
Selama beberapa minggu setelahnya, pembicaraan tentang keinginan Mama Widya untuk memasukkan Fabian ke perusahaan Raya Corp masih berlanjut. Mama Widya tidak lagi memaksa Zavian untuk menerima kehadiran kakaknya tapi dia mengusahakan segala cara untuk memenuhi permintaan Zavian. Semua itu dilakukannya agar Fabian kembali berkuasa di sana.
“ Bian berapa uang yang kamu punya?” tanya Mama Widya pada anaknya.
“ Untuk apa , Ma?” tanya Fabian penasaran.
“ Zavian minta jaminan jika kamu mau masuk ke perusahaan kita. Semua uang Mama gak cukup untuk memenuhi jumlah jaminan yang diminta Zavian. Makanya Mama nanya ke kamu,” jelas Mama Widya.
“ Kalaupun aku punya uang, aku juga tidak mau menyerahkannya sebagai jaminan. Soalnya aku tidak berminat untuk kembali bekerja di perusahaan itu,” tegas Fabian untuk kesekian kalinya.
“ Tapi Mama gak mau Farhan yang berkuasa di sana,” tukas Mama Widya lagi.
“ Sejauh ini pekerjaan Om Farhan cukup bagus dan dia berhasil membuat perusahaan kita kembali profit. Jadi, apa lagi yang Mama khawatirkan ?” tanya Fabian.
“ Mama maunya kamu yang jadi CEO di sana,” ujar Mama Widya
Fabian menghela napas dalam-dalam. Sesi terapi mental yang dijalaninya bersama dokter psikiater belum selesai tapi Mama Widya kembali memberinya tekanan. Fabian lelah jika harus berkali-kali menjelaskan hal yang sama tapi Mama Widya tidak mau memahaminya.
“ Aku gak mau, Ma.” ujar Fabian pelan.
“ Hubungan Mama dan Tante Tania sudah memburuk semenjak Papa meninggal. Jadi, jangan melakukan hal-hal yang akan memperkeruh keadaan lagi.”
“ Tapi sesuai dengan wasiat papamu, perusahaan dan segala kebijakannya diserahkan pada Zavian. Bukan pada Farhan !” tukas Mama widya lagi.
“ Zavian sudah menjalankan wasiat Papa dengan baik . Sekarang bisa dikatakan bahwa dialah yang menjadi pemilik perusahaan melalui status kepemilikan sahamnya. Mama gak bisa bersikap picik begitu,” tandas Fabian.
“ Kamu harus mau mengikuti keinginan Mama, Bian ! Kamu sayang kan sama Mama ?” pertanyaan itu memberi rasa dilema yang membuat Fabian merasa bimbang.
__ADS_1
Fabian menggeleng lelah. Dia telah kehilangan minat pada segala urusan bisnis keluarga yang membuat kepalanya hendak meledak. Saat ini, dia hanya ingin memikirkan diri sendiri yang keadaannya tak kalah menyedihkan. Tapi permintaan Mama Widya juga tak bisa diabaikan begitu saja.
Sementara itu, semakin hari Mama Widya semakin kewalahan karena Zavian terus menghindari interaksi dengannya. Mereka tidak pernah bicara secara langsung dan hanya akan berbasa-basi melalui sambungan telepon.
Sikap diam Zavian jelas memberi rasa sakit tak kasat mata terhadap Mama Widya. Seringkali Mama Widya merasa khawatir jika Zavian benar-benar akan menjauh dari hidupnya.
Wanita itu semakin kecewa sekali saat mendatangi kediaman Zavian tapi tidak menemukan anaknya. Hanya ada asisten rumah yang mengatakan bahwa Zavian sedang pergi ke Makassar dengan membawa anak dan istrinya. Di titik ini, jelas sekali Zavian menghindarinya.
Rasa stress dan depresi akibat sikap Zavian membuat Mama Widya jatuh sakit. Pertahanan tubuhnya mendadak lemah dengan riwayat asam lambung yang menyiksa parah. Mama Widya akhirnya dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk menjalani pengobatan mandiri.
“ Panggilkan Zavian,” ujar Mama Widya dengan lemah. Dia ingin sekali bertemu anaknya itu setelah hampir dua bulan selalu menghindar.” Dia tidak mungkin menghindar dari Mama jika sudah mendengar Mama sakit begini.”
Benar saja, Zavian tidak mungkin menolak untuk mengunjungi Mamanya. Jadi, dia datang ke rumah sakit seorang diri dan disambut oleh tatapan mengiba Mama Widya.
“ Sepertinya Mama harus sakit dulu baru kamu mau datang menemui Mama,” sindir wanita paruh baya yang masih terlihat lemah itu.
Zavian mengerutkan kening. Dia tidak terima disalahkan begitu, tapi akal sehatnya meminta agar dia tidak membuat keadaan menjadi semakin kacau. Jadi Zavian abaikan saja tuduhan Mamanya yang tidak tepat itu.
“ Mama akan sembuh kalau kamu ada di sisi Mama,” ujar Mama Widya semakin mengiba.
“ Iya, aku akan ada di sini,” sahut Zavian dengan perasaan canggung yang aneh.
“ Janji, ya. Kamu gak boleh menjauhi Mama lagi.”
“ Mm… Janji.” Zavian berbohong dan rasanya tidak nyaman sekali.
“ Gue mau ngomong sama lo,” ujar Fabian pada adiknya yang sejak tadi memasang wajah kaku saat berhadapan dengan Mama Widya.” Kita bicara di luar.”
__ADS_1
Zavian mengangguk samar dan meminta izin pada Mamanya untuk keluar sejenak. Mama Widya mengangguk dan sebuah senyum penuh arti terbit dari bibirnya. Dia menatap punggung Zavian yang menjauh dan hilang dari balik pintu.
“ Akhirnya Zavian-ku kembali lagi,” gumam Mama Widya dengan senyum bahagia yang ditahannya.
Sementara itu, Zavian berdiri menyandar di dinding. Dia bisa merasakan hawa panas yang menguar di antara mereka berdua.
“ Mau ngomong apaan ?” tanya Zavian tanpa menatap wajah kakaknya .
“ Lo pasti udah tahu kalau Mama minta gue untuk gabung ke perusahaan kita,” ujar Fabian. Dia melihat Zavian mengangguk samar membenarkan ucapannya.” Dan gue dengar lo minta jaminan yang lumayan besar kalau seandainya gue join lagi. Maksud lo apaan kayak gitu?”
“ Lo gak nyadar atau lagi pura-pura buta?” tanya Zavian dengan suara santai, namun ada emosi terselip di sana.
Fabian mendecih singkat terdengar sinis.
” Awalnya gue nolak permintaan Mama karena mau fokus berobat. Tapi melihat sikap arogan lo yang kayak gini dan berani mengabaikan Mama, kayaknya gue harus mengubah keputusan gue.”
“ Hm,” balas Zavian tak peduli.
“ Lo jahat banget tau, gak ! Lo mengabaikan Mama sampai jatuh sakit begini. Udah merasa hebat banget, ya ? “ tanya Fabian dengan sinis.
Zavian tidak menanggapi ucapan kakaknya karena isi kepalanya sedang riuh mencerna rencana yang akan diambil Fabian selanjutnya.
“ Asal lo tahu, gue bakal join lagi ke perusahaan kita. Gak peduli lo setuju atau gak, gue akan melakukan semua ini demi Mama,” ucap Fabian dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya. Rencana yang sudah bisa ditebak oleh Zavian.” Dan gue atau Mama gak akan ngasih lo jaminan apa-apa ! Perusahaan itu punya Papa dan lo gak berhak melarang anak kandung Papa join ke sana. Apapun alasannya !”
“ Silahkan ,” jawab Zavian mengejutkan Fabian.” Lakuin apa yang lo mau. Gue juga gak peduli.”
Setelah itu Zavian berlalu pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Dia menelepon asistennya dan berkata,” Jual sahamku yang ada di Raya Corp . Jual saja semuanya.”
__ADS_1
.
...****************...