
“ Zavian benar-benar sudah bisa berjalan seperti biasa?” tanya Mama Widya saat berkunjung ke rumah anaknya.
“ Sudah, Ma. Dokter bilang perkembangannya cukup bagus. Tapi harus tetap hati-hati dan belum boleh bertumpu lama -lama pada kaki kiri atau membawa beban berat biar proses penyembuhannya tidak terganggu ,’’ jawab Nayara.
“ Syukurlah kalau begitu,” ucap Mama Widya dengan sedikit lega.
Wanita itu menatap ke arah Nayara dan mengamati perutnya yang buncit. Selama hamil Nayara mengalami cobaan yang begitu berat tapi tidak pernah sekalipun dia mendengar menantunya itu mengeluh.
“ Nanti mau lahiran normal atau caesar , Nay?” tanya Mama Widya penasaran.
“ Lihat nanti saja, Ma. Apapun prosesnya, semoga anak kami lahir dengan selamat,” jawab Nayara.
“ Kamu juga harus selamat, Nay. Kalau butuh apa-apa langsung hubungi Mama, ya.” pesan Mama Widya pada menantunya .
Nayara mengangguk seraya tersenyum,” Iya, Ma.”
“ Tapi kayaknya kamu ataupun Zavian gak butuh bantuan Mama, sih. Soalnya gak pernah sekalipun kamu meminta Mama untuk melakukan sesuatu,” keluh Mama Widya kemudian. Nada suaranya terdengar begitu sedih dan kecewa.
“ Bukan begitu, Ma,” sahut Nayara cepat. Wanita hamil itu mendekat dan meraih tangan ibu mertuanya dan mengusap-usap punggung tangan Mama Widya,” Kami pasti butuh bantuan Mama tapi sampai sejauh ini belum ada hal yang begitu berat. Jadi belum waktunya saja kami merepotkan Mama.”
Mama Widya mengangguk pelan. Kadang dia ingin sekali dihubungi untuk diminta melakukan sesuatu oleh anak dan menantunya. Sayangnya, Zavian terlalu mandiri hingga terkesan tidak membutuhkan bantuan siapa-siapa. Dia bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa melibatkan Mama Widya.
“ Mama senang melihatmu baik-baik saja, Sekarang Mama harus pergi,” pamit Mama Widya sambil meraih tas tangannya.
“ Mama gak nunggu Zavian pulang ?” tanya Nayara.
“ Gak usah, Nay. Soalnya Mama mau ke kantor Papa,” jawab Mama Widya .
__ADS_1
“ Oh, oke . Hati-hati di jalan ya, Ma.” pesan Nayara.
Mama Widya sempat mengelus perut menantunya sejenak sebelum memutuskan untuk pergi. Setelah itu dia menuju kantor suaminya dengan diantarkan oleh sopir. Sebenarnya Papa Adrian ingin sekali pensiun tapi melihat kekacauan yang sedang terjadi di perusahaannya membuat pria paruh baya itu kembali bekerja ekstra keras.
Fabian saja tidak cukup untuk diandalkan. Disaat kondisi kesehatan yang menurun seperti ini, Papa Adrian baru menyadari bahwa dia telah membuang aset berharganya. Dia menyesal, tapi segala penyesalan itu sudah terlambat. Zavian tidak akan pernah mau kembali bergabung dengannya karena anak itu sudah memiliki perusahaan sendiri.
“ Sudah ada beberapa karyawan yang resign semenjak Zavian keluar dari sini ?” tanya Papa Adrian sambil menatap layar komputer di hadapannya.
Fabian tidak memberikan jawaban karena tahu bahwa pertanyaan itu dilontarkan untuk memberinya tekanan. Papa Adrian sudah tahu jumlah pasti karyawan yang mengundurkan diri dari perusahaan ini dan bergabung ke perusahaan Zavian.
“ Apa tindakanmu untuk mencegah ini terjadi?” tanya Papa Adrian lagi.
“ Aku sudah menghubungi pihak HRD dan meminta agar mereka menolak pengajuan resign dan juga one month notice,” jawab Fabian.
“ Hanya itu ?” tanya Papa Adrian semakin sengit.
Fabian menelan salivanya, pikirannya benar- benar buntu. Ada banyak masalah yang akhir-akhir ini membuatnya merasa terbebani. Dan di antara kemelut itu , tidak ada satupun hal baik yang datang padanya agar suasana hatinya menjadi sedikit lega.
“ Baik, Pa,” sahut Fabian pelan.
“ Seriuslah dalam bekerja, Bian. Jangan sampai perusahaan yang dibangun oleh Kakekmu ini tumbang di tanganmu,” ucap Papa Adrian dengan kemarahan yang terpendam.
“ Seharusnya Zavian yang ada di sini, bukan kamu…”
Fabian sudah tidak memedulikan apakah dirinya tersinggung atau tidak. Perasaannya sudah kebal oleh ucapan Papanya yang selalu menohok .
Selesai berbicara dengan Papanya , Fabian keluar dari ruangan CEO dengan wajah memerah penuh amarah. Dia membanting pintu ruangannya hingga sekretarisnya tersentak kaget . Fabian mengumpat dengan kata-kata kasar demi melepaskan rasa sakit hatinya.
__ADS_1
Fabian butuh pelampiasan atas segala beban berat dan emosi yang kini merundungnya. Dia segera menghubungi seseorang untuk membuatnya bersenang-senang malam ini. Seperti sebelum-sebelumnya, Fabian akan mencari wanita yang mirip dengan Nayara untuk melengkapi fantasinya.
“ Saya punya anggota baru yang lebih fresh, apakah Bapak mau mencobanya?” tanya wanita di seberang telepon.
“ Kau hafal dengan apa yang kumau?” tanya Fabian pada wanita itu.
“ Badan ramping, kulit putih, rambut hitam panjang dan mata yang cantik. Anggota baru saya memiliki ciri-ciri itu,” jelas si wanita.
“ Oke,” sahut Fabian. “ Suruh dia segera menuju kamar hotel dan jangan buat aku yang menunggunya. Aku akan meluncur ke hotel secepatnya.”
“ Baik, Pak,” sahut wanita dari seberang.
Fabian segera menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas keluar dari ruangannya. Dia sempat bertemu dengan Mama Widya di lorong dan mengatakan bahwa dua ada urusan mendadak. Mama Widya tidak menaruh curiga pada anak laki-lakinya itu dan berjalan menuju ruangan suaminya.
Fabian mengendarai mobilnya menuju salah satu hotel. Sesekali dia akan mengumpat saat terjebak kemacetan atau harus berhenti saat di lampu merah. Setibanya di hotel, Fabian menemui resepsionis dan menerima keycard untuk kamarnya.
Saat membuka pintu, Fabian menemukan sosok wanita yang sedang menghadap ke jendela dengan mengenakan gaun hitam model backless yang menampilkan punggung mulusnya. Dari belakang , fisik wanita itu mirip Nayara dengan postur tubuh tinggi ramping dan rambut panjangnya.
Tapi ketika wanita itu berbalik dan mereka saling bertatapan, keduanya sama-sama terkejut. Mereka saling kenal satu sama lain.
Dalam rasa kagetnya yang mendera secara tiba-tiba, Fabian masih menyempatkan diri menatap keycard di tangannya demi memastikan bahwa dia tidak sedang salah kamar. Dan benar, dia tidak sedang berada di kamar yang salah.
“ Mas Fabian…. Ngapain di sini ?” tanya wanita itu.
“ Ini kamar yang khusus ku sewa untuk wanita bayaranku.”
.
__ADS_1
...****************...
Hayo siapa itu yg ketemu Fabian ?