Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Akhir perjalanan panjang


__ADS_3

Pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta. Lalu gate kedatangan internasional mendadak riuh karena hampir seluruh kerabat dekat hadir untuk menyambut kepulangan Mama Widya beserta keluarga Zavian. 


“ Aku senang banget, lho waktu Zavian ngasih kabar kalau kalian mau pulang,” ujar Tante Tania setelah melepaskan pelukan dari Mama Widya. 


“ Welcome home, Mbak. Setelah ini jangan pergi lagi,” timpal Tante Siska. 


Kedua iparnya bergantian memeluk Mama Widya. Ada tatap yang tulus dari mereka, bukan hanya sebatas basa-basi semata. Perasaan Mama Widya mendadak membuncah hingga dia harus menghapus air bening di sudut matanya dengan ujung jari. 


Pertemuan setelah lima tahun berpisah ternyata menghadirkan rasa haru yang teramat dahsyat. Tidak ada lagi jejak kebencian dan tatapan sinis karena semua itu telah terhapus oleh kata maaf. Kini kehangatan memeluk mereka dan menjanjikan sebuah masa depan yang jauh lebih baik. 


“ Waktu Zavian mengajak kami pulang, rasanya kayak mimpi. Karena kupikir aku akan menghabiskan masa tuaku di Amerika,” sahut Mama Widya.


“ Perusahaannya sudah berkembang dengan pesat dan Zavian tidak mungkin mengabaikan  semua itu,” sahut Tante Tania. 


Mama Widya menatap ke arah Zavian yang kini sedang berbicara dengan sepupu-sepupunya. Mama Widya paham sekali bahwa tujuan Zavian mengajaknya pulang bukan karena urusan perusahaannya saja, tapi karena anaknya tidak ingin terus menerus menjauh dari apa yang disebutnya dengan rumah. Dan, di rumah itu pula Mama Widya seharusnya menghabiskan waktu bersama orang-orang yang disebutnya sebagai keluarga. 


“ Ayo, kita pulang,” ujar Tante Tania. 


Koper-koper telah dimasukkan ke dalam mobil dan mereka bersiap meluncur menuju kediaman Rayyansyah. Mama Widya berada satu mobil bersama kedua iparnya dan mereka terus bercerita sepanjang perjalanan. Sedangkan Zavian dan keluarganya ada di mobil lain. 


Kediaman Rayyansyah yang selama lima tahun ini sepi dan dingin kini kembali meriah. Para pelayan dan pekerja rumah sudah diminta oleh Tante Tania untuk menyambut kepulangan Mama Widya beserta keluarga Zavian. Lalu kesunyian itu berganti dengan riuh gelak tawa dan juga kehangatan. Segala yang dulu sempat mati suri kembali hidup dengan gairah yang baru. 


Hampir semua orang memuji Zean yang tumbuh menjadi anak pintar dan sopan. Dia tampak senang dikelilingi oleh sepupu-sepupu dan juga para tantenya. Sementara itu Zia naik ke lantai dua sambil membawa tas kecilnya. Dia kemudian berdiri di depan sebuah pigura besar yang menyimpan potret keluarga inti papanya. Di dalam foto itu dia hanya mengenal papa dan neneknya. Sedangkan dua laki-laki lain yang ada di sana tampak asing baginya . 


Zianna menatap lekat pada sosok laki-laki di samping papanya. Laki-laki itu memiliki wajah yang tampan, tapi bagi Zianna papanya tetap jauh lebih unggul dan selalu menempati posisi nomor satu di hatinya. Tidak ada yang bisa menggeser posisi itu. 


“ Yang duduk di samping Nenek itu adalah kakek,” ujar Zavian yang kini ikut berlutut di samping anaknya. Lalu tangannya menunjuk ke arah seorang pria yang ada di sampingnya.“ Dan yang itu Om Fabian.” 


“ Oh , Om Fabian ya.” Zianna bergumam pelan, lalu dia membuka tas kecilnya dan meraih sesuatu dari sana. 


Sebuah action figure putri Disney bernama Mulan ditatapnya dengan lekat. Itu hanya sebuah mainan sederhana tapi tidak pernah Zianna lupakan. Di antara banyaknya mainan yang dia punya, benda ini adalah kesukaannya. 


Zianna juga telah berulang kali mendengar bahwa ini adalah pemberian dari Om Fabian, dan sekarang Zia menatap potret laki-laki itu sambil menggenggam kenang-kenangan darinya. 


Zavian kemudian ikut mengelus benda yang ada di tangan putrinya. Itu adalah kado untuk Zia yang diserahkan Fabian kepada Zavian. Karena saat itu Fabian tidak punya banyak waktu untuk menunggu Zia genap berusia satu tahun. 


“ Om Fabian bilang kalau dia menyayangimu, Zi,” ucap Zavian. 


Zia mengangguk . Dia sudah berkali-kali mendengar kalimat serupa dari Papanya. Ada orang lain selain Papa , Mama, Abang Zean dan nenek yang menyayanginya. Meski Zia tidak melihat wujud aslinya, tapi perasaannya berkata bahwa rasa sayang itu sama tulusnya dengan keluarga yang dia punya saat ini. 


Atensi mereka teralihkan saat Zean ikut mendekat bersama Nayara yang berjalan di belakangnya. Lalu mereka sama-sama menatap potret keluarga yang wujud nyata dari dua orang di sana tak lagi ada di dunia ini.


Anak-anak Zavian tidak mengenal seperti apa rupa kakek dan pamannya. Bahkan memori itu sudah mulai memudar dari ingatan Zean yang hanya bertemu dengan Fabian saat ulang tahun ketiganya. Tapi melalui potret itu, mereka sadar bahwa Adrian Rayyansyah dan Fabian Rayyansyah akan terus ada dan dikenang sebagai bagian dari keluarga ini. 


“ Terima kasih untuk kadonya, Om,” ujar Zia. Dia menatap lagi benda di tangannya. lalu beralih pada foto Fabian dengan lekat.” Aku menyayangi Om ,Bian.” 


“ Aku juga menyayangi Om Fabian dan kakek,” sahut Zean. Dia menatap dua orang itu dengan sorot penuh kekaguman. 


“ Ah, iya. Kakek juga,” timpal Zia.” We loves you both.” 


Zavian merangkul istri dan anak-anaknya. Sebuah senyum sendu terbit di bibirnya. Sejenak menyesali waktu yang ternyata tidak banyak untuk mereka tetap bersama. 

__ADS_1


Mereka menyayangi Fabian dan Papa Adrian, meski keduanya tak ada lagi di dunia ini. Rasa sakit yang pernah ada membuat Zavian sadar bahwa ada rasa yang jauh lebih indah di atasnya yaitu cinta dan kasih sayang. 


Lalu sebuah panggilan meminta mereka untuk berkumpul di ruang tengah bersama keluarga yang lain. Zavian mengajak anak dan istrinya menjauh dari sana dan langkah mereka pun beriringan. Zia mencoba menyempatkan diri menoleh ke belakang. melihat potret itu kemudian tersenyum , lalu menjauh sambil menggenggam tangan Papanya. 


Tepat jam sebelas malam, anak-anak sudah tidur dengan nyaman. Zavian kemudian meminta izin untuk memeriksa pekerjaannya sebentar , sementara Nayara berlalu ke kamar mandi. 


Zavian masih duduk di sofa sambil mengamati layar macbook yang terletak di pahanya. Saat Nayara keluar dari kamar mandi wajah Nayara tampak segar dengan rambut yang dicepol tinggi dan aroma tubuh yang wangi menguar memanjakan indera penciuman Zavian. 


Robe satin yang dikenakan Nayara menampilkan lekuk tubuh indahnya. Zavian kemudian menerka-nerka pakaian dalam seperti apa yang dikenakan istrinya saat ini. 


Zavian tidak mau menunggu terlalu lama untuk menuntaskan rasa penasarannya. Dia berdiri dan meninggalkan macbook yang tidak lagi menarik perhatiannya. Tangannya dengan nakal merayap ke dadaa Nayara dan meremass pelan. 


“ Wah, No bra on ?” 


“ Aku sudah mau tidur , By.” ujar Nayara. 


Zavian tahu persis kebiasaan istrinya setelah sekian lama menikah, tapi selalu ada saat dimana dia akan bertingkah seperti remaja puber yang baru pertama kali menemukan kesenangan. Hasratnya terus meletup-letup dengan rasa penasaran yang ingin dituntaskan. Segalanya masih terasa begitu hangat dan menggairahkan. 


Nayara mengalungkan lengannya ke leher Zavian,mengunci tatapannya, lalu menerima ciuman di bibirnya. Zavian semakin mempertegas ciumannya saat jemari Nayara menekan tengkuknya dan meremass pelan rambutnya. 


Zavian melepas ciumannya setelah mereka sama-sama terengah, lalu Zavian mengusap bibir istrinya yang sedikit bengkak akibat hisapannya barusan. Tatapannya begitu memuja dan penuh cinta. 


“ Selamat ulang tahun, istriku,” bisik Zavian.


” Terima kasih sudah lahir ke dunia ini dan melengkapiku, kamu adalah bagian paling berarti dalam hidupku.” 


“ Terima kasih, karena tak pernah lupa dengan hari kelahiranku,” ucap Nayara penuh haru. 


“ Tidak akan pernah aku lupakan tanggal dimana belahan jiwaku lahir ke dunia ini,” ujar Zavian. 


Mereka berciuman lagi dengan tubuh yang semakin merapat. Lalu Zavian mengangkat tubuh istrinya untuk dibaringkan di atas kasur. Mereka bercinta dengan hebat dan Zavian tersenyum ketika Nayara berulang kali menyebut namanya dalam eraangan panjang dan desaah sensualnya. 


“ Aku mencintaimu,” bisik Zavian di akhir percintaan yang penuh gairah. 


“ Teruslah mencintaiku karena aku juga akan mencintaimu selamanya.” balas Nayara di sela deru napasnya. 


Sebuah pelukan diterima Nayara setelah itu dan dia menemukan kenyamanan di sana. Pelukan Zavian selalu menyenangkan dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang ada di dunia ini. 


“ Sayang….” panggil Zavian dengan pelan, mencari tahu apakah Nayara sudah tidur atau belum usai kegiatan melelahkan tadi.


Kelegaan menyambut hatinya saat Nay yang ada di dalam pelukannya menengadah dan menatap kedua matanya. 


“ Sebutkan permintaanmu, nanti akan kukabulkan,” ujar Zavian. 


“ Aku ingin menua bersamamu,” ucap Nayara. Hanya itu, di antara banyaknya kebahagiaan yang telah diberikan Zavian, Nayara tidak akan meminta apa-apa lagi selain keinginan untuk terus bersama selamanya. 


“ Akan kukabulkan,” ucap Zavian dengan suara yang terdengar begitu yakin.” Kita akan menua bersama. Kita akan menyaksikan bagaimana Zean dan Zia tumbuh menjadi anak-anak yang bahagia dengan pribadi yang baik.”


...----------------...


Seperti janjinya, Zavian mengabulkan keinginan Nayara yang ingin mereka menua bersama. Karena pada tahun-tahun selanjutnya, hingga belasan tahun kemudian, mereka menyaksikan bagaimana Zean dan Zia tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan bahagia.  

__ADS_1


Zavian dan Nayara tidak membebani anaknya dengan menuntut harus menjadi sosok hebat yang mendapat pengakuan dunia. Zean dan Zia hanya perlu saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Karena pengalaman hidup dan masa lalu telah mengajari Zavian banyak hal tentang bagaimana bersikap adil terhadap kedua anaknya. Zavian dan Nayara berperan sebagai orang tua yang membimbing dan memberi dukungan pada putra dan putrinya. Setiap momen penting kedua anaknya, Zavian dan Nayara selalu menyempatkan untuk hadir. Mereka akan berdiri paling depan sambil bertepuk tangan dengan sorot mata penuh kebanggaan. 


Lalu ketika anak-anaknya beranjak dewasa dan mulai memilih untuk membangun kehidupan sendiri, Zavian dan Nayara masih memiliki satu sama lain. Mereka terus bersama tanpa melepaskan genggaman. 


“ Aku bangga pada anak-anak kita,” ucap Zavian penuh haru.” Semua karena dirimu, Sayang . Kamu ibu yang hebat dalam mendidik mereka.”


“ Itu karena mereka memiliki panutan seorang ayah yang hebat sepertimu. Kamu menginspirasi mereka, By.” balas Nayara. 


Zavian meraih tangan Nayara dan menciuminya dalam-dalam.” Ternyata kita sudah bekerja dengan baik, ya. Terima kasih, Nay…” 


“ Padahal rasanya baru kemarin aku melihatmu menangis saat aku melahirkan Zia,” ucap Nayara. 


“ Benar , waktu rasanya begitu cepat berlalu. Aku kangen pengen menggendong mereka, tapi sekarang sudah tidak kuat. Apalagi Zean, kekar banget badannya sekarang,” sahut Zavian . Dia terkekeh kecil.” Tapi kalau menggendongmu aku masih sanggup.” 


“ Gak usah ! Nanti kamu berakhir di ranjang rumah sakit dengan diagnosa syaraf kejepit,” tukas Nayara sambil tertawa. 


“ Enak saja ! Aku belum selemah itu,” sanggah Zavian. 


“ Lagian ngapain gendong-gendong segala, mending peluk aja,” ucap Nayara . Dia segera memeluk suaminya yang langsung mendapat sambutan hangat. 


Ada momen hening yang terasa begitu syahdu. Mereka memang sepatutnya mengucap syukur untuk setiap hal baik yang terjadi dalam hidup ini. 


Lalu sebuah ingatan kembali hadir membawa bayang-bayang pertemuan mereka pertama kali. Saat -saat ketika mereka remaja dan perasaan masih penuh keraguan. Zavian sempat menaruh rasa, namun dia memilih untuk mengalah pada kakaknya. Sedangkan Nayara tidak berani melangkah karena hidupnya penuh dengan tekanan.


Hingga akhirnya takdir menggiring mereka pada sebuah titik temu, di sebuah malam dimana Nayara sedang patah hati dan Zavian menghiburnya. Tangisan Nayara malam itu diredakan oleh segelas wine yang ditawarkan Zavian dan ada dosa yang tercipta setelahnya.


Keduanya menjadi pengkhianat, tapi anehnya mereka seolah telah memenangkan sesuatu yang berharga. Tanpa sadar, malam itu takdir keduanya terjalin bersama ikatan perasaaan yang semakin menguat dari waktu ke waktu. 


Ada proses pelepasan belenggu yang tidak mudah agar dosa dan kesalahan yang pernah tercipta akhirnya mendapat maaf . Butuh waktu bertahun-tahun dan jarak ribuan kilometer. Ada air mata dan juga kecewa yang harus diredam agar dada terasa lapang. Tapi proses itu pula yang membuat mereka semakin dewasa. 


Pernikahan mereka tidak selalu mulus dan bahagia. Ada tangis, luka, lelah dan beragam perasaan lainnya. Zavian bukan laki-laki sempurna tanpa cela, kadang dia bersikap menyebalkan dan membuat Nayara kesal. Saat berada di luar kadang Zavian merokok atau minum alkohol, tapi dia tidak pernah menyentuh wanita lain selain istrinya. 


Nayara juga bukan wanita yang selalu tampil layaknya malaikat. Karena kadang sisi kekanakannya muncul lalu dia menjadi manja, cemburuan dan membuat kesal dengan tingkahnya. Tapi Nayara tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Zavian atau mempertimabngkan pria lain. 


Kini, setelah tahun-tahun itu terlewati, Zavian dan Nayara duduk berdua dalam suasana yang tenang menikmati masa tua bersama. Mereka telah menjadi sepasang kekasih, sahabat, dan partner dalam menapaki ragam kehidupan. Kaki mereka telah melangkah jauh mengejar mimpi-mimpi, jiwa mereka telah puas mereguk berbagai rasa kehidupan. Hati mereka kini terasa damai setelah menyelesaikan tujuan dalam perjalanan yang panjang. 


Zavian menuntaskan janjinya untuk menua bersama Nayara. Dan, Nayara mendampingi Zavian selamanya. “ Aku bersyukur bisa sampai ke titik ini bersamamu,” ucap Zavian. 


“ Kamu telah membawaku pada sebuah perjalanan yang luar biasa hebat,” balas Nayara. 


“ Bagiku semuanya terasa hebat karena ada kamu di dalam hidupku dan perjalanan ini terasa luar biasa karena kujalani bersamamu,” balas Zavian. 


Mereka saling tatap, kemudian memuja seperti pertama kali jatuh cinta. Lalu Nayara merebahkan kepala di dada suaminya dan lengan Zavian memeluk wanitanya. Sampai detik ini mereka masih saling mencintai, seumur hidup,


Selamanya.....


.


End


...****************...

__ADS_1


akhirnya tamat juga, terima kasih utk segala dukungannya .... Aku bukan penulis yg hebat dan sempurna tapi aku berusaha memberikan yg aku bisa.... Terima kasih utk kalian semua yg sudah mau membaca novel ini sampai akhir... Nanti kan karya ku selanjutnya , jgn lupa di subscribe biar tau kalau aku bikin novel baru... Dan yg nunggin WEDDING AGREEMENT , tenang hari senin aku mulai up lagi... Buat kalian yg mau mampir ke Wedding Agreement , silahkan cek di profil aku yaa...


Saranghae 🫰🫶


__ADS_2