
Cabin crew dari pesawat yang ditumpangi Zavian telah mengumumkan tentang keadaan suhu di luar dan meminta agar penumpang memakai pakaian hangat. Zavian segera memastikan jaket yang dipakai oleh anak dan istrinya terpasang dengan benar. Suhu di luar sedang berada di angka minus lima derajat dengan kondisi yang sangat dingin. Tumpukan salju tampak membentuk hamparan tepung putih yang memenuhi apron bandara.
Ada gemuruh di dalam dadanya yang kemudian membuat detak jantungnya berdegup hebat. Dia telah menempuh belasan jam penerbangan untuk sampai ke negara ini dan tidak menyesali apapun. Ada sebuah jalan baru yang kini terhampar di dekat kakinya, menunggu untuk ditapaki dengan berbagai perjuangan yang mungkin saja tidak mudah. Tapi Zavian menyadari bahwa keputusannya bukan hanya sebatas pelarian dari rasa sakitnya.
Zavian butuh tempat baru untuk berkembang dan menggali potensi di dalam dirinya. Dia ingin mencoba tantangan yang jauh lebih berat untuk mengukur sejauh mana dirinya bisa bertahan. Oleh karena itu, Zavian sampai di sini, di salah satu negara bagian Amerika Serikat.
“ Dingin banget,” bisik Nayara seraya membenarkan topi rajut putranya yang masih nyaman di gendongan Zavian.
“ Pegang tanganku,” ujar Zavian sambil mengulurkan tangan ke arah istrinya.” Nanti hilang dicuri orang, cantik banget soalnya.”
“ Gombal,” sahut Nayara menanggapi candaan suaminya.
Nayara meletakkan tangannya di dalam genggaman Zavian yang terasa hangat meski terlapisi gloves. Selanjutnya, mereka berjalan keluar dengan beriringan dan melewati bagian imigrasi untuk pemeriksaan data.
Seorang laki-laki telah menunggu kedatangan mereka dan segera menghampiri dengan begitu antusias. Zavian dan laki-laki itu berjabat tangan dan saling menanyakan kabar masing-masing.
“ Ini istriku, namanya Nayara,” ujar Zavian memperkenalkan istri dan temannya.” Sayang, ini teman yang kuceritakan padamu. Namanya Austin .”
“ Nice to meet you,” sapa Austin dengan ramah.” Aku dan suamimu berteman baik saat kuliah dulu.”
Nayara mengangguk seraya tersenyum. Kemudian Austin membawa mereka keluar dari lingkungan bandara menuju tempat tinggal yang telah disiapkan. Zavian benar-benar merencanakan segalanya dengan matang sehingga saat mereka datang, semuanya sudah tersedia.
Zavian memilih rumah dengan status sewa per tahun. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota dan punya fasilitas yang memadai. Rumah itu tidak terlalu besar tapi terlihat nyaman untuk ditempati. Ada halaman yang luas di sekelilingnya dengan taman yang bisa ditanami bunga sesuai dengan musim.
“ Semoga kamu betah tinggal di sini,” ujar Zavian.
“ Dimanapun berada, asalkan ada kamu di sisiku pasti akan betah, By.” balas Nayara.
__ADS_1
“ Terima kasih karena sudah mau menemani langkahku sampai sejauh ini,” bisik Zavian yang tiba-tiba merasa sendu.
“ Aku akan selalu ada disampingmu ,By. Itu janji yang harus kutepati,” ucap Nayara.
Zavian memeluk istrinya dengan begitu erat. Jika bukan karena Nayara dan Zeano, mungkin Zavian tidak akan bisa bersikap sekuat ini.
Sekarang keduanya siap menjalani babak baru kehidupan mereka di tempat yang tak terjangkau oleh Mama Widya ataupun Fabian. Meskipun masa depan belum pasti tapi Zavian yakin bahwa dia akan baik-baik saja selama ada Nayara di sisinya.
Mama Widya sama sekali belum menyadari bahwa Zavian telah meninggalkannya ke tempat yang jauh. Hari-harinya masih berjalan dengan normal tanpa ada firasat apa-apa. Dia memang sengaja tidak menghubungi Zavian karena sadar bahwa hubungan mereka masih memanas.
Setelah hampir dua minggu, Mama Widya mulai tidak tahan. Situasi kantor sedang kacau karena Om Farhan resign secara mendadak meninggalkan posisi CEO yang belum punya pengganti . Dewan direksi mendesak untuk kembali diadakan pemilihan CEO baru dan mereka juga mengeluh tentang berbagai hal.
Sedangkan Fabian malah jatuh sakit setelah mengurus berbagai hal sendirian. Imun tubuhnya yang lemah semakin memperburuk keadaan, bahkan Fabian terpaksa dirawat di rumah karena penyakitnya yang susah sembuh. Fabian menolak dirawat di rumah sakit karena dia selalu merasa tidak terima ketika mendapat pelayanan medis khusus untuk penderita HIV reaktif.
“ Mama harus membujuk Zavian agar mau mengatasi semua masalah ini ,” ujar Mama Widya.
“ Jebakan apaan ! Zavian itu cuma lagi butuh uang untuk membangung gedung barunya, makanya dia jualin semua saham yang ada di perusahaan kita,” jelas Mama Widya dengan begitu yakin.
“ Itu cuma alasan Zavian saja. Dia jelas tidak suka kalau aku kembali bekerja di sana,” ucap Fabian menambahkan .” Dia biarin aku join karena terpaksa nurut sama Mama, bukan karena dia membutuhkanku.”
“ Zavian sendiri yang bilang ke Mama kalau dia gak pernah benci ataupun dendam sama kamu. Jadi, kamu gak usah merasa gak enakan begitu sama Zavian,” ucap Mama Widya kemudian .
Fabian mendesahkan napas pelan. Dia tidak tahu bagaimana harus mengatasi semua permasalahan ini seorang diri. Orang-orang di kantor dan juga perusahaan rekanan mulai membicarakan kehadiran Fabian yang dianggap tidak pantas. Mereka juga membicarakan Zavian dan berharap agar adiknya itu kembali ke perusahaan seperti sediakala.
Hal yang membuat Mama Widya semakin geram adalah berita mengenai bergabungnya Om Farhan dengan perusahaan Zavian. Mama Widya merasa bahwa suami dari adik iparnya itu telah berkhianat dan hanya memikirkan diri sendiri.
“ Cih ! Dia yang katanya ingin memajukan perusahaan mertua, sekarang malah pergi ke tempat lain dan meninggalkan kita dalam kekacauan,” cibir Mama Widya dengan sinis.
__ADS_1
“ Om Farhan hebat juga dalam mencari batu lompatan,” timpal Fabian.
“ Kamu telepon Zavian sekarang ! Kita harus bicara dengannya secara profesional dan minta agar Farhan tidak diterima di sana !” perintah Mama Widya.
“ Nomornya gak aktif sejak seminggu yang lalu,” ucap Fabian lagi.
“ Salah satu kebiasaan buruk Zavian adalah susah untuk dihubungi,” gerutu Mama Widya.
Karena tidak bisa menghubungi Zavian, maka Mama Widya memutuskan untuk mendatangi Zavian secara langsung. Hubungannya dengan Zavian tidak boleh memburuk dalam waktu lama karena dia masih membutuhkan anaknya itu.
Oleh karena itu, Mama Widya menyiapkan sekotak pie susu dengan toping buah-buahan segar buatannya sendiri dengan perasaan berdebar. Kemudian Mama Widya meminta sopir untuk segera melajukan kendaraan menuju kediaman Zavian dan tidak sabar untuk segera sampai.
Mama Widya berharap bahwa setelah ini mereka kembali bicara dari hati ke hati tanpa harus tarik menarik mana yang lebih penting antara perasaan Zavian atau jabatan Fabian. Jujur saja, Mama Widya hanya ingin Zavian menuruti semua kemauannya tanpa penolakan. Itulah kenapa hari ini Mama Widya memutuskan untuk menurunkan ego dan mendatangi Zaviana terlebih dahulu.
Sayangnya, mata Mama Widya terbelalak lebar dan hampir menjerit marah ketika melihat sebuah spanduk bertuliskan DIJUAL terpasang di depan pagar tinggi bercat putih itu.
“ Zavian lagi bercanda , ya ? “ tanya Mama Widya. Dia turun dari mobil dengan tergesa-gesa dan menatap tulisan itu dalam jarak dekat.” Oh , astaga ! Apa-apaan ini?”
.
...***************...
Mau ketawa takut dosa tapi gak ketawa mubazir, kaget gak tuh 🤣🤣🤣
Panik gak ....panik gak... 🤭🤭
panik dia ditinggal zavian nanti gak ada lagi yg ngurusin masalahnya.. Dateng karena ada maunya doang 😏
__ADS_1