Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Ambisi yang terus gagal


__ADS_3

“ Ada apa?” suara di seberang menjawab teleponnya tanpa perlu berbasa-basi. Suara Zavian yang tenang tapi terkesan sibuk itu semakin membuat Fabian kesal. 


“ Dimana kamu letakkan file tentang pengerjaan proyek yang sedang berlangsung?” tanya Fabian dengan cepat.


“ Sudah kubuang.” jawab Zavian dengan santai.


“ Aku serius, brengssek !” umpat Fabian yang sudah kehilangan kesabaran. 


“ Kamu pikir aku sedang bermain-main, huh?” balas Zavian tak kalah sengit. “ Kalau kamu ingin lanjut mengerjakan proyek itu, silahkan gunakan otakmu untuk berpikir. Jangan seenaknya memakai hasil pemikiran orang lain lalu berlagak bahwa kamu yang mengerjakannya !” 


“ Sekarang semuanya sudah mepet dan tidak ada waktu untuk bermain-main lagi , siaalan ! cepat katakan dimana kamu simpan file itu!” bentak Fabian. 


“ Proyek itu hasil idemu, kamu yang menggagasnya. Jika kamu ingin proyek itu kembali berjalan seperti semula, maka mulailah dari awal tanpa campur tanganku !” sahut Zavian dengan tegas. “ Buktikan omonganmu bahwa dirimu memang hebat dan bisa bekerja tanpa bantuanku !” 


Setelah itu telepon dimatikan secara sepihak dan Fabian langsung mengumpat. Sekarang dia seperti orang kebingungan yang berjalan tanpa arah setelah Zavian membuang semua dokumen penting terkait proyek yang sedang mereka kerjakan. 


Sekarang Fabian mau tidak mau harus mengakui bahwa peran Zavian sangat penting di dalam hidupnya. Selama ini dia terlihat hebat juga karena Zavian yang selalu memperbaiki setiap detail kesalahannya. Tapi sekarang segalanya mendadak berubah. 


Tidak ada lagi Zavian yang akan menyelesaikan setiap permasalahannya. Karena pria itu sudah sibuk dengan perusahaan yang baru dirintisnya . 


Seminggu kemudian Papa Adrian mulai menagih janji Fabian yang hendak kembali menjalankan proyek. Sayangnya Fabian tidak bisa memenuhi janji itu karena dia sedang tertatih-tatih membenahi segalanya seorang diri. 


Seringkali Fabian mengeluh tentang betapa berat dan sibuk pekerjaannya saat ini. Walaupun sudah bekerja keras tapi hasil yang didapatkan Fabian tidak memuaskan. Apalagi beberapa karyawan yang terlibat dalam proyek ini malah mengundurkan diri. Segalanya menjadi semakin rumit saja. 


“ Bagaimana progres proyek kita, Bian? Sudah sampai mana pengerjaannya ?” tanya papa Adrian pada putra sulungnya. 


Adrian hanya berbasa-basi bertanya demikian karena dia tahu bahwa Fabian tidak menunjukkan progres apa-apa. 


“ Aku belum bisa memulai proyeknya, Pa. Semuanya masih dalam tahap pengerjaan karena harus ku mulai lagi dari awal. “ jawab Fabian dengan frustasi. “ Menurut papa , apa yang harus kulakukan setelah ini?” 


“ Jangan malah balik bertanya!” bentak papa Adrian dengan nada tinggi hingga membuat Fabian tersentak. Kali ini dia tidak dapat menahan diri lagi.” Kalau kamu tidak bisa mengatasi masalah ini dan membuat proyek kembali berjalan seperti semula, maka kutunggu surat pengunduran dirimu di mejaku!” ancam papa Adrian. 


Fabian tersentak kaget dan menatap papanya dengan sorot mata tidak percaya. Tapi pria yang selama ini selalu berpihak kepadanya itu tampak sedang dikuasai emosi. 

__ADS_1


Adrian balas menatap anaknya dengan sorot mata tajam yang belum pernah Fabian dapatkan seumur hidupnya.  “ Berhenti bermain-main, Bian ! Kamu selalu bilang bahwa dirimu bisa seperti Zavian, Berkali-kali pula kamu bilang bahwa dirimu memang pantas menggantikanku. Tapi selama sebulan terakhir, setelah kepergian Zavian aku selalu menunggumu bertindak. Kutunggu aksimu yang luar biasa itu. Tapi ternyata ucapanmu hanyalah omong kosong belaka !” cibir papa Adrian. 


“ Kenapa papa malah meragukanku seperti ini?” tanya Fabian yang tidak terima. 


Karena kamu memang terlihat tidak cakap mengurus masalah ini .” sahut papa Adrian dingin. “ Inilah akibatnya kalau kamu keseringan mengandalkan Zavian dalam setiap pekerjaan. Ketika disuruh mengerjakan sendiri malah tidak becus !” 


“ Papa sendiri yang bilang kalau memang sudah tugas Zavian untuk mendukungku !” serang balik Fabian. 


“ Aku salah .” ujar Papa Adrian sambil memijat kepalanya yang sering terserang migrain akhir-akhir ini. “ Seharusnya Zavian yang kupilih sebagai penerusku.”


“ Apa maksud papa bilang begitu ?” ketus Fabian yang langsung diliputi amarah. 


“ Kamu gak bisa menandingi adikmu, Bian . Kamu terlalu sombong dan arogan. Kamu tidak bisa menjalankan segala sesuatunya dengan baik. Jauh berbeda dengan Zavian .” ucap papa Adrian kemudian. 


“ Pa, aku gak terima papa bicara begitu !” sergah Fabian yang tersinggung dengan ucapan papanya. 


“ Kenyataannya memang begitu kan ?” tanya papa Adrian dengan sedikit sinis. “ Aku tidak pernah menyangka jika selepas dari sini Zavian akan mendirikan perusahaan sendiri. Dia membuktikan padaku bahwa dirinya bisa hidup tanpa bergantung pada perusahaan ini. Zavian…. dia hebat sekali.” 


“ Aku tidak terima papa bicara begitu ! Aku akan menghancurkan Zavian !” ucap Fabian dengan lantang. 


Adrian hanya mengulas senyum miring penuh ejekan.” Kamu tahu dengan siapa Zavian menjalin kerja sama dalam memulai proyek besar di perusahaannya ?”


Fabian tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya diam membeku karena dia sama sekali tidak pernah mencari tahu tentang adiknya itu. 


“ Dia bekerja sama dengan MH Corporations . Jika kamu ingin menghancurkannya , maka hancurkan terlebih dahulu perusahaan yang melindunginya .” ujar papa Adrian pada anak sulungnya. 


Fabian membelalakkan matanya. “ Apa ? Dia bekerja sama dengan MH Corporations ? “ tanya Fabian untuk memastikan apa yang ia dengar. “ Dasar pengkhianat!” 


“ Silahkan hancurkan mereka dan buktikan bahwa dirimu memang hebat. Atau tinggalkan perusahaan ini karena kamu tidak layak menjadi penerusku !” 


Dalam rasa amarah yang menggebu-gebu , Fabian mencoba menelepon ponsel Zavian. Dia ingin sekali menyemburkan umpatan dan caci maki terhadap adiknya itu. Fabian benar-benar ingin melampiaskan kemarahannya karena menganggap Zavian adalah orang yang telah membuat hidupnya kacau dalam sekejap . 


Sambungan pertama kali tidak diangkat dan Fabian kembali mencoba menelepon lagi. Setelah panggilan ketiga , barulah teleponnya dijawab. “ Hm, kenapa?” jawaban Zavian terdengar sedikit membentak dan kurang senang. Ada aktivitas di seberang sana yang terganggu oleh panggilan Fabian. 

__ADS_1


Fabian hendak menyemburkan sumpah serapahnya tapi dia menangkap sebuah suara yang membuatnya terdiam seraya memasang pendengaran baik-baik . Dari seberang sana, Fabian mendengar suara……. dessahan ? Dan si pemilik suara halus yang menggoda itu sudah pasti Nayara. 


Setelah itu ada bisikan rendah dari Zavian yang meminta waktu untuk jeda sejenak. 


“ Sebentar sayang… sebentar.” 


‘ Astaga jadi mereka sedang…..’ 


“ Kenapa lo nelepon gue? ganggu aja !” tanya Zavian sembari menahan kesal. Tak ada lagi sopan santun pada kakaknya yang sudah membuat kegiatannya terhenti sejenak. 


“ Lo lagi ngapain ?” tanya Fabian penasaran . Dia sampai melupakan tujuan awalnya menelepon Zavian. 


“ Gue lagi making love dan berusaha bikin istri gue keenakan!” jawab Zavian sedikit geram . Dia sengaja menjabarkan apa yang sedang dilakukannya untuk membuat Fabian merasa kepanasan. 


“ Siang-siang gini ?” tanya Fabian lagi. 


“ Apa masalahnya ? lagian , lo telepon gue cuma buat nanya itu doang ? “ tanya Zavian semakin kesal. 


“ Sebenarnya gue……” Fabian malah memutus ucapan sambil memejamkan matanya. Bayangan Nayara terbaring tanpa busana di bawah kungkungan lengan Zavian membuatnya mendadak kesal seketika. 


Fabian mendadak diterpa rasa cemburu buta. Dia tidak rela setiap kali membayangkan Nayara menyerahkan diri pada laki-laki selain dirinya. Karena Nayara itu miliknya. Harusnya masih menjadi miliknya.


“ Ganggu aja, siialan !” gerutu Zavian . Setelah itu panggilan terputus dan Fabian termangu di tempat duduknya. 


Ada rasa sesak yang memenuhi dada Fabian hingga rasanya luar biasa menyakitkan. Rasa sakit kali ini berbeda dengan rasa sakit ketika dia mendapat ancaman dari sang papa. Fabian belum kehilangan posisinya sebagai wakil CEO tapi dia telah kehilangan Nayara dari sisi hidupnya. 


Segala ambisinya terus gagal tercapai karena Zavian selalu lebih unggul darinya, entah dalam merebut cinta Nayara atau dalam simpati papanya. Hal itu membuat Fabian tenggelam dalam rasa sakit dan juga dendam. Zavian telah mendapatkan Nayara, lalu sekarang dia juga mendapatkan pengakuan dari papa Adrian. 


Kenapa adiknya selalu menang dalam segala hal ?


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2