
Mama Widya yang tahu Fabian tengah berusaha mati-matian seorang diri mencoba untuk memberikan support . Dia juga membujuk Om Farhan untuk kembali ke perusahaan keluarga Rayyansyah tapi suami adik iparnya itu justru menolak.
“ Aku sudah nyaman bekerja di perusahaan milik Zavian dan aku tidak akan kembali lagi kesana,” jawab Om Farhan. “ Yudha juga memperlakukanku dengan baik di sana. Dia menghargaiku berdasarkan kemampuan yang kumiliki.”
“ Aku mohon, Farhan. Apa kamu gak kasihan sama Fabian yang kewalahan sendirian ?” ujar Mama Widya penuh permohonan.
“ Gak, Mbak. Aku tidak akan mengubah keputusanku,” sahut Om Farhan.” Enak saja memintaku kembali setelah selama ini kalian merendahkan dan menghinaku.”
“ Aku minta maaf,” Ucap Mama Widya yang semakin mengiba.
“ Dan aku tetap akan menolak,” tegas Om Farhan.
Tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan keadaan agar membaik. Hanya ada penyesalan yang tidak berarti lagi.
Mama Widya terpaksa menelan kenyataan pahit setelah dirundung kesialan bertubi-tubi. Dan, dia semakin menyesali kepergian Zavian dan merasa kehilangan dengan teramat sangat. Pada malam-malam yang terasa panjang. Mama Widya terjaga dan menangis seorang diri untuk menyesali segalanya.
Ditambah pula, penyakit yang diderita Fabian bocor ke publik. Entah siapa yang membocorkan hal itu dan membuat situasi menjadi semakin bertambah buruk. Sebagai pengidap HIV, Fabian mendapat gunjingan dari semua orang dan itu menambah rasa frustasi di dalam dirinya.
Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi saat mendapati kenyataan pahit bahwa tidak ada orang yang menyukai kepemimpinan Fabian. Apalagi setelah Fabian memutuskan untuk mengurangi bonus serta tunjangan dan juga tidak memperpanjang kontrak karyawan demi efisiensi perusahaan.
Mama Widya melihat sendiri bagaimana sebagian dari karyawan di perusahaannya melakukan aksi demo untuk meminta agar Fabian mundur dari jabatannya.
“ Pak Fabian yang mundur atau kami yang mengundurkan diri massal?” Seorang laki-laki berorasi di depan gedung dan mencegat mobil yang ditumpangi Fabian dan Mama Widya.
“ Mundur ! mundur ! mundur !”
Teriakan demi teriakan menggema disertai dengan spanduk berisi tulisan penuh kecaman. Fabian dipaksa turun dan menghadapi aksi demo karyawannya sendiri. Setelah beberapa orang security mengawal dan memberi perlindungan, Fabian memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah pendemo. Tapi tiba-tiba…….
Plakkkk……
Fabian meraba bagian belakang kepalanya yang dilempar oleh sesuatu yang berbau busuk dan anyir. Dia menggeram hingga wajahnya berubah menjadi merah padam. Lalu lemparan telur busuk kembali meluncur ke arahnya.
“ Kami tidak mau dipimpin oleh laki-laki arogan !”
__ADS_1
“ Pengidap HIV sepertimu seharusnya tidak kemana-mana dan diam di rumah. Kamu mau menularkan penyakitmu, hah ?”
Mama Widya nyaris mati saat melihat anaknya mendapat hukuman sosial dan diperlakukan dengan begitu hina.
“ Berhenti !” teriak Mama Widya sambil melindungi anaknya dari amukan orang-orang yang sedang berdemo .
Kemudian Mama Widya mendorong Fabian masuk ke dalam mobil dan memerintahkan sopirnya untuk pergi dari sana. Mereka harus menghindar secepat mungkin jika tidak ingin keadaan semakin bertambah kacau dan Fabian celaka.
“ Dasar karyawan siialan !” umpat Mama Widya dengan wajah memerah penuh amarah ,” panggil manajer HRD untuk menemuiku setelah ini !”
Dia tidak bisa membiarkan anaknya dihujat dan diperlakukan sehina ini. Oleh karena itu, Mama Widya berpikir bahwa dia harus membuat keputusan penting untuk menghukum mereka.
“ Pastikan setiap mereka mendapatkan hukuman setimpal atas perlakuan rendahan ini,” ujar Mama Widya semakin geram.
“ Ma ….. biar aku yang mengatasi semua ini,” ujar Fabian sambil meraih tisu sebanyak -banyaknya untuk menghapus ceceran telur di tubuhnya.
“ Gak ! Biar Mama yang membuat keputusan kali ini ! Mereka harus diberi pelajaran supaya jangan seenaknya begini . Dasar kurang ajar !” maki Mama Widya marah.
Fabian diam saja dan dia tidak bersuara lagi. Aroma anyir dan busuk nyaris saja membuatnya muntah. Berkali-kali dia menahan napas untuk menahan gejolak di dalam perutnya.
“ Iya,” jawab Fabian dengan begitu pelan.
Selain fisiknya yang sakit , hati di dalam dadanya jauh lebih sakit lagi. Ini kali pertama Fabian diperlakukan sehina ini oleh orang lain. Biasanya dialah yang bersikap seenaknya kepada orang lain tanpa ada yang berani protes.
“ Setelah ini kita harus cari siapa biang kerok di balik demo siialan ini. Pasti ada provokatornya !” ujar Mama Widya.
“ Dari mana mereka tahu kalau aku mengidap HIV?” tanya Fabian dengan perasaan nyeri .
“ Makanya, kita harus mengusut kasus ini sampai tuntas !” seru Mama Widya lagi.
Pikiran Fabian mencoba untuk menerka -nerka siapa yang telah membocorkan penyakitnya kepada orang lain. Karena selama ini hanya keluarga dekatnya saja yang tahu bahwa dia mengidap penyakit HIV. Lalu terbesit kecurigaan terhadap anggota keluarga Rayyansyah, tapi bagaimana mungkin mereka tega membocorkan rahasia besar ini kepada publik ?
“ Apa jangan-jangan pelayan di rumah yang membocorkan rahasia ini ?” tanya Fabian lirih.
__ADS_1
Mama Widya yang mendengar hal itu langsung menoleh cepat. Dia mengerutkan kening, lalu bertanya,” Kamu bilang apa , Bian ?”
“ Oh, itu…. aku sedang memikirkan tentang kemungkinan orang yang membocorkan penyakitku ke publik, Ma. Apa mungkin keluarga kita sendiri yang tega melakukan itu ?” tanya Fabian dengan gusar.
Mama Widya termenung beberapa menit, sebelum akhirnya dia meminta Fabian untuk sabar. Dia tidak mau Fabian kepikiran tentang hal ini apalagi sampai membuat kondisi kesehatannya kembali drop. Di dalam hatinya, Mama Widya berjanji akan mengusut tuntas kasus ini dan menemukan siapa yang telah berbuat sejahat ini untuk menjatuhkan keluarganya.
Setelah sampai di rumah Mama Widya memanggil manajer HRD untuk datang ke rumahnya. Dia juga meminta kepada asistennya untuk menyelidiki apa penyebab karyawan demo dan juga siapa yang menghasut mereka untuk melakukan hal ini.
Tidak hanya itu, Mama WIdya juga memanggil pekerja rumah untuk dimintai keterangan, khususnya salah seorang pekerja yang sempat diminta merawat Fabian selama di rumah sakit . Mama Widya menginterogasi mereka satu per satu demi mencari tahu siapa sosok pengkhianat itu.
“ Saya tidak pernah membicarakan rahasia ini kepada siapapun, Nyonya,” ucap pekerja rumah yang kemarin ditugaskan menjaga Fabian di rumah sakit.
“ Bagaimana aku bisa mempercayaimu,” desis Mama Widya dengan mata yang menyorot tajam.” Orang luar sepertimu bisa saja berkhianat dan membuka mulut dengan tidak tahu diri !”
“ Sungguh, Nyonya. Saya tidak pernah mengatakan sedikitpun tentang penyakit pak Fabian kepada siapapun. Saya berani bersumpah,” balas pekerja itu dengan wajah semakin pucat.
“ Kalau sampai terbukti bahwa kamu melakukan hal itu, maka saya sendiri yang akan turun tangan memberimu hukuman !” ancam Mama Widya.
Wajah laki-laki itu semakin pucat saat mendapatkan ancaman dari Mama WIdya. Dia menggeleng kuat-kuat dan kembali meyakinkan bahwa bukan dialah pelaku yang telah menyebarkan rahasia besar seorang Fabian Rayyansyah.
“ Selidiki juga dokter Vina dan juga pihak rumah sakit tempat Fabian dirawat kemarin. Mereka juga berhak untuk dicurigai,” ujar Mama Widya pada asistennya. Perempuan itu mengangguk dan segera menelepon orang kepercayaannya.
Sementara itu, Fabian masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Dia menangis sendirian di bawah guyuran air yang membasahi tubuhnya. Teriakan dan hinaan yang tertuju padanya berhasil menyayat-nyayat hatinya. Mentalnya yang selama ini hancur kembali terpuruk dengan perasaan yang jauh lebih buruk lagi.
“ Seharusnya aku tidak kembali ke sana,” ujar Fabian sambil menangis . Tapi paksaan Mama Widya yang memintanya untuk kembali ke perusahaan Rayyansyah tidak bisa diabaikan begitu saja.” Seharusnya aku tidak menjabat apa-apa. Sejak dulu mereka sudah membenciku.”
Sedangkan Mama Widya tidak tahu bahwa anaknya menderita beban mental yang sangat dalam akibat harus mengikuti semua egonya. Di dalam pandangannya, Fabian adalah anak yang patuh dan tidak keberatan jika harus menjalani apa yang telah diputuskannya.
Fabian melepaskan napas lelah yang terdengar begitu berat. Dia marah dan membenci dirinya sendiri yang tidak bisa menolak kemauan Mama Widya yang egois. Dia juga marah pada Zavian yang pergi tanpa jejak sehingga dia harus menanggung semua kekacauan ini seorang diri.
.
...****************...
__ADS_1
Kasihan bgt ya fabian, ya ampun kenapa aku sekejam ini..... Eh, tapi kalo di inget² Fabian dr awal kan udh jahat... Gpp lah qta bikin dia menderita dan mati perlahan... Kalo lngs yellow flag gak seru, aku pengen lihat dia menderita dl sblm author buang ke alam lain 😏😏😏