sendirian. Mama sengaja mengejutkan Papa, ya?”
Tangan Mama Widya kembali terangkat dan tamparannya kembali mendarat di pipi Fabian.
“ Berhenti menuduhku !”
“ Ma…” ujar Fabian dengan sorot mata tidak percaya. Dua kali Mamanya melayangkan tamparan. Luar biasa sekali.” Jika Mama ingin menyangkal ucapanku, maka berikan aku alasan yang tepat. Kenapa Mama ingin bercerai dari papa?”
“ Karena kamu dan Papamu sudah sangat keterlaluan,” balas Mama Widya dengan sorot mata penuh luka. “ Selama ini kalian selalu berbuat seenaknya tanpa memedulikan perasaanku. Apapun yang kukatakan tidak akan mempan pada kalian berdua yang angkuh dan keras kepala.”
“ Mama tidak perlu menceraikan Papa. Kita bisa perbaiki semuanya, Ma,” bujuk Fabian.
Mama Widya menggeleng tegas, “ Hanya ini cara yang pantas untuk kalian terima.”
Fabian hendak bertanya kembali tapi salah seorang dokter keluar dari ruangan dan menatap ke sekeliling. “ Apa di sini ada keluarga pasien Adrian Rayyansyah?”
“ Ya ?” jawab Mama Widya yang langsung mendatangi dokter tersebut. “ Saya istrinya .”
“ Pasien sudah sadar tapi kondisinya masih sangat kritis,” jelas dokter itu dengan singkat.
“ Syukurlah, “ desah Mama Widya pelan. “ Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”
“ Pasien mengalami sakit jantung koroner dimana pembuluh arteri tersumbat dan suplai darah menuju jantung tersumbat. Saat ini suami Ibu masih dipantau oleh tim medis,” ucap dokter itu menjelaskan.
Mama Widya hanya mengangguk pasrah mendengar penjelasan dari dokter. Setelah itu dia bersandar ke dinding agar tidak jatuh dan rubuh. Air matanya kembali mengalir tak tertahankan.
Fabian yang menyimak penjelasan dokter tadi ikut merasakan lemas di seluruh tubuhnya. Dia ingin memeluk Mama Widya tapi perempuan itu menolak untuk bersentuhan dengannya. Mamanya tampak seperti tidak ingin diganggu.
‘Sebegitu kecewanya Mama terhadap diriku dan Papa ?’ batin Fabian .
Pertanyaan itu terbesit di dalam kepala Fabian dan dia berusaha mencari pembelaan untuk dirinya sendiri. Berkali-kali Fabian meyakinkan bahwa tidak ada yang salah dengan sikapnya terhadap Zavian. Tapi semakin dia menyangkal perbuatannya, semakin besar pula rasa sakit di dalam dadanya.
__ADS_1
Apalagi ketika melihat tangisan Mama Widya yang semakin menjadi-jadi. Fabian pun mulai ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Mamanya itu.
“ Apa aku harus bersujud meminta maaf agar Mama bisa mengubah keputusan?” tanya Fabian pelan.
“ Kita bicarakan masalah ini lain kali,” ujar Mama Widya dengan dada yang penuh sesak .
“ Di rumah sakit ini juga ada Zavian yang sedang dirawat.”
“ Aku lebih mengkhawatirkan Papa,” sahut Fabian.
“ Kamu bisa bicara begitu karena memang tidak ada rasa sayang di dalam hatimu untuk Zavian. Kamu tidak pernah memandangnya sebagai sosok adik, tapi kamu selalu menganggapnya sebagai lawan yang harus kamu tumpas tanpa sisa,” sindir Mama Widya.
“ Bukan begitu maksudku, Ma. Sekarang Zavian sudah ada istri yang akan merawatnya,” ucap Fabian memberi pembelaan.
“ Coba bayangkan kalau seandainya tidak ada Nayara di dalam hidup Zavian. Pasti dia akan menjalani seluruh rasa sakit dan penderitaan akibat tekanan Papa seorang diri. Ditambah lagi dia juga harus dipaksa mengalah padamu,” timpal Mama Widya. Dia memandang Fabian dengan sorot mata penuh luka. “ Selama ini dunia selalu tidak adil untuk Zavian. Bahkan ketika kebahagiaan baru saja menghampirinya. Kamu dan Papamu malah berusaha untuk menjatuhkannya.”
“ Sudah kubilang, Papa punya tujuan tertentu melakukan ini pada Zavian, Ma. Seharusnya Mama paham. “ balas Fabian .
“ Aku bisa memahami segala ambisi dan sikap culas kalian berdua. Tapi aku tidak akan menerima niat jahat kalian pada Zavian !” tegas Mama Widya.
Sedangkan di ruangannya, Zavian dan Nayara sedang bermesraan. Nayara membungkuk untuk mencium bibir Zavian dengan cukup lama. Matanya yang sayu tampak sendu namun penuh dengan rasa cinta.
“ Kamu harus semangat ya, By untuk sembuh,” bisik Nayara.
“ Jelas dong. Aku harus pulih agar bisa menepati janjiku padamu. Aku ingin menemanimu melahirkan dan menjadi orang pertama yang menggendong anak kita,"ujar Zavian.
Nayara mengangguk dengan senyuman lebar. Dia senang sekali melihat Zavian yang tampak bersemangat dalam menjalani keadaannya saat ini. Tidak ada keluhan sedikitpun keluar dari mulut pria itu.
“ Aku takut sekali kehilanganmu, By. Takut sekali,” ucap Nayara dengan sendu.
“ Asal kamu tahu , aku juga takut kehilanganmu. Bahkan dalam mimpi sekalipun, aku selalu mencemaskanmu. Duniaku akan hancur jika kamu pergi dari sisiku,” ucap Zavian dengan sungguh-sungguh.
“ Aku akan selalu ada di sampingmu, By. Aku tidak akan kemana-mana dan terus menjagamu di sini,” ujar Nayara lagi.
“ Terima kasih, sayang,” bisik Zavian penuh haru. “ Aku senang sekali mendengarnya.”
Seandainya keadaan mengizinkan, ingin sekali Zavian meraih dan memeluk Nayara dengan begitu erat. Tapi kondisinya yang lemah hanya bisa membuatnya meraih tangan Nayara dan menggenggam hangat tangan itu.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian, pintu terbuka dan Mama Widya muncul dari sana. Wanita itu berjalan menghampiri ranjang Zavian dan duduk di salah satu kursi.
“ Papa sedang dirawat di IGD,” ucap Mama Widya dengan nada pelan namun pilu.
“ Apa yang terjadi pada Papa?” tanya Zavian dengan khawatir.
“ Tadi Papamu tumbang dan langsung dilarikan ke sini,” ujar Mama Widya menjelaskan.
“ Lalu dokter mengatakan kalau Papamu menderita penyakit jantung yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri.”
“ Siapa yang menemani Papa di sana, Ma ?” tanya Zavian lagi.
“ Ada Fabian di sana,” ujar Mama Widya.
“ Aku juga mau melihat Papa,” pinta Nayara. Tapi Mama Widya malah menggeleng cepat.
“ Kamu di sini saja, Nay. Tugasmu adalah menjaga Zavian dan jangan pergi dari sisinya. Biar Mama dan Fabian yang mengurus Papa,” jelas Mama Widya.
Nayara mengangguk pelan dan menatap suaminya dengan penuh pengertian. Begitu juga dengan Zavian yang terlihat tidak ingin jauh dari istrinya.
Setelah berada di ruangan Zavian, Mama Widya kembali turun karena Fabian meneleponnya. Papa Adrian sudah mulai membaik dan akan segera dipindahkan ke ruangan perawatan . Tanpa menunggu persetujuan siapapun, Fabian memilih ruangan VVIP yang berada di lantai yang sama dengan ruangan tempat Zavian dirawat.
Mama Widya memandang suaminya yang sedang lemah dengan sorot mata penuh kecewa. Sedangkan Papa Adrian menatap dengan mata penuh permohonan.
Sekarang keadaan mereka telah berbalik sepenuhnya. Tidak ada lagi sentuhan mesra dan tatapan penuh kasih sayang. Ada rasa kecewa yang terbentang jelas di antara mereka berdua.
“ Wid….” lirih Papa Adrian dengan suara yang masih lemah.
“ Cepatlah sembuh . Aku sudah memberikan pelayanan dan juga dokter terbaik untuk menanganimu. Kamu harus segera sembuh agar bisa melanjutkan ambisimu bersama Fabian,” sindir Mama Widya.
Papa Adrian hanya bisa menggelengkan kepala lemah. Dia tampak kesakitan dan juga menderita di tengah-tengah rasa sakitnya.
“ Semua ini tidak akan mengubah keputusanku,” lanjut Mama Widya lagi. Perkataannya semakin menyayat hati pria paruh baya itu.
.
...****************...
__ADS_1