Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Memisahkan Mama & Zavian


__ADS_3

“ Maaf ya , Ma. Gara-gara aku jatuh sakit Mama malah gak jadi pergi liburan, “ ujar Fabian.


Fabian terbatuk lagi dengan dada yang semakin sesak. Saat ini dia sedang terbaring di ranjang rumah sakit setelah tadi malam tidak sadarkan diri. Tubuhnya seolah tidak punya kekebalan untuk menahan berbagai penyakit yang datang. Sebanyak apapun dia menenggak obat, semahal apapun perawatan yang dijalaninya , tetap tidak membuahkan hasil. 


“ Gak apa-apa, Sekarang yang penting kamu sembuh dulu. Mama juga bakalan khawatir banget ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini,” ujar Mama Widya. 


Semenjak seminggu yang lalu, Mama Widya sudah mempersiapkan perjalanan dan dia berdalih ingin pergi liburan ke luar negeri. Mama Widya sengaja menutupi maksud kepergiannya dan berbohong kepada Fabian karena tidak ingin anaknya itu salah paham. 


Jika Fabian tahu kalau Mama Widya ingin menemui Zavian, maka dia pasti akan marah dan cemburu. Oleh, karena itu, Mama Widya memilih untuk berbohong pada Fabian. Tapi siapa sangka, keadaan Fabian saat ini justru malah menggagalkan rencana yang sudah tersusun rapi. 


“ Kalau nanti aku sudah pulih, aku boleh ikut liburan sama Mama , gak ?” tanya Fabian. 


“ Hah? Gimana ? Kamu mau ikut dengan Mama ?” tanya wanita di sampingnya. 


Fabian mengangguk lemah.” Aku juga bosan di rumah terus, Ma. Pengen pergi liburan juga, setidaknya sekali sebelum aku benar-benar mati karena penyakit ini.”


Mama Widya tercekat sejenak, dia menatap Fabian dengan sorot mata mengasihani.


” Bo-boleh….Kalau kamu sudah pulih nanti ayo kita liburan.” 


Fabian tersenyum lemah dengan wajahnya yang tampak menyedihkan.” Aku ingin menjalani hidup selayaknya orang normal.”


“ Kamu pasti bisa pulih dan menjalani hidup dengan baik-baik saja seperti semula,” ucap Mama Widya membesarkan hati anaknya.


Setelah divonis HIV dan mengalami fase lanjutan menuju AIDS , Fabian benar-benar tumbang dalam rasa sakitnya. Berkali-kali dia hendak menyerah atas kehidupan ini tapi berulang kali pula rencananya gagal.


Kadang Fabian merasa bahwa hukuman Tuhan terlalu kejam padanya. Dia masih ingin menjalani hidup tapi kehidupan yang baik seolah enggan mendekatinya. Ada saja halangan dan cobaan yang harus dilaluinya. 


Malamnya, Mama Widya merenung sendirian. Dia berkali-kali menghembuskan napas berat karena berbagai rencana yang telah disusunnya dengan rapi harus berakhir sia-sia. Dipandangnya potret wajah Zavian di layar ponselnya dan Mama Widya memejamkan mata begitu erat. Dadanya sesak oleh berbagai perasaan yang kini memenuhi pikirannya. 

__ADS_1


“ Sudah satu tahun kamu pergi, Za. Memangnya kamu gak kangen sama Mama ?” tanya Mama Widya seorang diri. 


Dihembuskannya lagi napas kasar, kali ini perasaannya semakin bertambah sakit.” Apa cuma Mama saja yang kangen sama kamu? Apa cuma Mama saja yang pengen kamu pulang?” 


Mama Widya melewati waktu sambil merenung semalaman. Dia memikirkan banyak hal, tentang Zavian yang tidak mau pulang dan juga tentang Fabian yang harus bertahan hidup. 


Sesekali Mama Widya menangis dalam kesunyian, dia akan menyebut nama Zavian dengan seluruh rasa sakit di dalam dadanya. Ada kerinduan yang bercampur dengan kemarahan dan itu rasanya sangat sakit sekali. Mama Widya ingin pergi menemui Zavian tapi tidak tega meninggalkan Fabian seorang diri. 


Berada dalam batas dilema seperti itu benar-benar membuat Mama Widya merasa galau. Dia kebingungan tentang apa yang harus dilakukan terhadap kedua anaknya. 


Keesokan harinya, dokter yang memeriksa Fabian menyampaikan bahwa keadaan pria itu semakin memburuk dari hari ke hari. Pertahanan tubuhnya sangat lemah dan itu yang membuatnya berulang kali jatuh sakit. Sebenarnya itu hal yang wajar bagi penderita HIV/AIDS dalam fase lanjutan seperti Fabian. 


“ Jangan sampai ada hal-hal yang membuat pasien kelelahan karena sewaktu-waktu dia bisa drop dan tumbang,” ujar dokter itu. 


Mama Widya menatap Fabian dengan sorot mata sayu. Kasihan sekali. Padahal tadi malam Fabian berkata bahwa dia ingin ikut berlibur dan pergi ke luar negeri jika keadaannya sudah membaik. 


“ Aku tahu kondisi anakku tidak akan membaik seperti sedia kala, tapi tolong berikan obat yang terbaik agar dia bisa bertahan hidup lebih lama. Dia masih ingin hidup, masih banyak hal yang ingin dilakukannya,” ujar Mama Widya sambil terisak. 


“ Ma,” Fabian memanggil Mama Widya dengan suara yang terdengar begitu lemah.” Jangan tinggalin aku, ya.” 


“ Gak, Bian. Mama gak akan ninggalin kamu,” ujar Mama Widya penuh keyakinan. Dia mengusap-usap punggung tangan Fabian dengan pelan. 


“Janji ya, Ma. Jangan pergi diam-diam tanpa memberitahuku ,” ujar Fabian lagi. 


Mama Widya terkesiap dengan dada yang mendadak nyeri. Dia memang sempat ingin mengecoh Fabian dan pergi diam-diam untuk menemui Zavian. Hanya seminggu saja dan itu tidak akan lama . Tapi rasanya melakukan itu akan terasa sangat keterlaluan, apalagi keadaan Fabian sedang menyedihkan begini. 


“ Aku takut, Ma. Aku takut, jika seandainya aku meninggal saat Mama pergi. Aku tidak mau meninggal dalam keadaan sendirian dan itu pasti akan terasa sangat menyedihkan sekali,” ujar Fabian. 


“ Jangan ngomong gitu, Mama gak akan ninggalin kamu, kok. Tenang aja, Mama akan temani kamu setiap saat,” ujar Mama Widya.” Dan kamu tidak akan meninggal secepat itu.” 

__ADS_1


“ Pegang janji Mama,” bisik Fabian lirih. 


“ Iya, kamu pegang janji Mama.”


Mama Widya mengangguk meyakinkan, kemudian dia minta izin untuk pergi ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Mama Widya menyandarkan punggungnya ke dinding dan dia mulai menangis. 


Perasaannya saat ini sangat kacau sekali. Di tengah-tengah pergulatan batinnya sebagai seorang ibu, akhirnya Mama Widya membuat keputusan yang penting. Dia telah memutuskan untuk melupakan rencana perjalanan ke luar negeri demi menemui Zavian. Mama Widya tidak akan melakukan itu demi keegoisannya sendiri. 


Dia harus memikirkan Fabian dan menempatkan anak sulungnya sebagai prioritas utama. 


“ Zavian , kamu pasti baik-baik saja di sana, iya ,’kan ?” tanya Mama Widya sambil menghapus air matanya .” Maaf, ya Mama tidak jadi menemuimu ke sana. Lagipula, kamu pasti tidak menginginkan kehadiran Mama di sana. Kamu lebih bahagia menjalani hidup tanpa Mama.”


Mama Widya menangis tersedu-sedu dan berusaha menekan isakannya sendirian. Rasanya sakit sekali, tapi inilah pilihan yang harus dijalaninya. 


Mama Widya tidak tahu bahwa di belahan dunia sana, anaknya juga sedang menahan kecewa tidak jadi bertemu dengannya. Zavian telah menyiapkan segala hal dengan baik demi menyambut kedatangannya tapi harus berakhir sia-sia. 


Mama Widya juga tidak tahu bahwa Zavian merindukannya, menanti kedatangannya dan ingin memeluknya. Karena sehebat apapun Zavian, dia tetap seorang anak yang butuh kasih sayang seorang ibu. Zavian telah memaafkan seluruh sakit yang pernah ditorehkan oleh Mama Widya dan tetap menyayangi wanita itu dengan begitu tulus. 


Sedangkan dari tempat tidurnya, Fabian tersenyum puas. Seseorang baru saja memberitahunya bahwa Mama Widya telah membatalkan rencana perjalanannya dan melakukan refund atas pembelian tiket pesawat menuju Amerika. Akhirnya, Mama Widya benar-benar mengurungkan niat ingin menemui Zavian. Sebuah kabar yang sangat memuaskan Fabian. 


Selama ini, Fabian juga menaruh mata-mata untuk mengawasi setiap pergerakan Mama Widya. Dan seminggu yang lalu, Fabian menemukan fakta bahwa Mama Widya telah mengetahui keberadaan Zavian dan hendak pergi ke sana. 


Fabian tahu bahwa Mamanya berbohong saat mengatakan ingin liburan ke luar negeri dengan alasan ingin shopping demi melepaskan stress. Makanya Fabian selalu memutar otak dan mencari cara bagaimana membatalkan kepergian Mama Widya. Dia tidak akan pernah rela Mamanya menemui Zavian untuk alasan apapun. 


Lalu sekarang , rencana Fabian memisahkan Mama Widya dari Zavian telah berhasil. Dia tertawa kecil. Rasanya dia telah memenangkan sesuatu. 


“ Mama gak boleh pergi dariku,” gumam Fabian dengan senyum menyeringai.” Dan kamu , Vian . Jangan harap Mama akan datang menemuimu ke sana.” 


.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2