Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Ancaman Fabian


__ADS_3

Fabian sengaja melakukan ini kepada Sarah. Jika dia mengajak perempuan itu bicara terlebih dahulu , maka Sarah akan berkilah dan bersilat lidah dengan lihai. Jadi, sekarang Sarah tidak dapat mengelak atau melontarkan alasan lagi. Fabian juga mengunci pintu mobil agar tidak ada kesempatan untuk Sarah melarikan diri. 


Sialnya lagi, Sarah tidak membawa ponsel sehingga tidak bisa menghubungi siapapun dalam kondisi tertekan seperti ini. Dia tidak memprediksi jika Fabian akan menyeretnya ke rumah sakit dengan cara begitu tiba-tiba.


“ Jangan kira selama ini aku tidak tahu bahwa ibumu menggunakan salah satu kartu kreditku untuk berfoya-foya.” ucap Fabian dengan senyum licik. Kemudian dia menatap Sarah dengan tajam. “ Tagihan kartu kreditku sampai tujuh puluh lima juta dalam sebulan . Gila ! Ibumu benar-benar seperti sedang menggali lumbung emas !” 


“ I-itu , a-aku yang salah , Mas. Aku yang memberikan kartu kreditmu pada ibuku.” ujar Sarah membela ibunya. 


“ Tetap saja tanpa seizinku kan?” tanya Fabian dengan sinis. “ Aku bisa memenjarakan ibumu dengan alasan pencurian.” 


“ Jangan, Mas. Jangan penjarakan ibuku !” sahut Sarah ketakutan. “ Dia tidak mencuri. Aku yang salah.” 


Baguslah kalau kau sadar dengan kesalahanmu.” cibir Fabian. “ Jika kamu masih menolak untuk melakukan tes DNA , maka bukan hanya kamu saja yang akan menanggung kemarahanku. Tapi keluargamu yang serakah itu juga. “ 


Sarah meremas jemarinya yang mendadak dingin. Jantungnya berdegup cepat dengan ketakutan yang semakin menjadi- jadi. Jika tadi malam Sarah bisa berkilah dan memanipulasi keadaan dengan mudah, sekarang dia justru semakin tertekan. 


“ Pucat banget wajahmu, takut ya ?” ejek Fabian dengan sinis. “ Bukannya tadi malam kamu bersikukuh mengatakan kalau itu anakku?Kenapa wajahmu malah ketakutan begitu?” 


“ A-aku tidak takut.” jawab Sarah. 


Fabian hanya mendengus sinis. Dia bisa menerima kenyataan yang seandainya menyatakan bahwa kesuburan dirinya bermasalah , tapi dia tidak akan bisa berdiam diri saat tahu bahwa Sarah telah mencuranginya. 


Ketika sampai di rumah sakit, rasa cemas dan khawatir Sarah semakin menjadi-jadi. Bahkan dia rasanya ingin menangis karena saking takutnya. 


“ Jangan coba-coba berbuat curang atau melarikan diri dariku, atau kau akan menerima akibatnya.” ujar Fabian memberi ancaman. Setelah itu dia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sarah. Dipegangnya pergelangan tangan Sarah dengan erat, seolah takut perempuan itu akan kabur.


Fabian melakukan pendaftaran dan juga pembayaran administrasi. Setelah itu dia diarahkan untuk masuk ke ruangan dokter untuk berkonsultasi terlebih dahulu. Sementara itu Sarah hanya bisa pasrah dan mengikuti alur yang dibuat oleh suaminya. 


Karena melakukan tes DNA bukanlah sesuatu yang mudah, maka waktu yang dibutuhkan juga cukup lama. Dari pagi sampai siang Sarah dan Fabian berada di rumah sakit untuk menjalani prosedur yang panjang. Mulai dari konsultasi , pemeriksaan kesehatan sampai pengambilan sampel DNA paternitas. 

__ADS_1


“ Berapa lama saya harus menunggu hasilnya bisa keluar?” tanya Fabian pada dokter dan juga petugas laboratorium. 


“ Biasanya satu sampai dua minggu.” jawab dokter itu. 


“ Lama banget. Gak bisa dipercepat saja jadi dua hari ?” tanya Fabian yang tampak protes . 


“ Gak bisa, Pak. Tapi kami usahakan hasilnya cepat keluar, nanti kalau sudah selesai akan segera kami kabari.” sahut dokter itu. 


“ Ingat  satu hal, kerahasiaan dan keaslian hasilnya harus terjaga. Jangan berikan kepada siapapun kecuali saya sendiri.” tegas Fabian kemudian. “ Jika hasilnya sampai bocor sebelum saya mengetahuinya atau dimanipulasi , maka saya akan membawa kasus ini ke jalur hukum.” 


“ Baik, Pak. Kami paham.” jawab dokter dan juga petugas laboratorium itu.”


Fabian mengangguk puas, kemudian dia mengajak Sarah pulang. Sepanjang jalan pulang, Sarah tidak dapat menahan tangisannya. Melihat istrinya menangis, Fabian sama sekali tidak bersimpati. Justru dia semakin yakin bahwa saat ini Sarah sedang berada di dalam rasa takut dan juga penyesalan karena sebentar lagi kecurangannya akan terbongkar. 


Keesokan harinya , semua berjalan seperti biasa. Kecuali Sarah yang merasa bahwa detik demi detik waktu terasa bagaikan pedang yang mengiris jantungnya. Sarah lebih banyak melamun dan menghabiskan waktu dengan tidur. 


“ Sarah mana, Bian?” tanya Mama Widya karena tidak melihat keberadaan menantunya dimanapun. 


“ Kalian ada masalah ?” tanya mama Widya memicingkan matanya curiga. 


“ Hem,” gumam Fabian singkat. “ Kalau nanti aku dan Sarah berpisah, kuharap Mama bisa menerima keputusan kami berdua. Jangan menahan-nahan agar kami terus bersama lagi.” 


“ Astaga, Bian ! Kamu mau cerai lagi?” tanya wanita paruh baya itu dengan mata terbelalak. “ Sarah lagi hamil, lho. Sebentar lagi anak kalian akan lahir !” 


Fabian menggelengkan kepalanya lemah.


“ Aku punya alasan yang kuat, Ma.” 


Mama Widya menghela napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan begitu cepat.

__ADS_1


” Kamu tahu, Bian. Alasan terbesar Mama dan Papamu menyetujui pernikahanmu dengan Sarah karena kami ingin kamu bertanggung jawab atas kesalahanmu. Kamu gak boleh lepas tangan setelah menghamili perempuan lain!” 


“ Lalu Mama dan Papa juga malah merestui Nayara menikah dengan Zavian !” ketus Fabian kesal. 


“ Apa semua keputusanmu ini gara-gara Nayara? Kamu masih belum move on dari dia?” tanya Mama Widya lagi. 


Fabian hanya mendengus samar. Dia tidak mau memberi jawaban apapun. “ Aku kecewa pada kalian.” 


“ Kami menyetujui permintaan Zavian yang ingin menikahi Nayara karena dia tidak punya siapa-siapa , Bian . Jika bukan kita yang menjaganya lalu siapa lagi? itulah kenapa Nayara kami izinkan menikah dengan Zavian agar dia tetap bisa menjadi bagian keluarga kita.” jelas Mama Widya .


“ Ah, udahlah, Ma.” sahut Fabian kemudian. Ia berdiri dan meninggalkan mamanya. Apapun pembahasannya jika itu tentang Nayara, maka selalu akan ada rasa sakit di dalam dada Fabian. Masih belum ada kerelaan di dalam dadanya hingga detik ini. 


Saat di kantor, papa Adrian memanggil Fabian untuk berdiskusi. Ada undangan pertemuan antara para pengusaha dan investor yang akan dihadiri oleh Menteri Ekonomi. Acaranya seminggu lagi dan Adrian ingin Fabian ikut menghadiri Business Gathering kali ini. 


“ Cari posisi yang bagus supaya kita lebih banyak tersorot.” titah sang papa .


“Oke.” jawab Fabian sambil mengangguk. 


“ Tahun ini kamu harus mendapatkan hasil yang bagus untuk kita, Bian.” ujar Adrian sedikit memberi tekanan pada suaranya.


“ Kalau bisa lebih baik dari tahun kemarin.” 


Fabian menghela napas berat yang terdengar lelah. Tahun kemarin, Zavian menghadiri acara ini. Dan hasilnya terjalin kerjasama antara Raya Corp dengan PT Bintang Energy dalam pembangunan dua puluh SPBU mandiri yang tersebar di berbagai daerah di pulau Sumatera. 


Tidak hanya itu, Zavian juga berhasil mendapat kesempatan wawancara dengan salah satu portal media bisnis. Hal itu tentu saja membuat saham perusahaan meningkat naik. 


Sekarang Zavian yang biasanya selalu diandalkan sudah tidak ada lagi. Semua beban itu jatuh di bahu Fabian dan dia dituntut untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Seandainya sepak terjang Zavian tidak sehebat itu, mungkin beban yang ditanggung Fabian juga tidak sebesar ini. 


“ Zavian siialan !” Fabian harus mengutuk kehebatan adiknya terlebih dahulu sebelum mengakui kelemahan dirinya. 

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2