
Flashback
Papa Adrian membaca laporan audit perusahaan dan menemukan sebuah kejanggalan. Dia berusaha mencari tahu dan akhirnya dihadapkan pada sebuah fakta menyakitkan .
Laporan yang diterimanya menunjukkan bahwa Fabian telah menggadaikan beberapa aset perusahaan kepada salah satu Bank Swasta. Menurut perjanjian dan surat pengesahan yang dilakukan oleh kedua belah pihak, transaksi itu terjadi empat bulan yang lalu. Parahnya lagi, Fabian memalsukan tanda tangan Papa Adrian untuk mencairkan dana yang begitu besar.
“ Kurang ajar ! “ umpat pria paruh baya itu dengan wajah memerah menahan marah.
“ Anak siialan ! Durhaka ! Tidak tahu terima kasih!”
Segala kemarahan yang ada di dalam diri papa Adrian tercurah keluar dan dia terus mengumpat tanpa rasa malu. Dipandanginya surat tagihan beserta nominal yang tertera di sana. Rasanya seluruh tulang di dalam tubuh Papa Adrian dicabut satu per satu dengan begitu kejam.
Dia duduk menyandar di kursi dan merasakan dadanya berdenyut cepat dan sakit. Emosinya membuncah dengan begitu hebat hingga dia tidak sanggup untuk melakukan apa-apa lagi. Hanya duduk diam sambil merasakan betapa hebat getaran di tubuhnya saat ini.
Sepuluh milyar bukanlah angka yang kecil. Meski di mata pengusaha seperti Papa Adrian nominal itu masih bisa dibayarnya. Tapi masalah di sini adalah tentang Fabian yang menggadaikan aset perusahaan tanpa persetujuannya. Tindakan ini sangat beresiko dan bisa menghancurkan perusahaan kapan saja.
Setelah dirasa bisa mengendalikan emosi, Papa Adrian menyuruh sekretarisnya untuk memanggil sang anak. Fabian pun langsung diminta oleh sekretarisnya menemui Papa Adrian di ruangannya.
Fabian berdecak pelan karena tidak suka berhadapan dengan ayahnya itu.
Akhir-akhir ini hubungan mereka semakin memburuk dengan tekanan demi tekanan yang diberikan oleh Papa Adrian . Hal itu jelas membuat Fabian kesal bukan main.
“ Ada apa , Pa?” tanya Fabian setelah duduk di hadapan ayahnya. Dia mengabaikan raut wajah Papa Adrian karena merasa bahwa marah-marah adalah bagian dari pekerjaan ayahnya.
“ Kenapa kau berhutang pada salah satu Bank dan menjaminkan aset perusahaan kita?” tanya Papa Adrian tanpa merasa perlu berbasa-basi. “ Untuk apa uang sebanyak itu, hah ?”
Fabian terkejut mendengar ayahnya berkata demikian. Lalu rasa panik mendera dirinya karena rahasia yang selama ini dijaganya mati-matian akhirnya terungkap juga.
“ Kurang ajar !” Papa Adrian tidak bisa menahan kemarahannya agar tidak meledak.
__ADS_1
“ Berani- beraninya kau melakukan hal ini di belakangku. Kau bahkan memalsukan tanda tanganku dan juga dokumen-dokumen penting lainnya. Kenapa kamu lakukan semua ini ?” lanjut Papa Adrian lagi.
Fabian diam membisu dan mengunci mulutnya rapat- rapat . Kepalanya sibuk memikirkan alasan yang tepat sambil menduga-duga kenapa rahasianya bisa terbongkar.
“ Jawab , Bian !” bentak Papa Adrian yang semakin murka karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari mulut Fabian.
“ Aku butuh uang,” ujar Fabian yang akhirnya menjawab Ayahnya setelah sekian lama berdiam diri.
“ Untuk apa kau butuh uang? Kenapa sampai menggadaikan aset perusahaan seperti ini ?” bentak Papa Adrian lagi.
“ Proyek baruku membutuhkan pendanaan yang banyak agar berjalan dengan baik,” jawab Fabian.
“ Kenapa tidak mendiskusikannya padaku ? Kenapa kamu tidak mengajukan proposal pendanaan? Kenapa kamu bisa seceroboh ini?” cecar Papa Adrian terus menerus.
“ Karena Papa pasti akan menolak proposalku dan menggagalkan rencana ini,” ucap Fabian memberi alasan.
“ Tapi menggadaikan aset perusahaan sama saja dengan bunuh diri, Bian ! Belum tentu profit dari proyekmu akan menutupi semuanya !” tukas Papa Adrian.
“ Hendri lagi? “ tanya Papa Adrian dengan jengkel. “ Memangnya kamu tidak bisa melihat bahwa temanmu itu tipe manusia licik yang bisa memanipulasi keadaan, hah ? Kenapa kamu harus mempercayainya?”
“ Inilah alasan kenapa aku memilih bergerak sendiri daripada mendiskusikannya dengan Papa. Karena Papa selalu meremehkanku dan tidak pernah menaruh kepercayaan padaku!” seru Fabian.
“ Aku tidak meremehkanmu tapi kelakuanmu sendiri yang menunjukkan bahwa keputusanmu selalu tidak tepat. Contoh saja ini,” Papa Adrian melemparkan invoice penagihan hutang perusahaan ke hadapan Fabian. “ Kamu berani memalsukan tanda tanganku untuk mendapatkan ini semua setelah dipengaruhi oleh temanmu itu !”
Fabian yang sudah terlanjur kesal dan merasa bahwa dirinya tidak bersalah langsung tersulut emosi. Dia lelah dimarahi terus menerus untuk setiap tindakan yang sebenarnya memang salah.
“ Memangnya kenapa , Pa? Bukannya Papa sendiri yang mengatakan kepadaku bahwa perusahaan ini akan menjadi milikku. Jadi, sudah saatnya aku bertindak atas kemauanku sendiri!” ucap Fabian dengan lantang.
“ Jaga bicaramu !” bentak Papa Adrian dengan suara tak kalah keras. “ Ayahku membangun perusahaan ini dengan susah payah dan aku mengembangkannya hingga sebesar ini. Tapi kamu….. berani-beraninya membuat semuanya menjadi sulit dan terancam runtuh seperti ini!”
__ADS_1
“ Aku hanya —”
“ Diam !” bentak Papa Adrian membungkam ucapan putra sulungnya itu.” Aku telah berubah pikiran dan tidak akan membuatmu menjabat sebagai CEO yang akan meneruskan perjuanganku. Anak bodoh dan gegabah sepertimu tidak layak menjalankan tampuk kekuasaan di perusahaan ini. Kau tidak layak untuk menjadi penerusku !”
“ Lalu Papa akan memberikan jabatan CEO pada siapa?” tanya Fabian kemudian. “ Hanya aku satu-satunya anakmu yang tersisa!”
“ Aku akan mencari penggantimu. Entah siapapun itu, yang pasti bukan manusia bodoh sepertimu !” ucap Papa Adrian.
“ Brengssek !” umpat Fabian terang-terangan.
“ Bereskan dengan segera masalah hutang-hutang ini !” perintah Papa Adrian kemudian.
“ Tidak! Aku tidak akan membereskannya . Aku tidak akan merasa bersalah atas semua ini. Jika perusahaan yang dibangun kakek ini bangkrut , maka itu adalah kesalahanmu !” teriak Fabian dengan nada tinggi .
Setelah bicara begitu, Fabian keluar dari ruangan ayahnya dengan membanting pintu sekuat tenaga. Dia terang-terangan mengumpat tanpa peduli perasaan orang tuanya.
Sedangkan Papa Adrian menyandarkan punggung sambil menatap kepergian anaknya. Emosinya masih ingin meledak-ledak tapi dia telah kehabisan energi untuk marah-marah.
“ Apa salahku padamu, Bian ?” tanya Papa Adrian dengan pelan. “ Kenapa kamu sampai melakukan hal ini?” ucap Papa Adrian bermonolog. Pria paruh baya itu merasakan sakit sekali dikhianati seperti ini oleh anaknya sendiri.
Padahal selama ini Papa Adrian membela dan menyanjung perbuatan Fabian , tidak henti-hentinya dia membanggakan anak kesayangannya itu pada semua orang. Bahkan Papa Adrian memilih Fabian sebagai pewaris kekuasannya di Raya Corp. Dia sampai tega menutup mata dan mengabaikan saran dari orang-orang yang mengatakan bahwa Zavian jauh lebih baik dari pada Fabian .
Papa Adrian duduk diam dan merenung dengan rasa sakit yang terus menerus berdenyut di dalam dadanya. Dia benar-benar tidak sanggup marah-marah lagi. Ingin menangis rasanya juga percuma. Dia menatap invoice sekali lagi dan mendessah pelan.
Seumur hidupnya menjalankan perusahaan, belum pernah tercipta hutang sebesar ini. Entah itu hutang produktif atau hutang konsumtif , Papa Adrian paling tidak mau mengambil resiko itu.
Hari itu, Papa Adrian pulang ke rumah larut malam dengan badan yang terasa remuk redam. Fisiknya sakit dan lelah sedangkan batinnya terluka dengan begitu hebat. Dia tidak pernah menyangka bahwa Fabian akan setega ini padanya.
.
__ADS_1
...****************...