
Saat Zavian mengatakan bahwa dia menyerah , maka itu artinya sudah tidak ada yang bisa diperbaiki lagi. Sekuat apapun Mama Widya memohon, Zavian tidak akan pernah sudi mengembalikan keadaan seperti semula.
“ Jangan pernah mendendam pada Fabian,” ujar Mama Widya setelah perdebatan keduanya berakhir dengan kesunyian yang menyakitkan.
“ Aku tak pernah dendam padanya,,” sahut Zavian dengan bibir bergetar.
Benar . Dia tidak pernah menyimpan dendam sedikitpun pada Fabian meskipun kakaknya itu berkali-kali melukai hatinya. Mungkin karena sejak kecil Zavian telah didoktrin oleh kedua orang tuanya supaya menjadi sosok adik yang baik dan suportif . Sehingga seperti apapun bentuk lukanya, akan dia sembuhkan sendirian. Dia terluka, menangis lalu kembali tersenyum setelah menyingkirkan rasa sakitnya . Semakin dia dewasa maka semakin tahu pula bagaimana caranya mengalah.
“ Aku hanya kecewa sama sikap Mama yang tidak pernah mempertimbangkan perasaanku,” lanjut Zavian kemudian.
“ Mama gak bermaksud begitu, Za. Mama cuma tidak terima melihat sikapmu yang menarik seluruh saham di perusahaan kita hanya gara-gara Fabian bergabung ke sana. Apa kamu gak bisa percaya bahwa kakakmu sekarang sudah berubah ?” Mama Widya masih mencoba mencari pembenaran atas segala sikapnya.
“ Kepercayaan itu tipis dan rapuh sekali, Ma. Sekali hancur maka jangan harap segalanya akan kembali seperti semula,” ujar Zavian.
“ Fabian sudah berjanji akan berubah, dia tidak akan membuat ulah lagi,” tukas Mama Widya.
“ Coba sesekali lihat dari sisi diriku,” lirih Zavian. Suara dan tatapannya menyiratkan kekecewaan yang teramat sangat.” Atau mungkin hal itu terlalu susah untuk Mama lakukan?”
Mama Widya membasahi bibirnya yang mendadak kering. Ada rasa sakit yang membuatnya tidak sanggup menatap Zavian dalam pandangan lurus. Bahkan pembicaraan mereka pun berakhir di sana.
Zavian memilih untuk mengabaikan segala hal yang menuntut perhatiannya. Asistennya menelepon berkali-kali untuk memberitahu tentang return dalam penjualan semua sahamnya. Yudha juga mengabarkan berita lain mengenai dealing kerja sama yang baru saja mereka sepakati. Dan semua itu tidak berhasil mencuri perhatian Zavian sedikit pun.
Satu-satunya keinginan Zavian adalah pulang ke rumah dan menemui istrinya. Sisanya , dia tidak mau memikirkan apa-apa. Mungkin karena isi kepalanya terlalu riuh oleh semua permasalahan yang ada hingga membuatnya seperti orang kebingungan.
Ketika pulang ke rumah, Zavian menemukan Nayara sedang bermain dengan anak mereka di taman belakang. Ada seutas senyum terbit di bibirnya ketika melihat bagaimana pemandangan itu berhasil menghangatkan sudut hatinya.
“ Daddy sudah pulang,” seru Nayara sambil membantu anaknya melambaikan tangan ke arah Zavian. Dia berjalan mendekati Zavian sambil menggendong Zean.” Tumben pulang cepat.”
Zean berpindah ke pangkuan ayahnya dan Zavian berjalan menuju ruang tengah .
" Kepalaku sakit.”
“ Kuambilkan obat ya.”
“ Gak usah , Sayang . Kamu tahu apa obat yang paling tepat untukku.”
Ada kekehan singkat dari Nayara yang diikuti oleh Zavian. Ia menciumi wajah putranya sebelum diserahkan kepada Nayara akhirnya juga menyerahkan Zean ke Mbak pengasuh. Setelah itu keduanya berjalan ke dalam kamar.
__ADS_1
Nayara membantu Zavian melepaskan kancing kemejanya hingga terbuka semua. Setelah itu Zavian merebahkan diri di kasur dan Nayara berbaring di sampingnya. Zavian sangat menyukai bagaimana aroma tubuh istrinya bisa membuat pikirannya lapang dan elusan jemari Nayara di sela rambutnya terasa menyenangkan.
Tidak ada percakapan di antara mereka dan Zavian bersyukur atas semua sikap pengertian Nayara padanya.
Selama beberapa bulan belakangan ini Zavian selalu mencoba untuk memaafkan luka-luka yang ada di dalam dirinya. Sayang sekali, seluruh usahanya hancur hanya karena sikap Mama Widya. Rasa sakit yang berusaha disembuhkannya kembali meneteskan luka. Hingga akhirnya Zavian memutuskan untuk mundur dan menyerah . Dia sudah tidak sanggup lagi menghadapi ini semua.
Meskipun begitu, disaat sebagian hidupnya hancur berantakan tapi di sisi lain dia juga merasa kuat dan baik-baik saja. Di antara seluruh kekacauan dalam hidupnya, Zavian telah menemukan pasangan yang melengkapi dirinya dengan sempurna.
“ Kamu keberatan kalau kita pergi dari sini ?” tanya Zavian kemudian.
“ Aku akan ikut kemanapun kamu pergi,” ujar Nayara dengan yakin.
Zavian mengangguk seraya tersenyum lega. Dia sadar bahwa saat ini dirinya tidak berjalan sendirian. Ada Nayara dan Zeano yang menggantungkan hidup padanya. Dia akan selalu tampak sebagai laki-laki hebat di mata istri dan anaknya. Oleh karena itu, Zavian tidak membiarkan dirinya berlarut-larut dalam kesedihan.
Dia bangkit untuk meraih ponsel dan menghubungi asistennya dan juga Yudha. Rencananya harus tetap berjalan dan usahanya kali ini tidak boleh gagal. Sekali lagi , Zavian meyakinkan dirinya bahwa dia telah benar-benar menyerah.
Seperti janjinya, Om Farhan mengumumkan pengunduran diri sebagai CEO Raya Corp setelah Fabian bergabung di sana. Laki-laki itu tampak santai saja, dia tidak menunjukkan rasa kehilangan apapun ketika meninggalkan perusahaan yang dulu dibangun oleh almarhum ayah mertuanya. Begitu juga dengan Tante Tania yang sengaja menjemput suaminya di hari terakhir bekerja. Wajahnya yang biasanya penuh ambisi kini datar -datar saja.
“ Setelah ini apa yang akan Om lakukan ?” tanya Fabian penasaran.
Fabian tidak berkata apa-apa lagi. Dia merasakan bahwa beban berat kini telah tertumpu di pundaknya seorang diri. Satu-satunya yang dilakukan Fabian hanyalah mengumpat kesal.
“ Siialan ! Seharusnya aku tidak menyetujui permintaan Mama untuk kembali ke sini,” gumam Fabian .
Dia menyesal , tapi penyesalan itu sudah terlambat dan segalanya terlanjur kacau. Zavian menarik seluruh sahamnya dan sekarang Om Farhan meninggalkan perusahaan. Sedangkan Fabian tidak sehebat itu untuk memikul semua beban ini sendirian.
Di tempat lain, Zavian sedang berbincang dengan Yudha dalam mode serius . Banyak hal yang mereka diskusikan mengenai masa depan perusahaan dan juga langkah mengejutkan yang diambil oleh Zavian. Hari ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir mereka sebelum Zavian benar-benar pergi.
“ Jadi setelah sekian lama bersikap seperti badut akhirnya lo menyerah juga, ya .” ucap Yudha sambil terkekeh.
Zavian tertawa sambil menumpukkan kedua tangannya di atas meja. Kopinya sudah habis dan dia tidak berniat merokok.
“ Gue cuma minta supaya lo menjaga perusahaan ini baik-baik,” pesan Zavian.
“ Pasti,” jawab Yudha .” Gue pasti akan menjaga semua ini dengan baik karena ini adalah bukti kerja keras kita berdua.”
Zavian mengangguk kecil . Dia percaya pada Yudha karena telah melihat bagaimana temannya itu bekerja selama ini. Lagipula Zavian tidak menyerahkan semuanya begitu saja pada Yudha, masih ada hal-hal penting yang dipegangnya meski dia telah menarik diri dari perusahaan itu.
__ADS_1
“ Gimana semuanya ? Udah beres ?” tanya Yudha lagi.
“ Sudah,” jawab Zavian.
“ So, good luck . Semoga ini memang keputusan yang tepat dan lo bisa bahagia menjalaninya,” ujar Yudha sambil menepuk pelan pundak Zavian.” Kita adakan farewell . Lo harus mengucapkan perpisahan pada rekan kerja kita.”
Yudha mengulurkan tangan mempersilahkan Zavian untuk masuk ke dalam meeting room. Ruangan luas itu telah diisi oleh para petinggi perusahaan mereka yang menantikan kedatangan Zavian. Ada makanan ringan serta minuman kaleng di setiap meja.
Acara farewell yang sederhana, namun tampak berkesan karena wajah-wajah di sana seolah tidak rela akan keputusan Zavian. Bahkan ada yang terang-terangan berkata bahwa seharusnya mereka tidak perlu melakukan ini dan Zavian harusnya tidak pergi. Sayangnya, Zavian tidak akan mengubah keputusannya lagi.
“ Terima kasih untuk kerjasama kalian selama ini,” ujar Zavian menutup ucapan perpisahan yang disambut desah kecewa oleh para hadirin.
Mereka kemudian menyalami Zavian secara bergantian dan Om Farhan menjadi orang terakhir yang menjabat tangannya.
“ Selamat bergabung di sini, Om. Maaf kalau aku harus pergi,” balas Zavian.
“ Semoga ini yang terbaik untukmu,” ujar Om Farhan dengan tatapan sendu. “ Tantemu pasti akan sedih jika tahu kamu melakukan ini.”
“ Rahasiakan semua ini dari keluarga kita, termasuk Tante Tania dan juga Mama.” pinta Zavian.
Om Farhan mengangguk cepat dan menyanggupi permintaan Zavian. Setelah itu Zavian berjalan keluar dari ruangan itu dan asistennya datang menemuinya sembari menyerahkan sebuah map. Di dalamnya ada paspor milik Nayara dan Zeano, ada juga berkas legalisasi visa yang telah di approve.
Setelah memastikan semuanya selesai, Zavian kemudian pulang ke rumah. Dia melihat sopirnya menaikkan koper-koper ke dalam mobil dan Nayara telah bersiap sambil menggendong Zean.
“ Kita langsung berangkat sekarang,” ucap Zavian. Dia tidak perlu berganti baju karena telah mengenakan pakaian yang rapi meski pulang dari kantor.
Nayara masuk ke dalam mobil bersama Zean, lalu disusul oleh Zavian. Para pekerja di rumah mereka melambaikan tangan dengan penuh haru, bahkan ada yang sampai meneteskan air mata.
Sepanjang perjalanan, Zavian yakin sekali bahwa ini adalah keputusan terbaik untuk dirinya. Tidak ada lagi keraguan yang menyusup di dalam hatinya .Genggaman hangat tangan istrinya dan juga suara celoteh sang putra telah memberinya keyakinan penuh.
Satu jam kemudian , Zavian dan Nayara berjalan melewati gate penerbangan internasional menuju sebuah negara yang menjadi pilihan mereka. Zavian mematikan ponsel sebelum pesawat lepas landas dan membawanya terbang menjauh dari segala hingar bingar yang memberinya luka. Tidak ada salam perpisahan Mama Widya maupun Fabian.
Zavian memutuskan untuk menjauh dan menghilang dalam langkah sunyi.
.
...****************...
__ADS_1