Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Masa depan yang suram


__ADS_3

“ Jadi, aku positif kena HIV?” tanya Fabian dengan suara lemah karena terlalu syok.


“ Iya. Dokter bilang itulah yang menyebabkan kamu tumbang. Karena sistem imun di tubuhmu telah lemah dan harus mendapatkan pengobatan intensif,” jelas Mama Widya.


“ Gak ! Aku gak percaya ini !” Fabian berusaha menyangkal kenyataan dan segera melempar hasil tes itu ke sembarang arah. Kabar ini seperti sebuah pukulan telak yang membuatnya hancur dalam sekejap.


“ Ingat-ingat lagi berapa banyak wanita bayaran yang lo sewa . Bisa jadi lo tertular melalui salah satu dari pela*cur itu,” tukas Zavian.


“ Pela*cur bangsaat ! Perempuan murahan itu ternyata menularkan penyakit padaku,” ujar Fabian penuh amarah. 


“ Cih ! Malah menyalahkan orang lain,” ucap Zavian dengan sinis.” Padahal lo sendiri yang menyewa mereka, harusnya lo mikir sebelum bertindak terlalu jauh. Lo pasti tahu kan  dampak dari seringnya berganti-ganti pasangan kencan itu apa. Dan sekarang lo harus terima konsekuensinya.”


“ Pokoknya mereka siapapun itu, harus di tes juga ! Gue harus tahu dari siapa tertular dan akan gue pastikan pela*cur siialan itu hidup menderita !” teriak Fabian seolah tak terima penyakit ini menjangkit di tubuhnya. Omongan Zavian seolah-olah tak ia dengar padahal kenyataannya ini semua salahnya sendiri yang suka bermain dengan banyak wanita. 


“ Gak usah mikirin itu, sekarang kamu harus berobat dulu biar bisa pulih,” ujar Mama Widya. 


“ Aku gak terima, Ma ! Sebelumnya aku bersih dan tidak pernah bermasalah . Tapi pela*cur siialan itu malah menularkan penyakit menjijikan ini padaku !” teriak Fabian semakin kalut.


Mama Widya kembali menangis, begitu juga dengan Fabian yang terisak sambil menutup wajahnya. Fabian mengakui bahwa dia sering sekali menyewa wanita bayaran dari seorang mucikari langganannya. Bahkan beberapa bulan ke belakang, dia menjadikan aktifitas seksuaal sebagai pelarian dari rasa kalut di kepalanya. 


Fabian hobi sekali bersenang-senang dengan wanita yang berganti-ganti setiap hari. Dia akan mencari sosok yang mirip dengan Nara untuk memuaskan rasa haus dan juga fantasinya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Liza dan memulai petualangan baru bersama obat-obatan yang terasa jauh lebih menyenangkan. 


“ Aku gak percaya semua ini ,” ujar Fabian sambil terisak-isak. Dia benar-benar terpuruk dengan kenyataan pahit ini.” Aku sebentar lagi mati ya, Ma.” 


“ Gak, Bian. Dokter bilang kalau kamu masih bisa diobati, memang bukan untuk menyembuhkan tapi setidaknya obat-obatan itu akan membuatmu bertahan lebih lama,” jelas Mama Widya. 


“ Aku gak bisa hidup lebih lama lagi, Ma.” Fabian terus menangis sambil menyesali keadaannya .

__ADS_1


Mama WIdya memeluk Fabian dan mengusap kepala anaknya dengan penuh rasa sayang. Mereka menangis berdua sambil terisak-isak. Mama Widya berkali-kali menenangkan Fabian tapi sepertinya tidak mempan. Pria itu terus menangis dan belum bisa mengatasi rasa terpukulnya.


Sedangkan Zavian berdiri tidak jauh dari keduanya. Zavian ingin ikut bersimpati tapi enggan melakukan itu. Dia masih ingat bagaimana Fabian mencari perempuan berambut panjang dan berkulit putih supaya bisa dijadikannya objek pelampiasan atas fantasinya terhadap Nara . Jika mengingat hal itu, Zavian tidak bisa menyingkirkan rasa kesal di dalam dadanya. 


“ Kamu harus semangat ya, Bian. Kamu gak boleh menyerah secepat ini,” ujar Mama Widya memberi semangat pada anaknya. 


“ Kenapa keadaan jahat banget sama aku, Ma ?” ucap Fabian lagi. Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan.” Aku masih harus mendekam di penjara meski sedang menderita penyakit mematikan ini.


“ Makanya Mama bilang kamu gak boleh nyerah,” sahut Mama Widya.


“ Mama gak mau membebaskan aku dari penjara?” tanya Fabian kemudian.


Mama Widya tertegun sejenak, lalu menoleh ke arah Zavian yang sedang menatap keduanya dengan sorot mata datar. Seolah merasa bersalah, Mama Widya menunduk dan menggeleng pelan. Bagaimanapun juga, Fabian masih harus bertanggung jawab atas kesalahannya. 


“ Mama hanya akan membantumu mendapatkan keringanan hukuman, tapi tidak akan membebaskanmu dari penjara,” ujar Mama Widya.


“ Ya sudah, kalau Mama memang tidak mau membebaskanku,” ujar Fabian dengan lemah.” Mungkin aku sudah ditakdirkan untuk mati di dalam penjara.”


Zavian yang muak melihat tingkah manipulatif kakaknya memilih untuk keluar dari ruangan itu. Dia membuka masker yang menutup separuh wajahnya dan duduk di kursi yang ada di luar. Dia merogoh ponsel dan menemukan satu pesan dari Nayara. 


Zavian tersenyum hangat ketika memandang foto wanita itu yang sedang menggendong buah hati mereka berdua. Nayara cantik sekali dengan senyum lebarnya yang terlihat bahagia. 


“ Aku beruntung kamu terlepas dari Fabian dan akhirnya menjadi milikku, Nay,” gumam Zavian seorang diri. 


Setelah menjalani berbagai pemeriksaan dan juga pengobatan, Mama Widya mengajukan penangguhan penahanan kepada pihak kepolisian. Permintaan itu diteruskan ke pengadilan dan akhirnya disetujui karena bukti-bukti memang menunjukkan bahwa Fabian benar-benar sakit. Dia sekarang pulang ke rumah dengan status dalam pengawasan oleh pihak yang berwajib dan masih wajib lapor. 


Zavian tidak ikut campur dalam keputusan itu karena lelah berdebat dengan Mamanya. Lagipula, Mama Widya pernah berkata begini. 

__ADS_1


“ Sebagai orang tua, suatu saat kamu akan mengerti kenapa Mama masih berada di sisi Fabian setelah sekian banyak kesalahan yang dilakukannya. Karena bagi orang tua, anak itu adalah belahan jiwa yang menjadi bagian dari dirinya sendiri.” 


Akhirnya Zavian memilih untuk tidak berkomentar apa-apa lagi terhadap Fabian. Dia tidak tahu bagaimana mengatasi anak yang sedang bermasalah karena saat ini Zean masih kecil. Tapi Zavian berlapang dada menerima keputusan mamanya dan mencoba memahami dari sisi sebagai orang tua.


Sayangnya, kabar Fabian yang kini dirawat di rumah karena menderita HIV menyebar di kalangan keluarga mereka. Fabian tentu menyadari bagaimana tatapan sinis dan juga ekspresi jijik orang-orang saat menatapnya. Hal itu membuatnya merasa down dan juga frustasi. 


“ Berarti Fabian gak bisa nikah dong, ya. Soalnya kan dia menderita penyakit menular mematikan, bisa -bisa istrinya nanti ketularan juga,” ujar Tante Tania yang memang merasa jengkel terhadap keponakannya itu.


“ Jangan bilang begitu, Tan,” tegur Mama Widya sambil mendelikkan mata. 


“ Lho, kenyataannya memang begitu kan?” tandas Tante Tania memberi pembelaan untuk dirinya sendiri.” Ini akibatnya kalau suka jajan sembarangan di luar, kena penyakit menular kan jadinya,”


Fabian yang mendengar itu jelas merasa kalut. Dia sering melamun dan membayangkan masa depannya yang suram. Dia bisa saja berobat demi bertahan, tapi dia jelas tidak akan bisa punya pasangan. 


“ Gak usah pikirin tentang pernikahan dan pasangan, yang jelas kamu harus semangat menjalani hidup ini,” ujar Mama Widya yang setia mendampingi putranya.


“ Fabian kan sudah puas bersenang-senang dengan pela*cur sewaannya, jadi ngapain mikirin nikah lagi,” sahut tante Siska dengan sinis. “ Lagipula gak ada juga yang mau nikah dengan penderita HIV .” 


“ Siska, diam !” bentak Mama Widya sambil melotot kesal. 


Semua ucapan itu jelas mengganggu mental Fabian. Itulah yang membuat Fabian sering melamun sendirian dan menyesali segala yang sudah terjadi . Ingin sekali dia memutar waktu dan membenahi masa lalunya, tapi hal itu jelas tidak mungkin bisa terjadi. Jejak masa lalunya kelam telah merusak masa depannya.


Fabian putus asa akan hidupnya sendiri. Dia merasa semua orang memandang jijik ke arahnya.


Hingga pada suatu hari, seorang pelayan yang ditugaskan mengurus Fabian masuk ke dalam kamarnya dan berteriak histeris . Laki-laki itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan busa memenuhi mulutnya. 


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2