Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Jiwa yang penuh luka


__ADS_3

“ Papa harus semangat sembuh ya,” ujar Mama widya setelah suaminya selesai makan. 


“ Sekarang kita sudah punya cucu ,lho. Apa Papa gak mau menggendong dan bermain-main dengan anaknya Zavian?”


Papa Adrian menganggukkan kepalanya pelan sebagai respon atas ucapan istrinya barusan. Selama dua bulan belakangan, dia telah menjalani berbagai pengobatan agar bisa kembali pulih. Bahkan Papa Adrian juga telah berobat ke Singapura dan mendapatkan penanganan medis di sana selama dua minggu. Ada beberapa perubahan kecil yang  mulai terlihat seperti saraf motoriknya yang mulai bisa melakukan gerakan - gerakan halus.


“ Mama meminta Nayara membawa anaknya ke sini tapi katanya Zean lagi demam setelah imunisasi. Kayaknya besok atau lusa baru cucu kita bisa ke sini untuk main-main,” jelas Mama Widya. Dia sengaja bercerita begitu untuk memberi motivasi pada suaminya agar semangat dalam menjalani pengobatan. 


“ Pokoknya Papa harus segera sembuh. Mama yakin banget kalau nanti Papa akan jadi kakek pengabdi cucu saat melihat betapa menggemaskannya Zean tumbuh sebagai Zavian versi mini,” ucap Mama Widya kemudian.


Papa Adrian mengangguk lagi, kali ini dengan salah satu sudut bibirnya yang sedikit terangkat . Dia sudah beberapa kali melihat cucunya secara langsung karena Nayara dan Zavian cukup sering datang berkunjung menemuinya sambil membawa bayi itu. Tapi ketika mendengar Mama Widya bercerita tentang cucunya, ada letupan semangat di dalam diri Papa Adrian untuk segera sembuh.


“ Mama tinggal sebentar, ya,” ujar Mama Widya sambil menyelimuti kaki suaminya. Wanita itu menoleh ke arah suster dan meminta agar piring bekas makan Papa Adrian dibawa ke dapur. 


Mama Widya sempat masuk ke kamarnya dan bicara sebentar dengan suaminya, tapi setelah itu dia keluar lagi karena seseorang menelepon dan dia tidak ingin menjawab di hadapan Papa Adrian. Lama sekali Mama Widya keluar dan tidak kembali hingga setengah jam kemudian. Papa Adrian menatap layar televisi yang sedang menyiarkan siaran langsung tentang kecelakaan yang terjadi di salah satu ruas jalan protokol .Kecelakaan itu mengakibatkan satu pengendara motor meninggal dunia dan beberapa korban luka-luka. Dari layar televisi tampak terjadi kemacetan parah karena posisi mobil yang membelintang di tengah jalan.


Semua korban sudah dievakuasi sebelum siaran langsung itu diadakan. Orang-orang masih berkumpul di lokasi kejadian dan kebisingan masih mendominasi suasana. Presenter televisi terus berbicara cepat menyiarkan siaran langsung dari lokasi kejadian. 


Air mata Papa Adrian mengalir membasahi pipinya saat melihat plat mobil hitam itu. Mudah sekali baginya mengenali mobil jenis itu karena dirinyalah yang membelinya dua tahun lalu. Papa Adrian memang tidak bisa bicara, tapi batinnya berteriak keras menyebut nama Fabian dengan jiwa yang penuh luka.


“ Ada satu korban meninggal dunia, yaitu pengendara motor yang ditabrak dari arah belakang hingga korban membentur aspal dengan kuat. Diduga pengemudi mobil sedang berada di bawah pengaruh obat-obatan karena kabarnya polisi mendapati barang bukti berupa beberapa pil obat terlarang.” Presenter wanita itu menjelaskan secara detail. Kamera wartawan kembali menyorot mobil ringsek itu dan memperlihatkan kekacauan yang terjadi di dalamnya.


Papa Adrian terisak pilu dalam diamnya. Tangannya yang kaku sedikit bergerak karena gemetar. 


“ Selain pengemudi, di dalam mobil itu juga ditemukan seorang wanita dalam keadaan tidak mengenakan busana yang utuh. Kondisi wanita ini cukup parah karena  diduga tidak memakai sabuk pengaman saat benturan hebat itu terjadi,” ujar presenter itu.

__ADS_1


Papa Adrian memejamkan mata hingga tangisannya luruh sepenuhnya. Ada rasa sakit yang tidak dapat diungkapkannya dan hanya tertahan di dalam dadanya saja. Menyakitkan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


“ Matikan tivinya ! Cepat matikan !” Suara teriakan Mama Widya menggema ke seluruh penjuru ruangan . Lalu detik berikutnya suster yang merawat Papa Adrian berlari masuk ke dalam kamar dan meraih remot untuk mematikan televisi. 


“ Pa……” Mama Widya menatap suaminya dengan sorot wajah khawatir. 


Sayangnya, segalanya sudah terlambat. Papa Adrian telah mengetahui segalanya dengan jelas sebelum segalanya ditutup rapat. Tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan.


“ Fa-bian…..” dengan susah payah Papa Adrian menggumamkan nama anaknya.


Mama Widya menggigit bibir menahan rasa sesak di dalam dadanya. Sebisa mungkin dia menahan agar tidak ada air mata yang keluar tapi akhirnya dia menyerah. Mama Widya menangis terisak mengingat apa yang sedang terjadi pada anaknya. 


Beberapa waktu yang lalu dia menerima kabar bahwa Fabian mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit. Tapi yang membuat dadanya sesak bukan hanya kabar kecelakaan itu saja, tapi berita yang mengikuti setelahnya. Fabian ditemukan kecelakaan bersama seorang wanita setengah telanjang dan diduga karena di bawah pengaruh obat-obatan terlarang. 


Kondisi ini tidak hanya menyedihkan tapi juga sangat memalukan. Karena kecelakaan itu diliput oleh wartawan dan disiarkan secara langsung. Lalu  desas-desus berkembang dengan sangat cepat membawa-bawa nama besar Rayyansyah.


Tidak lama kemudian ada panggilan masuk dari Zavian dan Mama Widya langsung menjawabnya.


“ Mama gak usah panik. Gak perlu juga datang ke sini,” ucap Zavian dari seberang sana.”


Sekarang aku sudah ada di rumah sakit dan meminta agar orang-orang menjaga Fabian dari kejaran media. Aku juga sudah menghubungi pengacara untuk membantu mendampingi kasus ini.”


“ Berapa orang korban tabrakannya ?” tanya Mama Widya  lagi.


“ Korban meninggal ada satu dan ada juga korban yang luka-luka serta kerusakkan lainnya,” jawab Fabian .”Mama tenang saja, semuanya akan diatasi dengan baik.”

__ADS_1


“ Apa benar Fabian sedang berada di bawah pengaruh obat-obatan terlarang ?” tanya Mama Widya dengan dada yang mendadak nyeri.


Ada suara hembusan napas lelah dari seberang sana. Zavian juga ikut frustasi melihat bagaimana keadaan Fabian sekarang. “ Sepertinya memang begitu, Ma.”


“ Tolong kamu handle masalah ini ya. Mama percaya sama kamu, Za,” ucap Mama Widya yang terdengar putus asa. Memang hanya Zavian yang dapat diminta tolong dalam keadaan seperti ini. 


Zavian menyanggupi permintaan Mamanya dan menutup sambungan telepon. Mama Widya menatap pilu ke arah Papa Adrian yang kini semakin bersimbah air mata. Kepiluan merungkup mereka berdua dengan begitu erat hingga rasanya sulit untuk melepaskan diri dari genangan air mata.


Sedangkan di rumah sakit, Zavian menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan perasaan yang teramat kacau. Suara tangisan dari keluarga korban kecelakaan ini memenuhi ruang IGD dan mereka berteriak meminta keadilan. 


Saat menerima kabar Fabian kecelakaan, Zavian segera menuju rumah sakit dan meninggalkan Nayara bersama Zean. Dia merelakan waktu kebersamaan dengan keluarganya terampas demi mengurus kakaknya yang tak henti-hentinya bermasalah.


Zavian langsung bergerak cepat menghubungi pengacara dan juga para security  untuk menjaga ruang tempat Fabian dirawat. Zavian menghindari pertanyaan dari beberapa media yang datang meliput, begitu juga dengan pihak kepolisian yang berusaha meminta keterangan. 


Dalam keadaan genting dan sempit itu, Zavian segera berbicara dengan dua orang pengacaranya dan menegaskan batasan mana yang boleh dibicarakan kepada publik dan mana yang harus ditutupi.


Kedua pengacara itu juga ditugaskan untuk mewakili pihak Fabian dalam berhadapan dengan keluarga korban. Dia telah berjanji akan memberikan keadilan untuk keluarga korban, tentu saja dengan cara yang sama-sama disetujui oleh kedua belah pihak.


“ Nyawa diganti nyawa !Aku tidak rela ayahku ditabrak sampai meninggal seperti ini!” teriakan itu melengking nyaring dari anak korban yang ditabrak oleh Fabian. 


“ Tenang , mbak. Tenang…” pengacara bernama Aldi itu berusaha menenangkan pihak keluarga korban. 


“ Gak ! Kami gak akan membiarkan pelaku lolos dari jerat hukum ! Tidak ada kata damai untuk pembunuh seperti itu ! “ seru wanita itu kemudian.


Zavian menatap kekacauan itu dari kejauhan dengan dada yang dipenuhi rasa nyeri. Dia merasa bahwa sikap keras dari keluarga korban itu termasuk hal yang wajar. Karena tidak ada anak yang baik-baik saja saat ditinggalkan oleh orang tuanya secara mendadak seperti ini.

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2