Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Mengubah surat wasiat


__ADS_3

“ Dimana Fabian saat Papa sedang kolaps?” tanya Zavian. Dia penasaran ingin melihat sepanik apa kakaknya itu ketika melihat kekacauan akibat dirinya.


“ Fabian gak bisa kemana-mana secara bebas sampai kasus ini reda. Dia bilang ingin bersembunyi di villa keluarga kita yang ada di Bandung,” jelas Mama Widya.


“ Gak bisa kemana-mana tapi malah pergi ke Bandung?” tanya Zavian sedikit kesal.


“ Dia pasti malu banget,” sahut Mama Widya. 


“ Bodo, sih !” umpat Zavian tak bisa menahan rasa kesalnya. “ Harusnya dia ada di sini untuk melihat kondisi Papa karena perbuatannya.”


Mama Widya hanya bisa menggeleng pelan. Semua ini terjadi begitu mendadak dan mengejutkan.


“ Mama gak nyangka Fabian akan begini,” ujar Mama Widya pelan.


“ Apa yang akan Mama lakukan setelah ini terhadap Fabian?” tanya Zavian.


“ Mama sudah meminta Jefri untuk menahan laju berita tentang Fabian dan mencari tahu siapa pelaku yang menyebarkan video porno itu. Jika orangnya tertangkap maka Mama akan memenjarakan orang itu,” tukas Mama Widya berapi-api.


“ Terhadap Fabian, Ma…” ulang Zavian.


Mama Widya menghembuskan napas lelah,” Mama tidak akan membela kelakuannya.” 


Zavian hanya mengangguk samar. Dia tidak mau memberi komentar apa-apa terhadap keputusan Mamanya. Dia hanya akan bergerak jika Mama Widya memintanya untuk membantu tapi jika tidak, maka Zavian memilih untuk diam. 


Mama Widya meraih tangan Zavian dan menatap wajah anaknya dengan lekat. Selama ini Zavian selalu bersikap baik dan tidak pernah neko-neko. Dia punya pendirian yang kuat meski di saat -saat tertentu juga bisa menjadi anak penurut. Tapi kenapa Zavian tidak mendapat kasih sayang yang penuh dari Papanya?


“ Untuk segala kesalahan yang pernah dilakukan Papa padamu, apa kamu masih mau memaafkan Papa?” tanya Mama Widya. Bukan apa-apa , Mama Widya tahu bahwa tidak ada ketulusan saat Papa meminta maaf tempo hari pada Zavian. Begitu juga sebaliknya.


Zavian terdiam sejenak sambil berpikir, setelah itu barulah dia menjawab,” Aku sudah maafin Papa, Ma. Serius deh, cuma aku belum bisa menenangkan perasaan sendiri sejak kejadian itu.”


Mama WIdya mengusap punggung tangan anaknya dengan pelan.” Gak apa-apa, it’s okay. Mama ngerti perasaan kamu.”


“ Awalnya aku pikir gak apa-apa kalau seandainya aku yang sakit atau celaka. Tapi setelah kecelakaan mengerikan itu, segala pemikiran di kepalaku mendadak berubah. Aku takut sekali memikirkan keadaan Nayara yang harus menangisiku, apalagi dia dalam keadaan hamil. Aku takut sekali jika harus meninggalkannya dan tidak bisa bertahan di sisinya lebih lama. Nayara gak punya siapa-siapa lagi, hanya aku yang dia punya dan sebentar lagi kami punya anak. Aku tidak mau celaka lagi biar bisa menjaga Nayara dan anakku seumur hidupku.”

__ADS_1


“ Kalian pasti akan terus bersama . Setelah ini gak ada lagi yang akan mengusik kebahagiaan kalian berdua. Termasuk Papa !”


“ Aku harap Papa cepat pulih,” gumam Zavian.


Setelah melewati masa kritis selama hampir empat jam, akhirnya kondisi Papa Adrian berangsur membaik. Dokter harus melakukan observasi terlebih dahulu sebelum mengizinkan laki-laki itu dipindahkan ke ruang perawatan.


Zavian memutuskan menelepon Nayara dan mengatakan bahwa malam ini mungkin tidak bisa pulang karena dia harus menemani Mamanya di rumah sakit. Kedua adik Papa Adrian sedang ada di Surabaya dan Bali, kemungkinan besar besok baru bisa datang ke sini.


Sementara itu, Pak Indra selaku pengacara keluarga terpaksa tetap berada di rumah sakit. Mama Widya tidak mengizinkan laki-laki itu untuk pulang karena takut sesuatu terjadi pada Papa dan ada hal yang dilewatkan olehnya.


Sedangkan Fabian , manusia pembuat onar itu memilih menghilang dan menonaktifkan semua alat komunikasinya. Tidak ada yang bisa menghubungi Fabian sejak berita skandalnya beredar luas di dunia maya. Bahkan dia sepertinya tidak peduli melihat Papa Adrian terkapar di rumah sakit akibat perbuatannya sendiri. 


“ Dokter bilang apa tadi, Ma? “ tanya Zavian dengan perasaan diliputi rasa curiga. 


Zavian menangkap ada yang aneh dengan Papanya sesaat setelah pria paruh baya itu sadar. Gerakan mulut Papa Adrian terlihat kaku, ia tak bisa bicara dengan jelas. Bahkan rahangnya sedikit miring.


Kemana sosok Adrian Rayyansyah yang angkuh dan berkuasa dulu? 


Mama Widya menghapus sudut matanya sekilas,” Ada pembuluh darah di otak yang membuat sebagian tubuh Papamu mati rasa dan kaku. Kata dokter, Papamu kena stroke.”


“ Papamu sudah mengubah surat wasiatnya ,” ujar Mama Widya  yang diikuti dengan anggukan oleh Pak Indra.


“ Kenapa , Ma?” tanya Zavian.


“ Mama tidak tahu persis apa yang membuat Papamu berpikiran begitu. Dan sekarang sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan Papa padamu,” ucap Mama Widya kemudian. Wanita itu bisa menangkap keinginan dari suaminya.


“ Za-vian….” panggil Papa Adrian sambil menatap putra bungsunya.


“ Iya, Pa.” jawab Zavian.


Mama Widya meminta agar Zavian mendekat dan sedikit bungkuk di samping Papanya. Ada sesuatu yang penting dikatakan oleh Papa Adrian pada anaknya. Meskipun sembari terbata-bata, tapi Zavian masih bisa menangkap dengan jelas perkataan Papanya.


Kalimat yang diucapkan oleh Papa Adrian terputus-putus . Dia menatap Zavian dengan sorot mata memohon. Terlihat lemah dan rapuh sekali, seakan-akan kematian sedang mengincarnya dan dia bersiap meninggalkan dunia ini.

__ADS_1


Ada begitu banyak penyesalan yang tak terungkapkan di dalam raut wajah pria paruh baya yang lemah itu. Tapi Zavian tahu apa yang harus dilakukannya . 


“ Maaf, Pa. Aku tidak bisa. Jangan membuat aku semakin bermusuhan dengan Fabian,” ujar Zavian. Dia menatap Papanya dengan sorot mata meminta pengertian.” Selama ini Fabian selalu berpikir bahwa dialah yang paling berhak memegang kekuasaan tertinggi. Jika Papa menyerahkan perusahaan itu padaku di saat seperti ini, itu sama saja dengan mengadu domba kami berdua.”


“ Tapi keadaannya sekarang sedang sulit, Za,” sahut Mama Widya.


“ Bukan berarti aku bisa masuk seenaknya dan menggeser posisi Fabian , Ma,” sela Zavian dengan cepat. “ Alasanku keluar dari perusahaan Papa dan mendirikan perusahaan sendiri adalah karena ingin terbebas dari tekanan Fabian. Biarlah perseteruan kami hanya sebatas masalah ingin memiliki Nayara saja. Aku tidak mau berurusan dengan Fabian selain dari itu.”


“ Jadi, kamu gak mau bergabung dengan perusahaan keluarga kita lagi? Kamu benar-benar gak mau bantuin Papa?” tanya Mama Widya.


“ Ma, please ! Pahami alasanku, ya. Jangan buat seolah-olah aku terlihat jahat karena tidak mau bantuin Papa,” balas Zavian. “ Fabian mungkin akan membunuhku jika aku berani menggeser posisinya. Mama tahu sendiri sebesar apa ambisinya untuk memegang perusahaan itu. Dan aku tidak akan mempertaruhkan hidupku untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagiku.” 


Mama Widya terdiam dan tidak tega melihat wajah memelas Zavian. Dia sendiri tahu bahwa selama ini Fabian selalu mencurangi Zavian dan keadaan akan semakin kacau jika Zavian mengikuti kemauan Papanya.


“ Sebentar lagi anakku lahir dan aku tidak akan pernah rela jika dia tumbuh menjadi anak yatim. Sudah kubilang juga bahwa aku tidak akan membiarkan Nayara menjalani hidup yang sulit karena kehilangan diriku. Aku akan terus bersama istriku dan membesarkan anak kami dengan kasih sayang yang utuh. Jadi, aku akan menghindar dari segala resiko yang akan membuatku celaka,” tanda Zavian kemudian.


Hening menguasai keadaan. Hanya ada suara detak jarum jam dan juga bunyi EKG yang bersahutan pelan. Zavian bisa saja mengambil tawaran Papanya jika hanya berlandaskan  rasa kasihan semata. Tapi sekali lagi, dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuatnya celaka. 


“ Maaf kalau pilihanku terlihat begitu egois,” gumam Zavian kemudian. Dipandanginya wajah kedua orang tuanya secara bergantian.” Aku tidak akan berurusan dengan Fabian.” 


Mama Widya menatap suaminya yang kini sedang menangis. Air mata pria paruh baya itu menetes deras dan berjatuhan di sisi wajahnya. Kepedihan tergambar jelas di wajahnya yang tampak semakin lemah. 


“ I-ini salahku,” gumam Papa Adrian terbata.


Penyesalan kini menghantamnya dengan telak dan dia tidak bisa menghindarkan diri. Ini semua salah dirinya , dia tidak bisa lagi menyalahkan Zavian dengan segala keputusan yang diambilnya. 


Seandainya sejak dulu Papa Adrian bersikap adil dan tegas terhadap kedua anaknya, maka mungkin situasi tidak akan serumit ini. Mungkin jika dia tidak menggaungkan bahwa Fabian lah yang akan menggantikan posisinya, maka anaknya itu tidak akan bersikap searakah begini. Dan Zavian juga tidak akan tersinggung hingga memilih untuk menjauh.


“ Tidak apa-apa,” jawab Mama WIdya kemudian. “ Apapun yang terjadi kedepannya, Mama yakin kita pasti akan menemukan solusinya. Sekarang yang penting Papa sembuh dulu. Oh iya, Mama berniat membawa Papa untuk berobat ke Singapura.” 


“ Kita lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Papa,”  kata Zavian menimpali. 


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2